Jalan ke Surga

Oleh :
Priyantono Oemar
PMB 89
Orang bilang tanah kita tanah surga, kata Koes Plus. Tapi, bisakah kita membangun jalan ke surga di Indonesia?
Melupakan ideologi dan simbol agama, mereka mulai menarik diri dari ingar-bingar politik. ”Kami telah berada di dunia lain,” ujar pria berusia kepala enam itu.
Tindakan meninggalkan ingar-bingar politik, semata sebagai sebuah protes kecil atas tingkah polah pembesar negeri ini. Moral mereka telah kena polusi. Untuk terhindari dari polusi itu, pria berkepala enam ini pun membawa gerbong, pindah ke ‘dunia lain’ itu. Di ‘dunia lain’ itu mereka melakukan gerakan kemanusiaan, menyapa komunitas-komunitas yang terpinggirkan oleh politik. ”Semoga dari mereka lahir generasi yang tidak terpolusi oleh keadaan sekarang,” ujar dia.
Komunitas yang terpinggirkan itulah sebagian dari mereka yang digolongkan Bank Dunia masuk dalam kelompok 49,5 persen, yaitu penduduk yang miskin. Meski pemerintah mengingkari jumlahnya, bukan berarti mereka lantas sudah sejahtera. Karena tak mungkin mereka menyejahterakan diri sendiri tanpa adanya uluran tangan.
Pengakuan pemerintah bahwa jumlah penduduk miskin hanya 16,5 persen, membuat mereka terus diabaikan pemerintah. Mereka yang hidup dengan 10 ribu – Rp 18 ribu per hari tak lagi dianggap sebagai miskin, karena standar penduduk miskin, menurut Badan Pusat Statistik yang diakui pemerintah, adalah mereka yang hidup dengan Rp 9.000 (1 dolar) per hari.
Lewat gerakan kemanusiaan, mereka mendapatkan bantuan untuk bisa berupaya menyejahterakan diri. Mereka juga mendapat tularan nilai-nilai kemanusiaan dari paraaktivis gerakan kemanusiaan itu. Mereka diupayakan menjadi manusia bernilai, yang tidak terpolusi oleh berbagai aktivitas kolutif yang ada selama ini.
Ia menilai, polusi moral harus diatasi. ”Coba sebutkan, siapa yang lebih memilih diberi surat tilang polisi daripada memberi uang agar tak ditilang?” tanya pria berusia kepala enam itu. Ia pun lantas menuturkan pengalamannya ketika berurusan polisi karena tak mengenakan sabuk pengaman saat mengendarai mobil. ”Saya pilih ditilang, bayar Rp 1 juta, dan SIM baru bisa kembali seminggu kemudian,” ujar dia.
Atas pilihannya itu, banyak yang menilai dirinya goblok. Sebab, sebenarnya ia bisa hanya kehilangan Rp 500 ribu tanpa harus mengalami SIM di tahan dan hadir di persidangan. ”Biarin saya dikatakan goblok. Tapi, saya punya nilai,” tegas dia.
Orang yang bernilai, itulah yang kini semakin jarang kita jumpai. Ia dulu pernah menjadi mentor politik banyak orang. Banyak anak mentornya yang mengisi Senayan. Tapi ya itu, begitu keenakan duduk di Senayan, nilainya berkurang. ”Kepada saya, tak mengakui kalau mobil yang dipakai adalah mobilnya. Tapi, saya dapat informasi, mobil itu mobilnya, pemberian dari sebuah BUMN,” kata dia.
Di ‘dunia lain’ itu, mereka tidak memikirkan politik. Mereka melupakan ideologi dan simbol agama, yang selama ini justru ditempelkan pada bendera oleh politisi ketika harus mendekati golongan 49,5 persen itu. Mereka berbuat nyata bersama-sama rakyat, menata hidup. Inilah jalan surga yang sedang mereka bangun. Menebar belas kasih kepada sesama. ”Banyak yang nitip rezekinya untuk program ini. Ada yang datang nitip Rp 100 juta, ada yang Rp 5 juta,” kata dia.
Uang Rp 1 dari jalan halal, dan digunakan untuk hal-hal halal, diharapkan menjadi berkah bagi si pemberi, si penyalur, dan si penerima. Itulah alasannya, mengapa mereka mlupakan ideologi dan simbol agama. Mereka ingin jalan surga yang mereka bangun tak dirusak oleh orang-orang yang senang membawa bendera ideologi dan agama.
Itulah cara mereka agar kelompok 49,5 persen itu tak memiliki perasaan berutang budi. Utang budi mereka semata kepada Sang Pencipta, yang telah memenuhi doa-doa mereka, tanpa ada urusan bagi mereka untuk beralih keyakinan. Urusan mereka semata berupaya menyejahterakan diri dengan cara semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sesuai keyakinan yang telah dianutnya selama ini.
Hidup, bagi pria berusia kepala enam itu, adalah jalan menebar manfaat. Selama bisa berguna bagi orang lain, teruslah bertahan hidup. Selama bisa membuat orang lain bernilai, teruslah menebar nilai-nilai kemanusiaan. Tapi, ketika orang-orang yang diberinya nilai terseret oleh polusi moral, carilah ‘dunia lain’. Dunia yang memberi harapan baru bagi Indonesia, entah apa pun namanya nanti.
Baginya, polusi moral yang telah tertebar di mana-mana, memungkinkan Indonesia menjadi tinggal nama. Tak percaya? Malaysia saja sudah menyebutnya cukup dengan kata Indon. Mereka lebih tahu dari kita, rupanya, bahwa esia bukan lagi milik Indon. Kita baru belakangan tahu, bahwa esia milik orang terkaya di Indonesia saat ini. n
Iklan

2 responses to “Jalan ke Surga

  1. kalo masalah sebutan sih, gampang aja mas. Kita sebut aja mereka malay ! gimana ?

  2. polusi moral? saya pikir itulah fenomena yang banyak terjadi di negara kita sekarang ini, bagaimana jalan kita menuju “surga”? tergantung dari kita, moral kita dan sikap kita terhadap sesama.

    salam kenal yahh (para PMB)

    http://catra.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s