Betapa Malunya Jadi Warga NKRI

Salamun ‘alaikum wr wb

[Khusus bagi yang masih punya rasa malu]

penulis : ibnu_ardhi@yahoo.com

Melihat sepak terjang pemerintahan SBY-JK selama ini yang alih-alih membuat kondisi rakyat membaik malah jumlah rakyat miskin meningkat, harga-harga melangit, biaya pendidikan menggila, penggangguran membludak, KKN makin merajalela, penegakan hukum pilih kasih, dan kejadian mutakhir yang menyakiti hati kaum muslimin dengan pengkhianatannya terhadap solidaritas Islam internasional makin menambah rasa malu kebanyakan warga Indonesia.

Dengan menengok kebelakang sebentar kita akan menemukan benang merah mengapa SBY begitu teganya melukai hati kaum muslimin Indonesia khususnya dan kaum muslimin dunia pada umumnya. Sikap mendukung SBY terhadap resolusi anti-Iran memang sesuatu yang mengecewakan banyak kalangan tapi tidak terlalu mengejutkan bila kita tahu kedekatan SBY dengan Zionis Amerika.

Ketika SBY maju mencalonkan diri sebagai calon RI-1, banyak kalangan yang telah mencium adanya aliran dana dari AIPAC (American-Israeli Public Affairs Committee) dan ADL (Anti-Defamation League), sejak pertengahan 2002. Dari dalam negeri, jaringan pengusaha ‘hitam’ seperti S.P.M Yong, adik Aseng, seseorang yang disebut-sebut pengelola togel KUDA LARI yang beredar luas di Jawa tengah setiap hari, juga ikut mendanai. Termasuk James Riyadi menjadi penyumbang cukup besar buat Partai Demokrat, disamping itu JR berhasil mengumpulkan ratusan pengusaha di LN untuk berpartisipasi membesarkan Partai Demokrat, yang tentu saja mereka pengusaha-pengusaha yang ‘sealiran’ dengan sepak terjang JR. Dan bukan rahasia lagi JR dekat dengan Gedung Putih.

Dua hari setelah pemilu 5 April, SBY pergi ke AS untuk menemui Ricahrd Perle, Paul Wolfowitz [SBY berhubungan ‘baik’ sejak PW menjadi Dubes di Indonesia] dan Dauglas Feith, yang konon ketiganya merupakan pejabat yang sangat berpengaruh di Pentagon.

Kita juga masih ingat bagaimana orang-orang IMF masuk jajaran kabinet SBY, dan masih hangat dalam ingatan kita bagaimana begitu menjadi RI-1, sebelum melakukan hal lain, dia memerintahkan direksi Pertamina untuk memperpanjang kontrak dengan Exxon Mobil yang konon belum habis masa berlakunya. Jadi, aktifitas pertama yang SBY lakukan sebagai RI-1 ya perpanjangan kontrak tsb.

Kemudian bagaimana dengan manisnya ia menghidangkan Blok Cepu sambil menendang dirut Pertamina. Semua itu dan sepak terjang SBY –JK lainnya memperlihatkan kedekatannya dengan Zionis Amerika, untuk tidak menyebutnya sebagai kepanjangan tangan atau boneka bagi kepentingan mereka.

Sekian tahun setelah menjadi RI-1 dimana kondisi ekonomi dan kesejahteraan rakyat bukannya membaik seperti janjinya dimasa kampanye, bahkan makin memburuk yang berakibat menurunnya kepercayaan rakyat pada duet SBY-JK yang ditunjukkan oleh merosotnya popularitas mereka. Tentu, hal ini bisa mengancam kedudukan RI-1 nya ataupun kesempatan SBY meraih kembali kekuasaan pada Pemilu 2009 mendatang. Karenanya ia harus mendongkrak secepatnya perbaikan ekonomi nasional. Dan siapa lagi yang bisa membantunya agar kondisi ekonomi nampak membaik melalui angka-angka (jadi bukan riil yang dirasakan oleh rakyat) guna melanggengkan kekuasaannya kalau bukan majikannya.

There is no free lunch, kata pepatah. Tentu uluran bantuan itu tidak gratis. Cukup mahal bahkan harga yang harus dibayar SBY. Desakan majikan menagih hutang budinya dan kondisi dalam negeri yang mengancam kekuasaannya telah membuatnya panik dan mengambil langkah blunder menuruti kemauan Amerika mendukung resolusi anti-Iran PBB, dengan mengabaikan perasaan dan kepentingan ummat Islam untuk lepas dari arogansi dan hegemoni barat pimpinan Zionis Amerika, bahkan dengan melanggar UUD 45 sekalipun. Dukungannya pada resolusi 1747 makin mempertegas jatidiri SBY, bukan lagi akronim dari Susilo Bambang Yudhoyono tetapi Si Boneka Yunkee, dan pasangannya JK, Jongos Kapitalis.

Tak pelak, tunduk dan patuhnya pemerintahan SBY kepada kepentingan barat pimpinan Zionis Amerika itu menimbulkan gelombang protes dari berbagai kalangan. Tak kurang Komisi I DPR RI urusan luar negeri dan pertahanan mengecam resolusi DK PBB yang menjatuhkan sanksi kepada Iran. Kecaman itu secara tidak langsung juga ditujukan kepada pemerintah yang ikut menganggukkan kepala saat voting berlangsung. Ketidaksetujuan DPR RI ini kemudian ditindak lanjuti dengan menggunakan hak interpelasinya. Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi, dan Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsudin sepakat mengecam dukungan pemerintah terhadap resolusi 1747. Dikatakannya, pemerintah telah melakukan kesalahan besar dan telah mengecewakan umat Islam Indonesia. Dia bahkan sampai kewalahan menerima protes dari para ulama baik dari luar maupun dalam negeri. Begitu pula Mantan Presiden Gus Dur tak kurang mengecam pemerintah yang katanya takut kepada ‘ndoro-nya’.

Keanggotaan Indonesia dalam DK PBB yang didukung oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI) diharapkan dapat memperjuangkan kepentingan negara-negara Islam. Tetapi yang terjadi malah mendukung kepentingan negara-negara non-muslim yang selama ini memusuhi Islam dan kaum muslimin.

Retorika “Indonesia mendukung program nuklir damai Iran” yang didengungkan pemerintah, punya arti tersendiri bagi pemerintahan SBY-JK. Bukan dalam arti yang dipahami oleh umat Islam dan masyarakat internasional pada umumnya tetapi dalam arti yang diinginkan oleh AS. Yakni, Iran boleh saja menjalankan program nuklirnya asal dibawah kendali dan dikte AS sebagaimana jaman Syah Pahlevi dulu.

Rencana pemerintah Indonesia untuk membujuk pemerintah Iran agar menerima resolusi 1474 tsb sama saja dengan menyuruh Iran untuk mau menjadi boneka AS. Sebelum rencana ini dijalankan, sejak awal Iran dengan tegas menolak resolusi tsb dan tentunya pasti juga akan menolak bujukan SBY-JK.

Betapa malunya jadi warga NKRI yang semula berarti Negara Kesatuan Republik Indonesia tetapi karena ulah pasangan Si Boneka Yunkee – Jongos Kapitalis berubah menjadi Negara Khianat Republik Indonesia.

wassalam 

Iklan

2 responses to “Betapa Malunya Jadi Warga NKRI

  1. justru jangan malu, dengan negara nyang catut marut kebanyakan des integrasi, pulaunya dijual ke Amerika si kafitalis, akan tetapi marilah kita pertahankan Neeeeeegara Keeeesatuan RI ini karena dahulu kala bapak gue mempertahankannya dengan cucuran keringat, harta dan darah bukan dengan minyak dan air beeelis, justru malu kalau tidak bisa mempertahankan NKRI camkan itu

    Bagimu PMB pun Bagi nusa dan bangsaku Indonesia tercinta

    Merdeka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s