Membangun Keumatan yang Moderat (versi NU)

Penulis : Said Agil Siradj Ketua PBNU

Apa yang disebut ‘umat Islam’ dewasa ini agaknya menyelipkan pemaknaan yang cenderung beraneka ragam dan kabur. Mengapa demikian? Secara fakta, sekarang ini bermunculan banyak organisasi atau kelompok di kalangan umat Islam yang masing-masing mempunyai ‘ciri khas’ sendiri. Kekhasan ini bukan saja menukik pada aspek yang ‘mendalam’, melainkan mudah dilihat secara tampilan lahiriah. Misalnya, ada kelompok umat Islam yang ke mana-mana memakai pakaian ‘gaya Timur Tengah’, bercelana di atas lutut, memanjangkan jenggot, beserban, juga bercadar. Sebaliknya, ada juga yang tampil ‘biasa-biasa’ saja, seperti pada umumnya. Ada apa di balik itu semua? Barangkali, tampilan lahiriah tersebut berkait dengan ‘ideologi’ yang dipegangi masing-masing kelompok umat Islam. Tentunya ini logis. Bagaimana bisa, orang misalnya berpakaian jubah dan berjenggot, tanpa ada ‘doktrin’ atau pemahaman keagamaan tertentu. Pemahaman ini bisa berasal dari pergumulan pribadi dalam memahami semesta ajaran Islam maupun dari pemahaman ‘top down’ secara jemaah. Begitu pun sebaliknya, mereka yang cenderung ‘liberal’ tentunya juga bersumber dari pemahaman keislaman. Ada ‘subjektivitas’ yang mengendap dalam pemahaman tersebut. Mungkin benar, ada adagium yang menyatakan bahwa setiap pemahaman pastilah subjektif karena tidak akan lepas dari ‘sudut bidik’ individu masing-masing. Secara kategoris, pemahaman umat Islam dapat dibagi dalam wujud puritan, fundamentalis, dan liberal-sekuler. Pengklasifikasian ini bukanlah semata-mata bermaksud sebagai bentuk pengotak-ngotakan terhadap umat Islam. Hal ini hanya untuk memudahkan kita dalam memahami perilaku keagamaan yang tampak beragam. Di samping itu, kita memaklumi bahwa dalam setiap pemahaman keagamaan selalu melahirkan bermacam pendirian atau pemikiran yang sering kali bertolak belakang atau malahan menimbulkan ketegangan. Ini fakta sejarah. Dalam kajian sosial, kemudian menelurkan apa yang disebut dengan ‘sekte’. Dalam Islam pun, kenyataan sektarian tersebut tak bisa kita tolak mentah-mentah karena memang faktawi. Dapat dikatakan bahwa kenyataan ini sudah menjadi ‘sunnatullah’. Justru di balik keanekaragaman pemahaman keislaman ini, hikmah bagi muslim menjadi pemacu untuk lebih mendalami pemahamannya sehingga mencapai pemaknaan yang ideal. Artinya, keserbanekaan pemahaman ini memerlukan kesadaran dan jiwa besar untuk ‘meluaskan’ cakrawala pemahaman keislaman, bukannya malah menimbulkan konflik yang tak berkesudahan. Bagi kita, apa pun konflik dalam pemahaman keislaman tidak akan terjadi semata karena perbedaan paham, tetapi ada ‘faktor-faktor lain’ yang membuat situasi tidak kondusif. Contohnya, konflik Sunni-Syiah yang terjadi di Irak belakangan ini. Banyak tengara menyatakan bahwa konflik tersebut bukan disebabkan runcingnya beda paham antara Sunni dan Syiah, melainkan karena ‘intervensi politik’ pihak luar yang menghendakinya. Pendeknya, selalu terpendam ‘kepentingan’ di luar agama yang menimbulkan malapetaka, tetapi politicking yang menjadi sumbu penyala api konflik. Teladan pemikiran masa lalu Kalau merunut sejarah, umat Islam pernah melahirkan bayak ilmuwan dan pemikir yang berkaliber internasional. Pemikiran-pemikiran mereka tersebar dalam karya-karya besarnya dan sangat populer. Ibnu Rusyd, al-Ghazali, al-Syafi’i, al-Khawarizmi, al-Kindi, Jabir bin Hayyan, al-Biruni, dan masih banyak lagi yang menekuni keilmuan dan menyebarkan pemahaman keislaman yang kosmopolit. Betapa pun, di antara mereka terjadi perbedaan pemikiran, tetapi tetap dalam koridor saling menghormati. Perbedaan tajam antara Ibnu Rusyd dan al-Ghazali misalnya mengenai filsafat yang kemudian melahirkan karya Tahafut al-Falasifah dan Tahafut al-Tahafut menunjukkan bahwa perbedaan dikelola sedemikian elok melalui karya ilmiah, bukan konflik kekanak-kanakan yang justru mudaratnya lebih besar. Persitegangan intelektual memang selalu akan terjadi. Para ilmuwan dan pemikir muslim sedari lama menunjukkan hal itu. Keniscayaan adanya persitegangan itu merupakan hal yang sangat wajar karena justru di situlah letak dinamika keilmuan yang akan menggeret pada wujudnya yang ideal. Untuk menuju keparipurnaan dalam pemahaman dan pemikiran, dibutuhkan ‘gesekan’ sehingga spirit untuk menjelajah lebih mendalam akan menyala terus. Dulu, seperti paham Mu’tazilah pernah dijadikan sebagai ideologi negara oleh pemimpin dinasti Umayyah, yaitu khalifah al-Muktashim, Watsiq, dan al-Makmun. Bagi penentangnya akan dihadiahi penjara seperti yang menimpa Imam ibnu Hambali. Namun, lambat laun, paham Mu’tazilah menjadi surut dengan sendirinya, karena dipandang tidak lagi layak. Meski kita tahu spirit Mu’tazilah mengilhami pemikiran keislaman dewasa ini, Mu’tazilah secara doktrin dan ideologi sudah tidak hidup lagi. Ini juga membuktikan bila suatu paham dijadikan sebagai ideologi yang dipaksakan-seperti halnya paham Marxisme-, maka yang terjadi justru penolakan rakyat. Pemikiran Mu’tazilah buktinya ‘dikalahkan’ oleh kehadiran pemikiran al-Asyari yang mengedepankan teologi moderat. Dan pemikiran al-Asyari ini yang bisa diterima umat karena lebih populis. Soal paham al-Asyari ini kemudian dikritik karena dianggap membawa umat pada determinisme atau apatisme, tetapi buktinya tetap bayak dipegang oleh umat. Ini juga membuktikan bahwa paham al-Asyari mempunyai manfaat sehingga tetap hidup. Demikianlah, pemikiran bukanlah ‘ideologi’, tetapi sebagai aktualisasi pemahaman terhadap kenyataan dan teks-teks yang menghampar dalam kehidupan. Pemikiran akan terus hidup dan mekar, apalagi di tengah iklim demokrasi dan globalisasi seperti yang kita rasakan sekarang ini. Demikian halnya, sosok al-Ghazali yang dikritik sekaligus juga dipuja. Bagi penentangnya, al-Ghazali dipandang sebagai sumber pemikiran yang menyebabkan kemunduran umat Islam. Ini seperti dituduhkan oleh seorang intelektual dari Mesir, Fuad al-Ehwani. Kalangan Islam liberal pun memahami seperti itu dan kemudian menjadikan sosok Ibnu Rusyd sebagai pemikir rasionalis yang layak dihidupkan semangat pemikirannya. Akan tetapi, pemikiran al-Ghazali nyatanya masih terus berkibar dan dijadikan rujukan serta karya-karyanya dipelajari di seantero dunia. Mungkin, beginilah nasib sebuah pemikiran, kalau tidak dipuja pasti akan dihujat. Di sisi lain, ini menunjukkan pula bahwa sosok semisal al-Ghazali ternyata masih berguna dalam menapaki kehidupan modern. Artinya pula, pemikiran al-Ghazali masih kontekstual karena sikap moderasinya. Hal ini, juga karena peranan dan dedikasinya dalam memikirkan umat. Ketulusannya membuat seolah menyinari kegelapan yang setiap kali muncul. NU juga misalnya yang lebih mengedepankan sikap moderasinya terus hidup dan mengembangkan sayap dedikasinya bagi bangsa. Sedari awal, NU sudah menolak upaya umat Islam untuk menegakkan ‘negara Islam’. NU kemudian menetapkan bahwa Indonesia bukanlah ‘negara Islam’ (darul Islam) dan bukan pula ‘negara perang’ (darul harb), melainkan sebagai ‘negeri kedamaian’ (darusalam). Ini suatu terobosan pemikiran kala itu, di saat umat Islam berada dalam polarisasi yang tajam, konflik ideologi dan situasi yang tidak kondusif. Dengan begitu, NU tampil memerankan dirinya sebagai ‘penengah’ umat Islam dengan tawaran pemikiran yang moderat dan kosmopolit. Pemikiran yang moderat akan selalu dibutuhkan. Sedangkan pemikiran yang ekstrem akan mudah ditinggalkan. Dunia saat ini mengalami lonjakan yang luar biasa dengan kehadiran modernisasi dan globalisasi. Dua wujud ini merupakan fakta yang tak bisa ditolak. Kita perlu menerimanya walaupun dengan sikap yang kritis. Kemajuan bangsa perlu diupayakan sedemikian rupa dan ini memerlukan pemikiran serta sikap yang luwes yang turut mendukung kemajuan demi kesejahteraan umat. Islam senantiasa mengajarkan untuk bersikap seimbang. Alquran menegaskan: ”Dan demikian itulah, Kami jadikan kalian sebagai umat yang berada di tengah-tengah (ummatan wasathan).” Konsep ‘ummatan wasathan’ ini sungguh bijaksana, sebab hidup selalu majemuk. Tidak akan ada kemampuan untuk memanunggalkan hidup dalam satu rupa. Dengan kemajemukan ini, maka diperlukan sikap yang arif melalui sikap moderat. Radikalisasi pemikiran akan berarti melawan kemajemukan serta menghindar dari kenyataan. Dan ini tentu justru akan melahirkan mudarat yang lebih banyak daripada manfaat. Karena itu, sikap ummatan wasathan seperti diwejangkan Alquran tentunya merupakan sikap terbaik yang perlu dipegang erat-erat oleh setiap muslim.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s