Alm. Yogie S. Memet dan PMB

Reff : HU PR 

Alm. HRM Yogie SM  adalah tokoh yang besar jasanya 

Sekretariat Jalan Merdeka 7 adalah hadiah beliau kepada PMB.

Tahun 1968, Ketua Senat PMB, Nuril Yunus Singagerda (alm.), melanjutkan kepengurusan dari Senat 1967 yang diketuai oleh Rahmat Witoelar, dengan Sekretariat di Jalan Ciung Wanara, yang merupakan tanah kosong milik mertua dari Muslimin Nasution. Di tanah kosong itu, Senat 1967 membangun sebuah gubuk sederhana sebagai Sekretariat PMB. Tetapi tepat di akhir masa jabatan Senat 1967 itu, kaveling Jalan Ciung Wanara itu harus dikembalikan kepada pemiliknya. Sehingga Senat 1968 menjadi luntang-lantung tidak punya Sekretariat.

Ini bukan hal aneh, karena sebelumnya, selama 20 tahun, sejak 1948, semua Senat PMB juga tidak pernah punya Sekretariat, selalu menumpang di rumah siapa saja yang mau meminjamkan alamatnya sebagai alamat PMB.

Tetapi Nuril Yunus bertekad bahwa di tahun 1968 itu, ciri-ciri nomaden-nya PMB harus berakhir, dan sibuk lobby ke sana ke mari, mengusahakan alamat tetap bagi PMB. 

Kebetulan, Ketua Seksi Keputrian Senat 1968, Herna Pruistina, adalah seorang aktivis mahasiswa yang luas akses-nya ke pejabat-pejabat pemda Jabar dan pemda Bandung. Beliau lalu membuka jalan bagi Ketua Senat untuk menemui Komandan Kodim Bandung, Letkol. Inf. Yogie Suardi Memet, yang di jaman itu sebagai pimpinan militer di suatu wilayah, besar sekali kekuasaannya, jauh lebih berkuasa dari Walikota. Antara lain, Komandan Kodim Bandung berkuasa atas bangunan-bangunan yang disita dalam rangka peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI di tahun 1965.

Dan dari Kodim Bandung itulah, pada tahun 1966, Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Bandung mendapat gedung bekas sekolah Cina di Jalan Lembong yang kemudian diberi nama Gedung Julius Usman. Kemudian di tahun 1967, Resimen Mahasiswa Mahawarman mendapat gedung bekas Sekretariat CGMI (organisasi mahasiswa PKI) di Jalan Surapati yang sampai sekarang menjadi Skomen Mahawarman.

Nah, di tahun 1968 itulah, Yogie SM, sebagai DanDim Bandung, memberikan gedung Jalan Merdeka 7 kepada Senat PMB yang diwakili Nuril Yunus dan Herna Pruistina.

Di jaman itu, Partai Nasional Indonesia (PNI) terpecah dua, satu pihak di bawah pimpinan Ketua Umum Ali Sastroamijoyo dan Sekretaris Jenderal Surachman berpihak kepada PKI, ketika itu lazim disebut “PNI A-Su”. Sedangkan pecahannya di bawah pimpinan KetUm Osa Maliki dan Sekjen Usep Ranawijaya bersikap anti-PKI, lazim disebut “PNI Osa-Usep”.

Setelah peristiwa G-30-S/PKI, PNI A-Su menjadi organisasi terlarang, berserta semua organisasi bawahannya (onderbouw). Salah satu onderbouw PNI A-Su adalah Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI), yang mempunyai Sekretariat di Jalan Merdeka 7.

Gedung itulah, yang setelah disita Kodim Bandung di tahun 1965, diserahkan kepada PMB di tahun 1968 oleh Komandan Kodim waktu itu, Yogie SM, dan sampai sekarang, 40 tahun kemudian, masih merupakan Sekretariat PMB.

Kiranya Allah SWT menempatkan alm. Yogie SM pada tempat yang terbaik di alam baka, mengampuni dosa-dosanya dan membalas amal ibadahnya. Amiiinn…

Wasalam.

Iklan

2 responses to “Alm. Yogie S. Memet dan PMB

  1. … Nuhun pisan Kang Yogie….

  2. Yaaaaaa…..alloh semoga engkau mengampuni dosa -dosanya, menempatkan om Yogi menjadi ahli surga, dan diterima iman dan islamnuya, nya kang bambang (kang bagong )

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s