Sumur Tanpa Dasar, sebuah Pencarian Iwan Abdulrachman.

 

Oleh: Ipong Witono

 

Dalam mengapresiasi karya-karya Abah Iwan, saya memilih dua buah lagu yang menggambarkan sosok Abah Iwan secara utuh. Yang pertama adalah Mentari dan yang kedua adalah Detik Hidup. Pilihan subyektif saya pada lagu Mentari  menggambarkan simbolisasi seorang pemuda yang berupaya menjaga daya hidupnya. Pencarian jati diri pemuda dalam diri Iwan Abdulrachman, saya yakini menjadi inspirasi utama lagu Mentari.

 

Tentu saja karya tersebut merupakan ‘umpan balik’ terhadap peristiwa yang melatar belakangi terciptanya lagu tersebut. Iwan Abdulrachman sebagai pemuda ingin membagi energinya bagi para aktivis yang dipenjara akibat memperjuangkan keadilan bagi rakyatnya. Dibalik jeruji yang dingin dan bisu, Mentari memberi harapan bahwa cita-cita tidak dapat dipenjara. Bahwa cita-cita adalah energi hidup yang terbesar.

 

Lagu Mentari yang menjadi lagu ‘kebangsaan’ para aktivis, bagi saya selalu memberi makna hakiki akan arti kebebasan. Kebebasan yang merupakan hak hidup harus selalu diperjuangkan secara terhormat walau terasa getir. Ketika kebebasan bukan sesuatu yang ‘gratis’ maka upaya merampas kembali hak hidup yang tercerabut selalu menjadi romantis dalam epos kepemudaan. Lagu Mentari seakan mengingatkan bahwa elemen terpenting pada diri pemuda bukan pada otak namun pada apa yang menuntun otak kita yaitu kepribadian, hati, keikhlasan dan ide-ide progresif.

 Mentari, bernyala disini,Disini di dalam hatikuGemuruh apinya disini, Disini di urat darahku. Meskipun tembok yang tinggi mengurungku,Berlapis pagar duri sekitarku,Tak satupun yang sanggup menghalangimu,Bernyala didalam hatiku. Hari ini hari milikku,

Juga esok masih terbentang,

Dan mentari kan tetap bernyala,

Disini diurat darahku.

 

Dan tentu saja simbolisasi mentari sebagai pusat tata surya memberi makna yang dalam. Pesannya adalah: “Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya”. Mentari adalah simbolisasi kita semua yang selalu berupaya saling memberi daya hidup bagi sesamanya.

 

Dalam fase pencarian makna hidup seorang Iwan Abdulrachman, menurut saya lagu Detik Hidup merupakan ungkapan yang terdalam. Imajinasi saya atas penciptaan lagu tersebut menggambarkan sosok Iwan Abdulrachman sebagai ‘ksatria’ yang lelah dan gamang melihat pergulatan hidup di dunia. Kekuasaan, nama besar, gelimang harta dan keakuan menjadi nisbi. Ksatria itu berupaya mencari kedamaian abadi dengan kepasrahan total. Ksatria itu berupaya mencari jalan keabadian sejati dengan menyerahkan akhir hidupnya sebagai pertapa.

 

Perhatikan lirik Detik Hidup yang selalu menyayat hati kita yang kering. Lagu tersebut merupakan karya utama dari proses pencarian makna akan arti hidup dari seorang Iwan Abdulrachman. Pencarian makna hidup yang tak berujung bagai sumur tanpa dasar telah menjadi permenungan yang sungguh dahsyat bagi kita semua. Kejujuran, ketidak berdayaan, kelemahan dan kesia-saian yang selalu menghantui ajal diungkapkan tanpa ingin menggurui. Sebuah cermin hidup akan berjuta wajah kita yang munafik, angkuh, dengki, penuh kepalsuan disingkap oleh ketakutan kita akan akhir ajal dengan berserah diri. Permenungan dan  pencarian makna hidup Iwan Abdulrachman tersebut tergambar secara utuh dalam lagu Detik Hidup.

 Detik detik berlalu dalam hidup ini,Perlahan tapi pasti menuju mati,Kerap datang rasa takut menyusup dihati,

Takut hidup ini terisi oleh sia-sia.

 Pada hening dan sepi, aku bertanya,Dengan apa kuisi detikku ini. 

Kerap datang rasa takut menyusup di hati,

Takut hidup ini terisi oleh sia-sia,Tuhan kemana kami setelah ini,Adakah Engkau dengar, doaku ini..Amin…Ya Robal Alamin Dalam hakikat yang berbeda lagu Detik Hidup memberi makna yang substansial akan pemahaman dan kesadaran kita terhadap arti ruang dan waktu. Dalam ungkapan yang berbeda adalah, “Waktu itu bersifat cuma-cuma, namun sangat berharga. Kita tidak bisa membelinya, namun bisa menggunakannya. Kita tidak bisa menyimpannya namun bisa mengubahnya. Sekali membuang sia-sia, tak bisa kembali mendapatkannya”. 

Sungguh Detik Hidup adalah ajakan Iwan Abdulrachman kepada kita semua untuk menatap dan memberi arti ajal dalam prespektif yang lain.

 

Selamat ulang tahun Abah Iwan. Terima kasih atas segala inspirasi, gerak dan karya yang kau hadirkan bagi hidup kami.

 (Penulis adalah pencinta lagu gubahan Iwan Abdulrachman)

Iklan

One response to “Sumur Tanpa Dasar, sebuah Pencarian Iwan Abdulrachman.

  1. Dari semua lagu kampus yang diajarkan waktu os, lagu mentar adalah kesukaan saya. Karena membangkitkan semangat itu susah.. apalagi semangat untuk terus melakukan hal-hal yang ditinggalkan orang…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s