SINYORA Media Informasi Perhimpunan Mahasiswa Bandung

Masukan dari September 2007

Prinsip syariah dalam koperasi

12 September, 2007 · & Komentar

Muslimin Nasution PMB 59

Presidium ICMI Ahli Peneliti Utama Kementerian Koperasi dan UKM

Keberhasilan memajukan perekonomian rakyat telah ditunjukkan oleh koperasi-koperasi di banyak negara. Saat ini, 80 persen listrik di wilayah pedesaan di AS disediakan koperasi. Sekitar 90 juta dari 235 juta warga AS menjadi anggota koperasi, dengan kekayaan lebih dari 73 miliar dollar AS. Koperasi bahkan mempertahankan perekonomian rakyat AS sewaktu terjadi resesi dunia tahun 1930 dan memperkuat ekonomi pasacaperang. Di wilayah pedesaan di negara tersebut, koperasi-koperasi pertanian membantu para petani bertahan dari depresi ekonomi. Sementara di kota-kota, koperasi membantu membangun kembali perumahan rakyat yang hancur semasa perang. Demikian pula di Kanada, 40 persen warganya adalah anggota koperasi, dengan kekayaan lebih dari 45 miliar dollar AS. Dari Kanada pulalah lahir Credit Union, koperasi kredit terbesar di dunia saat ini. Tiga perempat produk susu yang dikonsumsi dunia berasal dari koperasi peternak sapi perah di Australia dan Selandia Baru. Di Jepang dan negara-negara Skandinavia, tidak ada usaha di sektor pertanian yang tidak dikelola koperasi. Anak-anak di daerah pedesaan Kolombia belajar mengenal komputer di sekolah milik koperasi pertanian. Keluarga-keluarga di Swedia tinggal di rumah-rumah nyaman yang dibangun oleh koperasi perumahan. Di Jerman, masyarakat biasa membeli barang kebutuhan sehari-hari di toko-toko milik koperasi. Di Inggris, konsumen bisa membeli asuransinya melalui koperasi. Co-operative Insurance Service menjadi salah satu perusahaan asuransi terbesar di sana. Di Belanda, masyarakat menabung di bank-bank milik koperasi. Rabo Bank milik koperasi petani bahkan sanggup mendirikan cabang-cabangnya di banyak negara. Manfaat kolektivitas Tujuan koperasi yang utama adalah memenuhi kebutuhan hidup anggota-anggotanya, dengan jalan menyelenggarakan aktivitas ekonomi secara bersama-sama. Kolektivitas adalah kekuatan koperasi. Maju mundurnya sebuah koperasi ditentukan oleh seberapa mampu para anggotanya mempertahankan kolektivitas itu. Kolektivitas (jamaah) adalah anjuran syariah. Betapa pentingnya kolektivitas itu sehingga dalam ibadah ritual pun seperti shalat lima waktu, umat Muslim diperintahkan untuk mengerjakannya secara bersama-sama. Kolektivitas adalah modal sosial yang amat diperlukan untuk mencapai kemajuan. Betapapun umumnya perekonomian rakyat berukuran dan bermodal kecil, jika mereka bersatu maka mereka akan kuat. Manfaat yang paling mudah terlihat dari kolektivitas itu adalah penghematan. Misalnya, anggota koperasi konsumen, pasti mengeluarkan biaya lebih sedikit untuk memperoleh suatu barang dibandingkan ia membelinya dari luar koperasi. Manfaat lainnya adalah peningkatan nilai tambah. Contoh, suatu barang yang harganya rendah kemudian bertambah nilainya karena penggunaan alat produksi tertentu. Dalam keadaan sendiri-sendiri para produsen tidak bisa mengadakan alat produksi itu karena harganya tidak terjangkau. Tapi setelah berkoperasi, mereka mampu mengadakannya, karena harga alat produksi yang mahal itu menjadi terjangkau dengan ditanggung bersama. Agar semangat kolektivitas ini tetap terjaga, koperasi berpedoman kepada tujuh prinsip dalam usahanya. Pertama, keterbukaan, bahwa siapapun bisa menjadi anggota koperasi tanpa memandang agama, etnis, afiliasi politik, dan perbedaan lainnya. Prinsip ini adalah perwujudan dari perintah syariah agar perbuatan manusia menjadi rahmat bagi seluruh alam. Kedua, keadilan, bahwa distribusi manfaat ekonomi di kalangan anggota harus sesuai dengan kekerapan si anggota menggunakan jasa koperasi, bukan berdasarkan proporsi modal anggota dalam koperasi. Dengan kata lain, dalam koperasi, setiap orang memperoleh hasil ekonomi sesuai dengan usahanya. Semakin sering anggota memanfaatkan jasa koperasinya, artinya semakin rajin ia bekerja, maka semakin besar hasil ekonomi yang diperolehnya. Anggota yang pasif tidak akan mendapat apa-apa. Prinsip ini bertolak belakang dengan prinsip kapitalis yang berbasis pada kumpulan modal. Ketiga, penghormatan terhadap kemanusiaan. Dalam syariah, manusia adalah makhluk paling mulia. Karena itu, ‘kerja’ sebagai wujud kemanusiaan, harus lebih dihargai dibandingkan ‘modal’ sebagai wujud harta. Dalam koperasi, prinsip ini diberlakukan dengan cara membatasi keuntungan dari saham yang ditanamkan anggota di koperasi. Dengan prinsip ini, pengaruh harta dibatasi, tetapi tidak, dengan pengaruh kerja. Anggota memperoleh manfaat dari koperasi sebanding dengan kerjanya, bukan dengan modal yang disimpannya di koperasi. Keempat, otonomi, yaitu anggota mengendalikan sepenuhnya ke arah mana dan bagaimana usaha koperasi diselenggarakan. Otonomi adalah bentuk lain dari kemerdekaan atau kebebasan. Syariah memandang kemerdekaan atau kebebasan sebagai bagian asasi dalam kehidupan manusia. Ini tidak terdapat dalam perusahaan kapitalistik, di mana pada umumnya kebebasan hanya dimiliki majikan, sementara buruh terikat oleh berbagai peraturan yang wajib dipenuhi, yang tak jarang peraturan itu merendahkan derajat kemanusiaan mereka. Kelima, kebebasan mengemukakan pendapat atau keinginan. Dalam koperasi prinsip ini disebut satu orang satu suara. Prinsip ini tidak berarti segala keputusan diambil dengan jalan voting. Justru kecenderungan dalam koperasi, prinsip satu orang satu suara ini diterapkan melalui musyawarah mufakat yang melibatkan seluruh anggotanya. Keadaan ini hanya bisa berlaku jika ada kesetaraan. Dalam koperasi tidak ada buruh dan majikan. Yang ada hanyalah persekutuan orang yang setara untuk menyelenggarakan aktivitas ekonomi bersama. Keenam, pendidikan anggota, yaitu pendidikan untuk menanamkan karakter positif seperti sifat tekun, pantang menyerah, aktif melakukan inovasi, solider terhadap sesama, serta karakter lain yang diperlukan untuk kemajuan, sekaligus pendidikan untuk mengasah wawasan dan keahlian anggota dalam mengelola koperasinya. Kiranya tak perlu diuraikan lagi bahwa syariah sangat memuliakan kegiatan pendidikan semacam ini. Ketujuh, kerja sama aktif antarsesama koperasi. Ikhtiar untuk mencapai perbaikan ekonomi pasti menghadapi banyak tantangan. Semakin berat tantangannya akan semakin sulit dihadapi sendirian. Karena itu satu koperasi harus merapatkan barisan dan mengembangkan kerja sama yang solid dengan koperasi lainnya. Merapatkan barisan, atau bersatu dengan pengorganisasian yang baik, adalah prinsip syariah yang utama dalam kehidupan sosial. Syariah sama sekali tidak menganjurkan prinsip yang sebaliknya, yaitu berpecah-belah, apalagi persaingan untuk saling menjatuhkan. Tujuh prinsip koperasi tersebut nyata-nyata merupakan perwujudan dari syariah Islam. Undang-undang tentang Koperasi No 25 tahun 1990 dibangun dari UUD 45. Konstitusi tersebut memuat akidah Ketuhanan yang Maha Esa yang merupakan landasan dari Tauhid. Selain itu juga banyak bukti telah menunjukkan bahwa kemanfaatan koperasi telah dirasakan masyarakat di berbagai belahan dunia. Masih perlukah kita mencari bangun ekonomi syariah yang lain? Ikhtisar – Masyarakat di banyak negara maju telah merasakan manfaat keberadaan koperasi. – Kolektivitas menjadi prinsip dasar yang memberi banyak keuntungan bagi para anggota koperasi. – Prinsip kolektivitas ini, pada dasarnya juga merupakan prinsip yang dianjurkan syariah. – Secara tegas, keberadaan prinsip tersebut membuat koperasi menjadi sama sekali berbeda dari lembaga ekonomi berbasis kapitalis. (Muslimin Nasution ) source: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=299636&kat_id=16

Kategori: Ekonomi

Peringatan kematian Munir

12 September, 2007 · & Komentar

Seminar Kematian Munir

kalau yang ini foto anggota muda 2007 waktu mengikuti diskusi peringatan 3 tahun kematian tn sn
munir di gedung indonesia menggugat

Kategori: Berita Seputar PMB

Yang Berdiri di Muka Cermin

12 September, 2007 · 1 Komentar


Cerpen Syafiril Erman
SEORANG lelaki berdiri di muka cermin retak di bawah sebuah bohlam kecil 10 watt yang tergantung di belakangnya. Bulan tampak menyembul separuh di sudut atas jendela yang terbuka selebar-lebarnya; sebagian cahayanya masuk ke dalam. Gubuk tempat tinggal lelaki tersebut tampak begitu murung dan suram, sepadan dengan kesuraman yang tengah melanda hati dan jiwanya.

Ia seorang petani miskin. Lahannya yang terletak tepat di samping gubuknya itu adalah sepetak kecil seluas 25 bata yang hanya mampu menampung 125 ikat benih padi. Apabila alam tengah berbaik hati, ia akan dapat memperoleh 5 karung gabah yang montok saat panen. Namun, musim panen kali ini terlalu kejam. Tak ia sisakan panen kali ini selain 3 karung gabah kurus kering yang teronggok tak jauh dari tempatnya berdiri tersebut.

istrinya 7 bulan lalu telah berangkat ke Arab Saudi sebagai TKW. Mereka tak beranak, itulah yang membuat mereka tak terlalu berat hati berpisah, sementara untuk mencoba memperbaiki nasib. Nanti, apabila sang istri sudah mulai mapan di sana, ia akan segera dikabari; siapa tahu ia juga dapat menyusulnya ke sana mengikuti jejaknya sebagai TKI, begitu rencana mereka berdua 7 bulan lalu.

Selesai mengikuti serangkaian pelatihan singkat yang diselenggarakan oleh agen PJTKI tempat sang istri mendaftarkan diri, ketika tiba saat pemberangkatan, ia menyempatkan diri untuk turut mengantarkan sang istri hingga menaiki bus yang membawanya ke bandara.

Hari-hari pun berlalu. Bulan pertama sang istri mengirim surat, mengabarkan bahwa kondisi dia di tanah orang relatif baik, artinya semua berjalan dengan lancar. Keluhan yang muncul hanya flu. Bisa dipahami, itu adalah karena perbedaan suhu dan cuaca, toh mulai bulan kedua keluhan tersebut tak muncul lagi. Di bulan kedua itu sang istri juga mengirimkan paket sajadah, kopiah haji, dan selembar foto dirinya di depan Masjid Harram. “Sabar sebentar ya kang mas, saya di sini sedang mencoba mencari celah untuk membawamu kemari”, begitu salah satu penggalan surat istrinya tersebut. Hati lelaki itu pun berbunga-bunga.

Lima bulan sudah. Kini ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya lagi, setelah hartanya satu persatu telah ia pindah alamatkan ke pegadaian untuk menyambung hidup. Lima bulan ini ia tak lagi menerima surat dari sang istri. Tak ada kabar sama sekali. Belakangan, ia merasa mendapat firasat buruk setelah malam kemarin ia bermimpi melihat istrinya berpakaian ihram tengah berdiri di depan Kabah. Tersenyum. Wajahnya terlihat sangat bersih dan cantik. Ia merasa bahwa mimpi itu adalah sebuah pertanda. Tadi, bahkan ia sempat berpikir untuk mengirim surat kepada istrinya, mengajaknya untuk kembali saja ke kampung. Ia mulai menyadari bahwa mengurus lahan kecil itu ternyata lebih baik daripada mengejar mimpi di negeri orang. Namun, tentu saja itu tidak bisa dia lakukan. istrinya dulu pernah bilang bahwa ia terikat kontrak selama 2 tahun. Jika ia memutuskan kontrak secara sepihak, ia harus mengganti uang ganti rugi yang jumlahnya sangat besar kepada PJTKI tempat istrinya mendaftarkan diri.

“Kang Welas…, Kang Welas…”, teriak seseorang tiba-tiba dari balik pintu. Lelaki itu tersentak.

“Kang Welas…, Buka pintu…!”

Sopo kuwi?”

“Aku kang, Suminar…. Cepat buka pintu…!” jawab orang dari balik pintu.

“Iyo… sebentar,” sahut lelaki itu sambil bergegas menuju pintu.

Seorang hansip berdiri di depan tangga pintu dengan wajah tegang. Belum sempat lelaki itu bertanya, lengannya tiba-tiba digamit. “Sebaiknya Kang Welas ikut saja. Ayo!”, kata hansip tersebut. Lelaki itu bahkan tak sempat untuk berpikir saat tiba-tiba saja ia telah berada di halaman rumah Pak Lurah. Ia mulai merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatinya saat menginjakkan kakinya di teras rumah itu.

“Assalamualaikum…,” kata hansip Suminar sambil mengetuk pintu.

Yo. Pintune ora dikunci”, sahut seseorang dari dalam.

Di ruang tamu itu sudah ada empat orang menunggu. Dua orang di antaranya berpakaian seragam polisi lengkap, dan seorang lagi adalah wanita separuh baya yang leher dan pergelangan tangannya dililit rantai emas. Pak Lurah berdiri saat melihat kedatangannya. Sesuatu yang aneh dalam hatinya yang ia tangkap saat di teras tadi kian menggumpal. Lelaki itu diam mematung, memandang kedua lelaki berpakaian seragam polisi tersebut. Aneh, kali ini ia merasa sorot matanya tak bisa fokus.

“Mari, silakan duduk, Pak Welas”, kata Pak Lurah. “O iya, sebelumnya kenalkan dulu, beliau-beliau ini adalah petugas dari kepolisian sektor, dan ibu itu adalah perwakilan dari agen PJTKI tempat istri bapak mendaftarkan diri”, lanjutnya. Ketiga orang tersebut menganggukkan kepala perlahan. Lelaki itu tak membalas. Kini ia merasa rongga dadanya seperti tak berisi. Hampa. Ia hanya menatap ketiga orang tersebut.

Sejenak suasana terasa lengang. Hening. Semuanya telah duduk di lima kursi yang tersedia di ruang tamu itu.

“Bagaimana dengan hasil panen kemarin pak?”, tanya Pak Lurah memecah keheningan. Lelaki itu tak berhasrat untuk menjawab. Menurutnya pertanyaan tersebut adalah basa-basi semata. Pak Lurah tentunya tahu bahwa semua petani di dusunnya tersebut kini mengalami kegagalan panen.

“Bu…, tolong kopinya tambah segelas lagi!”, kata Pak Lurah dengan nada agak keras.

“Begini, Pak Welas. Beliau-beliau ini kemari adalah untuk menyampaikan berita penting..”, pak Lurah berhenti sejenak. Matanya memandang ketiga tamunya tersebut. “Bagaimana bapak-bapak, ibu, Anda yang akan menyampaikan sendiri, atau…?”. Kedua polisi tersebut membuka kedua telapak tangannya. Wanita paruh baya agen PJTKI itu pun turut membuka kedua telapak tangan, bahkan disertai dengan mengangkat bahu. “Silakan, Bapak saja yang menyampaikannya. Bukankah tadi sudah saya sampaikan seluruhnya kepada Bapak?” jawab wanita paruh baya. Pak Lurah mengangguk, lalu menatap dengan hati-hati pada lelaki yang duduk tertunduk itu.

“Anu, Pak Welas, beliau-beliau ini datang kemari membawa berita dari Arab Saudi. Mari, silakan diminum, Pak Welas”, kata pak Lurah begitu istrinya selesai meletakkan secangkir kopi di atas meja di hadapannya. Lelaki itu sama sekali tak menunjukkan perubahan raut muka. Perasaan aneh di dalam dadanya itu kian bergumpal. Ia merasa bahwa ketiga orang itu pasti membawa berita buruk perihal istrinya. Tatapan lelaki itu yang kini hampa. Ia sama sekali tak berhasrat untuk menyentuh cangkir kopinya.

“Lima bulan yang lalu, istri Bapak terlibat sebuah pencurian di rumah majikannya, lalu ia dihukum oleh majikannya, kemudian dirawat di rumah-sakit, dan…”, begitu berhati-hati Pak Lurah mengucapkan kalimat tersebut. Ia diam sejenak untuk mencoba menangkap ekspresi wajah lelaki itu. Mengherankan. Tak ada sedikit pun perubahan ekspresi; lelaki itu masih dalam diam, mematung, dengan tatap mata hampa yang kali ini lurus ke depan.

“Dan..?” hanya sepotong kata itu yang terlontar dari bibir lelaki itu.

“Dan, minggu lalu beliau didapati telah meninggal dunia di rumah-sakit…”, lanjut Pak Lurah sambil menyodorkan selembar amplop besar yang berisi foto-foto.

Lelaki itu mengangkat telapak tangan, mengisyaratkan bahwa ia sama sekali tak berhasrat melihat foto-foto di dalamnya. Keempat orang di ruang itu saling pandang.

Keheningan kembali menyeruak.

“istri Bapak adalah seorang pekerja yang baik. Sebaiknya Bapak mengikhlashkan kepergiannya. Kami sebagai agen pengirimannya mengucapkan rasa bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa istri bapak tersebut. Ini gaji istri bapak selama lima bulan terakhir, kiranya bapak me….”, kalimat wanita separuh baya tersebut terpotong ketika lelaki itu tiba-tiba bangkit lalu beranjak meninggalkan pertemuan.

“Pak, Pak, Pak Welas…, hendak kemana? Urusannya belum selesai. Minggu depan jenazah istri bapak akan dikirimkan kemari…”, kata Pak Lurah dengan nada kebingungan menyaksikan reaksi lelaki tersebut.

“Uang gaji dan bukti penerimaannya, tolong diteken Pak…”, kata wanita paruh baya dari tempat duduknya sambil mengacungkan selembar kertas berikut pena.

Tepat di muka pintu lelaki itu membalikkan badan. Mata yang tadi hampa itu kini menatap tajam seluruh orang yang ada di ruang tersebut.

“Seperti berita-berita di koran itu, kan? istri saya pasti telah dianiaya oleh majikannya. Saya tak mengizinkan jenazah Suratmi dikirimkan kemari. Biarlah ia dimakamkan di sana saja”, katanya.

“Lalu?” kata wanita paruh baya masih sambil mengacungkan selembar kertas dan sebatang pena. Lelaki itu tak menjawab, ia menatap tajam berhujam-hujam mata wanita setengah baya pengurus PJTKI itu. Tak ia tengok sedikit pun lembaran kertas yang mencantumkan bilangan yang isinya senilai dengan 5 bulan gaji istrinya sebagai TKW di Arab Saudi.

Sejurus kemudian lelaki itu telah bergerak membelah pekat malam menuju rumah gubuknya.

**

DI hadapan cermin retak, lelaki itu kembali berhadapan dengan bayangan dirinya. Ia melihat wajahnya berkeping-keping di sana. Sempurna sudah musim kemarau kali ini. Lelaki itu telah sampai pada puncak pencapaian keputusasaannya. Pikirannya tak mampu bekerja, hatinya pun tak berasa apa-apa. Nihil. Itulah yang saat ini ada dalam jiwanya. Kakinya pun bahkan tak lagi berpijak di bumi. Bulan telah meninggalkan sudut jendela. Langit hitam terbentang luas di atasnya. Lelaki itu melangkah perlahan. Sesobek koran ia renggut dari atas meja. Dengan sebatang potongan pensil ia mulai membuat tulisan cakar-ayamnya di atas sobekan koran itu.

Untuk Kang Suminar.Kang, sekarang aku sudah tak punya apa-apa lagi. Keluarga tak punya, istri pun mati di negara orang. Hidupku kok sia-sia begini sih, Kang? Aku merasa percuma menjalani hidup di dunia ini. Sudah, kuikhlaskan gubuk ini buat akang. Akang boleh menempatinya atau hendak akang bakar untuk dijadikan kebun, terserah akang. Aku sudah tidak kuat lagi menanggung beban hidup di dunia ini Kang. Aku akan menyusul Suratmi saja.

Selesai menulis pesan tersebut lelaki itu bangkit perlahan. Di salah satu karung gabah ia tancapkan secarik koran itu, kemudian ia ambil tali bekas pengikat karung goninya lalu ia ikatkan ujung tambang itu di atas kayu blandar atap rumahnya.

Sejurus kemudian lelaki itu telah tegak berdiri di atas kursi. Lehernya berkalung tali tambang. Malam telah benar-benar sempurna. Lelaki itu masih sempat memandang bayangan dirinya yang tercabik-cabik di dalam retak kaca cerminnya.

Esoknya, seluruh kampung di dusun kecil itu gempar. Hansip Suminar yang pertama kali menemukan: Tubuh Welas tergantung di bawah blandar kayu rumah gubuknya. Lidahnya terjulur, bercak sperma menempel di kain sarung yang ia kenakan. Welas bunuh-diri.***

 Bandung, Juli 2005

Kategori: Uneg Uneg

Berita MPAB 2007

10 September, 2007 · & Komentar

MPAB 2007

finally, mpab 2007 terselenggara juga, dan sukses, bahkan baru tahun ini acara inagurasi
diselenggarakan di hotel homann. nah,kita sekarang sudah punya adik-adik baru, gak
tanggung-tanggung, 17 orang nyor. mereka dari 9 perguruan tinggi di bandung. sebuah prestasi yang
sangat layak untuk dibanggakan :
- bagi panitia, setelah 7 tahun bobo, ternyata dapat menyelenggarakan event penting itu
- bagi 17 anggota muda pmb 2007, jaman gini masih sudi diplonco? bangga lagi.
begini saja, ini ada beberapa foto wajah-wajah baru di sekretariat kita.
terus, ketua ppa 2007 adalah syafiril erman.
ada perubahan signifikan dalam pola ppa kali ini yakni, kegiatan penyampaian materi akan dilakukan
dalam 3 bulan, intensif, dengan stressing pembahasan ad/art pmb.
lulus anggota biasa, mereka langsung pegang ketua senat.
program ppa dua hari lagi saya kirim, sekarang sedang konsolidasi dulu.

salam,
firil

Kategori: Berita Seputar PMB

SKANDAL FREEPORT

7 September, 2007 · & Komentar

 Oleh: Muhammad Anis Maulachela (*) Salah satu bentuk penjajahan neo-liberalisme di negeri kita adalah kasus Freeport, yang untuk kesekian kalinya mencuat ke permukaan. Nampaknya kali ini kesabaran masyarakat Papua tak terbendung lagi, sehingga protes-protes yang muncul diwarnai dengan demonstrasi beruntun dan bahkan bentrok fisik dengan aparat TNI/Polri. Secara kasat mata, fenomena konflik Freeport memberikan gambaran yang menarik untuk dicermati. Tak diragukan, konflik-konflik yang terkait dengan keberadaan Freeport bukanlah fenomena baru dari adanya ketidakberesan perusahaan tambang Amerika itu selama ini.

Bukan rahasia lagi bahwa Kontrak Karya (Contract of Work Area) yang ditangani pemerintah Orde Baru telah mengabaikan prinsip-prinsip keadilan dan kesejahteraan rakyat. Sejak awal kehadiran Freeport di Mimika Papua (7 April 1967) telah memicu konflik, terutama dengan masyarakat suku Amungme dan Komoro. Perlakuan yang tidak akomodatif dari pemerintah dan pihak Freeport terhadap tuntutan masyarakat setempat telah memicu protes-protes yang berkepanjangan.

Lokasi pertambangan di daerah Ertsberg (gunung bijih tembaga) Papua pertama kali ditemukan oleh seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda, Jean Dory, pada 1936. Kemudian dilanjutkan dengan ekspedisi Forbes Wilson pada 1960, yang menemukan kembali Ertsberg. Freeport sendiri pertama kali melakukan penambangan pada Desember 1967, pasca Kontrak Karya I (April 1967). Ekspor pertama konsentrat tembaga terjadi pada Desember 1972. Kemudian pada 1986 ditemukan lagi sumber penambangan baru di Grassberg (gunung rumput) yang kandungan bahan tambangnya jauh lebih besar. Kandungan bahan tambang emas yang terdapat di situ adalah yang terbesar di dunia.

Diperkirakan kuantitas produksi yang dapat diperoleh Freeport dalam sehari adalah 185 ribu sampai 200 ribu ton bijih tembaga dan emas. Singkatnya, Freeport dapat mengeruk dari kedua lokasi tersebut sekitar 30 juta ton tembaga dan 2,744 miliar gram emas. Bila dihitung secara kasar dengan standar harga per gram emas 100 ribu rupiah, berarti nilai emas yang terkandung di bumi Papua sekitar 270 triliun rupiah. Itu baru dari emas saja, belum produk tambang lainnya.

Kenyataan ini jelas sekali membuat Freeport semakin berhasrat untuk memperpanjang Kontrak Karya. Oleh karena itu, dibuatlah Kontrak Karya II pada Desember 1991, yang memberikan hak kepada Freeport untuk menambang selama 30 tahun dengan kemungkinan perpanjangan selama 2 kali 10 tahun. Dengan demikian, Kontrak Karya II ini akan berakhir pada 2021; jika diperpanjang, maka akan berakhir pada 2041 (sekitar 34 tahun ke depan dari sekarang).

Namun ironisnya, masyarakat daerah dan negara tak memperoleh hasil yang proporsional dari pertambangan tersebut. Kontribusi Freeport kepada APBN (hingga 2005) hanya 2 triliun rupiah pertahun (sekitar 0,5 persen dari total dana APBN), di mana saham negara hanya 9,36% dan sisanya dimiliki perusahaan Amerika tersebut. Sungguh, nilai yang sangat minim untuk ukuran perusahaan raksasa seperti Freeport, yang penghasilannya pada 2005 mencapai 4,2 miliar dolar (sekitar 42 triliun rupiah). Mengapa kita tidak mau belajar dari Bolivia? Negara miskin di Amerika Latin ini telah berhasil memaksa investor asing untuk memberikan laba yang lebih besar, dari 18% menjadi 82%. Tak disangka, para investor asing tersebut bersedia memenuhi permintaan ini. Mengapa demikian? Joseph Stiglitz, dalam wawancaranya dengan Tempo saat berkunjung ke Indonesia (16 Agustus 2007), mengatakan bahwa mereka (para investor asing itu) sadar betul bahwa mereka sedang merampok kekayaan negara-negara berkembang (They will stay there, because they know that in the past they have been robbing the developing countries).

Sementara itu, kantor berita Reuters memberitakan bahwa empat bos besar Freeport minimal menerima bagian 126,3 miliar rupiah perbulan. Chairman perusahaan itu, James R. Moffet, menerima lebih dari 87,5 miliar rupiah perbulan. Sedangkan President Directornya, Andrianto Machribie, menerima sekitar 15,1 miliar rupiah perbulan. Dan tak dipungkiri bahwa para pejabat pemerintahan Orde Baru juga memperoleh bagian yang menggiurkan.

Sungguh kontras dengan kehidupan masyarakat Papua itu sendiri. Menurut statistik, dari 1,5 juta penduduk Papua 80,07% di antaranya tergolong miskin. Jelas sekali, keserakahan Freeport itu telah memancing konflik yang berkepanjangan dengan masyarakat setempat. Namun sebenarnya masalah telah mulai muncul sejak dilakukannya ekspedisi. Ketika itu tim ekspedisi Forbes Wilson (1960) meminta bantuan kepada masyarakat sekitar untuk membawakan barang-barang keperluan rombongan, tetapi pada akhirnya mereka tidak dibayar. Peristiwa inilah yang menjadi awal kekecewaan masyarakat. Konflik berikutnya berkaitan dengan dibuatnya “January Agreement” (1974), yang isinya menyangkut kesepakatan antara Freeport dengan masyarakat suku Amungme dalam pematokan lahan tambang dan batas tanah. Namun kenyataannya, Freeport telah mengambil tanah adat jauh di luar batas yang telah disepakati. Akibatnya, masyarakat adat semakin tergeser dan menjadi kaum pinggiran.

Realitas sosial ini kemudian menyulut munculnya tuntutan perolehan laba Freeport oleh masyarakat adat setempat. Sehingga, akhirnya mulai 1996 Freeport memutuskan untuk memberikan dana sekitar 1% dari laba kotor perusahaan, yang disebut “Freeport Fund for Irian Jaya Development” . Namun disinyalir pemberian dana ini hanya sekedar akal-akalan Freeport untuk meredam kerusuhan Maret 1996. Selain itu, dana tersebut telah menimbulkan konflik baru antar suku (Amungme dan suku-suku lainnya) mengenai siapa yang paling berhak memanfaatkannya. Jelas sekali hal ini menguntungkan pihak Freeport, karena dengan munculnya konflik internal ini konsentrasi masyarakat tak lagi tertuju pada Freeport. Selain itu, sebagai kompensasi dari dana tersebut, Freeport kemudian memperluas wilayah dan kuantitas penambangannya.

Tidak hanya itu, Freeport bahkan dengan leluasa memanfaatkan aparat keamanan dari TNI dan Polri untuk menghadapi aksi protes masyarakat. Untuk itu, Freeport telah mengucurkan dana yang sangat besar bagi aparat keamaan, yang telah beralih fungsi menjadi bodyguard atau centeng itu. Koran The New York Times memberitakan bahwa Freeport telah membayar sekitar 30 juta dolar kepada TNI dan Polri antara 1998 dan 2004. Lebih dari itu, Freeport juga telah menjejali hingga puluhan dan ratusan ribu dolar ke kantong sejumlah pejabat militer senior. Bahkan pada 2003 Freeport juga mengakui telah membayar TNI dan Polri sebesar 11 juta dolar antara 2001 dan 2002. Karenanya, kerap terjadi pelanggaran HAM di lokasi sekitar penambangan. Masyarakat yang berupaya mengais-ngais tailing untuk sekedar mencari sisa rezeki, diusir dengan paksa dan bahkan ada yang ditembak.

Masalah lainnya adalah dugaan kuat adanya praktik manipulasi hasil tambang yang dilakukan Freeport. Hasil tambang Freeport—berupa konsentrat tembaga, emas, dan perak—disalurkan secara tertutup melalui pipa besar yang dipasang langsung dari pusat pertambangan Grassberg sepanjang seratus kilometer ke tepi laut Arafura, untuk dibawa ke Amerika. Hanya sedikit pengolahan konsentrat yang dilakukan di Indonesia (sekitar 3% menurut anggota Panja DPR atau 30% menurut Manajer Teknik PT. Smelting Gresik). Sehingga tak pernah diketahui kuantitas dan nilai produksi yang sebenarnya. Bahkan kabarnya Freeport telah membawa pula uranium dari sana. Apalagi kalau dilihat dari perolehan negara yang hanya sebesar 2 triliun rupiah pertahun, dibandingkan dengan pendapatan Freeport pada 2005, jelas jauh di bawah nilai saham negara sebesar 9,36%.

Belum lagi dugaan kuat penggelapan pajak. Sebagai gambaran, pada 1994 Freeport memperoleh pendapatan 1,1 miliar dolar (atau berdasarkan kurs saat itu sekitar 2,2 triliun rupiah). Sementara Barnabas Suebu, mantan Gubernur Irian Jaya, menyebutkan bahwa nilai pajak Freeport yang kembali ke daerah selama ia menjadi Gubernur pada 1988-1993 tidak lebih dari 20 miliar rupiah (kurang dari 0,2% pendapatan Freeport tersebut).

Pelanggaran lainnya adalah kerusakan lingkungan. Entah berapa besar tanah di sekitar pertambangan yang telah rusak berat selama beroperasinya Freeport. Tentu saja ini memberikan dampak yang tidak menguntungkan bagi ekologi Papua maupun kesehatan masyarakat. Bayangkan saja, masyarakat mesti meminum air dari sumur-sumur yang telah sangat tercemar limbah. Sekedar gambaran, dari produksi harian Freeport sebesar 200 ribu ton, menghasilkan limbah pasir kimiawi (tailing) sekitar 190 ribu ton. Dapat dibayangkan bagaimana dahsyat dampak buruknya bagi lingkungan setempat setiap harinya. Bahkan saat ini salju di puncak gunung Jaya Wijaya pun telah mencair akibat pencemaran limbah buangan ini.

Namun ironis sekali, pemerintah kita justru terus membela keberadaan Freeport di Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahkan dengan tegas menyatakan bahwa Freeport selalu memberi laporan data kinerja perusahaan kepada pemerintah Indonesia, sehingga tak ada alasan untuk menutup perusahaan Amerika tersebut. Masalahnya, seberapa jauh kejujuran mereka dalam memberikan laporan itu. Bahkan telah terbukti mereka tidak jujur. Lalu sampai kapan kita mesti menjadi budak di negeri sendiri pak Presiden?

(*) Koordinator Bidang Riset dan Pengembangan, Gerakan Masyarakat Peduli Pilkada dan Pemilu (GMPP)

Kategori: Ekonomi

Kepundan sebuah metamorfosis

6 September, 2007 · & Komentar

http://klub-sastra-bentang.blogspot.com/2006/03/bukubaru-kepundan-sebuah-metamorfosis.html
Judul Buku: Kepundan: Sebuah Metamorfosis
Penulis: Syafiril Erman
Tebal: vi + 316 halaman
Cetakan: Pertama, Maret 2006
Format: 13 cm x 20,5 cm
ISBN: 979-3062-73-8
Harga: Rp. 39.000,-
Lini: Bentang

SINOPSIS

Tokoh utama dalam novel ini, Lelaki Muda, adalah prototipe manusia yang senantiasa melakukan pemberontakan terhadap sistem sosial di lingkungan tempat tinggal serta sekolahnya yang ia nilai korup dan munafik.

Selain Lelaki Muda, ada tokoh-tokoh lain yang tak kalah kompleks. Perempuan bekas dokter, seorang pencari sejati yang rela melepaskan predikatnya sebagai seorang dokter dan berkelana hingga ke pemukiman transmigrasi, untuk mencari jawaban atas sebuah “pertanda” yang ia tangkap melalui mimpi-mimpinya. Tokoh Pemuda Tarka, seorang lelaki yang awalnya adalah seorang yang oportunis, namun sejak pertemuannya dengan Lelaki Muda, berubah total menjadi lelaki militan. Ada lagi tokoh Wartawan. Ia adalah seorang jurnalis idealis yang, “…menulis bukan dengan pena, tetapi dengan jiwanya”, kata rekan-rekannya sesama wartawan. Pencarian serta pergulatan hati dan spiritual seluruh tokoh menjadi tema sentral novel ini.

Seluruh tokoh dalam Kepundan, bahkan tokoh antagonis, naif, dan licik sekali pun, adalah manusia-manusia yang jujur terhadap hati nuraninya. Melalui dialog-dialog dan proses kontemplasi masing-masing kita akan memahami apapun pilihan yang telah mereka ambil. Novel ini bukanlah novel yang memuat konflik benar-salah atau hitam-putih. Seluruh tokohnya adalah manusia-manusia yang tengah bermetamorfosis menuju puncak pencapaian masing-masing. Mereka adalah manusia-manusia yang bergerak di muka Bumi ini untuk menjalani ketentuan langit-Nya masing-masing.

Kategori: Info Buku

Sumur Tanpa Dasar, sebuah Pencarian Iwan Abdulrachman.

3 September, 2007 · 1 Komentar

 

Oleh: Ipong Witono

 

Dalam mengapresiasi karya-karya Abah Iwan, saya memilih dua buah lagu yang menggambarkan sosok Abah Iwan secara utuh. Yang pertama adalah Mentari dan yang kedua adalah Detik Hidup. Pilihan subyektif saya pada lagu Mentari  menggambarkan simbolisasi seorang pemuda yang berupaya menjaga daya hidupnya. Pencarian jati diri pemuda dalam diri Iwan Abdulrachman, saya yakini menjadi inspirasi utama lagu Mentari.

 

Tentu saja karya tersebut merupakan ‘umpan balik’ terhadap peristiwa yang melatar belakangi terciptanya lagu tersebut. Iwan Abdulrachman sebagai pemuda ingin membagi energinya bagi para aktivis yang dipenjara akibat memperjuangkan keadilan bagi rakyatnya. Dibalik jeruji yang dingin dan bisu, Mentari memberi harapan bahwa cita-cita tidak dapat dipenjara. Bahwa cita-cita adalah energi hidup yang terbesar.

 

Lagu Mentari yang menjadi lagu ‘kebangsaan’ para aktivis, bagi saya selalu memberi makna hakiki akan arti kebebasan. Kebebasan yang merupakan hak hidup harus selalu diperjuangkan secara terhormat walau terasa getir. Ketika kebebasan bukan sesuatu yang ‘gratis’ maka upaya merampas kembali hak hidup yang tercerabut selalu menjadi romantis dalam epos kepemudaan. Lagu Mentari seakan mengingatkan bahwa elemen terpenting pada diri pemuda bukan pada otak namun pada apa yang menuntun otak kita yaitu kepribadian, hati, keikhlasan dan ide-ide progresif.

 Mentari, bernyala disini,Disini di dalam hatikuGemuruh apinya disini, Disini di urat darahku. Meskipun tembok yang tinggi mengurungku,Berlapis pagar duri sekitarku,Tak satupun yang sanggup menghalangimu,Bernyala didalam hatiku. Hari ini hari milikku,

Juga esok masih terbentang,

Dan mentari kan tetap bernyala,

Disini diurat darahku.

 

Dan tentu saja simbolisasi mentari sebagai pusat tata surya memberi makna yang dalam. Pesannya adalah: “Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya”. Mentari adalah simbolisasi kita semua yang selalu berupaya saling memberi daya hidup bagi sesamanya.

 

Dalam fase pencarian makna hidup seorang Iwan Abdulrachman, menurut saya lagu Detik Hidup merupakan ungkapan yang terdalam. Imajinasi saya atas penciptaan lagu tersebut menggambarkan sosok Iwan Abdulrachman sebagai ‘ksatria’ yang lelah dan gamang melihat pergulatan hidup di dunia. Kekuasaan, nama besar, gelimang harta dan keakuan menjadi nisbi. Ksatria itu berupaya mencari kedamaian abadi dengan kepasrahan total. Ksatria itu berupaya mencari jalan keabadian sejati dengan menyerahkan akhir hidupnya sebagai pertapa.

 

Perhatikan lirik Detik Hidup yang selalu menyayat hati kita yang kering. Lagu tersebut merupakan karya utama dari proses pencarian makna akan arti hidup dari seorang Iwan Abdulrachman. Pencarian makna hidup yang tak berujung bagai sumur tanpa dasar telah menjadi permenungan yang sungguh dahsyat bagi kita semua. Kejujuran, ketidak berdayaan, kelemahan dan kesia-saian yang selalu menghantui ajal diungkapkan tanpa ingin menggurui. Sebuah cermin hidup akan berjuta wajah kita yang munafik, angkuh, dengki, penuh kepalsuan disingkap oleh ketakutan kita akan akhir ajal dengan berserah diri. Permenungan dan  pencarian makna hidup Iwan Abdulrachman tersebut tergambar secara utuh dalam lagu Detik Hidup.

 Detik detik berlalu dalam hidup ini,Perlahan tapi pasti menuju mati,Kerap datang rasa takut menyusup dihati,

Takut hidup ini terisi oleh sia-sia.

 Pada hening dan sepi, aku bertanya,Dengan apa kuisi detikku ini. 

Kerap datang rasa takut menyusup di hati,

Takut hidup ini terisi oleh sia-sia,Tuhan kemana kami setelah ini,Adakah Engkau dengar, doaku ini..Amin…Ya Robal Alamin Dalam hakikat yang berbeda lagu Detik Hidup memberi makna yang substansial akan pemahaman dan kesadaran kita terhadap arti ruang dan waktu. Dalam ungkapan yang berbeda adalah, “Waktu itu bersifat cuma-cuma, namun sangat berharga. Kita tidak bisa membelinya, namun bisa menggunakannya. Kita tidak bisa menyimpannya namun bisa mengubahnya. Sekali membuang sia-sia, tak bisa kembali mendapatkannya”. 

Sungguh Detik Hidup adalah ajakan Iwan Abdulrachman kepada kita semua untuk menatap dan memberi arti ajal dalam prespektif yang lain.

 

Selamat ulang tahun Abah Iwan. Terima kasih atas segala inspirasi, gerak dan karya yang kau hadirkan bagi hidup kami.

 (Penulis adalah pencinta lagu gubahan Iwan Abdulrachman)

Kategori: Profil · Seni & Budaya

Terima Kasih Abah

3 September, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Oleh: Ipong Witono

 

Ketika saya, dalam sebuah tulisan, menyebut bahwa Iwan Abdulrachman adalah salah satu ikon Bandung. Ada seorang sahabat yang mempertanyakan statement saya tersebut? Mengapa Iwan Abdulrachman? Apa kriterianya? Dan berbagai pertanyaan lainnya..

 

Ingatan saya langsung menerawang, berupaya melakukan redefinisi sosok Iwan Abdulrachman atau yang sering kami sebut, Abah Iwan. Dalam benak saya, tentu Abah Iwan tidak berkenan dengan definisi saya. Tapi bagi saya, itu hak saya untuk memberi penilaian atas sosoknya walau tentu subyektif. Atas pertanyaan sahabat tersebut, rasanya tidak perlu saya jawab.

 

Walaupun usia kami bertaut 15 tahun, namun sejak kecil saya sudah dapat menikmati lagu-lagu karya Abah Iwan yang sebagian besar dipopulerkan oleh Bimbo. Semula saya tidak mengetahui siapa pencipta lagu-lagu ‘dahsyat’ tersebut. Beberapa lagu yang abadi dalam kenangan saya sampai saat ini, antara lain; Flamboyant, Melati dari Jayagiri, Mentari, Tajam Tak Bertepi, 1000 Mil Lebih Sedepa, Detik Hidup, Sejuta Kabut, Cerita Buat Orang Yang Lupa, Bulan Merah, Angin November, Tragedi..Lirik lagu tersebut begitu akrab di telinga saya. Setelah dewasa, sayapun baru ‘ngeh’ bahwa lagu Burung Camar yang dipopulerkan oleh Vina Panduwinata dan Hymne Siliwangi adalah gubahan Abah Iwan.

               

Saat menginjak remaja, saya mulai mendengar nama Iwan Abdulrachman atau Iwan Ompong, begitu sebutan anak-anak gaul pada era 70an. Namanya sering terdengar di kalangan anak muda sebagai penempuh rimba yang tangguh, pesilat, penggubah lagu, aktivis pecinta alam, penggiat lingkungan hidup, olahragawan, aktivis pemuda hingga pelatih militer. Sosoknya sering memberi imajinasi saya sebagai sosok yang misterius. Semacam tokoh yang sering berada di balik ‘peristiwa besar’ namun tidak nampak kehadirannya. Sosok yang bergerak dalam sunyi. Dalam komunitas kepemudaan di Bandung, namanya sangat disegani. Mungkin karena kepribadian dan karakternya yang berwibawa namun rendah hati.

 

Walaupun sering mendengar namanya, saya baru melihat sosoknya dari dekat setelah saya kuliah di Jakarta, sekitar 25 tahun yang lalu. Di Bandung, lewat aktivitas teman-teman di Rumah Nusantara saya beruntung dapat mengenalnya lebih dekat lagi. Kepribadiannya yang hangat dan bersahaja namun tegas dalam prinsip mengesankan saya, Abah Iwan adalah pribadi yang utuh dan matang. Seringkali kami terlibat dalam tukar menukar gagasan akan solusi dari masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Dalam kegiatan berkesenian, lingkungan hidup maupun dialog lintas iman, saya belajar banyak dari Abah Iwan, terutama bagaimana memahami dan menghargai sebuah proses. Dan tentu saja, arti sebuah kualitas proses.

 

Di penghunjung tahun 2003, Abah Iwan terpanggil untuk mengabdikan dirinya sebagai calon Walikota Bandung. Bersama beberapa sahabat, Abah Iwan menyampaikan kehendaknya dan meminta saya pribadi untuk memimpin tim sukses dalam pencalonan tersebut. Tentu saya terkejut mendengarnya. Saya langsung menanggapi dengan kalimat; “Apakah tidak salah keputusan (mencalonkan diri) tersebut?”, pertanyaan selanjutnya, “Mengapa saya yang diminta memimpin pencalonan tersebut?”. Dalam benak saya, Abah saat ini sudah menjadi pertapa yang menjauhi hingar bingar dunia. Sebagai pertapa hanya akan ‘turun gunung’ apabila melihat situasi ‘dunia’ yang semakin kacau dan tidak terkendali. Di sisi lain, muncul suatu harapan, apabila Abah Iwan, salah satu warga terbaik Kota Bandung, bersedia ‘turun gunung’ membenahi Kota Bandung  -tentu saja berita tersebut- merupakan angin segar bagi kita semua.

 

Bagi saya pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab begitu Abah Iwan menjelaskan latar belakang keputusannya. Saya sampaikan rasa hormat saya atas keinginan tersebut dan menyampaikan bahwa saya masih hijau dalam dunia politik praktis. Namun sungguh sulit untuk menolak kehormatan tersebut walau saya sadar kapasitas saya  jauh dari cukup untuk menjalankan amanah tersebut.

 

Selanjutnya dalam kapasitas yang terbatas saya berusaha sekuat tenaga memimpin tim sukses Iwan Abdulrachman dengan penuh tanggung jawab. Sejak awal saya sadari tugas memenangkan Abah Iwan sebagai Walikota Bandung merupakan sebuah mission imposible. Dalam pergulatan waktu saya menyadari bahwa pencalonan Abah Iwan ternyata bukan untuk meraih ‘kemenangan’ politik belaka. Keikutsertaan Abah Iwan dalam perpolitikan tersebut lebih sebagai pesan politik kepada para elite politik bahwa warga kota mempunyai hak (partisipasi) untuk menyampaikan aspirasi politik yang sehat dan setara. Bahwasanya oligarki politik harus segera diakhiri. Saat itu saya sadar bahwa calon independen merupakan jawaban atas kebuntuan lembaga politik dalam menyerap aspirasi masyarakat. Walaupun saat itu sistem pemilihan walikota masih melalui sistem perwakilan di DPRD.

 

Walaupun kita semua tahu dan dapat memprediksi hasil dari Pemilihan Walikota saat itu. (dimana Abah Iwan pasti kalah karena hanya didukung Fraksi PKS yang kecil di DPRD), namun inspirasi pencalonan Abah Iwan tetap menjadi catatan sejarah tersendiri. Bahkan inspirasi tersebut turut mengilhami bergulirnya wacana calon independen dalam kancah perpolitikan saat ini. Misi kami saat itu adalah mengurangi hegemoni partai dan elite politik dalam kehidupan masyarakat. Mematahkan oligarki melalui partisipasi ‘silent majority’ yang lebih setara dan bermartabat. Pencalonan Abah Iwan sesungguhnya merupakan kontribusi pendidikan politik Abah Iwan bagi warga kota Bandung. Dia mengorbankan segala reputasi yang telah dimilikinya (karena pasti akan kalah) untuk sebuah harapan masyarakat akan adanya perbaikan dan perubahan di kota Bandung.Sebuah kota yang sangat dicintainya.

 

Ada kalimat bijak Abah Iwan yang dikutip dari nasehat guru silatnya yang selalu saya ingat. Nyaho can tangtu ngarti, Ngarti can tangtu bisa, Bisa can tangtu tuman, Tuman can tangtu ngajadi. Pesan orang bijak tersebut saya yakini sebagai syarat fundamental bagi setiap manusia dalam mensyukuri fitrahNya. Ketika rasa berserah yang dalam terhadap alam semesta menjadi manungaling ing Gusti dalam totalitas diri manusia, barulah manusia sadar akan misi hidupnya. Dalam pencarian yang terdalam dari alam batin Abah Iwan yang tidak pernah bertepi dan berujung, kalimat bijak itu seakan mudah diucapkan tapi sungguh sulit untuk kita lakukan.

 

Kata kunci dari pesan para leluhur yang disampaikan Abah Iwan adalah totalitas dan loyalitas.Kurangnya loyalitas pada hal apapun, seringkali menjadi salah satu penyebab kegagalan dalam perjalanan hidup kita. Dalam kesehariaannya, makna kesuksesan bagi Abah Iwan bukanlah segala-galanya. Baginya, kesuksesan bukanlah kunci kebahagiaan. Kebahagianlah yang menjadi kunci kesuksesan. Jika anda mencintai apa yang anda kerjakan, anda akan meraih kebahagiaan sekaligus kesuksesan.

 

Salah satu nilai utama yang selalu dijunjung Abah Iwan adalah kesetiaan. Kesetiaan dalam arti luas mencakup kesetiaan pada cita-cita, kesetiaan pada komitmen bersama, kesetiaan pada korps dan tentunya kepada negara. Pengkhianatan menjadi hal tabu untuk dilakukan. Dalam ungkapan yang saya tangkap, pengkhianatan adalah sesuatu yang hina untuk dilakukan. Orang-orang yang serakah dan berkhianat, akan menggigit tangan yang memberinya makan, biasanya mereka selalu menjilat sepatu dari kaki yang menendangnya.

 

Kang Aat Soeratin sering menggambarkan Abah Iwan sebagai manusia multifaset.

Manusia yang hidup dalam berbagai dimensi tapi tergaris dalam satu benang merah. Pergulatan pencarian jati dirinya telah memberi banyak inspirasi bagi lingkungan sekitarnya. Sulit untuk menggambarkan pandanan yang tepat bagi sosoknya. Saya lebih suka menyebutnya sebagai ‘api yang tak pernah padam’. Memberi terang dalam gelap, memberi hangat dalam dingin dan memberi asa dalam keputusasaan.

 

Dalam usianya yang beranjak senja, Abah Iwan telah melintas batas pencapaian manusia biasa. Kegalauan hatinya melihat ironi hidup dia ungkapan dalam hening lewat karya lagunya. Dia selalu setia berbagi harapan akan makna hidup walau kadang ‘pesannya’ sering tak terjangkau oleh kita.

 

Abah, sesungguhnya ‘kekuatan’ Anda bukan berasal dari kemenangan. Andalah yang melahirkan ‘kekuatan’ itu. Ketika Anda menghadapi kesulitan dan tak menyerah, itulah sesungguhnya makna ‘kekuatan’.

 

Selamat ulang tahun Abah. Atas segala jejakmu yang terukir dalam ingatan kami, saya mengucapkan terima kasih.

Kategori: Berita Seputar PMB · Profil · Seni & Budaya

Nasib Bangsa

3 September, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Oleh: Muhammad Anis Maulachela

Seiring dengan bergulirnya revolusi industri pada abad ke-18 M, para kapitalis (pemilik modal) berlomba-lomba membangun perusahaan industri, dari hulu hingga hilir. Tak ayal, nasib perekonomian negara pun berada di tangan mereka. Ketergantungan inilah yang kemudian menjadikan mereka merambah dunia politik. Sehingga, terbentuklah pemerintahan kapitalis, yang kemudian berkembang menjadi korporatokrasi (kekuasaan yang dikendalikan oleh elit politik, pengusaha, dan bank).

Namun pada akhirnya kapitalisme ini tidak hanya bersifat lokal, melainkan dikembangkan secara global. Kaum kapitalis rupanya tidak hanya puas menguasai negaranya, mereka juga ingin menguasai dunia. Mereka berpendapat bahwa ekonomi tidak memiliki batasan teritorial, dan pemerintah tidak semestinya mencampuri urusan pasar. Sehingga muncullah gagasan dan praktik demokrasi pasar, liberalisasi ekonomi, korporasi global, perdagangan bebas, deregulasi ekonomi, privatisasi, hutang luar negeri, globalisasi, dan lain-lain.

Dengan demikian kapitalisme pun bermetamorfosis menjadi neo-liberalisme, sebagai sarana imperialisme baru, di mana negara lain dapat dikuasai melalui penghancuran ekonomi negara tersebut. Amerika, sebagai dedengkot kapitalisme dunia, bahkan memiliki tim khusus perusak ekonomi (EHM/Economic Hit Man) yang berada di bawah koordinasi badan keamanan nasional (NSA/National Security Act). Kerja tim ini adalah dengan menjadikan suatu negara bergantung secara ekonomi dan politik pada Amerika dan Barat melalui hutang luar negeri.

Indonesia sebenarnya telah menjadi korban kapitalisme global atau neo-liberalisme semenjak masa-masa akhir penjajahan fisik Belanda dan Jepang. Sehingga tak heran bila kemudian Amerika justru berupaya agar Belanda dapat menjajah dan berkuasa kembali di Indonesia, demi membendung pengaruh komunisme (di masa perang dingin) dan melindungi kepentingan perusahaan-perusaha an minyak dan karet miliknya. Hal ini tergambar jelas dalam surat Menteri Luar Negeri AS, Byrnes, kepada Dubes AS untuk Inggris, Harriman, pada 12 Juni 1946, “Perlindungan terhadap berbagai kepentingan yang berkaitan dengan minyak di wilayah Palembang, khususnya ladang-ladang minyak, merupakan hal yang amat mendesak, mengingat kaum ekstremis sedang bersiap-siap untuk menghancurkan sumur-sumur minyak dan berbagai instalasi yang berkaitan dengan penyulingan minyak. Sejauh ini Departemen Luar Negeri belum mendapat kejelasan mengenai siapa yang akan melindungi ladang-ladang minyak itu, sementara rencana untuk melindungi kota Palembang tetap meragukan. Berhubung kepentingan Inggris dalam melindungi perusahaan Shell juga melibatkan perlindungan sumur-sumur dan berbagai peralatan yang letaknya tak jauh dari lokasi perusahaan Amerika di Pendopo dan Talang Akar, maka Departemen Luar Negeri berharap bahwa pemerintah Inggris akan mengambil langkah-langkah guna melindungi berbagai aset tersebut.”

Namun pengaruh neo-liberalisme ini mulai sedemikian sangat terasa sejak runtuhnya pemerintahan Orde Lama dan naiknya pemerintahan Orde Baru pada 1967. Indonesia telah menjadi target signifikan bagi kepentingan ekonomi dan politik negara-negara kapitalis. Sebagaimana yang tersirat dalam tulisan Stanley Hornbeck, seorang mantan pejabat luar negeri AS, pada 1948, “Indonesia merupakan rangkaian kepulauan yang paling kaya di dunia. Suatu wilayah yang secara politis, ekonomis, dan strategis amat penting bagi seluruh dunia.”

Globalisasi segera merambah di segala bidang, dari produk pangan hingga sekolah. Mekanisme pasar bebas juga tak ketinggalan mengambil peran. Sehingga untuk kebutuhan gula dan beras sekalipun, kita mesti mengimpor. Ironis sekali untuk sebuah negeri agraris. Lebih dahsyat lagi, perusahan-perusahaa n besar Amerika telah dengan leluasa mengeruk kekayaan alam Indonesia. Ratusan triliun harta publik telah diboyong ke Amerika, melalui persetujuan pemerintah kita yang lebih suka menjadi budak asing dan bermental inlander. Sementara, rakyat hanya bisa menggigit jari sembari berkutat dengan kelaparan, kemiskinan, penyakit, dan kebodohan. Persis seperti yang disinyalir oleh Joseph Stiglitz dalam bukunya Globalization and Its Discontents, “Sistem ekonomi internasional yang saat ini sedang berjalan justru telah membawa kesengsaraan dan penderitaan bagi ratusan juta penduduk di negara-negara dunia ketiga.”

John Pilger dalam bukunya The New Rulers of the World menceritakan tentang kerja para kartel internasional dalam menghisap negara-negara miskin. Ia berkata, “Di dunia ini, yang tak terlihat oleh sebagian besar dari kami yang hidup di belahan utara adalah cara perampokan canggih, yang telah memaksa lebih dari sembilan puluh negara untuk masuk ke dalam program penyesuaian struktural sejak 1980-an, yang telah membuat kesenjangan antara kaya dan miskin semakin lebar. Hal ini disebut sebagai Nation Building (pembangunan bangsa) dan Good Governance (pemerintahan yang baik) oleh empat serangkai yang mendominasi World Trade Organisation (Organisasi Perdagangan Dunia) yaitu Amerika, Eropa, Kanada, dan Jepang; serta tiga serangkai Washington yaitu Bank Dunia, IMF, dan Departemen Keuangan Amerika; yang mengendalikan setiap aspek detail dari kebijakan pemerintah negara-negara berkembang. Kekuasaan mereka diperoleh dari hutang yang belum terbayar, yang memaksa negara-negara termiskin membayar 100 juta dolar per hari kepada para kreditur Barat. Akibatnya adalah sebuah dunia, di mana elit yang lebih sedikit dari satu milyar orang menguasai 80% kekayaan seluruh umat manusia.”

Jeffrey Winters dalam bukunya Power in Motion dan Brad Simpson dalam disertasinya yang mempelajari dokumen-dokumen tentang hubungan Indonesia dan Barat, menyatakan, “Pada November 1967, menyusul tertangkapnya hadiah terbesar yang hasilnya lalu dibagi-bagi, The Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa, yang dalam waktu tiga hari merancang pengambilalihan Indonesia. Pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, seperti David Rockefeller. Sementara, raksasa korporasi Barat diwakili oleh perusahaan-perusaha an minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, dan US Steel. Sementara itu, di seberang meja duduk orang-orang Soeharto, yang oleh Rockefeller disebut sebagai ekonom-ekonom top Indonesia. Di Jenewa, mereka (para ekonom tersebut) juga dikenal dengan sebutan The Berkeley Mafia, karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika untuk belajar di Universitas California, Berkeley. Mereka datang sebagai pengemis, yang menyuarakan apa-apa yang diinginkan oleh para majikan yang hadir; serta menyodorkan butir- butir, yang dijual dari negara dan bangsa mereka sendiri.”

Kenaikan harga BBM secara beruntun merupakan salah satu hasil dari praktik neo-liberalisme di Indonesia. Tujuan sebenarnya tak lain hanyalah demi melayani keinginan para kapitalis global. Pemerintah boleh saja mengemukakan berbagai macam dalih, namun sesuai dengan UU Migas No. 22/2001 kenaikan harga BBM tak dapat dipisahkan dari sedang berlangsungnya liberalisasi industri migas di negeri ini. Akibatnya, rakyat mesti membayar BBM dengan harga yang ditentukan oleh New York Mercantile Exchange (NYMEX), berdasarkan ketentuan mekanisme pasar yang diatur dalam UU Migas tersebut. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro sendiri mengakui bahwa tujuan dinaikkannya harga BBM antara lain adalah untuk merangsang masuknya investasi asing ke sektor hilir industri migas di Indonesia. Ia mengatakan, “Liberalisasi sektor hilir migas membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran migas. Sebab kalau harga BBM masih rendah karena disubsidi, pemain asing enggan masuk.”

Jelas sekali, karena sejak semula memang diniatkan untuk mengundang masuknya investor asing, maka tidak aneh bila hampir semua aspek perumusan keputusan pemerintah dalam melakukan liberalisasi industri migas dan kenaikan harga BBM sarat oleh campur tangan pihak asing; khususnya Amerika, yang—melalui USAID, ADB (Bank Pembangunan Asia), Bank Dunia, dan perusahaan Price Waterhouse Coopers—telah turut terlibat dalam penyusunan UU Migas, Kelistrikan, dan BUMN.

Oleh karena itu, banyak negara-negara dunia ketiga—khususnya di Asia seperti Iran, India, Cina, Malaysia, dan lain-lain—telah bersikap tegas dengan menolak neo-liberalisme. Bahkan beberapa waktu yang lalu (Januari 2004) berlangsung konferensi internasional menolak korporasi global, yang bertajuk Forum Sosial Dunia (FSD) IV di Mumbay, India.

Aksi penolakan terasa kental mewarnai seluruh penyelenggaraan konferensi ini. Tak satu pun spanduk sponsor dari perusahaan—entah itu bank, hotel, produk pangan, apalagi kosmetik—yang ditemukan. Tak ditemukan pula aneka merek minuman ringan yang biasanya mudah diperoleh di pedagang asongan pinggir jalan. Air minum kemasan dari merek lokal juga tak nampak, apalagi keluaran korporasi internasional. Sebagai gantinya, di berbagai lokasi disediakan keran-keran yang mengalirkan air minum gratis hasil pemurnian dengan cara lokal. Bagi yang enggan minum beramai-ramai dari keran, disediakan stan-stan air yang dimurnikan. Satu liter air dalam botol tanpa merek dijual hanya 10 rupee (sekitar Rp. 2.000,-). Bila telah memiliki botol, tinggal mengisi ulang dengan hanya membayar 3 rupee (sekitar Rp. 600,-).

Semboyan “another world is possible” dalam konferensi tersebut muncul bersama kesadaran terhadap fakta bahwa lokalitas dan kearifan tradisional makin tak memperoleh tempat. Orang tak lagi bangga bila di badannya tidak menempel tas, kacamata, sepatu, dan baju dari merek asing. Orang pun tak lagi mau minum air rebusan, melainkan menggantinya dengan air kemasan atau menyediakan berkaleng-kaleng minuman ringan dalam kulkasnya. Padahal dampak dari semua itu sangat terasa. Di Filipina misalnya, produk minuman ringan dan air minum kemasan telah dimonopoli oleh korporasi internasional. Demikian pula di Thailand, produk minuman lokal menjadi tak laku dan banyak industri dalam negeri gulung tikar. Di India bahkan terdapat organisasi “People’s Forum Against Coca-Cola” (Forum Masyarakat Anti Coca-Cola), yang selama berlangsungnya FSD IV aktif menyelenggarakan lokakarya, konferensi pers, serta mengorganisir massa untuk berdemo dalam memprotes kiprah korporasi global di India. Pasalnya, industri Coca-Cola di India dituding telah menghabiskan cadangan air dan mengkontaminasi sumber air masyarakat di beberapa daerah.

Dengan demikian, sudah saatnya Indonesia mengikuti langkah negara-negara ini, dengan menolak neo-liberalisme serta penjarahan dan intervensi pihak asing dalam sistem perekonomian dan pemerintahannya.[]

Penulis: Koordinator Bidang Riset dan Pengembangan, Gerakan Masyarakat Peduli Pilkada dan Pemilu (GMPP

Kategori: Politik