SINYORA Media Informasi Perhimpunan Mahasiswa Bandung

Demam blog di e-lifestyle-MetroTV bersama Wimar Witoelar

18 April, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Tak dapat dihindari, suka atau tidak suka, cepat atau lambat blog akan menjadi topik bahasan pada acara e-Lifestyle di MetroTV. Itulah yang akhirnya terjadi pada hari Sabtu yang lalu. Saya yang tidak menonton acara tersebut hanya bisa menonton melalui rerun pada pukul 01.30 malam ini. Yang menarik adalah acara ini dipandu oleh seorang Roy Suryo yang kita kenal bersama sebagai penggagas ‘Gerakan Non Blog’. Kalau biasanya dalam acara ini blog hanya disinggung sedikit dalam bentuk cheap shot terhadap fenomena blog, kini blog dibahas terus menerus selama hampir 30 menit. Kesan saya acara ini relatif cukup baik dan berimbang, Roy Suryo sendiri juga relatif lebih netral daripada biasanya.

Selengkapnya  http://priyadi.net/archives/2006/09/25/demam-blog-di-e-lifestyle-metrotv/

Kategori: Uncategorized

Abah Iwan (PMB’65) Lebih Konkret, Pakai Sepeda dan Tanam Pohon

18 April, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

KALAU soal alam dan lingkungan, tokoh ini boleh jadi telah menjadi ikon Kota Bandung. Konsistensinya terhadap konservasi alam, diperlihatkan dengan aksinya yang realistis. Ia masih mengelola sampah di rumahnya sendiri, masih suka naik sepeda, masih suka menanam atau membagikan bibit pohon, dan masih memakai sumur. Di usianya yang kini 58 tahun, Iwan Abdulrachman yang kerap dipanggil Abah Iwan, pun masih merasa menjadi mahasiswa. 

Kiprah Abah Iwan dalam kepedulian terhadap alam, mungkin tidak bisa dibicarakan dengan singkat. Kegiatannya di organisasi kelompok penempuh rimba dan pendaki gunung, Wanadri, masih diikuti dari tahun 1964 sampai sekarang. Ia juga diangkat sebagai penasihat Masyarakat Cinta Citarum dan anggota Komunitas Pemerhati Lingkungan Hidup ITB Masdali.

Belum lagi sosoknya sebagai seniman yang karyanya tak pernah lepas dari pergaulan dengan alam. Bagi Abah Iwan, yang baru-baru ini mendapat penghargaan dari Meneg LH sebagai budayawan dan seniman yang peduli terhadap lingkungan dalam ajang Anugerah Penghargaan Lingkungan dan Adipura 2006, alam adalah inspirasinya. Kalau orang bilang karyanya bagus, penggubah lagu legendaris semacam “Melati dari Jayagiri” dan “Flamboyan”, ini malah berujar, alam memang sudah indah.

Semasa mahasiswa, ia pun menyenangi kehidupan berorganisasi. Selain pernah menjabat sebagai Ketua Senat di Faperta Unpad selama 2 periode (1970-1974), dirinya juga aktif di Damas dan Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). Baginya, mahasiswa memegang peranan penting dalam kehidupan bangsa. “Sudah terbukti dalam sejarah, tiap pergerakan apapun pasti ada mahasiswa. Namun, itu jangan dijadikan status, tapi tingkatkan terus kualitas,” kata mantan dosen Faperta Unpad dan penggubah lagu Hymne Unpad ini.

Kampus menemui Abah Iwan di kediamannya di bilangan Cigadung Bandung, yang berhalaman luas dan teduh dengan berbagai pohon besar, Senin (19/6). “Saya tanam pohon-pohon ini sejak tahun 1976. Tong ningali ayeuna, tapi ada prosesnya,” ujarnya, sambil tertawa.

Pada Kampus, Abah Iwan bicara berbagai hal dari mulai standardisasi kegiatan di alam terbuka, perilaku terhadap sampah, sampai organisasi dan habit mahasiswa. Berikut petikannya:

Kegiatan di alam terbuka, yang juga kerap dilakukan mahasiswa misalnya dalam organisasi pecinta alam, kadang terjadi kecelakaan atau jatuh korban. Harus bagaimana untuk mengurangi risiko?

Ada dua macam kecelakaan yang terjadi di alam terbuka. Satu, kecelakaan dalam ekspedisi itu sendiri. Dua, kecelakaan pada waktu latihan. Banyak faktor penyebab terjadi kecelakaan. Tapi kalau kecelakaan itu karena perencanaan yang kurang matang, itu patut dicermati. Banyak hal harus dibahas dalam latihan, dari mulai persiapan, perencanaan, juga kapasitas organisasi yang merencanakan, dan melaksanakan tersebut. Belum lagi standardisasi pelatih. Jadi, orang yang melatih tidak sembarangan. Seandal-andalanya pelatih, setangguh-tangguhnya calon anggota, kalau di hadapkan dengan alam, yang unpredictable atau bahkan predictable, tapi tidak dipersiapkan dengan baik, bisa berbahaya. Kecelakaan di alam terbuka sebenarnya risiko. Ada faktor X, yang di luar kemampuan kita. Maka, disebut adventure. Memang itu menantang dan tidak semua orang cocok dengan itu.

Lebih jelasnya, standardisasinya seperti apa?

Ya, selain dibutuhkan standardisasi pelatih dan metode latihan, juga harus ada standarisasi calon anggota. Makanya ada tes. Kenapa? Karena kegiatan ini membutuhkan standar, baik dari segi fisik, mental, juga intelegensia. Tidak bisa orang yang tidak cerdik, hidup di alam terbuka. Jadi, kalau calon anggota tidak lolos tes fisik, harus berani bilang maaf dan tunggu. Nah, untuk bisa tetap ikut, bisa dilakukan persiapan. Misalnya, si calon ini olah raga dulu dan meningkatkan kualitas kesehatannya. Dan yang tak kalah penting, yaitu tes psikologi. Orang yang terlalu berani, itu berbahaya. Kategorinya nanti kewasapadaannya jadi kurang. Istilah saya, tidak ada orang yang berani. Tapi, adanya orang yang bisa melawan rasa takut.

Bagaimana pendapat Anda tentang Bandung sekarang ini? Apalagi baru-baru ini mendapat sebutan kota metropolitan terkotor?

Itu tidak perlu ditolak. Kan banyak yang marah, katanya pariwisata terpengaruh gara-gara itu. Tapi, jangan marah dong, karena memang kita kota terkotor. Demo begitu menurut saya tidak tepat. Energinya lebih baik untuk mengoreksi diri.

Anda masih mengelola sampah sendiri?

Sampah saya kelola sendiri, dari dulu sampai sekarang. Yang harus dibakar, ya dibakar. Ya, seperti teorilah. Saya belum pernah menyumbang sampah satu kantong plastik pun ke TPS (tempat pembuangan sementara) atau TPA (tempat pembuangan akhir). Tapi, kan bersihnya rumah kita, belum berarti membuat bersih kota ini. Sampah adalah perilaku manusia, per individu. Ketika itu menjadi perilaku kita sebagai warga kota, itu menjadi akumulatif. Saya sering lihat mobil bagus, tahunya buang sampah ke jalan. Eh, tahunya mahasiswa atau dosen! Kalau ini dibilang salah wali kota, saya tidak sepakat. Waktu saya diajak demo ke wali kota, saya menolak. Bukan salah dia saja, kok. Bahwa dia harusnya mengatur manajemen, memelopori, menggerakkan, dsb, itu benar. Tapi kita semua punya tanggung jawab, yang berbeda-beda. Lagi pula, untuk mengelola sampah di kota kan ada ahlinya. Ada ITB, Unpas, Unisba, yang ada Teknik Lingkungan Hidup. Yang belum terjadi adalah hal itu belum jadi kesatuan batin, sehingga ada keputusan yang bisa membuat perilaku kita terhadap sampah, jadi tepat. Itu ilmiah. Nah, ternyata pengetahuan yang ilmiah, belum jadi apa-apa tanpa kesertaan tingkah laku. Betapa pentingnya pengembangan karakter. Di situlah gunanya organisasi mahasiswa.

Apa gunanya organisasi mahasiswa dalam hal ini?Melalui organisasi mahasiswa, kita bisa mensubstitusi kekurangan situasi pendidikan di kita. Situasi pendidikan di kita, kan seringnya diajarkan untuk pintar, tapi pribadi kita tidak diajarkan mengikuti kepintaran dalam mengikuti ilmu-ilmu itu. Yang paling gampang contohnya, sampah. Saya pernah diajak diskusi sama mahasiswa Teknik Lingkungan Hidup, mengenai rencana kebersihan kota. Ketika dimintai komentar, saya bilang, boleh tidak saya lihat ruang senatnya?. Ternyata, ruang senat mereka kotor! Apa artinya? Kita tahu tentang sampah, tapi habit kita tidak disertakan. Dan itulah gunanya organisasi mahasiswa. Organisasi mahasiswa juga sering terlibat politik praktis, dsb. Tapi jangan karena peranan itu, kita melupakan tugas pokok organisasi mahasiswa. Apa itu? Meningkatkan kualitas kepribadian anggotanya. Juga, mengimbangi rencana pendidikan dari kampusnya yang tidak lengkap. Nah, peranan ini jarang disadari. Saya suka tanya sama berbagai ketua BEM (badan eksekutif mahasiswa), apa yang sudah kau lakukan pada teman-temanmu dalam mengembangkan seluruh dimensi pribadinya?

Masih suka naik sepeda?

Saya masih suka pakai sepeda. Kalau masih kuat ngaboseh, kenapa tidak? Tapi tidak ada istilah kampanye. Kalau kita meyakini yang baik untuk diri kita, lakukan saja. Dan kalau itu baik untuk masyarakat, ya lakukan. Saya berpendapat, kalau mahasiswa bicara tentang polusi di Kota Bandung, jangan hanya menyarankan ini-itu saja. Lebih baik, tinggalkan motor itu, pakai sepeda! Misalnya, ada 1.000 mahasiswa dari ITB, Unpad, Unpas, Unisba, Unpar, dsb. pada naik sepeda. Maka, 1.000 motor akan hilang dari jalan. Itu jauh lebih konkret daripada terus protes terhadap polusi, tapi tidak bertindak apa-apa. Ahli lingkungan Prof. Otto Soemarwoto, mengatakan, kalau 1-5 km jalan kaki saja, kalau 5-10 km silahkan pakai sepeda. Naik sepeda itu sudah sehat, langsung mengurangi polutan pula, walau sekecil apapun. Dan yang lebih konkret lagi, kita menanam pohon untuk mengurangi polusi! 1 pohon juga lumayan. Tapi, kan pohon baru berfungsi optimal 5-10 tahun kemudian. Nah, sambil menunggu, kita pakai sepeda. Dan ini jawaban dari permasalahan di kota besar yang ada, seperti kita. Dari mulai sampah sampai peledakan jumlah penduduk. Bogota itu selamat karena sampahnya ditata dengan baik. Karena mahasiswa di sana mau pakai sepeda. Australia, Belanda, Jerman, itu mah sudah klasik. Tapi permasalahan yang sama dengan kita kan Amerika Latin.

Kalau sumur bagaimana?

Allhamdulillah, saya juga tidak mau takabur. Dari tahun 1978 saya tinggal di sini, saya tidak pernah minta air ke PDAM. Dari sumur saja. Makan, mandi, cuci mobil, dsb, semua dari situ. Dulu dalamnya 7 meter, tapi sejak beberapa tahun lalu ditambah jadi 12 meter. Mungkin karena pohon-pohon di Bandung utara sudah pada ditebang. Tapi, saya cerita begini, bukan legeg. Soalnya pernah habis ngadongeng, tahu-tahu air teh pareum. Ha ha ha… Kebayang kan, coba kalau tidak ada air, bagaimana? Hutan tidak ada karena ditebangin, dan tidak ada daerah resapan air. Masa orang-orang tidak sadar? ***

Kategori: Profil

Sarwono Kusumaatmadja (PMB ‘63) Politisi Teruji Lintas Orde

18 April, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dia seorang politisi lintas orde yang telah teruji. Mantan Sekjen Golkar dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (1988 – 1993), Menteri Negara Lingkungan Hidup (1993 – 1998) dan Menteri Eksplorasi Kelautan (1999 – 2001), ini teruji bebas KKN. Kemudian, dia pun terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari DKI Jakarta pada Pemilu 2004.
Pria lulusan Teknik Sipil ITB tahun (1974) melintasi periodisasi  sejarah politik di Indonesia, dari Orde Baru ke orde reformasi. Bahkan bukan hanya lintas orde, dia juga “lintas aliran” dan “lintas generasi”. Terbukti dari dukungan yang
mengalir kepadanya saat proses pencalonan DPD.

baca selengkapnya http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/s/sarwono/index.shtml

Kategori: Profil

Kirim Artikel

18 April, 2007 · 8 Tanggapan

Signore…

Buat rekan-rekan yang ingin mengirimkan berita atau artikel-artikel dapat mengirimkan ke email arismunawar@yahoo.com, boleh juga mengirimkan foto-foto kegiatan PMB jaman baheula, cerita-cerita lucu semasa perpeloncoan dsb.

Terima kasih.

Kategori: Kirim Artikel

Karier Puncak Mantan Sekjen Golkar Rachmat Witoelar (PMB’61)

18 April, 2007 · 4 Tanggapan

Setelah beberapa bulan dengan setia menjadi salah seorang Tim Sukses SBY, mantan Sekjen DPP Golkar, ini mencapai karier puncak menjadi Menteri Negara Lingkungan Hidup, menggantikan Nabiel Makarim. Pria kelahiran Tasikmalaya, 2 Juni 194, ini menyatakan siap menangani permasalahan lingkungan di Indonesia, kendati latarbelakangnya tidak relevan.

Saat ditanya kesiapan lulusan Arsitektur ITB (1970), ini menangani permasalahan lingkungan, ia merasa tidak masalah, karena di mana pun ia ditempatkan, itu merupakan amanah untuk diembannya. Diakui, pendidikannya memang tidak berhubungan dengan lingkungan.

Tetapi, alumni SMA Kanisius Jakarta (1961), SMP Van Lith Jakarta (1958) dan Lagere School, Voorburg Belanda (1955), ini mengaku sudah biasa menangani hal-hal yang berkaitan dengan masalah lingkungan ketika masih menjadi anggota Komisi V dan VI DPR. Selain itu, dia juga biasa menghadiri diskusi dan seminar lingkungan termasuk di luar negeri.

lebih lengkap baca disini http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/r/rachmat-witoelar/index.shtml

Kategori: Profil

Suasana perpeloncoan tahun 1999

18 April, 2007 · 3 Tanggapan

Kategori: Berita Seputar PMB

Plonco-plonci pada MPAB 2005

18 April, 2007 · 3 Tanggapan

mpab-2005.jpg

Nyor ….. ada plonco yang bawa hp …tariikk nyor.. 

Kategori: Berita Seputar PMB

Menumbuhkan usaha mikro pertanian organik

18 April, 2007 · 1 Tanggapan

 Rabu 14 Maret 2007 08:24:23


Pengembangan budi daya pertanian organik ternyata tak hanya mampu memperbaiki kondisi lingkungan yang rusak. Model usaha mikro pertanian ini ternyata mampu mendatangkan keuntungan yang lebih tinggi ketimbang budidaya anorganik.

Di antara jenis lembaga keuangan mikro, unit simpan pinjam koperasi merupakan jenis lembaga keuangan yang paling banyak memberi pembiayaan ke sektor pertanian yakni 61%, sedangkan lainnya maksimal 12%.

Itulah salah satu kesimpulan disertasi B.S. Kusmuljono berjudul Sistem Pengembangan Usaha Berbasis Lingkungan didukung Lembaga Keuangan Mikro yang disampaikan dalam ujian akhir di auditorium IPB, Bogor, 2 Maret 2007.

Mengapa pengembangan pertanian organik tidak berjalan? Seperti apa seharusnya rumusan sistem pengembangan usaha mikro pertanian organik (UMPO) yang didukung lembaga keuangan mikro? Kebijakan apa yang dibutuhkan?

Pria kelahiran Bogor, 24 Juni 1943 dengan nama lengkap Bangun Sarwito Kusmuljono ini mengungkapkan lima faktor yang menyebabkan usaha mikro pertanian organik macet.

Pertama, kelembagaan penanggung-jawab yang tidak jelas. Kedua, kebijakan yang tidak jelas karena tidak ada koordinasi antardepartemen terkait.Ketiga, Petani anorganik tidak siap menjadi petani organik karena tidak ada intervensi pemerintah dan tidak ada sosialisasi.

Keempat, Implementasi slogan Go-Organic 2010 tak jalan akibat tidak ada penyuluhan dan pendampingan. Dan, kelima kesulitan memperoleh kredit untuk pertanian organik akibat lembaga keuangan tidak percaya usaha mikro pertanian organik layak mendapatkan kredit.

Kusmuljono juga merumuskan model sistem pengembangan UMPO yang bankable dan didukung skema pinjaman mikro, yakni Kredit Usaha Mikro Pertanian Organik (KUMPO), dengan agunan utama character dan tanggung renteng tanpa collateral tambahan.

Tak cukup sekadar itu, sejumlah kebijakan publik diperlukan agar lembaga keuangan mampu mendukung pengembangan UMPO.

Pertama, payung hukum lembaga keuangan mikro melalui pengesahan RUU LKM, yang sudah dirintis lebih dari tiga tahun lalu. “Terakhir ada di Kemenkop. Tapi saat ini kami dorong lewat DPD.”

Kedua, perubahan peraturan Bank Indonesia tentang aspek 5-C, khususnya bagi pembiayaan UMPO oleh lembaga keuangan mikro. “Usaha pertanian itu bankable, dapat dibiayai bank. Risiko usahanya bisa dipertanggungjawabkan.”

Ketiga, perlunya peraturan dan langkah strategis pemerintah dalam pengembangan pertanian organik, baik di tingkat pusat dan daerah. Dan, keempat perlu peraturan pemerintah dalam produksi pupuk organik yang ramah lingkungan.

Bila hal tersebut bisa diwujudkan, dia optimistis dana perbankan menganggur di SBI hingga Rp300 triliun secara perlahan bisa disalurkan ke sektor riil. Caranya, melalui lembaga keuangan mikro.

Bank gelap

Senada dengan Kusmuljono, anggota Komisi IV dari F-PG Bomer Pasaribu menilai perlunya kemauan politik pemerintah membuat UU sebagai payung hukum 34.000 lembaga keuangan mikro.

Bila tidak segera diterbitkan aturan itu, maka selamanya yang tidak punya payung hukum akan menjadi bank gelap. Dan perbankan pun tidak mau menyalurkan dananya ke sektor itu.

Anggota Komisi IV dari Fraksi PDIP Mardjono menyatakan RUU LKM dapat diajukan oleh masyarakat atau berdasarkan kajian akademis.

Dia mengkritik pemerintah yang selama 20 tahun menyalurkan dana kepada 15 departemen sebagai dana perwalian dan kemitraan sekitar Rp15 triliun.”Dana itu tak cukup efektif dikeluarkan. Paling-paling petani yang terima dana itu 5%-10%. “

Bila sudah demikian, maka usaha mikro dan kecil, termasuk yang bergerak di sektor pertanian organik tetap sulit untuk hidup dan bertumbuh.

Sumber : Bisnis Indonesia, 9 Maret 2007

Kategori: Ekonomi

Leyeh-leyeh Disertasi B.S. Kusmuljono (PMB’61)

18 April, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

63.jpgBagi Bangun Sarwito Kusmuljono, Maret ini bisa dibilang bulan yang mengesankan. Ia terpilih menjadi anggota Majelis Wali Amanat Institut Pertanian Bogor (IPB). Awalnya, insinyur teknik kimia lulusan Institut Teknologi Bandung dan master administrasi bisnis dari University of Southern California ini tidak pernah membayangkan bisa masuk. Mengingat, dari 15 nama yang beredar, semuanya adalah orang-orang ternama.

Seiring dengan itu, Pak Kus sukses mempertahankan disertasi di IPB dengan judul “Sistem Pengembangan Usaha Berbasis Lingkungan Didukung Lembaga Keuangan Mikro”. Di sini, ayah tiga putri itu merumuskan model pengembangan usaha mikro pertanian organik yang bisa diterima bank dan disokong skema kredit mikro dengan agunan utama karakter dan sistem tanggung renteng tanpa jaminan tambahan.

Penerima penghargaan PBB 2005 untuk pengembangan usaha mikro ini optimistis, pertanian organik berbasis lingkungan bisa menjadi kekuatan dahsyat di Tanah Air. “Asalkan digarap serius dengan didukung regulasi pertanian, pembiayaan, dan pemasaran yang mumpuni,” katanya kepada G.A. Guritno dari Gatra.

Demi disertasinya tadi, pria kelahiran Bogor, 24 Juni 1943, itu dua tahun terakhir ini rajin wara-wiri Jakarta-Garut agar risetnya cepat kelar. Begitu disertasi kelar, komisaris independen Bank Rakyat Indonesia itu rupanya menuai keuntungan lain. “Saya lebih merasa nyaman leyeh-leyeh di saung petani di pinggir sawah ketimbang jalan-jalan di New York,” ujar Ketua Komite National Pemberdayaan Keuangan Mikro Indonesia itu.

[Apa & Siapa, Gatra Nomor 18 Beredar Kamis, 15 Maret 2007]

Kategori: Profil

Aswin Sani (PMB ‘62) – Musik, Terjun Payung dan Adventure Off-road

18 April, 2007 · 1 Tanggapan

oto-aswin.gifLELAKI berambut panjang ini seolah identik dengan segala sesuatu yang berbau olahraga petualangan. Maklum sejak pertengahan tahun 70-an, Aswin Sani sudah bergelut dan menjadi salah seorang perintis klub terjun payung AVES.

Bersama almarhum Trisnoyuwono yang juga wartawan ”PR”, Jhoni Nasution, Robby Mandagi, Achmed Solihin, Eddi Suparno, Arifin Panigoro dan kawan yang lainnya, bahu-membahu mengembangkan klub olahraga terjun payung tertua yang ada ditanah air tersebut.

Kemana saja pria petualang yang banyak mencetak prestasi ini ? Kini banyak orang mengenal sosok lelaki beranak tiga ini sebagai salah seorang pendiri dan pembina komunitas pencinta adventure off-road, Paguyuban Jeep Bandung (PJB) yang fenomenal dengan lebih dari 250 orang anggota serta banyak berkiprah dalam penyelenggaraan even-even off-road berskala besar.

Namun, tak sedikit pula yang mafhum kalau Aswin Sani juga memiliki kiprah dan talenta yang cukup besar dalam hal bermusik. Tercatat sebelum malang melintang di terjun payung, lelaki yang juga memiliki hobi bermain golf ini aktif bermain musik, bahkan sempat bergabung dengan alm. Broery Marantika dan Dimas Wahab dalam grup The Frost. Di Bandung, Aswin juga pernah mengibarkan nama band Cresscendo, Grup Musik Mara 27. Bersama Harry Roesli bermain musik dibawah nama Batukarang. Bahkan pernah pula kerja bareng dengan Iwan Abdurachman berkiprah dalam hal bermusik dengan nama Band Gembel.

” Gaya hidup dan penampilan berubah sekali, termasuk dalam hal keseharian dan berpakaian khususnya ketika beralih dari dunia musik ke urusan terjun payung, ” kenang Aswin, ketika ditemui Otokir di Warung Laos, di sudut Jln. Eyckman.

Namun, praktis setelah sepuluh tahun tak lagi bersentuhan dengan terjun payung, dalam usianya yang memasuki 60 tahun, Aswin Sani kini malah aktif memajukan dunia adventure off-road, bahkan lima tahun jadi ketua umum PJB sebelum tahun lalu digantikan oleh Muljowidodo yang juga koleganya semasa di AVES dulu.

” Mengasyikkan juga berkecimpung didunia adventure off-road, selain bisa terhindar dari stres juga bisa menggalang kebersamaan dengan orang yang status sosialnya beragam, ” ungkap Aswin, yang belakangan juga aktif bersepeda menyusuri jalan-jalan di Bandung, Dago Pakar hingga Lembang secara rutin setiap pekannya.

Awal mula pembentukan paguyuban tersebut, adalah ketika Aswin cs melakukan perjalananya di kawasan pantai Jabar Selatan yang kerap bersua dengan sekelompok orang dengan hobi yang sama di pantai Rancabuaya. Kebanyakan mereka berasal dari Bandung. Akhirnya sekitar 30 orang sepakat untuk membentuk sebuah wadah di tahun 1998.

Paguyuban yang dibentuk sama sekali tidak dibatasi oleh merek sebuah kendaraan serta jauh dari kesan eksklusif, bahkan tidak juga menginduk atau berafiliasi pada organisasi seperti IMI atau IOF (Indonesia Off-road Federation). Tak heran jumlah anggotanya terus bertambah, juga karena PJB sebuah komunitas otomotif yang benar-benar independen. (dih)***

Otokir

Kategori: Profil