Bimbo Populerkan Lagu Religius

Aku jauh, engkau jauh
Aku dekat, engkau dekat
Hati adalah cermin
Tempat pahala
dosa bertarung 

BAIT-BAIT syair tembang bertajuk “Tuhan” merupakan karya Samsudin berupa rangkaian doa seusai melaksanakan salat Jumat di Masjid Salman ITB tahun 1973. “Saya waktu itu habis salat Jumat, begitu imam mengajak doa, syair itu keluar dengan sendirinya. Pulang ke rumah, saya susun lagu itu,” kenang Samsudin (65), didampingi Acil Darmawan (64), Jaka Purnama (60), serta para istri saat berkunjung ke Kantor “Pikiran Rakyat” di Jalan Asia Afrika 77.

Berbekal satu tembang bernapaskan religius tersebut, Sam dan adik-adiknya berniat untuk mempitakasetkan lagu-lagu kasidah. “Terhadap niatan kami tersebut, oleh Pak Ramadhan K.H., kami dikenalkan dengan Bang Taufiq (Taufiq Ismail).

Pertama bertemu, Bang Taufiq bertanya buat kapan, kami bilang buat besok. Sejumlah syair baru jadi tiga hari kemudian. Begitu kami terima, sambil memberikan kertas berisikan syair karyanya setengah bertanya dia berucap, akankah dua tiga tahun ke depan (lagu) masih akan diputar (didengarkan),” ujar Sam.

Kekhawatiran Taufiq Ismail tidak terbukti. Seperti “Rindu Rasul”, lirik yang memiliki makna cukup dalam, puitis, tetapi lugas dengan menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami, diberikan sentuhan chord minor menjadi komposisi lagu sangat sederhana namun sangat kuat.

Paduan komponen ini juga yang membuat lagu religius Bimbo menjadi lagu sepanjang masa. Bait-bait syair “Tuhan” mempunyai kekuatan sangat dahsyat manakala benar-benar diselami tidak hanya pada bagian reffrain-nya saja tetapi juga sejak awal tembang. //Tuhan/Tempat aku berteduh/Di mana aku mengeluh/Dengan segala peluh/Tuhan/Tuhan yang maha esa/Tempat aku memuja/Dengan segala doa//.

Hal serupa juga dimiliki tembang “Rindu Rasul” yang bait-baitnya mampu membuat orang merinding takzim, bahkan Iin Parlina yang melantunkannya sampai menitikkan air mata. //Rindu kami padamu ya Rasul/Rindu tiada terperi/berabad jarak darimu ya Rasul//serasa dikau di sini.

Belum lagi reffrain lagu juga dibuat simpel dengan patahan tajam chord pada akhir reffrain, tepatnya pada kata “secara”. //Cinta ikhlasmu pada manusia//bagai cahaya surga//dapatkah kami membalas cintamu//secara bersahaja//.

Menurut Sam, lagu tersebut dibuat setelah dirinya membuat melodi, dan memainkannya dengan gitar di depan Taufiq Ismail. “Saya fait accompli dia. Tolong, lagu sudah jadi, liriknya harus jadi besok. Hebatnya lirik selesai,” kata Sam mengenang.

Selain lirik terkesan dalam, puitis, tetapi lugas dan menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami, Bimbo merasa punya keyakinan kalau karakter vokal ketiganya memiliki kekuatan dalam menyampaikan pesan yang ada di dalamnya. Buktinya, hingga saat ini, tembang “Tuhan”, “Rindu Rasul”, “Ada Sajadah Panjang” dan lainnya masih relevan dengan kehidupan saat ini.

Ciri khas lainnya, tembang religius Bimbo didominasi chord minor, yang sebenarnya memang telah menjadi ciri Bimbo pada awal tahun 1970-an. “Ciri khas musik kami memang demikian karena terpengaruh lagu-lagu Latin yang waktu itu cukup mendominasi. Selain itu memilih lagu Latin karena iramanya dekat-dekat dengan tembang Sunda. Lagu Latin banyak pakai perkusi dan tembang Sunda kebetulan pakai gendang. Kedekatannya juga pada nada minor yang dominan,” ujar Acil menambahkan.

Mengenai album kasidah yang menempatkan Bimbo sebagai pionir dalam hal memopulerkan lagu pop religius, Sam mengaku kalau album kasidah yang dibuat merupakan bentuk eksperimen untuk memancing reaksi pendengar. Namun reaksi tersebut baru beberapa tahun kemudian muncul, saat diundang dalam suatu seminar di Malaysia, sejumlah peserta mengatakan kalau sejumlah tembang kasidah Bimbo mengutip ayat Alquran.

“Saat itu saya bersama Gus Dur (Abdulrahman Wahid) menjadi pembicara, saya katakan kalau kami tidak melantunkan ayat suci Alquran dengan petikan gitar. Sebagai contoh saya lantunkan lagu “Surga di Dibawah Telapak Kaki Ibu” karya Taufiq Ismail, begitu usai bernyanyi hampir semua peserta menitikkan air mata dan mereka berdiri sambil bertepuk tangan hampir 15 menit lamanya,” kenang Sam.

Mereka bisa membuat album apa saja dari kelompok mana pun sejauh itu laku, seperti album pop Melayu, pop Jawa, pop Sunda, pop Mandarin, album pop anak-anak yang dibawakan band orang tua atau remaja seperti Koes Plus dan Mercy’s. Di tengah meriahnya album dengan orientasi pasar komersial, justru Bimbo pada tahun 1974 seperti melawan arus dengan meluncurkan album kasidah.

Radio-radio bahkan memperlakukan lagu-lagu tersebut layaknya lagu pop. “Artinya, lagu kasidah Bimbo bisa diputar reguler tanpa tergantung pada momentum tertentu,” kenang Jaka. Lagu-lagu kasidah Bimbo telah teruji oleh zaman dan terbukti awet hingga hari ini. Memasuki usia 40 tahun keberadaan Bimbo, lagu-lagunya masih terlalu kuat di tengah maraknya album pop religius belakangan ini. (Retno HY/”PR”)***

Iklan

One response to “Bimbo Populerkan Lagu Religius

  1. Salam,
    Sampai saat ini saat ngupdate Blog di pojok salah- satu tempat ngopi di PiMall, Lagu2 religiusnya Bimbo bagi saya merupakan lagu2 yang selalu mengajak/ mengingatkan saya untuk hal2 yang baik. Terutama solat. Luar- biasa sekali. Terutama Tuhan, Sajadah Panjang, Rindu Rasul. Selalu merinding saya dibuatnya.. Sampai sekarang tak tergantikan. Beberapa penyanyi lain pasti banyak yang sudah bawakan.. Tapi…Seperti Stairway to heavens yang dibawakan selain Led Zeppelin..
    Sebaiknya kita buat Blog untuk Bimbo ya..Kumaha?
    Salam,

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s