Menggagas Gerakan Kebangkitan Kebangsaan

 

Diskusi dengan topik Kebangsaan mulai marak akhir-akhir ini. Beberapa institusi dan komunitas pergerakan bahkan menyikapi topik tersebut bukan hanya sebatas sebagai wacana diskusi melainkan dengan menyelenggarakan kegiatan yang bersifat kongkrit semisal sekolah kaderisasi, seperti yang baru saja dilakukan oleh Gus Dur dengan menyelenggarakan Akademi Politik Kebangsaan bagi kader PKB. Sebuah fenomena yang tentu saja menggembirakan di tengah keterpurukan yang silih-berganti melanda negeri ini.

Seperti sudah jamak terjadi di negeri ini, kesadaran memang kerap datang di saat keterpurukan nyaris sampai pada titik nadirnya. Fenomena maraknya diskursus Kebangsaan saat ini pun sedikit-banyak terstimulasi oleh banyaknya bencana dan kesialan yang melanda negeri kita dalam bulan-bulan terakhir ini. Namun tentu saja bukan di
sana letak substansinya. Lewat pintu mana pun yang penting kesadaran tentang pentingnya topik Kebangsaan tersebut diangkat dalam tingkat yang serius, kini telah mulai hadir dan mewarnai cakrawala negeri ini.

Namun, seiring dengan mulai maraknya diskurs strategis tersebut, merayap pula kekhawatiran. Sekali lagi, seperti yang juga sudah jamak di negeri ini, alih-alih sebagai fenomena kebangkitan, jangan-jangan fenomena tersebut hanya sekedar eforia belaka yang cepat datang namun cepat juga dilupakan.

Menggagas sebuah Gerakan Kebangkitan Kebangsaan memang mirip dengan perjuangan David melawan Goliath. Gerakan ini menentang arus kehendak global yang cenderung menisbikan batas etis wilayah bangsa, karenanya ia membutuhkan ketangguhan dan ketekunan dalam pelaksanaannya. Tentu saja jika yang dimaksudkan adalah sebuah gerakan yang bukan sekedar eforia belaka melainkan sebuah gerakan yang dapat terus mengurat-akar di masyarakat. Dibutuhkan sebuah pola gerakan yang bersifat sistemik. Ia harus mampu menyentuh sudut-sudut yang paling tersembunyi sekali pun dalam masyarakat kita, karena tanpa dukungan masyarakat maka ia hanya akan menjadi sekedar retorika politik saja kalau tak dapat dikatakan sebagai komoditas politik. Sekali berteriak lantang sudah itu tak berbuat apa-apa.

            Tan Malaka pernah menggagas dan melaksanakan gerakan semacam itu melalui Sekolah Rakyat pada jaman pra kemerdekaan, dan terbukti bahwa gerakan tersebut ternyata sangat efektif dalam kerangka pembentukan ketahanan masyarakat terhadap kolonial kala itu yang tentu saja tak mengharapkan rakyat Hindia Belanda berdiri tegak bersama jatidirinya sebagai sebuah bangsa.

                       

Globalisasi Sebagai Kondisi Objektif


Ada dua diskurs berkaitan dengan Gerakan Kebangkitan Kebangsaan kali ini : Globalisasi dan Kemandirian Politik. Gerakan kebangkitan kebangsaan mestinya diniatkan sebagai upaya penguatan ketahanan masyarakat terhadap upaya penggerusan dari pihak luar terhadap nilai-nilai tradisi bangsa.

Walau terhitung basi namun fenomena globalisasi adalah ancaman nyata yang kini tengah dihadapi oleh bangsa kita. Arus globalisasi yang membawa sistem nilai asing pada kondisi tertentu telah menghilangkan batas-batas etis wilayah kebangsaan sehingga ia sangat berpotensi terhadap penggerusan nilai-nilai tradisi bangsa. Gempuran tradisi Barat yang ditandai dengan kian maraknya budaya populer saat ini melalui media-media yang ada, sesungguhnya telah lama berakibat buruk terhadap sistem nilai bangsa kita. Ia mengakibatkan kalangan generasi muda sebagai penikmat terbanyak mediamasa kita saat ini mengalami keterasingan kultur dan jatidiri. Mereka nyaris tak mengenali lagi sejarah dan tradisi lokal mereka berada.

Walau globalisasi adalah sebuah keniscayaan ketika jaman bergerak kian cepat dan membutuhkan efisiensi yang tinggi, namun ia tetap harus senantiasa diwaspadai mengingat banyaknya akibat-akibat buruk yang ditimbulkannya. Ia telah menjelma menjadi seekor gurita yang tentakelnya tengah membelit negara-negara di persimpangan menuju negara maju seperti
Indonesia. Ia akan merenggut generasi muda kita melalui budaya populer. Ia akan menjauhkan masyarakat kita dari nilai-nilai tradisi mereka. Sebuah kondisi objektif yang layak untuk dijadikan sebagai, katakanlah musuh bersama terhadap gerakan pemurnian nilai tradisi bangsa.

Diskurs kedua adalah perihal Kemandirian Politik. Sudah menjadi gerundelan umum bahwa kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah sekarang maupun Pemerintah-pemerintah sebelumnya banyak disebabkan oleh tekanan atau campurtangan pihak asing sehingga kemandirian politik mutlak harus ditegakkan agar kita dapat berdiri tegak sebagai sebuah bangsa yang berdaulat. Ini pun sesungguhnya berkorelasi dengan efek globalisasi. Walau kecurigaan tersebut tak dapat sepenuhnya ditampik. Walau agak berlebihan juga apabila campur tangan pihak asing tersebut dijadikan sebagai kambinghitam kondisi pelunturan nilai-nilai kedaulatan bangsa kita, namun hal tersebut pun patut untuk kita waspadai mengingat begitu banyak contoh dan pembuktian melalui negara lain.

 

Sekolah Kebangsaan

   Kebangsaan adalah sebuah bangunan nilai. Ia bukan seperti museum yang menyimpan benda-benda bernilai sejarah tinggi. Runtuhannya pun bukan berupa artefak yang dapat bertebaran dimana-mana melainkan berupa sikap mental.

   Beberapa waktu yang lalu sebuah komunitas di Jakarta yang beranggotakan mantan aktivis kampus era 80-an menggagas sebuah pola National Caracter Building sebagai sebuah itikad menghadang akibat-akibat buruk yang dibawa oleh globalisasi. Menariknya, mereka lebih berorientasi pada kalangan Generasi Muda khususnya yang berada di lingkungan pedesaan. Seperti sudah jamak di negara-negara lain, generasi muda adalah sebuah kelompok sosial yang sangat rentan terhadap nilai, sehingga pembentukan karakter kebangsaan menjadi sebuah kebutuhan yang nyaris mutlak harus dilakukan terhadap mereka sedini mungkin. Sebuah ide pun kemudian menguat : mereka hendak menyelenggarakan Sekolah Kebangsaan di desa-desa.

Jika Gus Dur dengan Akademi Politik Kebangsaannya bertujuan lulusannya dapat menjadi politisi yang tangguh, maka komunitas mantan aktivis 80-an dengan Sekolah Kebangsaannya tadi menghendaki pada nilai-nilai yang standar normatif : cinta dan bangga sebagai warga Bangsa Indonesia, hormat dan menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi lokal mereka, patriotik, dan mandiri. Walau tampak samar namun pola gerakan mereka mirip dengan Sekolah Rakyat Tan Malaka. Ciri yang menonjol adalah gerakan down to earth, yang mereka terjemahkan dengan live in di desa untuk melakukan pembinaan dan transformasi nilai-nilai kebangsaan terhadap kalangan generasi muda di
sana.

Mengapa mereka ingin menggarap generasi muda di pedesaan, ini yang menarik; karena menurut mereka kawasan pedesaan relatif masih menyimpan sisa-sisa kebijakan lokal dalam tradisi mereka dibandingkan dengan kawasan perkotaan yang relatif lebih terbuka terhadap pengaruh dan infiltrasi budaya dan tradisi asing, sehingga mereka relatif dapat lebih mudah ‘disentuh.’ Di Bandung, ada juga sebuah komunitas yang berencana menyelenggarakan gerakan serupa. Sebuah solusi yang sangat tepat jika gerakan semacam itu kemudian diterjemahkan dengan pembentukan sebuah institusi yang berdisiplin ketat semacam Sekolah.

Masalahnya yang penting kemudian ialah, apakah Pemerintah cukup jeli menangkap peluang tersebut dengan meningkatkannya menjadi sebuah komitmen untuk menjadikan pembangunan mental dan karakter bangsa sebagai program Nasional, karena topik sebesar itu tentunya takkan mampu terangkut sepenuhnya tanpa gerakan dan implementasi yang besar juga. Dalam konteks itulah maka keterlibatan Pemerintah menjadi mutlak diperlukan dengan meningkatkan diskurs tersebut menjadi sebuah gerakan Nasional.

Sebuah desain pembangunan karakter bangsa memang sudah saatnya ditebar di muka langit
Indonesia saat ini, sebelum generasi muda kita lupa bahwa orangtua dan kakek-nenek mereka adalah Manusia Indonesia.

 


Bandung, 13 Maret 2007

Syafiril Erman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s