Monthly Archives: Januari 2008

Martiono Hadianto PM 64

pmb-martiono.jpgMartiono Hadianto Mantan Birokrat di Perusahaan Asing PMB 1964 Kamis, 22 Nov 2007 Ruang kerja untuk seorang petinggi PT. Newmont Pacific Nusantara (NPN) ternyata sederhana saja. Tak ada perabotan yang tampak mencolok mewah. Hanya seukuran sekitar 5×8 meter yang dimuati seperangkat komputer di atas meja kerja 3×2 meter, dihiasi satu lukisan, sofa tamu biasa saja, lemari buku dengan sedikit isinya, dan meja kaca bundar. Di ruangan itulah, sehari-hari Martiono Hadianto, uang ditunjuk menjadi Presiden Direktur Newmont Pacific sejak Juli lalu, berkantor. Kantornya berada di lantai delapan Wisma Rajawali, kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Pada usia 62 tahun, kondisinya masih terlihat bugar dan sehat. “Saya tidak merokok, tidak pernah merasa stres dan sering olahraga,” ujarnya lelaki kelahiran Semarang, 20 September 1945. Padahal, inilah kali pertama dalam hidupnya dia memimpin perusahaan asing. Sebelumnya dia menghabiskan kariernya di perusahaan negara. Posisi terakhirnya adalah sebagai Komisaris Utama Pertamina pada 2005, menggantikan Laksamana Sukardi. Di perusahaan minyak negara itu, Martiono bukan orang baru. Pada 1998 sampai 2000, dia menduduki kursi Direktur Utama. Jabatan sebelumnya adalah Direktur Keuangan PT. Garuda Indonesia, dan Komisaris Utama PT. PLN, serta PT. Telkom. Martiono pernah pula menjadi birokrat pemerintah dengan menjadi Direktur Jenderal Bea dan Cukai, serta Direktur Jenderal BUMN. Dia pun pernah dipilih menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada 1992-1997. Dia mencatat, sering kali dirinya diangkat untuk satu posisi oleh pejabat tertentu, dan diberhentikan oleh pejabat yang sama. Jabatan terakhir sebagai Dirut dan Dewan Komisaris Pertamina yang diangkat dan diberhentikan oleh Menteri BUMN Soegiharto,” ucapnya. Setelah berhenti dari Pertamina, Martiono sebenarnya sudah pasrah, dan berniat untuk menikmati saja masa pensiun bersama keluarga. “Saya sudah tua, jadi tidak kepikiran dipakai lagi oleh negara atau tempat (perusahaan) lain,” ujarnya. Tapi nasibnya menghendakinya untuk tidak pensiun dulu. Dalam acara serah terima jabatan Komisaris Utama Pertamina, dia disalami kawan lamanya, Rozan Anwar. Orang itu memberikan ucapan selamat dan mengatakan, “Bapak nampaknya tegar dan lebih banyak tersenyum walaupun harus diberhentikan.” Rozan tertarik untuk memberinya pekerjaan baru. Beberapa bulan kemudian, Rozan menelepon dan menawarkan jabatan sebagai Presiden Utama Newmont Pacific. Rozan bukanlah pegawai Newmont. Tapi dia memiliki hubungan dekat dengan penentu kebijakan di perusahaan asal Amerika Serikat ini. Martiono tidak langsung mengiakan. Karena belum mengenal secara detail, dia pun langsung mencari tahu tentang Newmont. Martiono cuma tahu, perusahaan ini sedang banyak dibicarakan dalam kasus dugaan pencemaran di Teluk Buyat , Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Di sisi lain, dia cukup kaget dengan tawaran tersebut. “Saya tidak menyangka, kok ada mantan birokrat yang diincar Newmont,” tuturnya. Kendati demikian dia tak bisa begitu saja pekerjaan yang ditawarkan. “Saya cari tahu dulu dari internet. Apalagi Newmont perusahaan asing. Saya tidak mau bekerja di tempat yang dikenal kulitnya saja. Saya juga perlu memahami isinya.” Martiono akhirnya menemui Bob Gallagher, Vice President for Asia Pacific Operations Newmont. Orang ini lalu menjelaskan mengapa perusahaannya memilih Martiono. Dia dianggap sebagai sosok yang memang diperlukan Newmont. “Newmont butuh sosok pemimpin yang mudah tersenyum dan menjalankan perusahaan dengan tenang,” ujar Bob kepada Martiono. “Apa jabatan untuk saya,” tanya Martiono. “Presiden Direktur,” jawab Bob. Martiono tentu saja tak kaget, karena dia hanya memastikan saja. Sebelum bertemu Bob, Rozan sudah mewartakan posisi apa yang akan diduduki Martiono. Pertanyaan berikut yang diajukan Martiono adalah berapa gaji yang akan diperolehnya. “Saya perlu menanyakan itu, (karena) kan menyangkut profesional,” ujarnya. Ketika Bob menyebut angkanya, Martiono langsung mengangguk. “Ternyata angkanya menarik juga. Nilainya, rahasia dong,” ujarnya sembari tersenyum. Pada 5 Juli 2007, secara resmi dia menggantikan Noke Kiroyan, Presiden Direktur sebelumnya. Noke, ditarik menjadi Presiden Komisaris Newmont Pacific. Martiono langsung mengidentifikasi masalah yang dihadapi perusahaan barunya. Masalah besar yang dihadapinya adalah penuntasan kasus dugaan pencemaran Teluk Buyat di Sulawesi Utara, serta divestasi saham dan pinjam pakai lahan di kawasan eksplorasi dan produksi Newmont di Nusa Tenggara. “Baru diangkat sudah mendapat tantangan pekerjaan yang cukup berat. Karena itu, saya sering terbang ke Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara untuk menyelesaikan semua masalah yang terjadi di Newmont Indonesia,” ujarnya. Bagaimana menghadapi semua masalah yang melanda di Newmont? “Semuanya harus saya selesaikan tanpa harus konflik. Harus diselesaikan dengan tenang. Seperti komitmen awal, saya bekerja berpegang prinsip menghadapinya dengan tenang dan senyum,” katanya memaparkan. Dengan prinsip tenang dan senyum itulah, dia menjalankan pekerjaannya. Hanya sesekali saja, dia bersikap tegas. Dia mengerti situasi, kapan waktunya tenang dan kapan saatnya harus tegas. Dia pun kerap yang turun tangan menyelesaikan masalah di tengah masyarakat untuk menjelaskannya. “Tidak perlu pakai kekerasan,” ujarnya. Soal ketenangan dan senyum, mungkin dilatarbelakangi sejumlah pengalaman alumni Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung, yang unik. Dia menceritakan bagaimana dia bisa menikahi istrinya, Hermieningsih. Ketika itu, Martiono adalah Ketua Ospek bagi mahasiswa baru. Di kampusnya, pada 1970an berlangsung tradisi bahwa semua mahasiswi baru berdiri di atas panggung, sambil berjalan ala seorang model di atas catwalk. Sebagai Ketua Ospek Martiono berhak menaruh harga untuk para gadis dengan nama yang unik dan lucu. “Aku kasih nama tempe bosok (busuk, untuk Hermieningsih),” tuturnya tersenyum. Ia lelang si tempe ini dengan harga Rp25, dan ternyata itu sebagai nilai tertinggi. Martiono pun memenangkan lelang, karena pada akhirnya dia kepincut dengan gadis ini. Kini gadis tempe ini memberinya tiga orang anak. Soal hobi, tak jauh-jauh dari kesenangannya di masa muda. Martiono kecil adalah seorang olahragawan. Dia sering menjadi anggota kontingen olahraga di sekolahnya. Ikut lomba lari, lompat jauh dan basket pernah dilakoninya. Diam-diam, dia juga pernah juara II lomba menyanyi lagu Elvis Presley tingkat Kota Semarang. Lagu andalannya, Don’t Be Cruel. “Dulu saya ikut main musik, pegang keclek-keclek,” ujarnya tertawa. http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=EKSPLORASI&rbrk=Kiprah&id=23200 ——————————————————————————–

Foto Kegiatan Diskusi Pencana alam dan Jurig Sekre

jurigsekre1.jpg

diskusibencanaalam.jpg

Kelompok Diskusi Merdeka Perhimpunan Mahasiswa Bandung (KSM PMB)

Kelompok Diskusi Merdeka Perhimpunan Mahasiswa Bandung (KSM  PMB) dihidupkan kembali oleh anggota muda 2007 yang di ketuai oleh Martin Luther dan sekretaris Nurma Indriyani.

Setelah  acara pertama diskusi tentang  bencana alam membahas fenomena bencana alam di negara kita, pada tanggal Januari 2008 lalu, yang ternyata mendapat respon yang baik dari para peserta yang terbukti dengan adanya diskusi yang berlangsung dari jam 19.00 sampai dengan 00.30.

 

Maka KSM PMB akan mengadakan diskusi continue selama 2 minggu sekali dengan diskusi kedua yang akan di selenggarakan pada tanggal 18 Januari 2008 jam 19.00 di Sekretariat PMB Jl Merdeka 7 Bandung, tentang diskusi edukasi “Sex Education dan Penghindaran HIV AIDS” dengan pembicara dr. Harris Harlianto (embriolog RSHS) dan Ka Rani (Perwakilan Rumah Cemara)

 

Untuk kritik dan saran yang membangun, hubungi ksm_pmb

ERNA ANASTASIA WITOELAR PMB 1965


Gesit dan lincah, wanita berperawakan tinggi 152 cm dan berat 48 kg ini terampil memimpin diskusi atau seminar. Menurut beberapa temannya, dalam urusan melestarikan lingkungan hidup, ia termasuk wanita langka. Rambutnya dipotong pendek, tanpa giwang, juga tidak memakai cat bibir. Ia memang bukan wanita pesolek.

Lahir di Sengkang, kota kecil dekat Danau Tempe, Sulawesi Selatan, ia anak kedelapan dari sembilan bersaudara. A. Erna Anastasia — akrab dipanggil Erna — putri Andi Walinono, seorang pensiunan hakim pengadilan tinggi. Ibunya, Rahmatiah Sondakh, mendidik Erna dengan ketat dan keras. ”Ibu saya sangat otoriter,” ungkapnya.

Sejak SD, Erna termasuk anak yang cerdas. Senang menari dan berorganisasi, ia sering ditunjuk sebagai pemimpin di sekolahnya. Tatkala di SMA memiliki grup band wanita, Makrejareja, artinya: bergembira ria, Erna di situ menjadi pemain drum.Ketika kuliah di ITB Jurusan Kimia Teknik, ia tetap giat berorganisasi. Pernah menjadi Ketua Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB), 1970. Di sini Erna berkenalan dengan Rahmat Witular Kartaadipoetra, bekas Ketua PMB 1967 yang sebelumnya menjadi Ketua Dewan Mahasiswa ITB. Perkenalan ini bermuara di pelaminan, 1972, meski Erna belum rampung kuliahnya. Rahmat yang lulus ITB Jurusan Arsitektur, 1970, menjadi anggota DPR RI sejak 1971.

Berumah tangga bagi Erna tidak mesti mengorbankan pendidikannya. Sementara hamil, bahkan setelah punya si kecil, kuliahnya jalan terus, hingga ia pun lulus pada 1974. Setahun kemudian Erna terlibat dalam kegiatan Yayasan Lembaga Konsumen (YLK). Mempelajari organisasi konsumen di Austria, Negeri Belanda, Belgia, dan Inggris, Erna sempat menjadi konsultan Unido (PBB) di Ankara, Turki. Jabatannya yang terakhir di YLK, sebagai sekretaris umum.

Kegiatan Erna memuncak setelah menjadi Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), 1981. Banyak tampil di berbagai forum nasional maupun internasional yang membicarakan masalah lingkungan hidup, ibu tiga anak ini menggemari olah raga menyelam. Hobinya cukup unik, sebagai kolektor puluhan asbak dan kotak korek api.

http://www.pdat.co.id/ads/html/E/ads,20030618-02,E.html

UNFCCC BERAKHIR, RACHMAT WITOELAR TITIKKAN AIR MATA

Rachmat Witoelar saat menutup UNFCCC yang penuh dramatis dan emosionalMetrotvnews.com, Nusa Dua: Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) ke-13 di Nusa Dua, Bali, hari ini, resmi berakhir. Konferensi yang sempat molor sehari dari jadwal semula, kemarin, menyepakati sejumlah hal dan pengesahan Bali Road Map (Peta Jalan Bali).Pendeklarasian Bali Road Map akhirnya dilakukan setelah Amerika Serikat, yang sebelumnya bersikeras menolak, menyetujui salah satu pasal dalam Bali Road Map, yakni perihal menyamaratakan aksi mitigasi di negara-negara berkembang. Namun, itu AS semua harus didukung teknologi dan capacity building dari negara-negara maju.

Seluruh pasal dari Bali Road Map, seperti pendanaan adaftasi juga telah disetujui. Namun, soal penurunan emisi 25-40 persen di tahun 2020, tidak tertera dalam Bali Road Map. Penurunan emisi itu akan dibahas dalam pertemuan di Kopenhagen pada 2009. AS dan seluruh negara lainnya menyepakati penurunan emisi gas rumah kaca 50 persen di tahun 2050. Semua kesepakatan yang diputuskan dalam UNFCCC Bali ini kemudian akan dibawa tahun depan di Polandia. Dan semua kesepakatan akan diambil persetujuannya di Kopenhagen tahun 2009.

Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim memang gagal menyepakati skema pengurangan emisi karbon. Namun, peserta mencapai kompromi dan menyepakati sejumlah poin. Terkait masalah mitigasi, pertemuan Bali menyepakati rumusan yang diusulkan negara berkembang yang tergabung dalam G-77. Untuk memberikan kewajiban yang sama antara negara berkembang dan negara maju dalam melakukan mitigasi, negara berkembang baru akan melakukan mitigasi jika ada dukungan teknologi dari negara maju.

UNFCCC Bali juga menyepakati deforestasi atau penggundulan hutan memberikan sumbangan yang signifikan dalam emisi global. Selama ini, Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim lebih banyak menyoroti sektor industri sebagai penyumbang emisi karbon.

Negara-negara maju setuju untuk membantu negara-negara miskin dan sedang berkembang yang paling menderita akibat perubahan iklim. Bantuan ini berupa dana adaptasi maupun teknikal suport. Konferensi Bali juga memberikan mandat untuk melakukan negosiasi angka penurunan karbon bagi negara maju dalam dua tahun ke depan.

Pendeklarasian Bali Road Map di UNFCCC ini diwarnai momen dramatis dan emosional. Salah satunya adalah protes delegasi China terhadap Sekretaris Jenderal UNFCCC Yvo de Boer. Mereka menuding De Boer akan memulai sidang tanpa kehadiran negara G-77 yang saat itu tengah mengadakan rapat tertutup. Sebaliknya, De Boer mengaku tidak mengetahui kalau negara G-77 sedang rapat.

Protes delegasi China itu membuat De Boer sempat menangis. Bahkan, ia kemudian meminta izin meninggalkan sidang untuk menenangkan diri. Sedangkan sidang dilanjutkan kembali untuk mendengarkan sikap pemerintah AS atas Bali Road Map.

Sekitar pukul 18.00 WITA, Presiden COP XIII Rachmat Witoelar telah mengetuk palu tanda konferensi berakhir. Bahkan, Rachmat terlihat meneteskan air mata sebagai tanda bahagia berhasilnya UNFCCC ke-13. Seusai sidang, Rachmat masih enggan memberikan keterangan kepada wartawan.(DEN)

berita terkait :
presiden lepas tim bicycle for earth goes to bali/

Kemajuan Asia Dalam Mencapai Millennium Development Goals

 July 28, 2006

Saudara, Millennium Development Goals atau MDG adalah delapan sasaran yang secara bersama telah disepakati oleh negara-negara di dunia untuk dicapai pada tahun target 2015. Walaupun ini adalah program dari PBB, tapi adalah kewajiban bagi tiap negara di dunia, untuk menerapkan kebijakan di negaranya masing-masing untuk mencapai delapan sasaran tersebut. Delapan point yang terangkum dalam MDG adalah:

1. Menghapus kelaparan dan kemelaratan
2. Hak memperoleh pendidikan dasar bagi seluruh umat manusia di dunia
3. Mendorong persamaan gender dan pemberdayaan perempuan
4. Mengurangi angka kematian anak2
5. Meningkatkan kesehatan semasa kehamilan
6. Memberantas HIV,AIDS, malaria dan juga penyakit menular lainnya
7. Menjaga keseimbangan lingkungan hidup
8. Dan menjalin kemitraan global untuk pembangunan

Nah, apa hambatan yang dihadapi oleh negara-negara di Asia dalam mencapainya? Erna Witoelar, Duta Besar luar biasa PBB untuk kampanye MDG di Asia Pasifik menjelaskan. Saya rasa untuk membuat pemerintah2 di negara2 Asia, committed dengan janjinya tetap berupaya untuk memenuhi janjinya untuk mencapai MDG dan memfokuskan kebijakan maupun dana untuk itu. Karena sebetulnya yang dibutuhkan untuk mencapai MDG tidak banyak dari segi dana, tapi memerlukan komitmen penuh pemerintah. Karena itulah, menurut Erna Witoelar, peran anggota masyarakat, media massa, Lembaga Swadaya Masyarakat dan lain sebagainya, sangatlah perlu untuk senantiasa mengingatkan pemerintahnya agar tetap komit terhadap pencapaian MDG nya. Berbagai masalah yang saat ini banyak dihadapi oleh negara-negara di Asia seperti bencana alam maupun konflik, justru membuat upaya pencapaian MDG ini menjadi relevan. Justru di dalam bencana alam atau konflik, masyarakatnya semakin terbenam dan makin susah untuk mencapai MDG. Masyarakat yang kena bencana menjadi miskin tiba-tiba, mungkin tadinya dia tidak miskin, mungkin dia tidak bisa menyekolahkan anaknya, jadi MDG menjadi lebih relevan disana. Karena solidaritas masyarakat yang tidak kena bencana, mereka yang lebih mampu terhadap yang kurang mampu itu juga perlu didorong, karena gak bisa pemerintah melakukan ini semua. +++ Saudara, seperti juga negara-negara di benua lainnya, Asia adalah benua dengan kondisi negara yang majemuk. Sebutlah Asia Tenggara, yang didominasi oleh negara berkembang. Tapi ada pula negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan di Asia Timur. Perbedaan ini membawa pula perbedaan dari kondisi masyarakatnya. Seberapa besarkah hal ini berpengaruh dalam pencapaian MDG di kawasan ini? Erna Witoelar, duta besar luar biasa PBB untuk kampanye MDG di Asia Pasifik mengatakan, itulah pentingnya goal ke-8, dimana negara-negara maju seperti Singapura, Korea dan Jepang memiliki tanggungjawab untuk membangun kemitraan dan mendukung negara-negara berkembang untuk mencapai sasaran MDG nya. Sama ketika negara berkembang menandatangani MDG bahwa mau mengurangi kemiskinan dunia pada tahun 2015 maka selain masing2 negara mengurangi di negaranya, negara2 maju harus membantu negara2 berkembang apakah itu dengan bantuan dana langsung atau perdagangan yang lebih baik, pengurangan hutang, membuka lapangan kerja, berbagi teknologi dan sebagainya. Jadi gak ada satu pun negara yang bisa lolos dari tanggungjawab. Sejauh manakah saudara, perkembangan yang telah dicapai oleh negara-negara di Asia dalam memenuhi 8 sasaran MDG? Erna Witoelar, duta besar luar biasa PBB untuk kampanye MDG di Asia Pasifik menjelaskan. Ada kemajuan di beberapa negara, misalnya Vietnam yang sudah memasukkan MDG ke dalam kebijakan nya dan sudah sampai laporan ketiga dimana membahas kemajuan mereka, berhasil membuat juga kebijakan2 yang lebih bersifat pro poor, memihak kepada orang miskin, dan kemudian memfokuskan kesana. Ada yang lebih sukses di Thailand di dalam MDG menyangkut HIV,AIDS, di Filipina mengenai quality, itu juga cukup maju, Indonesia di banyak tempat mengenai pendidikan, kesehatan anak dibawah 5 tahun dan penanggulangan kemiskinan sudah bisa diatasi. Tapi permasalahannya, menurut Erna Witoelar, banyak masyarakat yang tidak terjangkau oleh kemajuan ini, seperti masyarakat yang tinggal di daerah2 terpencil di Indonesia, misalnya, atau masyarakat di daerah konflik atau daerah yang baru saja tertimpa bencana. Mereka inilah yang harus menjadi perhatian baik lewat program pemerintah maupun solidaritas sesama masyarakat. Jika memang demikian, apakah delapan sasaran ini bisa mencapai tujuannya pada 2015? Kembali Erna Witoelar. Bagi saya, masalahnya bukan sampai atau tidaknya 2015, karena sudah ada yang mencapainya di 2010, ada yang 2020. Tapi bahwa proses untuk lebih proper, untuk memfokuskan dalam menghilangkan dan mengurangi kemiskinan, untuk lebih pro environment di dalam memperbaiki lingkungan, untuk lebih pro gender dsb, sudah masuk dalam kebijakan2 pemerintah maupun kesadaran masyarakatnya. Nah kalau it uterus dipelihara, mungkin tercapainya 2016 atau 2017, gak apa2. Negara tidak sama di dalam pencapaiannya, itu juga tidak apa-apa. Dan salah satu ujung tombak penting dalam pencapaian MDG adalah pelibatan generasi muda. Erna Witoelar. Mereka mengakses Teknologi Informasi, mereka bisa berkomunikasi langsung dengan siapa pun di dunia, sehingga akses pengetahuannya juga lebih. Karena itulah, melalui orang2 muda, meskipun background nya berbeda, tapi sesudah kembali ke negara nya masing2 mereka bisa berbuat sesuatu dengan saling berinteraksi dengan teman2nya di luar. Karena gak ada satu pun masalah di dunia yang orisinil. Semua problem yang dihadapi oleh satu negara itu pernah dialami oleh negara dari bagian negara yang lain dan sudah ada solusinya. Saudara, Erna Witoelar berada di Singapura untuk menjadi pembicara dalam forum “One Degree Asia”, suatu forum yang mengumpulkan anak-anak muda dari berbagai belahan dunia, untuk membincangkan masalah-masalah yang hingga saat ini masih ada di lingkungannya, baik tingkat nasional maupun internasional. Satu hal yang positif, mengingat generasi muda adalah calon-calon pemimpin di masa depan. Sekian Fokus Asia, sampai jumpa.

RSI Radio Singapore International

 (efika@mediacorpradio.com)

Kegiatan anggota muda 2007

Menyongsong fajar di ciwidei

pmb2007.jpg

pmb2007b.jpg

pmb2007a.jpg