Terima Kasih Abah

Oleh: Ipong Witono

 

Ketika saya, dalam sebuah tulisan, menyebut bahwa Iwan Abdulrachman adalah salah satu ikon Bandung. Ada seorang sahabat yang mempertanyakan statement saya tersebut? Mengapa Iwan Abdulrachman? Apa kriterianya? Dan berbagai pertanyaan lainnya..

 

Ingatan saya langsung menerawang, berupaya melakukan redefinisi sosok Iwan Abdulrachman atau yang sering kami sebut, Abah Iwan. Dalam benak saya, tentu Abah Iwan tidak berkenan dengan definisi saya. Tapi bagi saya, itu hak saya untuk memberi penilaian atas sosoknya walau tentu subyektif. Atas pertanyaan sahabat tersebut, rasanya tidak perlu saya jawab.

 

Walaupun usia kami bertaut 15 tahun, namun sejak kecil saya sudah dapat menikmati lagu-lagu karya Abah Iwan yang sebagian besar dipopulerkan oleh Bimbo. Semula saya tidak mengetahui siapa pencipta lagu-lagu ‘dahsyat’ tersebut. Beberapa lagu yang abadi dalam kenangan saya sampai saat ini, antara lain; Flamboyant, Melati dari Jayagiri, Mentari, Tajam Tak Bertepi, 1000 Mil Lebih Sedepa, Detik Hidup, Sejuta Kabut, Cerita Buat Orang Yang Lupa, Bulan Merah, Angin November, Tragedi..Lirik lagu tersebut begitu akrab di telinga saya. Setelah dewasa, sayapun baru ‘ngeh’ bahwa lagu Burung Camar yang dipopulerkan oleh Vina Panduwinata dan Hymne Siliwangi adalah gubahan Abah Iwan.

               

Saat menginjak remaja, saya mulai mendengar nama Iwan Abdulrachman atau Iwan Ompong, begitu sebutan anak-anak gaul pada era 70an. Namanya sering terdengar di kalangan anak muda sebagai penempuh rimba yang tangguh, pesilat, penggubah lagu, aktivis pecinta alam, penggiat lingkungan hidup, olahragawan, aktivis pemuda hingga pelatih militer. Sosoknya sering memberi imajinasi saya sebagai sosok yang misterius. Semacam tokoh yang sering berada di balik ‘peristiwa besar’ namun tidak nampak kehadirannya. Sosok yang bergerak dalam sunyi. Dalam komunitas kepemudaan di Bandung, namanya sangat disegani. Mungkin karena kepribadian dan karakternya yang berwibawa namun rendah hati.

 

Walaupun sering mendengar namanya, saya baru melihat sosoknya dari dekat setelah saya kuliah di Jakarta, sekitar 25 tahun yang lalu. Di Bandung, lewat aktivitas teman-teman di Rumah Nusantara saya beruntung dapat mengenalnya lebih dekat lagi. Kepribadiannya yang hangat dan bersahaja namun tegas dalam prinsip mengesankan saya, Abah Iwan adalah pribadi yang utuh dan matang. Seringkali kami terlibat dalam tukar menukar gagasan akan solusi dari masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Dalam kegiatan berkesenian, lingkungan hidup maupun dialog lintas iman, saya belajar banyak dari Abah Iwan, terutama bagaimana memahami dan menghargai sebuah proses. Dan tentu saja, arti sebuah kualitas proses.

 

Di penghunjung tahun 2003, Abah Iwan terpanggil untuk mengabdikan dirinya sebagai calon Walikota Bandung. Bersama beberapa sahabat, Abah Iwan menyampaikan kehendaknya dan meminta saya pribadi untuk memimpin tim sukses dalam pencalonan tersebut. Tentu saya terkejut mendengarnya. Saya langsung menanggapi dengan kalimat; “Apakah tidak salah keputusan (mencalonkan diri) tersebut?”, pertanyaan selanjutnya, “Mengapa saya yang diminta memimpin pencalonan tersebut?”. Dalam benak saya, Abah saat ini sudah menjadi pertapa yang menjauhi hingar bingar dunia. Sebagai pertapa hanya akan ‘turun gunung’ apabila melihat situasi ‘dunia’ yang semakin kacau dan tidak terkendali. Di sisi lain, muncul suatu harapan, apabila Abah Iwan, salah satu warga terbaik Kota Bandung, bersedia ‘turun gunung’ membenahi Kota Bandung  -tentu saja berita tersebut- merupakan angin segar bagi kita semua.

 

Bagi saya pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab begitu Abah Iwan menjelaskan latar belakang keputusannya. Saya sampaikan rasa hormat saya atas keinginan tersebut dan menyampaikan bahwa saya masih hijau dalam dunia politik praktis. Namun sungguh sulit untuk menolak kehormatan tersebut walau saya sadar kapasitas saya  jauh dari cukup untuk menjalankan amanah tersebut.

 

Selanjutnya dalam kapasitas yang terbatas saya berusaha sekuat tenaga memimpin tim sukses Iwan Abdulrachman dengan penuh tanggung jawab. Sejak awal saya sadari tugas memenangkan Abah Iwan sebagai Walikota Bandung merupakan sebuah mission imposible. Dalam pergulatan waktu saya menyadari bahwa pencalonan Abah Iwan ternyata bukan untuk meraih ‘kemenangan’ politik belaka. Keikutsertaan Abah Iwan dalam perpolitikan tersebut lebih sebagai pesan politik kepada para elite politik bahwa warga kota mempunyai hak (partisipasi) untuk menyampaikan aspirasi politik yang sehat dan setara. Bahwasanya oligarki politik harus segera diakhiri. Saat itu saya sadar bahwa calon independen merupakan jawaban atas kebuntuan lembaga politik dalam menyerap aspirasi masyarakat. Walaupun saat itu sistem pemilihan walikota masih melalui sistem perwakilan di DPRD.

 

Walaupun kita semua tahu dan dapat memprediksi hasil dari Pemilihan Walikota saat itu. (dimana Abah Iwan pasti kalah karena hanya didukung Fraksi PKS yang kecil di DPRD), namun inspirasi pencalonan Abah Iwan tetap menjadi catatan sejarah tersendiri. Bahkan inspirasi tersebut turut mengilhami bergulirnya wacana calon independen dalam kancah perpolitikan saat ini. Misi kami saat itu adalah mengurangi hegemoni partai dan elite politik dalam kehidupan masyarakat. Mematahkan oligarki melalui partisipasi ‘silent majority’ yang lebih setara dan bermartabat. Pencalonan Abah Iwan sesungguhnya merupakan kontribusi pendidikan politik Abah Iwan bagi warga kota Bandung. Dia mengorbankan segala reputasi yang telah dimilikinya (karena pasti akan kalah) untuk sebuah harapan masyarakat akan adanya perbaikan dan perubahan di kota Bandung.Sebuah kota yang sangat dicintainya.

 

Ada kalimat bijak Abah Iwan yang dikutip dari nasehat guru silatnya yang selalu saya ingat. Nyaho can tangtu ngarti, Ngarti can tangtu bisa, Bisa can tangtu tuman, Tuman can tangtu ngajadi. Pesan orang bijak tersebut saya yakini sebagai syarat fundamental bagi setiap manusia dalam mensyukuri fitrahNya. Ketika rasa berserah yang dalam terhadap alam semesta menjadi manungaling ing Gusti dalam totalitas diri manusia, barulah manusia sadar akan misi hidupnya. Dalam pencarian yang terdalam dari alam batin Abah Iwan yang tidak pernah bertepi dan berujung, kalimat bijak itu seakan mudah diucapkan tapi sungguh sulit untuk kita lakukan.

 

Kata kunci dari pesan para leluhur yang disampaikan Abah Iwan adalah totalitas dan loyalitas.Kurangnya loyalitas pada hal apapun, seringkali menjadi salah satu penyebab kegagalan dalam perjalanan hidup kita. Dalam kesehariaannya, makna kesuksesan bagi Abah Iwan bukanlah segala-galanya. Baginya, kesuksesan bukanlah kunci kebahagiaan. Kebahagianlah yang menjadi kunci kesuksesan. Jika anda mencintai apa yang anda kerjakan, anda akan meraih kebahagiaan sekaligus kesuksesan.

 

Salah satu nilai utama yang selalu dijunjung Abah Iwan adalah kesetiaan. Kesetiaan dalam arti luas mencakup kesetiaan pada cita-cita, kesetiaan pada komitmen bersama, kesetiaan pada korps dan tentunya kepada negara. Pengkhianatan menjadi hal tabu untuk dilakukan. Dalam ungkapan yang saya tangkap, pengkhianatan adalah sesuatu yang hina untuk dilakukan. Orang-orang yang serakah dan berkhianat, akan menggigit tangan yang memberinya makan, biasanya mereka selalu menjilat sepatu dari kaki yang menendangnya.

 

Kang Aat Soeratin sering menggambarkan Abah Iwan sebagai manusia multifaset.

Manusia yang hidup dalam berbagai dimensi tapi tergaris dalam satu benang merah. Pergulatan pencarian jati dirinya telah memberi banyak inspirasi bagi lingkungan sekitarnya. Sulit untuk menggambarkan pandanan yang tepat bagi sosoknya. Saya lebih suka menyebutnya sebagai ‘api yang tak pernah padam’. Memberi terang dalam gelap, memberi hangat dalam dingin dan memberi asa dalam keputusasaan.

 

Dalam usianya yang beranjak senja, Abah Iwan telah melintas batas pencapaian manusia biasa. Kegalauan hatinya melihat ironi hidup dia ungkapan dalam hening lewat karya lagunya. Dia selalu setia berbagi harapan akan makna hidup walau kadang ‘pesannya’ sering tak terjangkau oleh kita.

 

Abah, sesungguhnya ‘kekuatan’ Anda bukan berasal dari kemenangan. Andalah yang melahirkan ‘kekuatan’ itu. Ketika Anda menghadapi kesulitan dan tak menyerah, itulah sesungguhnya makna ‘kekuatan’.

 

Selamat ulang tahun Abah. Atas segala jejakmu yang terukir dalam ingatan kami, saya mengucapkan terima kasih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s