Monthly Archives: April 2007

Betapa Malunya Jadi Warga NKRI

Salamun ‘alaikum wr wb

[Khusus bagi yang masih punya rasa malu]

penulis : ibnu_ardhi@yahoo.com

Melihat sepak terjang pemerintahan SBY-JK selama ini yang alih-alih membuat kondisi rakyat membaik malah jumlah rakyat miskin meningkat, harga-harga melangit, biaya pendidikan menggila, penggangguran membludak, KKN makin merajalela, penegakan hukum pilih kasih, dan kejadian mutakhir yang menyakiti hati kaum muslimin dengan pengkhianatannya terhadap solidaritas Islam internasional makin menambah rasa malu kebanyakan warga Indonesia.

Dengan menengok kebelakang sebentar kita akan menemukan benang merah mengapa SBY begitu teganya melukai hati kaum muslimin Indonesia khususnya dan kaum muslimin dunia pada umumnya. Sikap mendukung SBY terhadap resolusi anti-Iran memang sesuatu yang mengecewakan banyak kalangan tapi tidak terlalu mengejutkan bila kita tahu kedekatan SBY dengan Zionis Amerika.

Ketika SBY maju mencalonkan diri sebagai calon RI-1, banyak kalangan yang telah mencium adanya aliran dana dari AIPAC (American-Israeli Public Affairs Committee) dan ADL (Anti-Defamation League), sejak pertengahan 2002. Dari dalam negeri, jaringan pengusaha ‘hitam’ seperti S.P.M Yong, adik Aseng, seseorang yang disebut-sebut pengelola togel KUDA LARI yang beredar luas di Jawa tengah setiap hari, juga ikut mendanai. Termasuk James Riyadi menjadi penyumbang cukup besar buat Partai Demokrat, disamping itu JR berhasil mengumpulkan ratusan pengusaha di LN untuk berpartisipasi membesarkan Partai Demokrat, yang tentu saja mereka pengusaha-pengusaha yang ‘sealiran’ dengan sepak terjang JR. Dan bukan rahasia lagi JR dekat dengan Gedung Putih.

Dua hari setelah pemilu 5 April, SBY pergi ke AS untuk menemui Ricahrd Perle, Paul Wolfowitz [SBY berhubungan ‘baik’ sejak PW menjadi Dubes di Indonesia] dan Dauglas Feith, yang konon ketiganya merupakan pejabat yang sangat berpengaruh di Pentagon.

Kita juga masih ingat bagaimana orang-orang IMF masuk jajaran kabinet SBY, dan masih hangat dalam ingatan kita bagaimana begitu menjadi RI-1, sebelum melakukan hal lain, dia memerintahkan direksi Pertamina untuk memperpanjang kontrak dengan Exxon Mobil yang konon belum habis masa berlakunya. Jadi, aktifitas pertama yang SBY lakukan sebagai RI-1 ya perpanjangan kontrak tsb.

Kemudian bagaimana dengan manisnya ia menghidangkan Blok Cepu sambil menendang dirut Pertamina. Semua itu dan sepak terjang SBY –JK lainnya memperlihatkan kedekatannya dengan Zionis Amerika, untuk tidak menyebutnya sebagai kepanjangan tangan atau boneka bagi kepentingan mereka.

Sekian tahun setelah menjadi RI-1 dimana kondisi ekonomi dan kesejahteraan rakyat bukannya membaik seperti janjinya dimasa kampanye, bahkan makin memburuk yang berakibat menurunnya kepercayaan rakyat pada duet SBY-JK yang ditunjukkan oleh merosotnya popularitas mereka. Tentu, hal ini bisa mengancam kedudukan RI-1 nya ataupun kesempatan SBY meraih kembali kekuasaan pada Pemilu 2009 mendatang. Karenanya ia harus mendongkrak secepatnya perbaikan ekonomi nasional. Dan siapa lagi yang bisa membantunya agar kondisi ekonomi nampak membaik melalui angka-angka (jadi bukan riil yang dirasakan oleh rakyat) guna melanggengkan kekuasaannya kalau bukan majikannya.

There is no free lunch, kata pepatah. Tentu uluran bantuan itu tidak gratis. Cukup mahal bahkan harga yang harus dibayar SBY. Desakan majikan menagih hutang budinya dan kondisi dalam negeri yang mengancam kekuasaannya telah membuatnya panik dan mengambil langkah blunder menuruti kemauan Amerika mendukung resolusi anti-Iran PBB, dengan mengabaikan perasaan dan kepentingan ummat Islam untuk lepas dari arogansi dan hegemoni barat pimpinan Zionis Amerika, bahkan dengan melanggar UUD 45 sekalipun. Dukungannya pada resolusi 1747 makin mempertegas jatidiri SBY, bukan lagi akronim dari Susilo Bambang Yudhoyono tetapi Si Boneka Yunkee, dan pasangannya JK, Jongos Kapitalis.

Tak pelak, tunduk dan patuhnya pemerintahan SBY kepada kepentingan barat pimpinan Zionis Amerika itu menimbulkan gelombang protes dari berbagai kalangan. Tak kurang Komisi I DPR RI urusan luar negeri dan pertahanan mengecam resolusi DK PBB yang menjatuhkan sanksi kepada Iran. Kecaman itu secara tidak langsung juga ditujukan kepada pemerintah yang ikut menganggukkan kepala saat voting berlangsung. Ketidaksetujuan DPR RI ini kemudian ditindak lanjuti dengan menggunakan hak interpelasinya. Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi, dan Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsudin sepakat mengecam dukungan pemerintah terhadap resolusi 1747. Dikatakannya, pemerintah telah melakukan kesalahan besar dan telah mengecewakan umat Islam Indonesia. Dia bahkan sampai kewalahan menerima protes dari para ulama baik dari luar maupun dalam negeri. Begitu pula Mantan Presiden Gus Dur tak kurang mengecam pemerintah yang katanya takut kepada ‘ndoro-nya’.

Keanggotaan Indonesia dalam DK PBB yang didukung oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI) diharapkan dapat memperjuangkan kepentingan negara-negara Islam. Tetapi yang terjadi malah mendukung kepentingan negara-negara non-muslim yang selama ini memusuhi Islam dan kaum muslimin.

Retorika “Indonesia mendukung program nuklir damai Iran” yang didengungkan pemerintah, punya arti tersendiri bagi pemerintahan SBY-JK. Bukan dalam arti yang dipahami oleh umat Islam dan masyarakat internasional pada umumnya tetapi dalam arti yang diinginkan oleh AS. Yakni, Iran boleh saja menjalankan program nuklirnya asal dibawah kendali dan dikte AS sebagaimana jaman Syah Pahlevi dulu.

Rencana pemerintah Indonesia untuk membujuk pemerintah Iran agar menerima resolusi 1474 tsb sama saja dengan menyuruh Iran untuk mau menjadi boneka AS. Sebelum rencana ini dijalankan, sejak awal Iran dengan tegas menolak resolusi tsb dan tentunya pasti juga akan menolak bujukan SBY-JK.

Betapa malunya jadi warga NKRI yang semula berarti Negara Kesatuan Republik Indonesia tetapi karena ulah pasangan Si Boneka Yunkee – Jongos Kapitalis berubah menjadi Negara Khianat Republik Indonesia.

wassalam 

Si Abang, Advokat Lokomotif Demokrasi

DR Adnan Buyung Nasution (PMB’54)

Mantan jaksa yang menjadi advokat handal ini sejak kecil sudah kelihatan berbakat aktivis. Pernah menjadi anggota DPR/MPR tapi direcall. Sempat menganggur satu tahun sebelum membuka kantor pengacara (advokat) dan membentuk Lembaga Bantuan Hukum Jakarta yang kemudian menjadi YLBHI dan dikenal sebagai lokomotif demokrasi.

Buyung lahir di Jakarta, 20 Juli 1934. Hidupnya cukup sarat dengan tantangan. Sejak kecil, umur dua belas tahun, Buyung bersama adik satu-satunya Samsi Nasution sudah harus menjadi pedagang kali lima menjual barang loakan di Pasar Kranggan, Yogyakarta. Di pasar itu pula, ibunya, Ramlah Dougur Lubis berjualan cendol. Sementara itu, ayahnya, R. Rachmat Nasution, bergerilya melawan Belanda dalam Clash II pada 1947-1948. “Itu masa-masa sulit. Kami hanya makan tiwul, karena tak sanggup beli nasi,” katanya seperti dikutip sebuah media cetak.

baca selengkapnya di http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/a/adnan-buyung-nasution/index.shtml

Demam blog di e-lifestyle-MetroTV bersama Wimar Witoelar

Tak dapat dihindari, suka atau tidak suka, cepat atau lambat blog akan menjadi topik bahasan pada acara e-Lifestyle di MetroTV. Itulah yang akhirnya terjadi pada hari Sabtu yang lalu. Saya yang tidak menonton acara tersebut hanya bisa menonton melalui rerun pada pukul 01.30 malam ini. Yang menarik adalah acara ini dipandu oleh seorang Roy Suryo yang kita kenal bersama sebagai penggagas ‘Gerakan Non Blog’. Kalau biasanya dalam acara ini blog hanya disinggung sedikit dalam bentuk cheap shot terhadap fenomena blog, kini blog dibahas terus menerus selama hampir 30 menit. Kesan saya acara ini relatif cukup baik dan berimbang, Roy Suryo sendiri juga relatif lebih netral daripada biasanya.

Selengkapnya  http://priyadi.net/archives/2006/09/25/demam-blog-di-e-lifestyle-metrotv/

Abah Iwan (PMB’65) Lebih Konkret, Pakai Sepeda dan Tanam Pohon

KALAU soal alam dan lingkungan, tokoh ini boleh jadi telah menjadi ikon Kota Bandung. Konsistensinya terhadap konservasi alam, diperlihatkan dengan aksinya yang realistis. Ia masih mengelola sampah di rumahnya sendiri, masih suka naik sepeda, masih suka menanam atau membagikan bibit pohon, dan masih memakai sumur. Di usianya yang kini 58 tahun, Iwan Abdulrachman yang kerap dipanggil Abah Iwan, pun masih merasa menjadi mahasiswa. 

Kiprah Abah Iwan dalam kepedulian terhadap alam, mungkin tidak bisa dibicarakan dengan singkat. Kegiatannya di organisasi kelompok penempuh rimba dan pendaki gunung, Wanadri, masih diikuti dari tahun 1964 sampai sekarang. Ia juga diangkat sebagai penasihat Masyarakat Cinta Citarum dan anggota Komunitas Pemerhati Lingkungan Hidup ITB Masdali.

Belum lagi sosoknya sebagai seniman yang karyanya tak pernah lepas dari pergaulan dengan alam. Bagi Abah Iwan, yang baru-baru ini mendapat penghargaan dari Meneg LH sebagai budayawan dan seniman yang peduli terhadap lingkungan dalam ajang Anugerah Penghargaan Lingkungan dan Adipura 2006, alam adalah inspirasinya. Kalau orang bilang karyanya bagus, penggubah lagu legendaris semacam “Melati dari Jayagiri” dan “Flamboyan”, ini malah berujar, alam memang sudah indah.

Semasa mahasiswa, ia pun menyenangi kehidupan berorganisasi. Selain pernah menjabat sebagai Ketua Senat di Faperta Unpad selama 2 periode (1970-1974), dirinya juga aktif di Damas dan Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). Baginya, mahasiswa memegang peranan penting dalam kehidupan bangsa. “Sudah terbukti dalam sejarah, tiap pergerakan apapun pasti ada mahasiswa. Namun, itu jangan dijadikan status, tapi tingkatkan terus kualitas,” kata mantan dosen Faperta Unpad dan penggubah lagu Hymne Unpad ini.

Kampus menemui Abah Iwan di kediamannya di bilangan Cigadung Bandung, yang berhalaman luas dan teduh dengan berbagai pohon besar, Senin (19/6). “Saya tanam pohon-pohon ini sejak tahun 1976. Tong ningali ayeuna, tapi ada prosesnya,” ujarnya, sambil tertawa.

Pada Kampus, Abah Iwan bicara berbagai hal dari mulai standardisasi kegiatan di alam terbuka, perilaku terhadap sampah, sampai organisasi dan habit mahasiswa. Berikut petikannya:

Kegiatan di alam terbuka, yang juga kerap dilakukan mahasiswa misalnya dalam organisasi pecinta alam, kadang terjadi kecelakaan atau jatuh korban. Harus bagaimana untuk mengurangi risiko?

Ada dua macam kecelakaan yang terjadi di alam terbuka. Satu, kecelakaan dalam ekspedisi itu sendiri. Dua, kecelakaan pada waktu latihan. Banyak faktor penyebab terjadi kecelakaan. Tapi kalau kecelakaan itu karena perencanaan yang kurang matang, itu patut dicermati. Banyak hal harus dibahas dalam latihan, dari mulai persiapan, perencanaan, juga kapasitas organisasi yang merencanakan, dan melaksanakan tersebut. Belum lagi standardisasi pelatih. Jadi, orang yang melatih tidak sembarangan. Seandal-andalanya pelatih, setangguh-tangguhnya calon anggota, kalau di hadapkan dengan alam, yang unpredictable atau bahkan predictable, tapi tidak dipersiapkan dengan baik, bisa berbahaya. Kecelakaan di alam terbuka sebenarnya risiko. Ada faktor X, yang di luar kemampuan kita. Maka, disebut adventure. Memang itu menantang dan tidak semua orang cocok dengan itu.

Lebih jelasnya, standardisasinya seperti apa?

Ya, selain dibutuhkan standardisasi pelatih dan metode latihan, juga harus ada standarisasi calon anggota. Makanya ada tes. Kenapa? Karena kegiatan ini membutuhkan standar, baik dari segi fisik, mental, juga intelegensia. Tidak bisa orang yang tidak cerdik, hidup di alam terbuka. Jadi, kalau calon anggota tidak lolos tes fisik, harus berani bilang maaf dan tunggu. Nah, untuk bisa tetap ikut, bisa dilakukan persiapan. Misalnya, si calon ini olah raga dulu dan meningkatkan kualitas kesehatannya. Dan yang tak kalah penting, yaitu tes psikologi. Orang yang terlalu berani, itu berbahaya. Kategorinya nanti kewasapadaannya jadi kurang. Istilah saya, tidak ada orang yang berani. Tapi, adanya orang yang bisa melawan rasa takut.

Bagaimana pendapat Anda tentang Bandung sekarang ini? Apalagi baru-baru ini mendapat sebutan kota metropolitan terkotor?

Itu tidak perlu ditolak. Kan banyak yang marah, katanya pariwisata terpengaruh gara-gara itu. Tapi, jangan marah dong, karena memang kita kota terkotor. Demo begitu menurut saya tidak tepat. Energinya lebih baik untuk mengoreksi diri.

Anda masih mengelola sampah sendiri?

Sampah saya kelola sendiri, dari dulu sampai sekarang. Yang harus dibakar, ya dibakar. Ya, seperti teorilah. Saya belum pernah menyumbang sampah satu kantong plastik pun ke TPS (tempat pembuangan sementara) atau TPA (tempat pembuangan akhir). Tapi, kan bersihnya rumah kita, belum berarti membuat bersih kota ini. Sampah adalah perilaku manusia, per individu. Ketika itu menjadi perilaku kita sebagai warga kota, itu menjadi akumulatif. Saya sering lihat mobil bagus, tahunya buang sampah ke jalan. Eh, tahunya mahasiswa atau dosen! Kalau ini dibilang salah wali kota, saya tidak sepakat. Waktu saya diajak demo ke wali kota, saya menolak. Bukan salah dia saja, kok. Bahwa dia harusnya mengatur manajemen, memelopori, menggerakkan, dsb, itu benar. Tapi kita semua punya tanggung jawab, yang berbeda-beda. Lagi pula, untuk mengelola sampah di kota kan ada ahlinya. Ada ITB, Unpas, Unisba, yang ada Teknik Lingkungan Hidup. Yang belum terjadi adalah hal itu belum jadi kesatuan batin, sehingga ada keputusan yang bisa membuat perilaku kita terhadap sampah, jadi tepat. Itu ilmiah. Nah, ternyata pengetahuan yang ilmiah, belum jadi apa-apa tanpa kesertaan tingkah laku. Betapa pentingnya pengembangan karakter. Di situlah gunanya organisasi mahasiswa.

Apa gunanya organisasi mahasiswa dalam hal ini?Melalui organisasi mahasiswa, kita bisa mensubstitusi kekurangan situasi pendidikan di kita. Situasi pendidikan di kita, kan seringnya diajarkan untuk pintar, tapi pribadi kita tidak diajarkan mengikuti kepintaran dalam mengikuti ilmu-ilmu itu. Yang paling gampang contohnya, sampah. Saya pernah diajak diskusi sama mahasiswa Teknik Lingkungan Hidup, mengenai rencana kebersihan kota. Ketika dimintai komentar, saya bilang, boleh tidak saya lihat ruang senatnya?. Ternyata, ruang senat mereka kotor! Apa artinya? Kita tahu tentang sampah, tapi habit kita tidak disertakan. Dan itulah gunanya organisasi mahasiswa. Organisasi mahasiswa juga sering terlibat politik praktis, dsb. Tapi jangan karena peranan itu, kita melupakan tugas pokok organisasi mahasiswa. Apa itu? Meningkatkan kualitas kepribadian anggotanya. Juga, mengimbangi rencana pendidikan dari kampusnya yang tidak lengkap. Nah, peranan ini jarang disadari. Saya suka tanya sama berbagai ketua BEM (badan eksekutif mahasiswa), apa yang sudah kau lakukan pada teman-temanmu dalam mengembangkan seluruh dimensi pribadinya?

Masih suka naik sepeda?

Saya masih suka pakai sepeda. Kalau masih kuat ngaboseh, kenapa tidak? Tapi tidak ada istilah kampanye. Kalau kita meyakini yang baik untuk diri kita, lakukan saja. Dan kalau itu baik untuk masyarakat, ya lakukan. Saya berpendapat, kalau mahasiswa bicara tentang polusi di Kota Bandung, jangan hanya menyarankan ini-itu saja. Lebih baik, tinggalkan motor itu, pakai sepeda! Misalnya, ada 1.000 mahasiswa dari ITB, Unpad, Unpas, Unisba, Unpar, dsb. pada naik sepeda. Maka, 1.000 motor akan hilang dari jalan. Itu jauh lebih konkret daripada terus protes terhadap polusi, tapi tidak bertindak apa-apa. Ahli lingkungan Prof. Otto Soemarwoto, mengatakan, kalau 1-5 km jalan kaki saja, kalau 5-10 km silahkan pakai sepeda. Naik sepeda itu sudah sehat, langsung mengurangi polutan pula, walau sekecil apapun. Dan yang lebih konkret lagi, kita menanam pohon untuk mengurangi polusi! 1 pohon juga lumayan. Tapi, kan pohon baru berfungsi optimal 5-10 tahun kemudian. Nah, sambil menunggu, kita pakai sepeda. Dan ini jawaban dari permasalahan di kota besar yang ada, seperti kita. Dari mulai sampah sampai peledakan jumlah penduduk. Bogota itu selamat karena sampahnya ditata dengan baik. Karena mahasiswa di sana mau pakai sepeda. Australia, Belanda, Jerman, itu mah sudah klasik. Tapi permasalahan yang sama dengan kita kan Amerika Latin.

Kalau sumur bagaimana?

Allhamdulillah, saya juga tidak mau takabur. Dari tahun 1978 saya tinggal di sini, saya tidak pernah minta air ke PDAM. Dari sumur saja. Makan, mandi, cuci mobil, dsb, semua dari situ. Dulu dalamnya 7 meter, tapi sejak beberapa tahun lalu ditambah jadi 12 meter. Mungkin karena pohon-pohon di Bandung utara sudah pada ditebang. Tapi, saya cerita begini, bukan legeg. Soalnya pernah habis ngadongeng, tahu-tahu air teh pareum. Ha ha ha… Kebayang kan, coba kalau tidak ada air, bagaimana? Hutan tidak ada karena ditebangin, dan tidak ada daerah resapan air. Masa orang-orang tidak sadar? ***

Sarwono Kusumaatmadja (PMB ’63) Politisi Teruji Lintas Orde

Dia seorang politisi lintas orde yang telah teruji. Mantan Sekjen Golkar dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (1988 – 1993), Menteri Negara Lingkungan Hidup (1993 – 1998) dan Menteri Eksplorasi Kelautan (1999 – 2001), ini teruji bebas KKN. Kemudian, dia pun terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari DKI Jakarta pada Pemilu 2004.
Pria lulusan Teknik Sipil ITB tahun (1974) melintasi periodisasi  sejarah politik di Indonesia, dari Orde Baru ke orde reformasi. Bahkan bukan hanya lintas orde, dia juga “lintas aliran” dan “lintas generasi”. Terbukti dari dukungan yang
mengalir kepadanya saat proses pencalonan DPD.

baca selengkapnya http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/s/sarwono/index.shtml

Kirim Artikel

Signore…

Buat rekan-rekan yang ingin mengirimkan berita atau artikel-artikel dapat mengirimkan ke email arismunawar@yahoo.com, boleh juga mengirimkan foto-foto kegiatan PMB jaman baheula, cerita-cerita lucu semasa perpeloncoan dsb.

Terima kasih.

Karier Puncak Mantan Sekjen Golkar Rachmat Witoelar (PMB’61)

Setelah beberapa bulan dengan setia menjadi salah seorang Tim Sukses SBY, mantan Sekjen DPP Golkar, ini mencapai karier puncak menjadi Menteri Negara Lingkungan Hidup, menggantikan Nabiel Makarim. Pria kelahiran Tasikmalaya, 2 Juni 194, ini menyatakan siap menangani permasalahan lingkungan di Indonesia, kendati latarbelakangnya tidak relevan.

Saat ditanya kesiapan lulusan Arsitektur ITB (1970), ini menangani permasalahan lingkungan, ia merasa tidak masalah, karena di mana pun ia ditempatkan, itu merupakan amanah untuk diembannya. Diakui, pendidikannya memang tidak berhubungan dengan lingkungan.

Tetapi, alumni SMA Kanisius Jakarta (1961), SMP Van Lith Jakarta (1958) dan Lagere School, Voorburg Belanda (1955), ini mengaku sudah biasa menangani hal-hal yang berkaitan dengan masalah lingkungan ketika masih menjadi anggota Komisi V dan VI DPR. Selain itu, dia juga biasa menghadiri diskusi dan seminar lingkungan termasuk di luar negeri.

lebih lengkap baca disini http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/r/rachmat-witoelar/index.shtml