Wawancara dengan Sarwono Kusumaatmadja “Uang Tak Berjudul”

Sarwono Kusumaatmadja telah melintasi perjalanan sejarah perpolitikan negeri ini. Menjabat menteri dua periode era Orde Baru (Menneg PAN dan Menneg LH), di era reformasi mantan Sekjen Golkar ini dipercaya menjadi menteri eksplorasi kelautan. Dukungan masyarakat Jakarta membawanya menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pada Pemilu 2004. Kematangan pria kelahiran Jakarta, 24 Juli 1943, ini dalam politik memang tidak datang dengan sendirinya. Saat masih duduk di bangku SD, Sarwono kecil sudah senang mendengar perdebatan soal politik di rumahnya. Di paruh kedua dekade 1960-an, adik kandung mantan menlu Mochtar Kusumaatmadja ini adalah pemimpin organisasi intrakampus dan ekstra kampus dalam periode yang berbeda. Ia ketua Dewan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) dan ketua Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) –organisasi kemahasiswaan yang berdiri pada 1948. Keaktifannya di dunia pergerakan mahasiswa inilah yang membawanya ke Senayan, menjadi anggota DPR-RI. Kini, anak kedua bersaudara dari pasangan Mohammad Taslim Kusumaatmadja dan Sulmini Surawisastra ini gagal maju dalam pencalonan gubernur DKI Jakarta. Keinginannya membuat ‘Jakarta yang lebih baik’ kandas karena partai politik yang mengusungnya membatalkan dukungannya. Tapi, ia tidak kecewa. ”Saya tidak kehilangan apa-apa. Saya Cuma mikirin kekecewaan pendukung saya,” ucap lulusan Teknik Sipil ITB, 1974 ini. Rabu pekan lalu (20/6), ayah empat anak dan kakek dua cucu ini menerima wartawan Republika, Burhanuddin Bella bersama fotografer Amin Madani untuk sebuah wawancara di kantornya, bilangan Simpruk, Jakarta. Sembari sesekali mencicipi pisang goreng yang tersedia di meja kerjanya, Sarwono mengisahkan perjalanan pencalonannya sebagai calon gubernur, masa kecil, dan keterlibatannya di panggung politik. Berikut petikannya:

Apa motif Anda mencalonkan diri menjadi cagub DKI?

Karena rata-rata partai juga tidak punya orang dalam kok yang mau dicalonkan. Kecuali ada beberapa kasus, seperti di Kalteng ada Teras Narrang. Di Jambi ada Zulkifli Nurdin. Tapi, dicalonkan oleh Golkar (padahal mereka bukan orang Golkar).

Karena partai tidak punya orang hingga Anda mau maju?

 Misalnya kalau PDIP, itu memang sudah garis dari ketua umum waktu itu bahwa khusus buat DKI, dianggap tidak ada orang partai memenuhi syarat. Jadi, diundang orang luar. Meski di daerah lain tidak punya kebijakan itu. Anda sudah duduk bersama PDIP.

Mengapa akhirnya mentah?

 Saya juga tidak mengerti. Katanya, karena survei saya rendah.

Bukan karena ada faktor lain?

 Saya cuma tahu apa yang saya dengar dan saya lihat. Apa yang tidak saya dengar dan tidak saya lihat, saya anggap saya tidak tahu. Di rakerdasus, saya rangking satu kinerja sebagai calon. Tapi, kemudian Pramono Anung di televisi bilang, survei internal dia, bukan saya yang nomor satu.

Maaf, apa bukan karena faktor uang?

 Itu yang saya bilang. Yang saya tidak tahu dan saya tidak lihat, saya tidak bisa omong.

Tapi, sempat dihubungi?

 Ada individu yang menyebut angka tertentu, Rp 400 miliar. Tapi, saya anggap itu tidak serius. Pertama, karena orang itu tidak berwenang. Kedua, mungkin maksudnya baik, hanya untuk menyatakan bahwa saya itu punya problem. Tapi, saya tahu kalau orang yang punya akses ngomong kayak gitu, pasti saya punya problem. Kalau soal angka survei saya rendah, saya waktu itu menjelaskan ke mereka bahwa menurut planning saya, itu akan naik tajam satu bulan menjelang pilkada. Tapi, alasan itu tidak diterima?

 Mungkin pengetahuan mereka terhadap survei terbatas. Kalau saya, survei itu saya anggap sebagai instrumen perencanaan. Saya kan pakai survei lewat LSI, LP3ES. Dua-duanya tidak saya umumkan. Karena survei buat saya bukan alat propaganda.

Dalam perjalanan waktu, Anda duduk bareng dengan PKB. Bagaimana ceritanya?

Sebetulnya dengan PKB sudah agak lama berhubungan karena sesuai dengan permintaan PDIP juga. Mereka ingin menjadi pemimpin koalisi kebangsaan, jadi para calon dipersilakan menghubungi partai lain. Jadi, dengan Partai Demokrat, PKB, PAN, memang dalam rangka itu, sepengetahuan PDIP.

Tapi, kemudian di PKB juga mentok?

 Ya, apa sih yang menyebabkan persepsi orang tiba-tiba berubah?

Bukan karena uang?

 Saya tidak tahu. Saya cuma tahu ada persepsi yang berubah secara radikal pada saat-saat terakhir.

Anda tidak dimintai uang?

 Tidak.

Atau mungkin diminta lewat orang lain?

Sekali lagi, ada orang tidak punya kewenangan yang bicara soal itu. Tapi, tidak minta ke saya. Kepada orang yang menurut persepsi dia donor saya. Padahal keliru dia.

Kemudian Anda memilih jalur independen, meski akhirnya tertutup lagi?

Belum tentu tertutup. Saya kira Mahkamah Konstitusi akan meloloskan permohonan (gugatan) itu.

Tapi, untuk Jakarta kan sudah terlambat?

 Mungkin terlambat. Tapi, tidak tahulah kita. Karena kita nggak tahu tingkat kekecewaan publik itu sampai di mana terhadap ini. Apakah hanya menyebabkan mereka mau golput atau betul-betul jengkel dan menyatakan sikapnya secara keras. Saya nggak tahu.

Banyaknya partai memungkinkan partai melakukan ‘dagang sapi’ di setiap pilkada. Menurut Anda?

Ya, itu kan namanya politik. Politik itu selalu ada proses menerima dan memberi. Selalu ada kompromi, selalu ada jalan tengah. Jadi, saya nggak tahu, saya nggak mau cerita apa yang sebetulnya terjadi. Saya cuma tahu bahwa selalu yang terjadi adalah, pada saat terakhir saya tersingkir. Nah, pada saat terakhir, selalu ada proses perubahan persepsi yang mendadak. Kita mesti merenungkan, apa sih yang menyebabkan persepsi orang mendadak berubah? Insentif apa yang menyebabkan sesuatu bisa berubah secara drastis?

Menurut Anda, jalur independen bisa menghilangkan praktik ‘dagang sapi’?

 Jalur partai ini harus ada kompetitornya, jalur independen. Sehingga, partai mau tidak mau akan membenahi kulturnya. Jadi, apa yang terjadi di partai politik ialah gejala kartel politik, di mana politik itu menganut logika pasar. Kalau pasarnya dikuasai oleh kartel, tidak ada kompetitornya, tentu ongkos politiknya jadi tinggi. Kalau suatu ketika kelak parpol berbenah, sehingga fungsi politiknya menjadi utuh lagi, jalur independen juga dengan sendirinya tidak akan laku. Tapi, secara teoritis, jalur itu harus tetap ada. Karena ini menyangkut hak warna negara untuk dipilih dan memilih yang tidak boleh dihalangi oleh peraturan yang menyatakan bahwa dia hanya boleh dipilih lewat partai politik.

Pra-pilkada Anda kan sudah memasang spanduk dan semacamnya. Habis berapa?

Lagi dihitung sih. Mungkin angka Rp 8 miliar, ya akurat. Itu saya pakai buat sewa kantor, survei, bikin sistem informasi, jaringan pendukung, pasang iklan. Jadi, namanya bukan money politics, tapi political cost. Dan, itu saya dapat bukan dari duit sendiri, dari para donor.

Angka itu tidak ada yang ke parpol?

 Tidak yang di luar kewajaran. Artinya, saya hanya bisa mendukung program yang memang jelas. Misalnya kalau ada permintaan program konsolidasi, anggarannya jelas, peruntukannya jelas, dan masih dalam kesanggupan saya mencarinya. Kalau yang diminta uang yang tidak ada judulnya, tidak bisa. Pengalaman saya beda dengan yang lain. Dan, itu membuktikan bahwa membayar uang tidak berjudul juga tidak ada gunanya.

Menjadi cagub DKI berapa biayanya?

Yang riil sekitar Rp 30 miliar. Itu pun kalau kita serius mempersiapkan saksi di tiap TPS. Kalau kita taruh satu orang per TPS, itu kan ada kalkulasinya. Itu lumayan besar. Merekrut, training, dan juga uang saku dia sehari-hari, itu bisa sampai Rp 15 miliar. Yang lain ongkos iklan.

Anda kecewa terhadap parpol yang semula mendukung kemudian urung?

Tidak apa-apa, karena problemnya di mereka kok. Bukan saya. Yang malu hati kan mereka, bukan saya. Yang salah tingkah bukan saya. Saya sampai terharu. Sekarang kalau saya masuk ke pasar, ke perkantoran, ke tempat-tempat keramaian, dulu kan orang lihat saya dari jauh senyum. Sekarang banyak yang datang nyalami. Ya udah, saya ngobrol. Jadi, saya bukan politisi lagi, tapi selebriti ha ha ha.

Gus Dur pernah mendorong nama Oneng berpasangan dengan Anda….

Yang disebut itu Oneng. Saya bilang orang itu tokoh fiktif. Jadi, mungkin dia sedang berkelakar. Dia sebut-sebut Oneng, bukan Rieke. Oneng kan tokoh fiktif. Dan, Rieke juga tidak mau. Ini pilkada betulan, saya bilang. Bukan pilkada yang terjadi di Bajaj Bajuri.

Anda juga menanggapinya dengan enteng saja?

Karena di depan wartawan, saya bicara diplomatis. ”Baik, nanti saya konsultasikan dengan parpol-parpol.” Kemudian saya merenung di rumah. Apakah masih layak saya berdiplomasi? Apakah masih layak saya bernegosiasi? Saya pikir sudah nggak layak lagi. Ya udah. Kalau memang nggak mau, ya udah.

Bagaimana dengan sponsor yang mulanya mendukung Anda?

Mereka tahu risikonya bahwa saya akan gagal.

 Hubungan dengan mereka sekarang bagaimana?

Masih bagus. Saya juga cukup bodoh untuk mengembalikan duit sisanya. Bodoh kan? Waktu saya kembaliin, kaget dia, kenapa dikembalikan? Karena kalau saya masih pegang uang ini, konsep saya tentang uang bisa berubah. Bisa saja kita menganggap Rp 50 juta itu uang kecil.

 Gara-gara Hindari Rumah Tahanan

Tiap hari, sekitar 300 SMS masuk ke ponsel Sarwono. Isinya: dukungan dan pertanyaan langkah yang harus diambil setelah gagal jadi cagub. Bagi Sarwono, gagal jadi cagub DKI bukannya berhenti berpolitik. ”Politik itu panggilan hidup, sama halnya dengan kiai. Tanya saja kiai yang umurnya 70 tahun, kok masih di kiai terus?” kata dia. Bagi dia, politik bukan karier seperti di jabatan profesi, birokrasi, dokter, ahli hukum, dan dosen. Di politik tidak ada jenjang. Hingga kini, ia pun masih tercatat sebagai anggota Golkar. ”Nomor anggota saya masih hafal,” ujar dia.

Tak pernah dipanggil rapat-rapat?

Suka dipanggil, kasih ceramah. Tapi, belakangan nggak, karena mungkin pesan yang saya sampaikan tidak cocoklah dengan selera zaman sekarang. Saya cuma satu pertanyaan simpel ke Golkar. Kalau zaman saya dulu, ada orang DPP Golkar merangkap jabatan di pemerintah, itu merupakan keuntungan. ”Sekarang saya mau tanya sama kalian, apa untungnya kalian punya ketua umum merangkap wakil presiden? Apa untungnya kalian punya menteri di kabinet?” Pertanyaan itu rupanya mereka tidak sukai ha ha ha. Sekarang dengan perubahan sistem, coba jelaskan kepada saya, apa untungnya dapat jabatan itu buat partai? Kalau PKS kan lain kebijakannya. Siapa yang masuk kabinet, dilepaskan jabatannya di partai. Sewaktu mahasiswa, ia telah mencari uang: Mengajar privat bahasa Inggris, matematika, dan berjualan sepatu. Kemudian, menjadi wartawan politik di Mingguan Mahasiswa dan menulis tajuk di Pikiran Rakyat. Menjelang Pemilu 1971, Sekber Golkar kekurangan calon. Sekber Golkar waktu itu masih dipimpin oleh militer aktif. Ketua DPD Jabar-nya merangkap Asisten Teritorial Kodam Siliwangi. ”Mereka memanggil kami ke Kodam, ada 17 orang, dikasih pilihan. ‘Masuk ke Golkar jadi calon atau kalian kami tangkap.’ Saya tanya, apa alasannya kami ditangkap? ‘Kalau alasan sih kita bisa bikin. Sekarang bagaimana, mau memperbaiki sistem dari dalam atau tetap jadi orang jalanan, kerjanya demo.’ Akhirnya kita berunding di antara teman. Kita tanya kondisi rumah tahanan militer. Katanya kotor, banyak nyamuk, banyak kecoa. Kalau begitu lebih baik calon DPR dong. Gitu aja. Ikut kampanye pun tidak. Tapi, kita ditempatkan di urutan tengah, tidak di bawah. Di luar dugaan, Golkar dapat 62 persen di Jawa Barat, prediksi para ahli maksimum 35 persen. Jadilah kita masuk di DPR, padahal tadinya cuma ingin menghindari rumah tahanan militer,” tutur Sarwono. Lulus dari ITB, Sarwono bekerja sebagai insinyur teknik sipil selama empat tahun. ”Saya jadi konsultan, kemudian punya kontrak kecil-kecilan. Saya pernah mendesain jembatan, turap, gudang. Jadi semua. Tapi, tidak betah. Akhirnya, setelah saya punya rumah, punya sedikit tabungan, saya pikir lebih baik ke politik,” kata dia. Perkenalannya dengan politik telah ia mulai sejak SD. ”Paman saya ada yang aktif di Murba, PNI, NU. Itu datang dari Cirebon, dari Jawa Tengah, kalau ke Jakarta nginap di rumah bapak saya, ngomong politik. Jadi, perdebatannya seru. Saya masih SD, tapi saya tertarik sekali dengar. Kalau abang saya (Mochtar Kusumaatmadja) tidak berminat. Dia cuma salaman, ngomong sebentar, baca buku. Kalau saya tidak, saya tongkrongi,” kata dia.

Sudah terbayang obsesi saat itu Anda mau jadi seperti mereka?

Tidak. Tapi, saya enjoy dengar perdebatan itu, misalnya negara Islam versus negara kebangsaan. Federalisme versus militerisme. Dan, mereka walaupun beda pandangan, itu bersahabat secara pribadi. Waktu bapak saya meninggal, saya diangkat anak oleh paman saya, Dr Sudarsono (ayah Juwono Sudarsono). Waktu itu jadi Dubes RI di Yugoslavia. Jadi, saya ke luar negeri, belajar di Inggris dua tahun. Di Inggris, itu juga ada kontribusinya ke kecenderungan saya di politik. Di Inggris saya belajar sejarah, sastra, bahasa, ilmu bumi. Karena menurut kultur orang Inggris, ilmu-ilmu itulah yang berharga. Waktu saya pulang ke Indonesia, ternyata elite di sini milih ilmu pasti. Jadi, saya banting stir. Tanpa pengetahuan ilmu pasti saya masuk SMA IPA.

Mengapa?

Pengin tahu saja sesuatu yang baru. Saya taruhan sama pastor yang jadi kepala sekolah. Dia bilang, ”Kamu pasti tidak bisa.” Saya bilang, ”Saya pasti bisa. Taruhannya, dalam enam bulan angka merah saya harus hilang. Kalau nggak dikeluarin.” Satu saja syaratnya, si pastor itu bilang, ”Kamu harus dapat dispensasi dari Pak Hutasoit (Kepala PPK – Pendidikan, Pengajaran, Kebudayaan – Jakarta).” Saya dapat dispensasi, ditulis tangan. Karena saya nungguin dia dari pagi sampai sore. Nunggu di pelataran parkir, saya nongkrong di kap mobil dia. Sampai dia mau neken. Itu saya kasih lihat ke pastor. Enam bulan bisa. Itu yang membuat saya mati-matian belajar. Lalu, ibu saya pindah ke Bandung, saya pindah sekolah ke Bandung. Kemudian Mochtar dipecat sebaga dosen karena selalu mengkritik Bung Karno. Itu berarti, biaya sekolah Sarwono tak ditanggung lagi oleh Mochtar. Abang saya bilang, ”Saya nggak bisa ongkosi kau sekolah.” Sarwono pun harus cari uang sendiri. Waktu itu mau Lebaran. Ada satu rumah tetangga belum dicat. ”Saya datang, menawarkan diri sebagai tukang cat, dengan catatan saya sanggup mengerjakan sendirian. Saya kenal karakter orang itu. Kalau saya menawarkan jasa sebagai tukang cat profesional, mengerjakan satu rumah berenam, saya bakal kalah. Akhirnya dapat kontraknya. Saya kerjakan sendirian, baru selesai malam takbiran,” tutur dia. Hasilnya, ia pakai untuk urusan masuk ITB. Melihat anak tetangganya jelek rapornya, ia menawarkan diri mengajari matematika dan bahasa Inggris. ”Om, bayarnya belakangan saja. Kalau dalam tiga bulan dia tidak berubah, Om tidak usah bayar saya,” kata dia saat itu. Nilai rapor anak itu membaik baik. ”Saya dapat bayaran. Dan, karena orang kaya, dia ngasih tahu teman-temannya. Saya dapat murid banyak. Setelah murid banyak, mahasiswa yang miskin dari daerah, yang pintar-pintar, saya pakai sebagai guru. Saya jadi koordinator,” kata dia. Sewaktu kuliah, Sarwono mengaku belajar seperlunya. ”Cara belajar saya aneh. Itu orang-orang Tionghoa yang rajin, siang-malam kan mereka bikin soal. Saya datangin, saya komentari pekerjaan mereka. Makin di-salahin kan makin semangat menerangkan ke saya. Jadi, ikut ngerti. Latihan sedikit di rumah, tidur. Jadi, waktu ujian saya segar, mereka capek,” ujarnya.

Waktu bapak Anda meninggal, Anda sempat jualan kue?

Ibu punya kebiasaan jualan kue. Jam tiga pagi bangun, bikin jajanan pasar, jam tujuh dia jualan dekat sekolah. Saya ikut bantu. Waktu abang saya jadi menteri, tetap saja kebiasaan itu diteruskan. Terus abang saya bilang, ”Saya kan jadi menteri. Tidak usah terusin ini, kan saya bisa kasih uang.” Ibu saya bilang, ”Yang jadi menteri kan kamu, bukan saya.” Akhirnya saya disuruh sama abang saya jadi penengah. Saya bilang sama ibu, ”Kalau ibu tetap berdagang, itu namanya persaingan tidak sehat. Orang lain dagang karena perlu, ibu dagang karena kebiasaan. Kan tidak sehat.” Akhirnya apa, tetap saja bangun jam tiga bikin jajan pasar, tapi pedagangnya dipanggil ke rumah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s