SINYORA Media Informasi Perhimpunan Mahasiswa Bandung

Entries categorized as ‘Seni & Budaya’

Bimbo Populerkan Lagu Religius

9 Oktober, 2007 · 1 Komentar

Aku jauh, engkau jauh
Aku dekat, engkau dekat
Hati adalah cermin
Tempat pahala
dosa bertarung 

BAIT-BAIT syair tembang bertajuk “Tuhan” merupakan karya Samsudin berupa rangkaian doa seusai melaksanakan salat Jumat di Masjid Salman ITB tahun 1973. “Saya waktu itu habis salat Jumat, begitu imam mengajak doa, syair itu keluar dengan sendirinya. Pulang ke rumah, saya susun lagu itu,” kenang Samsudin (65), didampingi Acil Darmawan (64), Jaka Purnama (60), serta para istri saat berkunjung ke Kantor “Pikiran Rakyat” di Jalan Asia Afrika 77.

Berbekal satu tembang bernapaskan religius tersebut, Sam dan adik-adiknya berniat untuk mempitakasetkan lagu-lagu kasidah. “Terhadap niatan kami tersebut, oleh Pak Ramadhan K.H., kami dikenalkan dengan Bang Taufiq (Taufiq Ismail).

Pertama bertemu, Bang Taufiq bertanya buat kapan, kami bilang buat besok. Sejumlah syair baru jadi tiga hari kemudian. Begitu kami terima, sambil memberikan kertas berisikan syair karyanya setengah bertanya dia berucap, akankah dua tiga tahun ke depan (lagu) masih akan diputar (didengarkan),” ujar Sam.

Kekhawatiran Taufiq Ismail tidak terbukti. Seperti “Rindu Rasul”, lirik yang memiliki makna cukup dalam, puitis, tetapi lugas dengan menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami, diberikan sentuhan chord minor menjadi komposisi lagu sangat sederhana namun sangat kuat.

Paduan komponen ini juga yang membuat lagu religius Bimbo menjadi lagu sepanjang masa. Bait-bait syair “Tuhan” mempunyai kekuatan sangat dahsyat manakala benar-benar diselami tidak hanya pada bagian reffrain-nya saja tetapi juga sejak awal tembang. //Tuhan/Tempat aku berteduh/Di mana aku mengeluh/Dengan segala peluh/Tuhan/Tuhan yang maha esa/Tempat aku memuja/Dengan segala doa//.

Hal serupa juga dimiliki tembang “Rindu Rasul” yang bait-baitnya mampu membuat orang merinding takzim, bahkan Iin Parlina yang melantunkannya sampai menitikkan air mata. //Rindu kami padamu ya Rasul/Rindu tiada terperi/berabad jarak darimu ya Rasul//serasa dikau di sini.

Belum lagi reffrain lagu juga dibuat simpel dengan patahan tajam chord pada akhir reffrain, tepatnya pada kata “secara”. //Cinta ikhlasmu pada manusia//bagai cahaya surga//dapatkah kami membalas cintamu//secara bersahaja//.

Menurut Sam, lagu tersebut dibuat setelah dirinya membuat melodi, dan memainkannya dengan gitar di depan Taufiq Ismail. “Saya fait accompli dia. Tolong, lagu sudah jadi, liriknya harus jadi besok. Hebatnya lirik selesai,” kata Sam mengenang.

Selain lirik terkesan dalam, puitis, tetapi lugas dan menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami, Bimbo merasa punya keyakinan kalau karakter vokal ketiganya memiliki kekuatan dalam menyampaikan pesan yang ada di dalamnya. Buktinya, hingga saat ini, tembang “Tuhan”, “Rindu Rasul”, “Ada Sajadah Panjang” dan lainnya masih relevan dengan kehidupan saat ini.

Ciri khas lainnya, tembang religius Bimbo didominasi chord minor, yang sebenarnya memang telah menjadi ciri Bimbo pada awal tahun 1970-an. “Ciri khas musik kami memang demikian karena terpengaruh lagu-lagu Latin yang waktu itu cukup mendominasi. Selain itu memilih lagu Latin karena iramanya dekat-dekat dengan tembang Sunda. Lagu Latin banyak pakai perkusi dan tembang Sunda kebetulan pakai gendang. Kedekatannya juga pada nada minor yang dominan,” ujar Acil menambahkan.

Mengenai album kasidah yang menempatkan Bimbo sebagai pionir dalam hal memopulerkan lagu pop religius, Sam mengaku kalau album kasidah yang dibuat merupakan bentuk eksperimen untuk memancing reaksi pendengar. Namun reaksi tersebut baru beberapa tahun kemudian muncul, saat diundang dalam suatu seminar di Malaysia, sejumlah peserta mengatakan kalau sejumlah tembang kasidah Bimbo mengutip ayat Alquran.

“Saat itu saya bersama Gus Dur (Abdulrahman Wahid) menjadi pembicara, saya katakan kalau kami tidak melantunkan ayat suci Alquran dengan petikan gitar. Sebagai contoh saya lantunkan lagu “Surga di Dibawah Telapak Kaki Ibu” karya Taufiq Ismail, begitu usai bernyanyi hampir semua peserta menitikkan air mata dan mereka berdiri sambil bertepuk tangan hampir 15 menit lamanya,” kenang Sam.

Mereka bisa membuat album apa saja dari kelompok mana pun sejauh itu laku, seperti album pop Melayu, pop Jawa, pop Sunda, pop Mandarin, album pop anak-anak yang dibawakan band orang tua atau remaja seperti Koes Plus dan Mercy’s. Di tengah meriahnya album dengan orientasi pasar komersial, justru Bimbo pada tahun 1974 seperti melawan arus dengan meluncurkan album kasidah.

Radio-radio bahkan memperlakukan lagu-lagu tersebut layaknya lagu pop. “Artinya, lagu kasidah Bimbo bisa diputar reguler tanpa tergantung pada momentum tertentu,” kenang Jaka. Lagu-lagu kasidah Bimbo telah teruji oleh zaman dan terbukti awet hingga hari ini. Memasuki usia 40 tahun keberadaan Bimbo, lagu-lagunya masih terlalu kuat di tengah maraknya album pop religius belakangan ini. (Retno HY/”PR”)***

Kategori: Profil · Seni & Budaya

Dendang Syahdu Bimbo

9 Oktober, 2007 · Tidak ada Komentar

Seperti tahun-tahun biasanya di tanah air, selama Ramadhan lagu-lagu Bimbo banyak menghiassi televisi di tanah air.. Kali ini Ramadhan dan Lebaran jauh dari kampung halaman, sedikit mengobati kangen suasana Ramdhan dan Idul fitri seperti di tanah air, alunan merdu dari Syam, Jaka, Acil dan Iin Parlina menyampaikan pesan-pesan pengingat hati.. Untuk sahabat yang bersama-sama beribadah Ramadhan dan merayakan Idul Fitri di perantauan, silahkan mendengarkan yach.

Download Lagu

http://fafank130.multiply.com/music/item/20

Kategori: Seni & Budaya

Bimbo 40 Tahun Bernyanyi

9 Oktober, 2007 · Tidak ada Komentar

 FRANS SARTONO

Tahun ini Bimbo genap 40 tahun bernyanyi. Lagu-lagu seniman bersaudara asal Bandung ini menemani berlapis generasi di Tanah Air. Lagu Bimbo tumbuh seiring perjalanan hidup awaknya: Samsudin (65), Acil Darmawan (64), Jaka Purnama (60), dan Iin Parlina (52). Mereka bersenandung tentang cinta. Bercanda dalam lagu, mulai soal kumis, tangan, mata, sampai calon mertua atau membuat satire sosial. Tetapi, Bimbo juga bicara tentang Tuhan lewat lagu Tuhan.

Dalam perjalanan kreatif, Bimbo didukung sejumlah seniman, seperti Iwan Abdulrachman yang banyak menulis lagu, seperti Melati dari Jayagiri sampai Flamboyan. Juga penyair Taufiq Ismail yang puisinya dilagukan Bimbo, seperti Dengan Puisi, Rindu Rasul, sampai Sajadah Panjang. Mereka memberi warna tersendiri pada khazanah musik pop negeri ini lewat lagu berlirik puitis, bernuansa religius.

Bimbo tengah menyiapkan konser 40 tahun, yang kalau tidak ada aral melintang direncanakan berlangsung di Jakarta, 22 Agustus mendatang. Mereka juga akan merilis album pop serta menerbitkan buku 40 tahun Bimbo. Kompas menemui Sam, juga menghubungi Acil, Jaka, dan Iin secara terpisah.

Apa arti Bimbo dalam hidup Anda?

Bimbo itu hanya setetes air. Bukan sesuatu yang luar biasa, tetapi hanya setetes. Tetapi, semoga orang mendengar bahwa kita memang bukan apa-apa di bawah Tuhan. Meski hanya setetes, mudah-mudahan Bimbo bisa mencerahkan. Kami ingin memberi warna.

Misalnya?

Lagu Tuhan atau Rindu Rasul itu lagu yang membuka persahabatan, persaudaraan. Bahwa kita hidup tidak tersekat-sekat. Kami berharap Bimbo terus menetes dan menghilangkan sekat-sekat itu.

Bagaimana Anda menggambarkan perjalanan 40 tahun Bimbo?

Kami seperti air yang mengalir. Di depan ada batu, kami belok ke kiri atau kanan. Kami tidak pernah punya cita-cita yang menggelegar ingin jadi ini itu. Kami tak merasa sebagai apa-apa. Tetapi, kami percaya ada yang mendorong: Gusti Allah.

Konkretnya?

Misalnya, waktu kami ketemu Bang Taufiq (Ismail) itu mengalir begitu saja. Dia itu the right man at the right position. Kami diperkenalkan oleh Pak Ramadhan (KH). Begitu ketemu, langsung kami minta. Dia tanya buat kapan. Kami bilang buat besok. Dia kaget, tapi dibikinkan dan bagus.

(Bimbo saat itu sedang menyiapkan album Qasidah tahun 1975 yang antara lain memuat lagu Rindu Rasul)

Masih membuat lagu?

Lima tahun terakhir ini kami terus kumpulin lagu. Semua lagu Bimbo kami rekam ulang. Saya tak mau kasus Remaco terulang lagi. Dulu, barang (lagu) milik kami, tapi hak edar milik mereka. Sekarang dengan merekam sendiri, barang dan hak edar jadi milik kami.

Berapa terekam?

Baru 120 lagu, tapi duit sudah habis he-he…. Iin sampai protes. ’Rekaman terus, rekaman terus, kapan jadinya’. Tapi kami harus merekam karena yang mahal itu voice, suara. Ini yang bikin Allah. Kalau kami sudah dikubur, kami tak bisa nyanyi lagi. Dengan rekaman ini, kami walau sudah dikubur, nanti suatu saat bisa nyanyi dengan anak cucu. Seperti Natalie Cole nyanyi bersama ayahnya Nat “King” Cole.

Bagaimana awal dari perjalanan Bimbo?

Ada fakta yang sifatnya tak sengaja. Saya yang kebetulan anak sulung suka menyanyi dan adik-adik saya ikut nyanyi. Saya dan Acil dulu (pertengahan 1950-an) adalah pengagum Sam Saimun. Menjelang akhir 1950-an Elvis masuk. Kami masih remaja dan terkontaminasi. Jadi dari gaya seriosa kayak Pavarotti itu kami kena rock kayak Elvis.

Aneka Nada ke Bimbo

Pada akhir 1950-an, ketika masih SMA, Sam membentuk band The Alulas. Band ini berubah nama menjadi Aneka Nada di mana Sam dan Acil menjadi vokalis. Sam juga mengasuh Aneka Nada Yunior yang antara lain didukung Jaka dan Iwan Abdulrachman, teman sebangku Jaka di SMP.

Tahun 1962 Guntur Soekarnoputra bergabung. Mereka kebetulan sama-sama kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Tahun 1965 Aneka Nada bubar. Sam melatih adik-adiknya, yaitu Yani, Tina dan Iin, untuk bernyanyi dalam trio Yanti Bersaudara. Trio ini populer pada paruh kedua era 1960-an dengan lagu seperti Abunawas.

Ketika Yanti Bersaudara berjaya, Aneka Nada bubar. Sam dan Acil vakum. Iin, Yani, dan Tina menggagas untuk memberi hadiah gitar kepada ketiga kakaknya. Mereka memesan tiga gitar pada pembuat gitar terkenal di Bandung, yaitu Oen Peng Hok, di bilangan Jalan Kopo.

“Kami menyisihkan honor untuk beli tiga gitar. Itu pun dengan cara nyicil karena untuk ukuran saat itu termasuk mahal. Kami memberikan gitar itu dengan perasaan terharu,” kenang Iin Parlina.

Jaka Purnama yang saat itu berumur 20 tahun mengenang gitar Peng Hok itu sebagai pemacu semangat. Sejak itu tiga bersaudara anak-anak pasangan Dajat Hardjakusumah dan Oeken Kenran itu berlatih.

“Gitar itu sangat berharga karena kami dulu cuma pinjem-pinjem saja. Gitar itu menjadi penyemangat. Kami mulai berlatih mainin lagu-lagu Latin,” kenang Jaka.

Mengapa lagu Latin?

“Lagu-lagu Latin itu dekat-dekat dengan tembang Sunda. Lagu Latin banyak pakai perkusi. Tembang Sunda kebetulan pakai gendang. Kedekatannya juga pada nada minor yang dominan. (Jaka lalu melantunkan lirik lagu Historia de un Amor: ’Ya no estás más a mi lado, corazón.). Nah, lagu itu dan Besame Mucho kan mirip Bubuy Bulan ha-ha….”

Itu cikal bakal Bimbo. Pada Maret 1967 tiga bersaudara itu tampil di TVRI. Mereka belum punya nama. Saat itulah lahir nama Trio Los Bimbos yang kemudian berubah menjadi Trio Bimbo.

Melati dari Singapura

Trio Bimbo pernah dikontrak selama tiga bulan untuk bernyanyi di Ming Court Hotel di bilangan Orchard, Singapura. Sebelum pulang ke Indonesia, Bimbo merekam album di perusahaan rekaman Polydor, Singapura, 1970.

Rekaman di Kinetex Studio itu melibatkan seniman jazz Maryono pada flute dan saksofon, serta Mulyono pada piano. Kebetulan keduanya juga dikontrak main di Singapura. Album memuat 12 lagu antara lain Melati dari Jayagiri, Flamboyan gubahan Iwan Abdulrachman.

“Bimbo waktu itu sebenarnya mau bubar. Acil dan Jaka harus pulang menyelesaikan kuliah. Saya sendiri sudah lulus (Jurusan Seni Rupa ITB). Terus kami bikin album buat kenang-kenangan. Eh, gak tahunya meledak,” tutur Sam.

“Waktu mulai take vocal (perekaman suara), operator kaget karena kami bernyanyi sangat keras. Kami sampai harus berdiri satu meter dari mikrofon. Itu karena kami terbiasa bernyanyi di hotel tanpa mikrofon,” kenang Jaka.

Itu merupakan album pertama Trio Bimbo. Piringan hitam hanya dicetak terbatas. Itu merupakan pintu masuk Trio Bimbo ke belantika musik Indonesia.

Tante Sun

“Batu zamrud berlian dan kerikil/ Emas hingga besi beton bisnisnya/ Cukong-cukong dan tauke/ Direktur dan makelar/ Tekuk lutut karena Tante Sun”

Lagu-lagu Bimbo kadang lahir karena terpepet waktu, misalnya Kumis dan Tante Sun tahun 1977.

“Dari Bandung kami kadang cuma bawa lima lagu. Yang lain, enam atau tujuh lagu kami bikin di studio. Kami menyebutnya sebagai lagu penggembira. Itu antara lain lagu Tante Sun.”

“Jaka sudah bikin melodi, tetapi belum ada liriknya. Saya tulis di studio. Waktu itu di Jakarta sedang heboh arisan call. Terus saya ingat ibu-ibu pejabat yang berbisnis.”

Tante Sun sempat menjadi pembicaraan di masyarakat.

“Tapi lucunya, saya dengar-dengar Pak Domo suka bersiul lagu Tante Sun. Mungkin karena dia suka golf.”

Pak Domo yang disebut Sam adalah Laksamana Sudomo yang saat lagu itu populer menjabat sebagai Kas Kopkamtib. Dalam lagu, digambarkan Tante Sun yang “… pergi bermain golf hingga datangnya siang/ T’rus ke salon untuk mandi susu.”

Lain lagi dengan proses membuat lagu berlirik religius, termasuk lagu kasidah. “Proses pembuatan lagu normal. Tetapi, lirik tak bisa main-main. Kasidah itu sulit, kalau salah bisa fatal.”

***

Acil Menatap Indonesia

“Kutatap wajahmu, lagu kunyanyikan. Bagai daun jatuh bertebaran.”

Itu lagu cinta Bimbo Kutatap Wajahmu yang dilantunkan Acil. Kakek dari tiga cucu itu masih nyanyi dengan suara baritonnya yang mantap itu. Ia juga “vokal” menatap Indonesia lewat Bandung Spirit, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang kemasyarakatan dan budaya.

Mengapa Bandung Spirit?

Perubahan yang ada di negeri ini membuat saya gelisah. Tahun 2000, kami berdialog dengan 60 akademisi di Bandung. Kami membicarakan Indonesia ke depan nanti akan seperti apa. Kami melihat potensi konflik. Apakah persoalan-persoalan itu bisa dijawab. Kesimpulannya, kami lalu membikin lembaga swadaya masyarakat. Kami menggunakan koridor independen, bukan lembaga cari duit.

Apa yang membuat gelisah?

Makin ke sini, kami melihat reformasi itu bukannya kebablasan, tapi dibablaskan. Saya tidak melihat pemimpin bangsa ini yang melihat bahwa bangsa ini sedang dalam krisis. Kita kehilangan kejujuran. Bangsa ini tak lagi punya daya lawan. Kami ingin rakyat mendapatkan kembali daya lawan terhadap masalah-masalah besar itu.

Separah apa?

Bangsa ini seperti telah kehilangan kecerdasan. Maksudnya kita kehilangan intelektualitas, rasionalitas, moral, spiritual, nasionalisme. Segalanya.

Nasionalisme?

Ya. Kami suka bercanda, Bung Karno dan Bung Hatta dulu berjuang pakai proposal enggak? Perangai dan budi pekerti kita telah berubah. Kami harus berbuat sesuatu meski itu sangat kecil. (XAR)

***

Lagu dan Lukisan

Sam menggelar pameran lukisan Dua dalam Satu Aksi di Bentara Budaya Jakarta pada 3-12 Mei lalu. Kakek seorang cucu ini menampilkan karya tahun 1963-2007 dengan empat tema utama: kaligrafi, wayang, masalah sosial, dan abstrak.

Bentuk kaligrafi karya Sam menyerupai perpaduan gaya Naskhi dan Kufi, dengan anatomi huruf yang dibangun dari garis, pemadatan warna, atau tekstur. Isi kaligrafi berupa doa, petikan ayat Al Quran atau kalimat Syahadat.

Abstraksi lahir dari stilasi atau deformasi bentuk pemandangan alam. Masalah sosial masuk dalam lukisan sebagai respons Sam terhadap berbagai problem kehidupan, seperti musibah banjir di Jakarta baru-baru ini.

Secara umum, karya-karya Sam bertolak dari corak abstraksi gaya Bandung tahun 1970-an. Jejak “formalisme” kala itu menuntun selera estetisnya sampai sekarang.

Apa persamaan antara melukis dan bermusik?

Melukis dan bermusik sama-sama berangkat dari problem kehidupan. Sumbernya dari berita di koran yang saya baca setiap pagi, yang direnungkan, kemudian dituangkan dalam karya. Bedanya, perenungan dalam lukisan diterjemahkan dalam bahasa visual, sedangkan pada musik berwujud dalam kata dan nada yang dinyanyikan.

Masih ada waktu untuk melukis?

Sebagian besar waktu saya untuk Bimbo. Kalau ada kesempatan, saya melukis. Tapi, sering sekali, lagi enak-enak gambar, tiba-tiba harus mengurus musik. Makanya, kadang, satu lukisan saja tidak beres-beres dalam tiga bulan. Saya kurang produktif, tapi saya berkarya dengan bebas, tanpa bergantung pada pasar. (ILHAM KHOIRI)

Kategori: Berita Nasional · Profil · Seni & Budaya

Sumur Tanpa Dasar, sebuah Pencarian Iwan Abdulrachman.

3 September, 2007 · 1 Komentar

 

Oleh: Ipong Witono

 

Dalam mengapresiasi karya-karya Abah Iwan, saya memilih dua buah lagu yang menggambarkan sosok Abah Iwan secara utuh. Yang pertama adalah Mentari dan yang kedua adalah Detik Hidup. Pilihan subyektif saya pada lagu Mentari  menggambarkan simbolisasi seorang pemuda yang berupaya menjaga daya hidupnya. Pencarian jati diri pemuda dalam diri Iwan Abdulrachman, saya yakini menjadi inspirasi utama lagu Mentari.

 

Tentu saja karya tersebut merupakan ‘umpan balik’ terhadap peristiwa yang melatar belakangi terciptanya lagu tersebut. Iwan Abdulrachman sebagai pemuda ingin membagi energinya bagi para aktivis yang dipenjara akibat memperjuangkan keadilan bagi rakyatnya. Dibalik jeruji yang dingin dan bisu, Mentari memberi harapan bahwa cita-cita tidak dapat dipenjara. Bahwa cita-cita adalah energi hidup yang terbesar.

 

Lagu Mentari yang menjadi lagu ‘kebangsaan’ para aktivis, bagi saya selalu memberi makna hakiki akan arti kebebasan. Kebebasan yang merupakan hak hidup harus selalu diperjuangkan secara terhormat walau terasa getir. Ketika kebebasan bukan sesuatu yang ‘gratis’ maka upaya merampas kembali hak hidup yang tercerabut selalu menjadi romantis dalam epos kepemudaan. Lagu Mentari seakan mengingatkan bahwa elemen terpenting pada diri pemuda bukan pada otak namun pada apa yang menuntun otak kita yaitu kepribadian, hati, keikhlasan dan ide-ide progresif.

 Mentari, bernyala disini,Disini di dalam hatikuGemuruh apinya disini, Disini di urat darahku. Meskipun tembok yang tinggi mengurungku,Berlapis pagar duri sekitarku,Tak satupun yang sanggup menghalangimu,Bernyala didalam hatiku. Hari ini hari milikku,

Juga esok masih terbentang,

Dan mentari kan tetap bernyala,

Disini diurat darahku.

 

Dan tentu saja simbolisasi mentari sebagai pusat tata surya memberi makna yang dalam. Pesannya adalah: “Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya”. Mentari adalah simbolisasi kita semua yang selalu berupaya saling memberi daya hidup bagi sesamanya.

 

Dalam fase pencarian makna hidup seorang Iwan Abdulrachman, menurut saya lagu Detik Hidup merupakan ungkapan yang terdalam. Imajinasi saya atas penciptaan lagu tersebut menggambarkan sosok Iwan Abdulrachman sebagai ‘ksatria’ yang lelah dan gamang melihat pergulatan hidup di dunia. Kekuasaan, nama besar, gelimang harta dan keakuan menjadi nisbi. Ksatria itu berupaya mencari kedamaian abadi dengan kepasrahan total. Ksatria itu berupaya mencari jalan keabadian sejati dengan menyerahkan akhir hidupnya sebagai pertapa.

 

Perhatikan lirik Detik Hidup yang selalu menyayat hati kita yang kering. Lagu tersebut merupakan karya utama dari proses pencarian makna akan arti hidup dari seorang Iwan Abdulrachman. Pencarian makna hidup yang tak berujung bagai sumur tanpa dasar telah menjadi permenungan yang sungguh dahsyat bagi kita semua. Kejujuran, ketidak berdayaan, kelemahan dan kesia-saian yang selalu menghantui ajal diungkapkan tanpa ingin menggurui. Sebuah cermin hidup akan berjuta wajah kita yang munafik, angkuh, dengki, penuh kepalsuan disingkap oleh ketakutan kita akan akhir ajal dengan berserah diri. Permenungan dan  pencarian makna hidup Iwan Abdulrachman tersebut tergambar secara utuh dalam lagu Detik Hidup.

 Detik detik berlalu dalam hidup ini,Perlahan tapi pasti menuju mati,Kerap datang rasa takut menyusup dihati,

Takut hidup ini terisi oleh sia-sia.

 Pada hening dan sepi, aku bertanya,Dengan apa kuisi detikku ini. 

Kerap datang rasa takut menyusup di hati,

Takut hidup ini terisi oleh sia-sia,Tuhan kemana kami setelah ini,Adakah Engkau dengar, doaku ini..Amin…Ya Robal Alamin Dalam hakikat yang berbeda lagu Detik Hidup memberi makna yang substansial akan pemahaman dan kesadaran kita terhadap arti ruang dan waktu. Dalam ungkapan yang berbeda adalah, “Waktu itu bersifat cuma-cuma, namun sangat berharga. Kita tidak bisa membelinya, namun bisa menggunakannya. Kita tidak bisa menyimpannya namun bisa mengubahnya. Sekali membuang sia-sia, tak bisa kembali mendapatkannya”. 

Sungguh Detik Hidup adalah ajakan Iwan Abdulrachman kepada kita semua untuk menatap dan memberi arti ajal dalam prespektif yang lain.

 

Selamat ulang tahun Abah Iwan. Terima kasih atas segala inspirasi, gerak dan karya yang kau hadirkan bagi hidup kami.

 (Penulis adalah pencinta lagu gubahan Iwan Abdulrachman)

Kategori: Profil · Seni & Budaya

Terima Kasih Abah

3 September, 2007 · Tidak ada Komentar

Oleh: Ipong Witono

 

Ketika saya, dalam sebuah tulisan, menyebut bahwa Iwan Abdulrachman adalah salah satu ikon Bandung. Ada seorang sahabat yang mempertanyakan statement saya tersebut? Mengapa Iwan Abdulrachman? Apa kriterianya? Dan berbagai pertanyaan lainnya..

 

Ingatan saya langsung menerawang, berupaya melakukan redefinisi sosok Iwan Abdulrachman atau yang sering kami sebut, Abah Iwan. Dalam benak saya, tentu Abah Iwan tidak berkenan dengan definisi saya. Tapi bagi saya, itu hak saya untuk memberi penilaian atas sosoknya walau tentu subyektif. Atas pertanyaan sahabat tersebut, rasanya tidak perlu saya jawab.

 

Walaupun usia kami bertaut 15 tahun, namun sejak kecil saya sudah dapat menikmati lagu-lagu karya Abah Iwan yang sebagian besar dipopulerkan oleh Bimbo. Semula saya tidak mengetahui siapa pencipta lagu-lagu ‘dahsyat’ tersebut. Beberapa lagu yang abadi dalam kenangan saya sampai saat ini, antara lain; Flamboyant, Melati dari Jayagiri, Mentari, Tajam Tak Bertepi, 1000 Mil Lebih Sedepa, Detik Hidup, Sejuta Kabut, Cerita Buat Orang Yang Lupa, Bulan Merah, Angin November, Tragedi..Lirik lagu tersebut begitu akrab di telinga saya. Setelah dewasa, sayapun baru ‘ngeh’ bahwa lagu Burung Camar yang dipopulerkan oleh Vina Panduwinata dan Hymne Siliwangi adalah gubahan Abah Iwan.

               

Saat menginjak remaja, saya mulai mendengar nama Iwan Abdulrachman atau Iwan Ompong, begitu sebutan anak-anak gaul pada era 70an. Namanya sering terdengar di kalangan anak muda sebagai penempuh rimba yang tangguh, pesilat, penggubah lagu, aktivis pecinta alam, penggiat lingkungan hidup, olahragawan, aktivis pemuda hingga pelatih militer. Sosoknya sering memberi imajinasi saya sebagai sosok yang misterius. Semacam tokoh yang sering berada di balik ‘peristiwa besar’ namun tidak nampak kehadirannya. Sosok yang bergerak dalam sunyi. Dalam komunitas kepemudaan di Bandung, namanya sangat disegani. Mungkin karena kepribadian dan karakternya yang berwibawa namun rendah hati.

 

Walaupun sering mendengar namanya, saya baru melihat sosoknya dari dekat setelah saya kuliah di Jakarta, sekitar 25 tahun yang lalu. Di Bandung, lewat aktivitas teman-teman di Rumah Nusantara saya beruntung dapat mengenalnya lebih dekat lagi. Kepribadiannya yang hangat dan bersahaja namun tegas dalam prinsip mengesankan saya, Abah Iwan adalah pribadi yang utuh dan matang. Seringkali kami terlibat dalam tukar menukar gagasan akan solusi dari masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Dalam kegiatan berkesenian, lingkungan hidup maupun dialog lintas iman, saya belajar banyak dari Abah Iwan, terutama bagaimana memahami dan menghargai sebuah proses. Dan tentu saja, arti sebuah kualitas proses.

 

Di penghunjung tahun 2003, Abah Iwan terpanggil untuk mengabdikan dirinya sebagai calon Walikota Bandung. Bersama beberapa sahabat, Abah Iwan menyampaikan kehendaknya dan meminta saya pribadi untuk memimpin tim sukses dalam pencalonan tersebut. Tentu saya terkejut mendengarnya. Saya langsung menanggapi dengan kalimat; “Apakah tidak salah keputusan (mencalonkan diri) tersebut?”, pertanyaan selanjutnya, “Mengapa saya yang diminta memimpin pencalonan tersebut?”. Dalam benak saya, Abah saat ini sudah menjadi pertapa yang menjauhi hingar bingar dunia. Sebagai pertapa hanya akan ‘turun gunung’ apabila melihat situasi ‘dunia’ yang semakin kacau dan tidak terkendali. Di sisi lain, muncul suatu harapan, apabila Abah Iwan, salah satu warga terbaik Kota Bandung, bersedia ‘turun gunung’ membenahi Kota Bandung  -tentu saja berita tersebut- merupakan angin segar bagi kita semua.

 

Bagi saya pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab begitu Abah Iwan menjelaskan latar belakang keputusannya. Saya sampaikan rasa hormat saya atas keinginan tersebut dan menyampaikan bahwa saya masih hijau dalam dunia politik praktis. Namun sungguh sulit untuk menolak kehormatan tersebut walau saya sadar kapasitas saya  jauh dari cukup untuk menjalankan amanah tersebut.

 

Selanjutnya dalam kapasitas yang terbatas saya berusaha sekuat tenaga memimpin tim sukses Iwan Abdulrachman dengan penuh tanggung jawab. Sejak awal saya sadari tugas memenangkan Abah Iwan sebagai Walikota Bandung merupakan sebuah mission imposible. Dalam pergulatan waktu saya menyadari bahwa pencalonan Abah Iwan ternyata bukan untuk meraih ‘kemenangan’ politik belaka. Keikutsertaan Abah Iwan dalam perpolitikan tersebut lebih sebagai pesan politik kepada para elite politik bahwa warga kota mempunyai hak (partisipasi) untuk menyampaikan aspirasi politik yang sehat dan setara. Bahwasanya oligarki politik harus segera diakhiri. Saat itu saya sadar bahwa calon independen merupakan jawaban atas kebuntuan lembaga politik dalam menyerap aspirasi masyarakat. Walaupun saat itu sistem pemilihan walikota masih melalui sistem perwakilan di DPRD.

 

Walaupun kita semua tahu dan dapat memprediksi hasil dari Pemilihan Walikota saat itu. (dimana Abah Iwan pasti kalah karena hanya didukung Fraksi PKS yang kecil di DPRD), namun inspirasi pencalonan Abah Iwan tetap menjadi catatan sejarah tersendiri. Bahkan inspirasi tersebut turut mengilhami bergulirnya wacana calon independen dalam kancah perpolitikan saat ini. Misi kami saat itu adalah mengurangi hegemoni partai dan elite politik dalam kehidupan masyarakat. Mematahkan oligarki melalui partisipasi ‘silent majority’ yang lebih setara dan bermartabat. Pencalonan Abah Iwan sesungguhnya merupakan kontribusi pendidikan politik Abah Iwan bagi warga kota Bandung. Dia mengorbankan segala reputasi yang telah dimilikinya (karena pasti akan kalah) untuk sebuah harapan masyarakat akan adanya perbaikan dan perubahan di kota Bandung.Sebuah kota yang sangat dicintainya.

 

Ada kalimat bijak Abah Iwan yang dikutip dari nasehat guru silatnya yang selalu saya ingat. Nyaho can tangtu ngarti, Ngarti can tangtu bisa, Bisa can tangtu tuman, Tuman can tangtu ngajadi. Pesan orang bijak tersebut saya yakini sebagai syarat fundamental bagi setiap manusia dalam mensyukuri fitrahNya. Ketika rasa berserah yang dalam terhadap alam semesta menjadi manungaling ing Gusti dalam totalitas diri manusia, barulah manusia sadar akan misi hidupnya. Dalam pencarian yang terdalam dari alam batin Abah Iwan yang tidak pernah bertepi dan berujung, kalimat bijak itu seakan mudah diucapkan tapi sungguh sulit untuk kita lakukan.

 

Kata kunci dari pesan para leluhur yang disampaikan Abah Iwan adalah totalitas dan loyalitas.Kurangnya loyalitas pada hal apapun, seringkali menjadi salah satu penyebab kegagalan dalam perjalanan hidup kita. Dalam kesehariaannya, makna kesuksesan bagi Abah Iwan bukanlah segala-galanya. Baginya, kesuksesan bukanlah kunci kebahagiaan. Kebahagianlah yang menjadi kunci kesuksesan. Jika anda mencintai apa yang anda kerjakan, anda akan meraih kebahagiaan sekaligus kesuksesan.

 

Salah satu nilai utama yang selalu dijunjung Abah Iwan adalah kesetiaan. Kesetiaan dalam arti luas mencakup kesetiaan pada cita-cita, kesetiaan pada komitmen bersama, kesetiaan pada korps dan tentunya kepada negara. Pengkhianatan menjadi hal tabu untuk dilakukan. Dalam ungkapan yang saya tangkap, pengkhianatan adalah sesuatu yang hina untuk dilakukan. Orang-orang yang serakah dan berkhianat, akan menggigit tangan yang memberinya makan, biasanya mereka selalu menjilat sepatu dari kaki yang menendangnya.

 

Kang Aat Soeratin sering menggambarkan Abah Iwan sebagai manusia multifaset.

Manusia yang hidup dalam berbagai dimensi tapi tergaris dalam satu benang merah. Pergulatan pencarian jati dirinya telah memberi banyak inspirasi bagi lingkungan sekitarnya. Sulit untuk menggambarkan pandanan yang tepat bagi sosoknya. Saya lebih suka menyebutnya sebagai ‘api yang tak pernah padam’. Memberi terang dalam gelap, memberi hangat dalam dingin dan memberi asa dalam keputusasaan.

 

Dalam usianya yang beranjak senja, Abah Iwan telah melintas batas pencapaian manusia biasa. Kegalauan hatinya melihat ironi hidup dia ungkapan dalam hening lewat karya lagunya. Dia selalu setia berbagi harapan akan makna hidup walau kadang ‘pesannya’ sering tak terjangkau oleh kita.

 

Abah, sesungguhnya ‘kekuatan’ Anda bukan berasal dari kemenangan. Andalah yang melahirkan ‘kekuatan’ itu. Ketika Anda menghadapi kesulitan dan tak menyerah, itulah sesungguhnya makna ‘kekuatan’.

 

Selamat ulang tahun Abah. Atas segala jejakmu yang terukir dalam ingatan kami, saya mengucapkan terima kasih.

Kategori: Berita Seputar PMB · Profil · Seni & Budaya

Bandoeng Tempo Doeloe

4 April, 2007 · 2 Komentar

by arifmrizal

Foto beberapa lokasi di Bandung pada jaman baheula : Alun-alun, Asia Afrika, Banceuy, Bioskop Elita Alun-alun, Braga, Hotel Homman, ITB, Jl. Riau, Kabupaten Bandung, Kantor Polisi Merdeka, Kantor Pos, Stasiun Bandung, Postweg Bandung, Preanger, Simpang Lima, SMA 3, Viaduct. Bisa diliat disini atau bisa juga lihat disini

Kategori: Seni & Budaya