Abah Iwan (PMB’65) Lebih Konkret, Pakai Sepeda dan Tanam Pohon

KALAU soal alam dan lingkungan, tokoh ini boleh jadi telah menjadi ikon Kota Bandung. Konsistensinya terhadap konservasi alam, diperlihatkan dengan aksinya yang realistis. Ia masih mengelola sampah di rumahnya sendiri, masih suka naik sepeda, masih suka menanam atau membagikan bibit pohon, dan masih memakai sumur. Di usianya yang kini 58 tahun, Iwan Abdulrachman yang kerap dipanggil Abah Iwan, pun masih merasa menjadi mahasiswa. 

Kiprah Abah Iwan dalam kepedulian terhadap alam, mungkin tidak bisa dibicarakan dengan singkat. Kegiatannya di organisasi kelompok penempuh rimba dan pendaki gunung, Wanadri, masih diikuti dari tahun 1964 sampai sekarang. Ia juga diangkat sebagai penasihat Masyarakat Cinta Citarum dan anggota Komunitas Pemerhati Lingkungan Hidup ITB Masdali.

Belum lagi sosoknya sebagai seniman yang karyanya tak pernah lepas dari pergaulan dengan alam. Bagi Abah Iwan, yang baru-baru ini mendapat penghargaan dari Meneg LH sebagai budayawan dan seniman yang peduli terhadap lingkungan dalam ajang Anugerah Penghargaan Lingkungan dan Adipura 2006, alam adalah inspirasinya. Kalau orang bilang karyanya bagus, penggubah lagu legendaris semacam “Melati dari Jayagiri” dan “Flamboyan”, ini malah berujar, alam memang sudah indah.

Semasa mahasiswa, ia pun menyenangi kehidupan berorganisasi. Selain pernah menjabat sebagai Ketua Senat di Faperta Unpad selama 2 periode (1970-1974), dirinya juga aktif di Damas dan Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). Baginya, mahasiswa memegang peranan penting dalam kehidupan bangsa. “Sudah terbukti dalam sejarah, tiap pergerakan apapun pasti ada mahasiswa. Namun, itu jangan dijadikan status, tapi tingkatkan terus kualitas,” kata mantan dosen Faperta Unpad dan penggubah lagu Hymne Unpad ini.

Kampus menemui Abah Iwan di kediamannya di bilangan Cigadung Bandung, yang berhalaman luas dan teduh dengan berbagai pohon besar, Senin (19/6). “Saya tanam pohon-pohon ini sejak tahun 1976. Tong ningali ayeuna, tapi ada prosesnya,” ujarnya, sambil tertawa.

Pada Kampus, Abah Iwan bicara berbagai hal dari mulai standardisasi kegiatan di alam terbuka, perilaku terhadap sampah, sampai organisasi dan habit mahasiswa. Berikut petikannya:

Kegiatan di alam terbuka, yang juga kerap dilakukan mahasiswa misalnya dalam organisasi pecinta alam, kadang terjadi kecelakaan atau jatuh korban. Harus bagaimana untuk mengurangi risiko?

Ada dua macam kecelakaan yang terjadi di alam terbuka. Satu, kecelakaan dalam ekspedisi itu sendiri. Dua, kecelakaan pada waktu latihan. Banyak faktor penyebab terjadi kecelakaan. Tapi kalau kecelakaan itu karena perencanaan yang kurang matang, itu patut dicermati. Banyak hal harus dibahas dalam latihan, dari mulai persiapan, perencanaan, juga kapasitas organisasi yang merencanakan, dan melaksanakan tersebut. Belum lagi standardisasi pelatih. Jadi, orang yang melatih tidak sembarangan. Seandal-andalanya pelatih, setangguh-tangguhnya calon anggota, kalau di hadapkan dengan alam, yang unpredictable atau bahkan predictable, tapi tidak dipersiapkan dengan baik, bisa berbahaya. Kecelakaan di alam terbuka sebenarnya risiko. Ada faktor X, yang di luar kemampuan kita. Maka, disebut adventure. Memang itu menantang dan tidak semua orang cocok dengan itu.

Lebih jelasnya, standardisasinya seperti apa?

Ya, selain dibutuhkan standardisasi pelatih dan metode latihan, juga harus ada standarisasi calon anggota. Makanya ada tes. Kenapa? Karena kegiatan ini membutuhkan standar, baik dari segi fisik, mental, juga intelegensia. Tidak bisa orang yang tidak cerdik, hidup di alam terbuka. Jadi, kalau calon anggota tidak lolos tes fisik, harus berani bilang maaf dan tunggu. Nah, untuk bisa tetap ikut, bisa dilakukan persiapan. Misalnya, si calon ini olah raga dulu dan meningkatkan kualitas kesehatannya. Dan yang tak kalah penting, yaitu tes psikologi. Orang yang terlalu berani, itu berbahaya. Kategorinya nanti kewasapadaannya jadi kurang. Istilah saya, tidak ada orang yang berani. Tapi, adanya orang yang bisa melawan rasa takut.

Bagaimana pendapat Anda tentang Bandung sekarang ini? Apalagi baru-baru ini mendapat sebutan kota metropolitan terkotor?

Itu tidak perlu ditolak. Kan banyak yang marah, katanya pariwisata terpengaruh gara-gara itu. Tapi, jangan marah dong, karena memang kita kota terkotor. Demo begitu menurut saya tidak tepat. Energinya lebih baik untuk mengoreksi diri.

Anda masih mengelola sampah sendiri?

Sampah saya kelola sendiri, dari dulu sampai sekarang. Yang harus dibakar, ya dibakar. Ya, seperti teorilah. Saya belum pernah menyumbang sampah satu kantong plastik pun ke TPS (tempat pembuangan sementara) atau TPA (tempat pembuangan akhir). Tapi, kan bersihnya rumah kita, belum berarti membuat bersih kota ini. Sampah adalah perilaku manusia, per individu. Ketika itu menjadi perilaku kita sebagai warga kota, itu menjadi akumulatif. Saya sering lihat mobil bagus, tahunya buang sampah ke jalan. Eh, tahunya mahasiswa atau dosen! Kalau ini dibilang salah wali kota, saya tidak sepakat. Waktu saya diajak demo ke wali kota, saya menolak. Bukan salah dia saja, kok. Bahwa dia harusnya mengatur manajemen, memelopori, menggerakkan, dsb, itu benar. Tapi kita semua punya tanggung jawab, yang berbeda-beda. Lagi pula, untuk mengelola sampah di kota kan ada ahlinya. Ada ITB, Unpas, Unisba, yang ada Teknik Lingkungan Hidup. Yang belum terjadi adalah hal itu belum jadi kesatuan batin, sehingga ada keputusan yang bisa membuat perilaku kita terhadap sampah, jadi tepat. Itu ilmiah. Nah, ternyata pengetahuan yang ilmiah, belum jadi apa-apa tanpa kesertaan tingkah laku. Betapa pentingnya pengembangan karakter. Di situlah gunanya organisasi mahasiswa.

Apa gunanya organisasi mahasiswa dalam hal ini?Melalui organisasi mahasiswa, kita bisa mensubstitusi kekurangan situasi pendidikan di kita. Situasi pendidikan di kita, kan seringnya diajarkan untuk pintar, tapi pribadi kita tidak diajarkan mengikuti kepintaran dalam mengikuti ilmu-ilmu itu. Yang paling gampang contohnya, sampah. Saya pernah diajak diskusi sama mahasiswa Teknik Lingkungan Hidup, mengenai rencana kebersihan kota. Ketika dimintai komentar, saya bilang, boleh tidak saya lihat ruang senatnya?. Ternyata, ruang senat mereka kotor! Apa artinya? Kita tahu tentang sampah, tapi habit kita tidak disertakan. Dan itulah gunanya organisasi mahasiswa. Organisasi mahasiswa juga sering terlibat politik praktis, dsb. Tapi jangan karena peranan itu, kita melupakan tugas pokok organisasi mahasiswa. Apa itu? Meningkatkan kualitas kepribadian anggotanya. Juga, mengimbangi rencana pendidikan dari kampusnya yang tidak lengkap. Nah, peranan ini jarang disadari. Saya suka tanya sama berbagai ketua BEM (badan eksekutif mahasiswa), apa yang sudah kau lakukan pada teman-temanmu dalam mengembangkan seluruh dimensi pribadinya?

Masih suka naik sepeda?

Saya masih suka pakai sepeda. Kalau masih kuat ngaboseh, kenapa tidak? Tapi tidak ada istilah kampanye. Kalau kita meyakini yang baik untuk diri kita, lakukan saja. Dan kalau itu baik untuk masyarakat, ya lakukan. Saya berpendapat, kalau mahasiswa bicara tentang polusi di Kota Bandung, jangan hanya menyarankan ini-itu saja. Lebih baik, tinggalkan motor itu, pakai sepeda! Misalnya, ada 1.000 mahasiswa dari ITB, Unpad, Unpas, Unisba, Unpar, dsb. pada naik sepeda. Maka, 1.000 motor akan hilang dari jalan. Itu jauh lebih konkret daripada terus protes terhadap polusi, tapi tidak bertindak apa-apa. Ahli lingkungan Prof. Otto Soemarwoto, mengatakan, kalau 1-5 km jalan kaki saja, kalau 5-10 km silahkan pakai sepeda. Naik sepeda itu sudah sehat, langsung mengurangi polutan pula, walau sekecil apapun. Dan yang lebih konkret lagi, kita menanam pohon untuk mengurangi polusi! 1 pohon juga lumayan. Tapi, kan pohon baru berfungsi optimal 5-10 tahun kemudian. Nah, sambil menunggu, kita pakai sepeda. Dan ini jawaban dari permasalahan di kota besar yang ada, seperti kita. Dari mulai sampah sampai peledakan jumlah penduduk. Bogota itu selamat karena sampahnya ditata dengan baik. Karena mahasiswa di sana mau pakai sepeda. Australia, Belanda, Jerman, itu mah sudah klasik. Tapi permasalahan yang sama dengan kita kan Amerika Latin.

Kalau sumur bagaimana?

Allhamdulillah, saya juga tidak mau takabur. Dari tahun 1978 saya tinggal di sini, saya tidak pernah minta air ke PDAM. Dari sumur saja. Makan, mandi, cuci mobil, dsb, semua dari situ. Dulu dalamnya 7 meter, tapi sejak beberapa tahun lalu ditambah jadi 12 meter. Mungkin karena pohon-pohon di Bandung utara sudah pada ditebang. Tapi, saya cerita begini, bukan legeg. Soalnya pernah habis ngadongeng, tahu-tahu air teh pareum. Ha ha ha… Kebayang kan, coba kalau tidak ada air, bagaimana? Hutan tidak ada karena ditebangin, dan tidak ada daerah resapan air. Masa orang-orang tidak sadar? ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s