Monthly Archives: Agustus 2007

MPAB PMB 2007

Berita MPAB 2007 yang didapat dari proposal :

Pelaksanaan tanggal 30 agustus s/d 2 Septembet 2007

Bertempat di Kawasan Kampung Lembur Awi – Ciwidey, Kab. Bandung

Diselenggarakan 4 hari 3 malam dengan sistim Spirit Camp, Seluruh peserta (calon anggota) ditempatkan pada sebuah kawasan camp dan diberikan materi-materi 1. Acara Siang – Outdor berupa game untuk Community Building – Outbond setiap pagi hingga sore 2. Acara Malam – Inisiasi acara perploncoan yang sudah dimodifikasi Malam I Kamis 30 Agustus 2007 Malam 2 Jumat 31 Agustus 2007 Malam 3 Sabtu 1 September 2007 Malam 4 Minggu 2 September 2007

Pembukaan Whole Night Donderjool Inagurasi Dewa Guntur Pemilihan jendral-jendril Malam Neraka Lelang Nama Malam Kabaret Malam Pengadilan.

 Bagi anggota PMB yang ingin terlibat langsung dan sekalian refresing di Ciwidey dapat menghubungi ketua panitia Senior Sidik Hidayat PMB 1990, HP 08156228000 , telp kantor 022-6613890, rekening BCA 1561134940 jangan lupa bayar konsribusinya juga

wassalam

Bambang PMB 1979

Iklan

Berita duka cita

Telah meninggal Dindin Syafrudin, PMB ’69  Meninggal 19 Agustus sore. Dimakamkan 20 Agustus pagi.  Rumah duka Jalan Taman Cibaduyut Indah B-39, Bandung

Peredam Gerak Cukong Kayu

 
Jalan hidup seseorang memang selalu menjadi misteri Tuhan. Lelaki ini memahami betul ketetapan itu. Melihat masa lalunya, dia bersyukur sejarah hidup membawanya pada kesuksesan.
 
 
Dr. Ir. Transtoto Handadhari, MSc melewati masa mudanya di Jogja pada era pergaulan tahun 70-an. Dia mengenyam pendidikan di sekolah favorit, SMU I Teladan. Setelah itu, jalan hidup membawanya ke Fakultas Kehutanan UGM. Riwayat pendidikan itu mengisyaratkan sesuatu, yaitu bahwa Transtoto muda memang anak menonjol. “Dulu di Kehutanan UGM, ada dosen yang justru meminta saya untuk tidak ikut ujian. Beliau menganggap saya pintar, padahal itu hanya karena saya aktif kalau pas diskusi,” ujar lelaki kelahiran Jogja, 6 Maret 1951 ini sambil tertawa kecil.
Meski menonjol di perkuliahan, bukan berarti Transtoto tidak gaul. Kala itu, dia juga menjadi Ketua Ikatan Mahasiswa Yogyakarta (IMAYO). Mereka adalah sekumpulan “anak gaul” zaman itu. Tidak mengherankan, jika kemudian Transtoto yang kini menjabat Direktur Utama Perum Perhutani ini cukup populer di kampus.
Kepopulerannya terbukti ketika dia berhasil menggaet mahasiswi yang oleh koran kampus diberi julukan “Monalisa Kampus”. Penasaran dengan wajah mahasiswi itu, Transtoto mencarinya dengan tekad untuk menaklukkan hatinya. Betul juga, dia berhasil menggaet sang Monalisa Kampus yang ternyata adalah Feiza Duma Sidi Tando. Transtoto pun berhasil mengajak perempuan yang masih saudara Camelia Malik dan Ahmad Albar itu ke pelaminan. Dari pernikahan itu, lahirlah Ovelia Adinda Transtoto, anak semata wayangnya yang kini memilih menjadi desainer grafis. Dia juga mengadopsi dua anak, yaitu Gebyar Gumilar dan Pekik Wira yang keduanya berumur sekitar 6 tahun.
Begitu lulus dari UGM tahun 1977, Tanstoto mengawali kariernya di Departemen Pertanian, dengan menjadi tenaga honorer pada Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi, Departemen Pertanian. Dia sempat berganti jabatan dua kali, ketika ditempatkan di Madura mulai Juli 1977-1982. Di tengah-tengah kariernya di departemen tersebut, Transtoto sempat melanjutkan kuliah S2 di University of Wisconsin, Madison, Amerika Serikat. Dia memeroleh gelar MSc ketika menyelesaikan studinya tahun 1992.

 
 

Berturut-turut, karier Transtoto dijalani di Bengkulu, Bogor, Jakarta, Tarakan, dan Banjarbaru di Kalimantan. Kariernya mulai menanjak tajam ketika tahun 2000 dipercaya menjadi Kepala Kanwil Departemen Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah. Setelah itu, dia dikukuhkan sebagai Koordinator Wilayah Departemen Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2001-2002. Jabatan Kepala Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XI Jawa-Madura sempat membawanya kembali untuk menikmati udara Jogja selama dua tahun hingga Mei 2004. Sebelum menjadi Direktur Utama Perum Perhutani, Juni 2005, dia juga sempat menjadi Kepala Pusat Informasi Kehutanan, Departemen Kehutanan. Ketika memangku jabatan ini, dia sempat membuat telinga sejumlah pihak di Jogja panas. Pasalnya, Transtoto mengeluarkan sinyalemen yang menghimbau agar masyarakat Jogja waspada karena kota ini menjadi salah satu pusat transaksi para cukong kayu ilegal. Wajar memang jika Transtoto bersikap dan bersuara tegas. Tugasnya memang menjaga kelestarian hutan agar memberi manfaat bagi masyarakat. Apalagi, cukong kayu belakangan makin berani beroperasi. “Saya ingin menyampaikan masyarakat Jogja itu agar waspada. Sebab Jogja memang suasananya mendukung untuk transaksi. Sambil makan gudeg, para cukong itu memperjualbelikan kayu ilegal,” tambahnya.
Lelaki yang pernah menjabat Ketua Komisariat Dewan Mahasiswa Fakultas Kehutanan, UGM tahun 1975-1977 ini memang berwatak tegas. Dia mengaku tidak suka dengan sikap plin-plan yang tidak jelas. “Meskipun saya orang Jogja, kalau memang merah saya akan bilang merah, kalau biru saya katakan biru,” tegasnya.
Anggota Dewan Pakar DPN HKTI ini ingin meluruskan bahwa niatnya adalah memberikan peringatan. Dia tidak berniat sedikit pun untuk merugikan masyarakat Jogja dengan statement semacam itu. Menurutnya, data yang menunjukkan hal itu juga ada. Jogja itu membutuhkan 3500 kubik kayu jati, padahal Perhutani hanya menyediakan 500 kubik. Wajar jika muncul pertanyaan, dari mana sisa kebutuhan kayu jati tersebut dipenuhi? Jogja memang diuntungkan secara geografis karena dekat dengan hutan jati rakyat. Banyak kayu yang diakui sebagai kayu jati dari hutan rakyat, padahal sebenarnya dari hutan di Ngawi.
Semua itu, ujar peraih gelar doktor dari UGM ini, adalah wujud kecintaannya pada Jogja tercinta. “Saya ini orang Jogja. Apa yang saya sampaikan karena kepedulian saya terhadap kota kelahiran saya itu,” tambahnya.

Eddy Poerjanto; Foto: Kimpling