Nasihat Kepemimpinan Mbah Maridjan

LEMAHNYA kepemimpinan formal kini memang tengah menjadi diskusi panjang di tengah masyarakat. Salah satu hal yang sering mengemuka dalam diskusi itu adalah keteladanan para pemimpin yang kurang berada di depan dalam mengatasi berbagai persoalan bangsa.

Mungkin karena alasan itulah Rapat Konsultasi Nasional Partai Golkar II di Yogyakarta mengundang Mas Penewu Suraksohargo, yang lebih populer dipanggil Mbah Maridjan. Abdi dalem Keraton Yogyakarta yang diberi tugas khusus sebagai juru kunci Gunung Merapi itu diberi tempat amat terhormat. Ia duduk satu baris dengan para pembesar Golkar seperti Ketua Umum Jusuf Kalla, Ketua Dewan Penasihat Surya Paloh, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan Sekjen Soemarsono.

Tidak hanya diundang, yang menarik, sang juru kunci Merapi itu diminta menutup perhelatan politik Partai Golkar, Minggu (15/4). Lebih istimewa lagi, pria berusia 80 tahun yang menjadi bintang iklan sebuah produk itu memberi ‘kuliah umum’ tentang kepemimpinan (leadership) di depan para kader Golkar.

Yang luar biasa, Maridjan yang berbicara dalam bahasa Jawa itu diterjemahkan oleh Sultan Hamengku Buwono X. Jika saja Sultan secara kaku mempertahankan ego seorang raja, pastilah ia tak sudi menjadi penerjemah seorang juru kunci. Tapi, inilah kearifan Sultan menyikapi keadaan zaman yang telah berubah.

Dalam ‘kuliah umum’ itu, Maridjan memberi ‘nasihat’ agar para pemimpin menjaga amanah dan memerhatikan rakyat. Ia pun memberi contoh konkret bagaimana menjadi pemimpin yang memerhatikan rakyat, yakni dengan memberikan semua honornya sebagai bintang iklan untuk kepentingan masyarakat. “Itulah sebuah bentuk tanggung jawab seorang pemimpin,” kata si Mbah yang disambut gemuruh hadirin.

Maridjan seorang autodidak yang selalu berbahasa Jawa dalam setiap berbincangan. Namanya populer setelah ia mbalelo terhadap perintah Sultan untuk menjauh dari Merapi ketika aktivitas gunung itu mengeluarkan lava pijar dan awan panas, tanda gunung hendak meletus, tahun lalu. Ia bersikukuh tetap tinggal di sekitar Merapi dengan beberapa ‘pengikutnya’. Tetapi, pilihan itu diambil justru karena ia merasa tengah menjaga amanah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ayah Sri Sultan X. Yakni menjaga Merapi, apa pun yang terjadi.

Sikapnya yang teguh itulah dinilai sebagai seorang pemimpin yang pemberani. Pemimpin yang memberi keteladanan meskipun nyawanya terancam. Simbol pemberani itulah yang mendorong sebuah perusahaan menjadikannya bintang iklan.

Di depan para kader Golkar, Maridjan tidak bicara tinggi-tinggi tentang teori kepemimpinan. Ia bicara bersahaja bagaimana menjadi pemimpin yang amanah dengan contoh konkret, yakni tetap bersama rakyat baik keadaan susah maupun senang.

Maridjan juga memberi tahu bahwa seorang pemimpin harus membuang jauh kepentingan pribadi, misalnya dengan menumpuk materi. Memberikan seluruh honornya sebagai bintang iklan kepada masyarakat sekitar Merapi, adalah contoh yang paling konkret.

Apa artinya kehadiran tokoh seperti Mbah Mardijan di tengah perhelatan politik Partai Golkar? Artinya, bahwa kepemimpinan itu dari zaman ke zaman, dari pemahaman tradisional maupun modern, intinya cuma satu. Bahwa seorang pemimpin harus selalu menomorsatukan kepentingan rakyat daripada kepentingan diri sendiri.

Editorial Media Indonesia 16 April 2007

Iklan

2 responses to “Nasihat Kepemimpinan Mbah Maridjan

  1. Ketika elit politik kita berlomba-lomba mencari kekuasaan dan kekayaan, Mbah marijan tampil sebagai seorang yang sederhana dan merasa cukup materi yang mgk penghasilannya kurang dari 1/100 gaji wakil rakyat/menteri, ttp memberikan semuanya honornya sbg bintang iklan. Inilah sosok yang seharusnya jadi wakil rakyat atau menjadi pejabat. Adakah pejabat RI seperti dia? Memang ada mantan pejabat yang sangat sederhana misalnya spt Baharuddin Lopa, tetapi orang jujur seperti beliau harus segera dimusnahkan.

  2. Pikiran ideal kita sungguh suli menerima kenyataan atas buruknya wajah penegakan hukum di negeri, yang diambang des integrasi bangsa ini, dan makin berlomba-lombanya para elit politik (wakil rakyat ) Republik ini, pada cawokah kepingin kembali modal dulu waktu campanye, berlomba – lomba pake mobil mewah, istri berderet, juga menteri, apalagi !!! namun seorang yang bijak dengan mudah akan dapat mengerti, memahami serta memaklumi realita yang terjadi, biasanya dilatarbelakangi pemikiran yang sejalan dengan rumus tentang syarat tegaknya hukum oleh pakar Sosiologi hukum Prof.Dr.Satjipto Raharjo,SH yang setidaknya ada 4 pilar yang saling mempengaruhi bagi tegaknya hukum yakni :
    1. Profesionalisme dan moralisme aparat
    penegak hukum
    2. Kualitas produk hukum
    3. sarana, fasilitas, dan anggaran
    4. budaya hukum masyarakat
    Apakah kita semua berkomitmen untuk Kota Bandung menjadi tertib dan teratur ? kalau Ya, maka jalannya adalah hukum harus ditegakan secara obyektif- faktual dan rasional mengedepankan kepentingan bersama/publik dan sama sekali harus dibuang jauh-jauh subyektifitas-emosional yang dikendalikan perasaan-perasaan yang cenderung mementingkan pribadi/kelompok
    Bagimu PMB pun bagi noesa dan bangsakoe
    Indonesia raya
    Merdeka

    Bambang 79 // Jul 17th 2007 at 5:12 am

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s