sejak 1990-an terjadi kematian sekitar 35 praja IPDN. Namun yang terungkap hanya 10 orang

 Detik.com
Bandung – Kekerasan fisik kerap kali terjadi di kampus IPDN — sebelumnya STPDN. Tewasnya Cliff Muntu bukan kejadian satu-satunya. Sejak 1990-an sampai 2005 tercatat 35 praja tewas.

Namun dari total praja yang tewas, hanya 10 kasus saja yang terungkap di media massa.

Banyaknya kasus praja IPDN yang tewas ini didasarkan hasil riset yang dilakukan dosen IPDN, Inu Kencana.

Inu melakukan riset terkait disertasi doktornya — yang belum disidangkan — di Universitas Padjajaran. Disertasi itu berjudul Pengawasan Kinerja STPDN Terhadap Sikap Masyarakat Kabupaten Sumedang.

Inu yang ditemui di depan kamar mayat RS Hasan Sadikin, Jalan Pasteur, Bandung, Selasa (3/4/2007), mengungkapkan, kekerasan di kampus IPDN bak fenomena gunung es.

“Hal-hal yang terungkap di media massa hanya sebagian kecil dari yang terjadi di lingkungan kampus itu,” katanya.

Data-data yang berhasil dihimpunnya dan dimasukkan dalam disertasinya, antara lain tentang kasus kematian di kampus yang berlokasi di Sumedang, Jawa Barat itu.

Menurut dia, sejak 1990-an terjadi kematian sekitar 35 praja. Namun yang terungkap hanya 10 orang.

Tahun 1994, Madya Praja Gatot dari Kontingen Jatim yang meninggal ketika menjalani latihan dasar militer dan dadanya retak.

Tahun 1995, Alvian dari Lampung, meninggal di barak tanpa sebab.

Tahun 1997, Fahrudin dari Jateng, meninggal di barak tanpa sebab.

Tahun 1999, Edi meninggal dengan dalih sedang belajar sepeda motor di lingkungan kampus.

Tahun 2000, Purwanto meninggal dengan dada retak.

Tahun 2000, Obed dari Irian Jaya, meninggal dengan dada retak.

Tahun 2000, Heru Rahman dari Jawa Barat yang meninggal akibat tindak kekerasan. Kasusnya sempat menjadi bahan berita. Kasusnya dilimpahkan di pengdilan.

Tahun 2000, Utari meninggal karena aborsi dan mayatnya ditemukan di Cimahi.

Tahun 2003, Wahyu Hidayat yang juga ramai diberitakan meninggal karena tindak kekerasan. Kasusnya dilimpahkan ke pengadilan.

Tahun 2005, Irsan Ibo meninggal karena dugaan narkoba.

“Data ini saya kejar sendiri ketika saya berada dalam pengurusan senat. Yang aneh pelanggaran berat yang menyebabkan kematian, hanya sedikit sekali praja yang terlibat yang dikeluarkan,” beber Inu.

Jawa Pos
Senin, 09 Apr 2007,
*Kehidupan Sarat Kekerasan di Kampus IPDN *

Puas Pukuli Junior, Praja Senior Nyanyi Bersama
Cliff Muntu adalah praja ke-37 yang tewas karena kekerasan di kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor, Sumedang. Mengapa budaya kekerasan sulit hilang di lembaga pendidik calon camat itu?

YUGI PRASETYO, Sumedang

Ketika Wahyu Hidayat tewas pada 2003, banyak yang percaya dia adalah korban terakhir di IPDN. Saat itu, IPDN masih bernama Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Setelah kasus kematian praja asal Jawa Barat itu, para praja semua tingkat dikumpulkan untuk mengucapkan ikrar. “Kami berjanji meninggalkan segala bentuk kekerasan….” Begitu sebagian isi ikrar para praja.

Namun, janji tinggallah janji. Ikrar pun hanyalah torehan tinta hitam di atas kertas yang bisa luntur. Cliff Muntu, praja asal Manado, juga tewas karena dianiaya para seniornya. Delapan orang praja ditetapkan sebagai tersangka dan langsung dipecat dari IPDN. Meski begitu, tetap saja muncul pertanyaan, siapa bisa menjamin Cliff Muntu adalah korban terakhir?

Wartawan Radar Bandung (Grup Jawa Pos) menelusuri kehidupan di dalam kampus IPDN. Kompleks kampus itu sangat tertutup bagi kehadiran orang luar, apalagi para wartawan. Kalaupun ada acara resmi dan mengundang media, akses media dibatasi hanya sampai ke ruang rektorat. Apalagi setelah ada kasus kematian Cliff Muntu, wartawan dilarang masuk sama sekali ke lingkungan IPDN.

Untung, ada kesempatan bagi pekerja media menginjakkan kaki ke IPDN pada Jumat (6/4) lalu. Saat itu, Sekjen Departemen Dalam Negeri Progo Nurdjaman sidak ke dalam kampus. Bersama rombongan dari Depdagri, wartawan berkesempatan melihat aktivitas praja di dalam kampus.

Tentu, secara kasat mata, tidak tampak kegiatan yang berbau kekerasan. Ada kelompok praja yang sedang berbaris rapi. Ada juga yang sedang bermain bola basket. Saat melihat rombongan Sekjen Depdagri, beberapa praja yang kebetulan berpapasan langsung memberikan hormat. Sayang, ketika rombongan memasuki barak para praja, wartawan diminta menunggu di luar.

Sejumlah wartawan memilih menunggu rombongan Sekjen Depdagri di kantin kampus. Mereka ikut nimbrung dengan sejumlah praja yang kebetulan rehat usai berolahraga. “Biasa Mas, sarapan habis olahraga,” kata seorang praja tingkat dua ramah.

Namun, keramahan itu sontak berubah masam ketika wartawan menanyakan kasus kematian Cliff Muntu. “Maaf, kami sepakat tidak boleh membicarakan itu,” kata praja tadi seraya pergi meninggalkan kantin.

Lukman (nama samaran), seorang mantan praja, menceritakan kultur kekerasan di IPDN. Biasanya, kekerasan dilakukan oleh praja tingkat tiga (nindya praja) kepada praja tingkat dua (madya praja). Aksi kekerasan dilakukan malam hari ketika pengawasan mulai longgar.

Beberapa praja senior mendatangi barak junior. Selalu ada alasan untuk melakukan tindak kekerasan. “Masak praja wanita yang bersalah, kami praja laki-laki menjadi sasarannya,” ujar Lukman kepada Radar Bandung.

Saat memasuki barak, praja senior itu langsung memanggil beberapa praja yang menjadi targetnya. Setelah itu, mereka dibawa ke lorong dan dijajarkan dalam satu baris. Sebelum melakukan aksinya, para praja senior selalu melakukan dialog dengan praja juniornya.

“Maaf ya Dik, kita pun sama waktu dulu seperti ini, enggak apa-apa kok,” tutur Lukman menceritakan kronologi kekerasan oleh praja senior. Setelah itu, terjadilah pemukulan masal. Yang dipukuli bisa lima sampai sepuluh orang. Yang memukul bisa 20 orang.

Dosen IPDN Inu Kencana Syafii mengakui hal tersebut. “Biasanya, mereka melakukan eksekusi pada jam sembilan malam hingga tengah malam,” jelas Inu.

Bila mereka tidak puas, “tradisi” pun berlanjut hingga subuh. Terkadang drama tengah malam itu berjalan dengan canda tawa para seniornya. Di sisi lain, para junior mengerang kesakitan.

Canda tawa juga menjadi tradisi mengakhiri drama tengah malam itu. “Mereka seolah biasa menghadapi seperti itu. Terkadang, setelah melakukan itu, mereka bernyanyi bersama,” ungkap Inu. Suasana pun kemudian mencair, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Dulu sebelum tragedi Wahyu Hidayat terkuak, aksi pemukulan selalu dilakukan per kontingen. Namun, setelah berubah menjadi IPDN, aksi kekerasan dilakukan per organisasi. Contohnya kasus Cliff Muntu. Dia dianiaya oleh seniornya yang merupakan anggota Pataka.

Namun, para praja sepertinya dibuat terbiasa dengan kondisi seperti itu. Bahkan, saat kunjungan Wapres Jusuf Kalla ke IPDN di atas meja salah satu kamar barak DKI ada sebuah tulisan besar dengan spidol warna hitam: “Ingat….! Malam Ini Kau Mati….! Siapkan Fisik dan Mental”.

Begitu isi tulisan bernada ancaman tersebut. Sayang, tulisan itu tidak terlihat oleh orang nomor dua di Indonesia tersebut. Karena ada tulisan seperti itu, praja junior harus sigap setiap saat. “Kondisi seperti itu bisa diubah asalkan kultur dan kebiasaan praja diubah,” kata Inu.

Tak hanya itu, kebiasaan para pejabat kampus pun harus diubah. Inu mengungkapkan banyaknya pejabat kampus yang bersedia menutupi sebuah kasus asalkan mendapatkan imbalan.

“Bila sesuatu terjadi pada praja, mereka (pejabat di IPDN, Red) selalu meminta uang kepada orang tua mereka. Jumlahnya bervariasi sesuai dengan kasusnya,” ungkap Inu.

Nilainya, kata dia, bisa mencapai Rp 200 juta. Dana tersebut kemudian dibagikan kepada pejabat lain agar tutup mulut.

Inu yang gencar membongkar kebobrokan di IPDN mengaku tidak takut mati karena sikapnya itu. “Memang banyak yang mengancam saya,” paparnya.

Inu menceritakan saat kasus Wahyu Hidayat mencuat. Dia sering mendapat teror dari orang kampus. Bahkan, para praja membenci dirinya. Banyak pesan singkat yang masuk ke hand phone pribadinya yang menyatakan keberatan atas semua pernyataan Inu di media.

Teror hingga tengah malam pun dia rasakan. Tidak jarang isi pesan singkatnya bernada kasar. “Bapak mau saya bunuh seperti saya membunuh murid Bapak,” kata Inu menceritakan sisi sms. Namun, semua teror itu dia hadapi dengan lapang dada.

Karena berbagai ancaman itu, Inu kini dikawal khusus oleh polisi. Hampir 24 jam, Inu dan keluarganya diawasi. “Yang penting saya jujur mengungkapkan fakta yang terjadi dan tidak merekayasa,” jelasnya. (*)

Iklan

3 responses to “sejak 1990-an terjadi kematian sekitar 35 praja IPDN. Namun yang terungkap hanya 10 orang

  1. Garangnya praja IPDN tidak hanya ada di kampusnya saja akan tetapi merajuk ke seantero, pendidikan kepamongan, bahaya !!!!! semua lini yang ada namanya oerang0oerang APDN kayanya dia saja yang pernah didik kemiliteran bukan militer A B C D ( Abri Bukan Cwpak Doooang ) apakah tidak mungkin jika kampusnya ditutup akan tetapi, baksilnya masih bercokol memamah biak akan terus berlanjut

  2. APDN bagus untuk pelatihan kepamongan akan tetapi moralnya, akan lebih bejad dari pada yang tidak berpendidikan pamong, banyak juga nyang gagal, udah denes banyak yang absen berbulan-bulan, kalah dengan tenaga sukwan, apakah tidak mungkin dengan ditutupnya sekolahnya, akan merajalela balas dendam Toejeoh toeroenan alumninya……..misalnya di pelatihan-pelatihan kepamongan di Pemda se antero Endonesia, apakah mereka akan berpikir akan filosifis akan kebangsaan , kecintaan tanah air bahkan untuk korup kayanya udah akan jadi kebiasaan tidak akan beener bangsa ini jika demikian pantas saja bencana dimana-mana, des integrasi mengembara dsb pusssssiiiiiiing
    salam pergerakan

    dicky demoz ” Meong AMPI/FKPPI PD IX DKI Jaya”

  3. Derap langkahnya kaya Abri, tetapi Pegawai negeri, didadanya bukannya wing tetapi korpri, pelatihannya tak berprikehewanan, di tonjok ulu hati disikatnya gendang telinga ampe tuli

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s