SINYORA Media Informasi Perhimpunan Mahasiswa Bandung

Laporan Pandangan Mata Dari DPRD

3 April, 2007 · 1 Tanggapan

Pertanyaan REPORTER: Bapak sebagai anggota DPRD, apa sudah punya e-mail?
Jawaban Anggota DPRD: Apa itu e-mail? Saya belum punya e-mail
karena masih kurang paham teknologi macam itu. Keinginan punya ada,
cuma untuk mengoperasikannya saja saya mesti tanya sana sini. Di
lingkungan Dewan ini sebenarnya sudah ada, tapi sampai sekarang tidak
dioperasikan karena tidak ada yang menggunakan.

Pertanyaan REPORTER: Bapak sebagai anggota DPRD, apa sudah punya e-mail?
Jawaban Anggota DPRD: Sekarang ini belum punya, sebab saya tidak
ingin punya nafsu besar untuk memilikinya namun tidak ada waktu untuk
melihatnya.

Pertanyaan REPORTER: Bapak sebagai anggota DPRD, apa sudah punya e-mail?
Jawaban Anggota DPRD: Saya masih pikir-pikir, karena tidak bisa
dibawa pulang, jadi kurang efektif bagi saya yang terus kerja keras, baik
di gedung Dewan maupun di rumah

Pertanyaan REPORTER: Bapak sebagai anggota DPRD, apa sudah punya e-mail?
Jawaban Anggota DPRD: Sudah, saya waktu itu sudah pernah punya.
Tetapi karena kurang efektif, sekarang sudah saya jual…

Pertanyaan REPORTER: Bapak sebagai anggota DPRD, apa sudah punya e-mail?
Jawaban Anggota DPRD: “Secara pribadi saya belum memilikinya.
Bukannya saya tidak mampu untuk membelinya, namun saya masih cinta
produk dalam negeri. Buat apa kita membanggakan produk luar, kalau
hanya untuk gagah-gahan. Lihat saja nih HP (handphone) saya, masih
model lama kan?”

Jangan dikira ini reportase fiktif lho! Benar-benar merupakan jawaban
anggota-anggota DPRD, ketika reporter kami melakukan semacam
survey di suatu DPRD-Kota di Kalimantan Timur.
Nama kotanya dan nama-nama masing-masing anggota DPRD yang
menjawab sebagai di atas, ada pada Redaksi…

Kategori: Lelucon

1 response so far ↓

  • Dicky Demoz 90 // 19 Juli, 2007 pada 2:08 am

    DPR/DPRD kurang mewakili rakyat
    “DPR/DPRD kurang mewakili rakyat”lebih ekstrim lagi “DPR/DPRD bukan wakil rakyat” begitu komentar yang sering dilontarkan sebagian kalangan, terutama rakyat kecil(akar rumput)/yang merasa suaranya tidak pernah didengarkan, memang di negeri yang dianbang de integrasi tidak mudah bagi orang kebanyakan untuk bertemu dengan wakil-wakil yang mereka pilih sendiri melalui pemilu, anggota legislatif yang dipilih untuk mewakili kepentingan rakyat cenderung hanya menjalin hubungan sebatas menjelang pemilu, setelah terpilih hubungan putus……..kaya iklan ajeeeee.
    Waktu reses dimanfaatkan anggota dewan untuk kembali ke konstituen, beberapa anggota memilih menggelar pertemuan di hotel, ada juga yang dirumah makan dan lapangan terbuka, akan tetapi ada juga yang langsung mendatangi warga.
    Di Nigeria misalnya UNDP membantu parlemen nasional untuk memperkuat peran representasi dengan mengadakan serangkaian kampanye dengar pendapat publik untuk membahas isu-isu penting.
    Di luar kegiatan seperti dengar pendapat publik dan sejenisnya masih banyak sarana yang dapat dimanfaatkan anggota legislatif untuk berkomunikasi dengn pemilih, yang menjadi pertanyyyyyaaaan sekarang maukah ? para anggota yang katanya terhormat melakukan investasi politik yang lebih besar lagi dengan lebih sering bertemu dengan para pemilihnya ?
    sebagai mana dalam agama islam “jika kita dikasih amanat oleh orang lain dalam hal ini rakyat maka harus mengemban amanat dengan sebaik-baiknya” ya ayuhaladina amanu ku ampusakum wa ahlikum naro” Innama buiistu liutamimal makarimul akhlak” semoga ahklak para wakil erakyat kita tidak diperbudak oleh nafsu angkara murka, berapa waakil rakyat yang tercela X berapa kabupaten/Kota se Indonesia, Kali Berapoa Provinsi se indonesia, kali DPR RI,DPD kalau beli kerupuk berapa kaleeeng, mending buat membangun bangsa ini dengan sebaik-baiknya……hidup demozzzzzzz
    salam
    Dicky “meong AMPI:Demoz PMB 90

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.