Monthly Archives: Juli 2008

Berita-berita lawas PMB

ini ada beberapa berita lama tentang pmb.

1. REPUBLIKA – Senin, 08 September 2003 ‘Neng, Ikut Daftar Sunat Ya’ ”Neng, ni anak sering sakit, ikut daftar disunat ya. Biar nggak sakit-sakitan lagi,” ujar Ibu Yayah dalam bahasa Sunda, kepada Susi Andriana, ketua panitia sunatan massal Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). Ibu Yayah hanyalah pengemis. Sehari-hari, ia mengharap uluran tangan orang-orang yang lewat Jl Braga, Bandung. Malam hari, ia pulang ke rumah gubugnya, di tanah kosong belakang gedung Palaguna, Bandung. Ia jarang pulang ke kampung halamannya, Ciwidey, Kabupaten Bandung, sekitar 25 km dari kota Bandung. Anaknya yang ia daftarkan untuk disunat baru berusia 3,5 tahun. Kakaknya, sebelum disunat, dulu juga sering sakit-sakitan. Begitu disunat, kini tak sakit-sakitan lagi. Sampai Ahad (8/9) kemarin, sudah 40 orang tua yang mengembalikan formulir pendaftaran ke panitia sunat massal PMB, di Jl Merdeka 7 Bandung. Kebanyakan mereka adalah keluarga tak mampu. ”Pekerjaan mereka pengemis, buruh serabutan, dan pemulung. Hanya lima-enam orang yang membuka kios dagang di pinggir jalan,” jelas Susi, ketua panitia. Tak hanya mereka yang tinggal di Bandung yang mendaftarkan anaknya untuk ikut sunat massal ini. Ada yang dari Ciparay, Kabupaten Bandung (sekitar 20 km dari kota Bandung), ada yang dari Cimahi pinggiran (sekitar 15 km dari kota Bandung), ada yang dari Ujungberung (15 km dari Bandung, bahkan ada yang dari Kabupaten Garut. Mereka tahu ada acara sunat massal berdasar informasi dari mulut ke mulut. ”Saya diaksih tahu tetangga saya yang polisi di Polwiltabes, ” ujar seorang bapak dari Ciparay. peserta dari Garut, tahu ada sunat massal di PMB, karena orang tuanya berjualan di Bandung. ”Orang tuanya nanya, ‘kalau tinggal di Garut boleh ikut nggak’. Dibilang boleh, ia langsung mendaftarkan anaknya,” jelas Susi. Usia anak yang akan dikhitan ada yang dua tahun, ada juga yang 11 tahun. ”Karena tak punya uang, hingga usia 11 tahun anaknya belum juga disunat. Begitu mendengar PMB mengadakan sunat massal, orang tuanya segera mendaftar. Bahkan ia pendaftar pertama. Ia mengaku percaya pada PMB, karena jika ada apa-apa setelah disunat, PMB masih memberi pelayanan kesehatan, sampai benar-benar sembuh,” ujar Susi. Acara sunat massal ini akan diadakan Sabtu-Ahad (20-21/9). Hari Sabtu, peserta akan diarak keliling kota. Di acara khitan sebelumnya, peserta khitan diarak keliling kota menggunakan becak dan kuda. Acara khitan sendiri akan dilakukan pada Ahad (21/9) mulai pukul 08.00. Acara ini akan melibatkan 15 dokter dari Dinas Kesehatan Kota Bandung. PMB menunjuk koordinator tim dokter yaitu dr Benyamin dan dr Hadi (keduanya alumni PMB angkatan 1970). ”Istri gubernur Jawa Barat, Ibu Danny Setiawan, sudah menyatakan siap datang di acara. Ia juga telah memberi sumbangan dana,” jelas Susi. Panitia menargetkan peserta sunat mencapai 50 orang, dengan biaya Rp 350 ribu per orang. ”Biaya tersebut untuk pembelian pakaian peserta sunat, biaya obat-obatan, dan uang cecep,” jelas Susi. Sampai kini, panitia masih membuka kesempatan bagi donatur untuk ikut dalam acara ini. Beberapa sponsor telah bergabung, di antaranya, PT Telkom, Diparda, BKKBN, PT Pino, Penerbit Angkasa, Penerbit Rosda Karya, Toko Agni Surya. n pry 2. REPUBLIKA – Selasa, 23 September 2003 Ada yang Histeris Melihat Anunya Dipotong Dua belas anak yang dipanggil itu sudah terbaring di atas meja sunat di dua ruang kelas SDN Merdeka, Bandung. Sebanyak 32 anak lainnya menunggu di ruangan lain. Tim medis dari Dinas Kesehatan Kota Bandung, sudah siap di ruangan sunat. Usia mereka antara tiga tahun dan 10 tahun. Semula, mereka tampak takut, tapi akhirnya toh bersedia berbaring di meja. Ada yang menutup mata, ada yang cuek, dan sebagainya. Yang menutup mata, ada juga yang mencoba-coba mengintip dari balik jari-jari tangan. Melihat ada darah dan ujung penisnya berubah, serta-merta ia menjerit-jerit. Yang lainnya, sudah ada yang menjerit ketika disuntik untuk bius lokal. Sumpah-serapah pun ada yang keluar dari mulut mereka, sumpah-serapah khas anak jalanan dengan meneriakkan kata ‘goblok’, ‘anjing’, ataupun ‘siah’, dengan suara histeris di sela isak tangis. Melihat situasi seperti itu, panitia pun membolehkan para orang tua untuk mendampingi anak-anaknya di ruang sunat. Anak-anak lain yang belum disunat, begitu mendengar teriakan dan tangis dari ruang sunat, pun jadi tambah takut, ketika giliran mereka datang. Sebanyak 45 anak dari 51 pendaftar, Ahad (21/9) lalu, mengikuti sunatan massal yang diadakan Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). ”Enam anak tak hadir. Nggak tahu apa alasannya,” ujar Deny Suryawan, seksi acara panitia sunatan massal. Hari sebelumnya, Sabtu (20/9) anak-anak peserta sunatan massal itu, diarak keliling kota Bandung, menggunakan delapan delman, dengan iring-iringan sepeda motor dan hiburan sisingaan. Betapa bahagianya mereka. Sebelum arak-arakan, mereka sudah berebut untuk bisa naik dua sisingaan yang disediakan. Mereka menghabiskan waktu 1,5 jam untuk bermain dengan sisingaan, sebelum arak-arakan dimulai. Saat mereka bermain dengan sisingaan, orang tua mereka mengikuti briefing yang diadakan panitia. ”Boleh tidak, kami tak ikut arak-arakan. Karena bapaknya harus kerja, dan ibu sedang sakit,” tanya seorang ibu. ”Tapi kalau bisa, bajunya diberikan sekarang, sehingga besok bisa langsung dipakai,” lanjut si ibu tadi, masih dalam bahasa Sunda. Si ibu itu mengira, arak-arakan yang diadakan panitia adalah mutlak wajib harus diikuti. ”Kami hanya menyediakan sarana hiburan. Kalau ada yang tak mau ikut ya nggak apa-apa,” kata Deny. Di hari Ahad, setelah acara penyunatan, kepada para peserta pun masih disediakan hiburan dangdutan. Tapi, juga tak semuanya bisa mengikuti acara hiburan ini. ”Mau duluan, Bapak ada perlu lagi,” ujar seorang bapak asal Cicaheum Bandung, berpamitan kepada panitia. Si bapak itu tak bisa membiarkan waktu berlalu. Mereka memang dari keluarga pas-pasan. Pekerjaan mereka, ada yang buruh serabutan, pedagang kaki lima, pengemis jalanan, tukang parkir, pedagang asongan, pembantu rumah tangga, dan pensiunan. Para pedagang kaki lima yang biasa mangkal di Jl Merdeka di sekitar sekretariat PMB dan SDN Merdeka, pun pada iuran untuk disumbangkan kepada peserta sunat. Dari belasan PKL itu, terkumpul Rp 150 ribu. Para pedagang itu berpesan kepada panitia, uang dari mereka khusus untuk keperluan ‘uang cecep’ (uang yang diberikan kepada peserta sunat). ”Ada juga seorang ibu yang tinggal di Australia, tiba-tiba mampir ke sini, menyumbangkan uangnya untuk kegiatan ini,” ujar Susi Andriana, ketua panitia. n pry 3. REPUBLIKA – Senin, 16 Nopember 1998 Halaman : 2 Mahasiswa: Waspadai Munculnya Junta Militer BANDUNG — Kalangan aktivis mahasiswa mendesak semua pihak menahan diri sehingga tak muncul aksi kerusuhan yang jadi alasan bagi ABRI mengambil alih kendali kekuasaan. Bila sudah demikian, kemungkinan terjadinya junta militer sangat besar. Menurut ketua I Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) Sjafiril Erman mengatakan, adanya aksi kerusuhan, merupakan alasan tepat bagi ABRI untuk mengambil alih peran. ”Karena itu, semua pihak harus menahan diri sehingga tak ada kerusuhan yang bisa dijadikan alasan bagi ABRI untuk bertindak,” ujar Sjafiril, di Bandung, Ahad kemarin. Hal senada, juga disampaikan Presiden Keluarga Mahasiswa ITB Vijaya Fitriasa, yang mengatakan adanya instruksi Presiden kepada ABRI untuk bertindak tegas, membuka kemungkinan terjadinya junta militer, jika Habibie tetap tak berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan. ”Kalau memang dicurigai adanya tindakan makar, Habibie harus mengusutnya. Saya yakin, kalau mahasiswa tak mungkin melakukan tindakan makar,” tegas Vijaya. Sementara itu, Muhammad Alfian dari Gerakan Pemuda Islam (GPI) mengatakan, junta militer sangat mungkin dilakukan oleh pihak ABRI. Tujuannya, tak lain untuk merebut kekuasaan dengan dalih kondisi negara darurat. ”ABRI tidak hanya membiarkan benih-benih kerusuhan, tapi sekaligus memanfaatkan aksi-aski massa. Sehingga, dalam waktu yang sudah diperhitungkan, ABRI mengambil peran utama,” paparnya. Agar kemungkinan junta militer tidak sampai terjadi di Indonesia, Alfian mengajak kepada seluruh mahasiswa untuk kembali pada semangat reformasi, bukan berbelok ke semangat revolusi tanpa kendali. ”Bila semnagat revolusi yang dikobarkan, cenderung untuk tidak terarah dan ABRI akan mengambil alasan untuk melakukan tindakan represif sekaligus mengambil alih kendali pemerintahan karena kondisinya darurat,” ujarnya. Mahasiswa pascasarjana IKIP Jakarta ini juga mengingatkan, keterlibatan pada para jenderal purnawirawan yang berlagak mendukung aksi revolusi mahasiswa. ”Bisa jadi para koboi-koboi (purnawirawan jenderal) tua itu berusaha mempengaruhi sikap murni mahasiswa yang ingin reformasi diarahkan untuk melakukan revolusi dan makar,” katanya. Menurut Ahmad Hadi Hardilani, koordinator lapangan (Korlap) Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ), kecenderungan ABRI untuk berkuasa tampak lewat berbagai rekayasa dengan menyusupkan anggotanya dalam setiap aksi mahasiswa. ”Dari berbagai kasus, yang membuat kerusuhan bukan mahasiswa atau rakyat, tapi aparat yang disusupkan. Kalau sudah terjadi kerusuhan, maka ABRI akan mengambil alih kendali. Bentuknya, bisa jadi seperti junta militer karena negara dianggap darurat. Dari informasi yang kami himpun, terjadinya kerusuhan dan aksi kekerasan, memang sengaja direkayasa oleh ABRI,” ujar Ahmad tadi malam. Sementara itu, menurut Vijaya, gerakan mahasisawa semata adalah gerakan moral, tanpa pretensi apa pun. Bahkan, dalam pandangan Syafiril tindakan mahasiswa mengumpulkan tokoh nasional di rumah Gus Dur, merupakan wujud upaya kompromi nasional, meski sebenarnya tuntutan mahasiswa tetap dalam tataran ideal. ”Karena itu para tokoh nasional yang masih dipercaya mahasiswa, hendaknya melakukan lobby politik kepada pemerintah agar pemerintah melaksanakan tuntutan mahasiswa. Sementara, mahasiswa akan terus melakukan tekanan agar Habibie serius dalam melaksanakan reformasi,” ujar Sjafiril. Empat tokoh yang bertemu di Ciganjur, kata Sjafiril merupakan representasi dari kekuatan grass root, karena itu, Habibie, kata Sjafiril jangan menganggap remeh mereka. ”Yang terpenting sekarang, Habibie harus bisa menunjukkan keseriusan melaksanakan pemilu yang demokratis untuk melahirkan pemerintahan yang legitimate dan dipercaya,” tegas Sjafiril. Jika Habibie tak bisa memenuhinya, kata Vijaya, bukan tidak mungkin, mahasiswa akan menggulingkan Habibie, sebagaimana layaknya yang dilakukan terhadap Soeharto. Maka, jika pilihan ini yang terjadi, kata Vijaya, kemungkinan munculnya junta militer semakin terbuka. ”Kita tak ingin itu. Sebenarnya kesepakatan Ciganjur adalah sebuah upaya untuk mengeliminasi munculnya militer di tampuk kekuasaan,” ujar Vijaya. n pry/esa 4. REPUBLIKA – Senin, 26 Oktober 1998 Halaman : 7 Pentas Peduli Rakyat Aceh– Atmosfir Demokrasi masih Terasa Sesak JAKARTA — Alam reformasi sudah berusia lima bulan. Tapi atmosfir demokrasi masih terasa sesak. Kata basa-basi masih bersliweran, tindak manipulasi masih menjadi aksi. Suasana seperti itu, dipertegas lagi melalui pentas Peduli Rakyat Aceh, di Classic Rock Stage, Jakarta, Selasa pekan lalu. Dalam acara yang diselenggarakan Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) bekerjasama dengan Classic Rock Stage itu dilakukan juga pengumpulan dana untuk para yatim-piatu korban DOM Aceh. Aceh, hanyalah sebuah situs tindak kekerasan. Di tempat lain, banyak pula situs-situs tindak kekerasan yang mewakili zamannya. Maka, peristiwa yang dicatat para seniman yang tampil di acara itu, antara lain Rendra, Harry Roesli, Doel Sumbang, Kelompok Orkes Keroncong Rindu Order, Soni Farid Maulana, Dede Harris, tak melulu soal Aceh. Inti kepedihannya adalah ibu pertiwi yang dibiarkan sedang terluka. ”Ibu-ibu, berapa puluh tahun termangu di atas debu. Apakah yang kau harapkan,” teriak Rendra dalam puisinya Ibu di Atas Debu. Rendra secara tegas mempertanyakan hilangnya kekuatan hukum dan daulat rakyat. ”Ibu-ibu, di mana rumahmu, di mana rumah hukum, di mana rumah daulat rakyat, di mana gardu jaga tentara yang melindungi yang akan tergusur.” Teater Laskar Panggung dan Teater Payung Hitam, keduanya dari Bandung, mengapresisasi peristiwa secara pas. Melalui performing art mereka, dalam sesi yang berbeda tergambar sesaknya suasana batin. Sumber-sumber kebenaran terasa betul tersumbat dan susah keluar, meski sudah lima bulan reformasi. Seorang pemain, dengan cakap meluncurkan kalimat-kalimat yang saling berlawanan, terbolak-balik, begitu tangkas, setangkas para politisi-selebriti. Dan Harry Roesli pun, kemudian mengungkapkan rasa sakit hatinya. Dengan menenteng gitar dan hand phone yang sering berdering (sehingga ia berhenti sejenak bernyanyi di panggung), Harry tampil banyak menghujat keluarga Cendana. Syair-sayir lagu Harry sangat sederhana, tapi cenderung sarkastis. Tiwi Shakuhaci, juga menampilkan kepedihan suasana. Demikian juga penyair Soni Farid Maulana. Maka, Doel Sumbang pun kehabisan bahan, dan lebih memilih menyanyikan lagu-lagu cinta. Cinta, sebuah kesadaran, yang diperlukan kapan pun. ”Cinta itu anugerah maka berbahagialah. …. Cobaan pasti datang menghujam. Harapan pasti datang menjelang… ..” Kembali, puisi Rendra terngiang. ”Ketika udara bising oleh basa-basi nyanyian kemerdekaan, bendera-bendera dikibarkan asal rame, dan para birokrat berpidato tanpa didengarkan orang…. Apakah artinya upacara untuk kata-kata kosong? Di manakah ujung dari muslihat-muslihat yang disadari? Aku mendengar deru derap langkah-langkah berjalan. Langkah-langkah siapa? Dari mana datangnya?” teriak Renda membacakan puisinya Ketika Udara Bising, yang pernah ia bacakan saat apel mahasiswa di kampus UI, pada 28 Oktober 1980. n pry 5. REPUBLIKA – Sabtu, 26 September 1998 Halaman : 7 Warga Duduki Hutan di Bandung Selatan BANDUNG — Kesulitan ekonomi kian membelit masyarakat pedesaan di pinggiran Bandung. Untuk membebaskan diri dari ancaman kelaparan, masyarakat desa di wilayah Bandung Selatan belakangan ini mulai masuk hutan. Mereka memanfaatkan lahan hutan milik Perhutani dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII, untuk bercocok tanam. Camat Ciwidey, Kabupaten Bandung H. Yoyo Hudaya mengakui sekitar 2.000 hektare lahan hutan di daerahnya kini diduduki masyarakat setempat. ”Masyarakat kami, memang sudah banyak yang mengalami rawan daya beli, sehingga mereka memanfaatkan hutan untuk kepentingan mereka,” ujar Yoyo, di sela acara pembukaan diklat pionir tani santri, di Pondok Pesantren Al-Ittifaq, Ciwidey, Kabupaten Bandung, kemarin (25/6). Tapi, kata Yoyo, masyarakatnya hanya menggarap lahan hutan yang kosong. ”Mereka tidak melakukan perusakan hutan,” ujar Yoyo. Semula, kata Danramil Ciwidey Lettu Inf Kosasih, penguasaan hutan oleh penduduk setempat itu sempat dihalau aparat. Tapi pelarangan itu, menurut Kosasih justru mendorong masyarakat menjadi beringas. Karenanya, pihak aparat kemudian mengizinkan mereka memanfaatkan hutan tersebut. Hanya saja masyarakat diberi rambu-rambu agar tidak merusak tanaman hutan dan sumber air. Menurut Kosasih, penguasaan hutan oleh masyarakat itu, sudah dilakukan sejak tiga bulan lalu. ”Masyarakat yang terlibat untuk menggarap lahan 2.000 hektar itu mencapai sekitar 4.200 kepala keluarga,” ungkap Kosasih. Mereka menanami lahan dengan sayur-sayuran, seperti kol, kentang, buncis. Bahkan mereka juga melakukan penyemaian tanaman pinus. Lahan hutan yang dimanfaatkan itu, tak hanya milik Perhutani, melainkan juga milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII. Sjafiril Erman, dari Tim Advokasi Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) mengungkapkan, di wilayah Kecamatan Pangalengan, banyak penduduk yang mulai mematok lahan milik PTPN VIII. ”Saat ini, kami tengah membantu masyarakat menyewa lahan PT Perkebunan. PT Perkebunan sudah menyanggupi untuk menyewakan sekitar 52 hektare lahan selama sembilan bulan, dan kini tinggal menunggu penandatanganan MoU,” jelas Sjafiril. Corporate Secretary PTPN VIII Kuswandi menyatakan pihaknya akan dengan suka cita menyewakan lahan kosong milik PTPN untuk dimanfaatkan penduduk setempat. Kepada Pesantren Al-Ittifaq pun PTPN VIII telah menyediakan 20 hektare lahannya untuk dimanfaatkan. ”Pesantren Al-Ittifaq merupakan salah satu pesantren binaan PTPN VIII untuk pengelolaan agribisnis,’ ‘ ujar Kuswandi. Bekerjasama dengan Klinik Konsultasi Agribisnis yang dipimpin Eliyas (anggota Komisi III DPR RI) PTPN VIII sendiri telah mempunyai 29 pesantren binaan di bidang agribisnis di Jabar, yang melibatkan sekitar 6.000 santri. ”Kami telah berhasil memasarkan produksi kami ke pasar swalayan Hero dan Merlin,” ujar KH Fuad Effendi, pimpinan Pesantren Al-Ittifaq. n pry 6. REPUBLIKA – Kamis, 03 September 1998 Halaman : 5 Aceh yang Menyayat pada Puisi Soni Ada amis darah dan hujan turun di Aceh Desing peluru dan mayat tak berdaya Lubang kuburan terbuka, ada 12 tengkorak di sana. ”Adakah itu di antaranya tengkorak anakku,” kata si Ibu Tua. Dengan suara lirih Soni membacakan sajak berjudul Hujan Turun di Aceh itu di depan sekitar 300 mahasiswa, di halaman Sekretariat Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). Mereka memang sedang menggelar pentas keprihatinan untuk para korban pelanggaran HAM di Aceh selama menjadi DOM. Spanduk besar warna hitam membentang, dan di beberapa sudut Jl Merdeka dipasang spanduk hitam kecil, Jangan Ada lagi Pembantian. Para pengamen jalanan, Orkes Keroncong Rindu Order, pemusik Dede Haris, penyanyi Tiwi Shakuhaci, ikut memeriahkan pentas tersebut, Sabtu lalu. Maka, selepas Soni membaca puisi, Amiruddin tampil terbata-bata di panggung, menceritakan pengalamannya. Lelaki kelahiran Aceh Timur ini semasa kecil menyaksikan bagaimana pembunuhan terjadi di lingkungannya. ”Setiap hari, saya melihat ada mayat dibuang di pinggir masjid, dan tak tahu mayat siapa itu. Ada yang tanpa kepala,” tuturnya. Amiruddin, dan juga mahasiswa yang hadir di hajat Pentas Seni Solidaritas untuk Aceh itu, tak bisa menahan air mata. ”Waktu itu, orang tua saya ditangkap, dan esok harinya diberitahu agar keluarga mengambil mayat orang tua saya itu,” kata Amiruddin, masih terbata-bata. Amiruddin, yang saat itu masih kelas lima SD, mengaku masgul. Pertanyaannya tentang alasan penangkapan tak pernah mendapat jawaban. Setiap ia bertanya, selalu dijawab, ”kamu masih kecil. Diam saja, dan jika warga memperbincangkan masalah penangkapan, kemudian, ganti ia yang ditangkap,” tutur pria yang hanya lulus SD itu. Maka, untuk menghibur hati, selepas SD pun, Amiruddin keluar masuk pesantren, dan pada 1997, sepeninggal kakeknya yang menjadi kepala desa, ia merantau ke Bandung. ”Pada waktu orang tua saya dibantai, kakek saya yang menjadi kepala desa pergi dari desa. Karena itulah selamat,” katanya. Maka, kolomnis dan koreografer muda Bandung, Miranda Risang Ayu pun membawakan Doa Malam-nya: ”Tolong aku untuk menyatakan kepada anak-anak ini, bahwa senapan itu bukan untuk melukai orang. Tetapi, senapan itu adalah kesetiaan dan kesucian sayap-sayap merpati. Bersama-Mu Tuhanku, aku ingin terbang ke tanah harapan, tempat parang-parang digantungkan, dan cukuplah kasih-sayang, sebagai alasan kehidupan dan kematian.” Namun, menurut Soni, kekerasan tidak hanya terjadi di Aceh. ”Hujan tidak hanya turun di Aceh, tetapi menderas juga di Haur Koneng, Sampang, Jakarta, dan kota-kota tak terduga, tak tercatat dalam peta. Hujan turun di Aceh, juga amis darah.” Linangan air mata itu tetap tak bisa dibendung. ”Ketika diminta untuk berdoa, saya tak bisa apa-apa. Mendengar cerita Amiruddin, saya benar-benar merasakan, bahwa keberuntungan saya selama hidup bersama orang tua di Bandung ternyata di atas penderitaan rekan-rekan kita yang dirampas kemerdekaannya. Saya menangis karena itu,” tutur Lilis S, mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Berbegai peristiwa yang merenggut hak-hak manusia memang telah lewat begitu saja. Selama orde baru berkuasa, berbagai upaya tak pernah mencuat dengan segera. Dan, sayup-sayup suara penyair Taufiq Ismail yang malam itu membaca puisi di sebuah gedung, sekitar 100 meter dari Sekretariat PMB terus mengiang: ”Mengeritik itu tidak boleh asal tidak membangun/membangun itu tidak asal, mengeritik itu boleh tidak/membangun mengeritik itu boleh asal/ mengeritik membangun itu asal boleh/mengeritik itu membangun/ membangun itu mengeritik/asal boleh mengeritik/boleh itu asal/asal boleh membangun/asal itu boleh/asal boleh itu mengeritik boleh asal/itu boleh asal membangun asal boleh/boleh itu asal/asal itu boleh/boleh boleh/asal asal/itu itu/itu.” n pry 7. REPUBLIKA – Senin, 03 Agustus 1998 Halaman : 7 Franky Sahilatua, Harry Roesli,Doel Sumbang Ngamen untuk Sembako Franky Sahilatua tiba-tiba terlihat mengamen di jalanan, di Bandung, Sabtu malam (1/8). Ia tak sendirian. Bersamanya, ada Harry Roesli, Doel Soembang, kelompok mahasiswa UNPAD yang tergabung dalam Orkes Keroncong Rindu Order. Mereka membaur bersama pengamen jalanan, yang pernah belajar musik di Rumah Musik Harry Roesli. Ada pula anak-anak Teater Bel, dan anak-anak Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB). Lagu Bus Kota, Perahu Retak kerap muncul dari mulut Franky di setiap kafe yang menjadi sasaran mereka. Lagu-lagu Sunda pun melantun. Para pengunjung kafe yang kebanyakan remaja itu pun ikut bertepuk, goyang kepala atau sekadar diam, menikmati suara-suara emas para penyanyi kondang itu. ”Saya nggak menyangka, tiba-tiba ada penyanyi-penyanyi top ngamen di depan saya,” ujar Rita (18), yang mengaku masih di SMU dan tinggal di bilangan Cipaganti. Mereka tak hanya bernyanyi di hadapan pengunjung kafe-kafe yang kebanyakan dikelola para mahasiswa itu. Ketika bertemu shelter bus kota, mereka pun menggelar aksi di sana. Bertemu dengan halaman kantor yang kosong, mereka pun berdendang di sana. Beberapa personil yang membawa kotak, aktif menyodorkan kotak kepada setiap pengemudi yang lewat sepanjang Jl Juanda itu, atau kepada pengunjung kafe jalanan. Fenomena sosial telah muncul. Ketika krisis ekonomi melanda, banyak yang menanggung beban. Para mahasiswa di Bandung pun mencoba usaha sampingan, membuka kafe di pinggir jalan, ketika kiriman uang dari ortu kian menipis. Pedagang kaki lima dadakan ini pun bebas mangkal di sepanjang pinggiran jalan protokol, tanpa ada larangan dari Pemda, sebagaimana halnya yang menimpa rakyat kecil yang mengadu nasib sebagai pedagang kaki lima, sebelum terjadi krisis dulu. Memang, banyak cara menyikapi krisis ekonomi. Jika para artis di Jakarta harus membuka kafe di pinggir-pinggir jalan, maka artis Bandung tak perlu malu mengamen di kafe-kafe jalanan. Jika para artis di Jakarta mengeluarkan modal puluhan juta, maka artis di Bandung cukup bermodalkan suara. Jika artis di Bandung mengamen untuk mengumpulkan dana sembako bagi rakyat yang sudah kelaparan, maka alangkah baiknya jika artis di Jakarta juga berbuat hal yang sama. Munculnya kafe-kafe dadakan di pinggir jalan itu, memang satu indikasi beratnya himpitan hidup yang harus diatasi melalui upaya survival. Tapi yang namanya, krisis ekonomi, tampaknya tak terasa, jika melihat padatnya arus kendaraan setiap malam minggu di sepanjang Jl Juanda. Agaknya masih banyak yang menikmati mimpi indah di kondisi saat ini. Menurut Harry Roesli, itu terjadi karena informasi tentang krisis ekonomi tidak merata. ”Jika menyaksikan itu, kita nggak percaya kalau ada krisis di tanah air. Tapi kalau mendengarkan penuturan dari rakyat kecil, kita mengetahui betapa besarnya pengaruh krisis ekonomi yang mereka derita,” ujar Harry. Maka, Harry, Franky, dan Doel Sumbang tak perlu malu mengamen untuk pengadaan sembako. Hasilnya, mereka mengumpulkan Rp 818 ribu, yang akan disumbangkan kepada mereka yang kelaparan. Untuk mencari korban-korban krisis ekonomi, tak perlu jauh-jauh pergi ke pelosok desa. Di seputar Bandung pun, banyak korban berjatuhan. Surat-surat yang masuk ke Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) melalui sebuah lomba menulis surat kepada BJ Habibie, menggambarkan pedihnya derita rakyat. Dalam agenda survival mereka, banyak hal yang harus dikorban. Pertama mungkin hanya kain atau pakaian yang harus dijual dengan harga murah, kemudian perabotan rumah tangga (kalau ada). ”…Sehingga dengan sangat terpaksa, seorang anak berhenti dari sekolah, untuk memperingan beban hidup saya,” tulis Mamat, tukang becak asal Majalaya, yang mangkal di depan Toko Yogya, Bandung. Tak heran jika Franky pun mengaku tak rugi menghabiskan waktunya di Bandung untuk mengamen. ”Seumur hidup, baru kali ini saya mengamen. Ini hanya sebuah gerakan moral yang harus dilakukan untuk menggugah mereka yang berkecukupan, untuk membantu mereka yang menderita akibat krisis ekonomi ini,” ujar Franky. n pry 8. REPUBLIKA – Minggu, 05 Juli 1998 Halaman : 4 Bila Tukang Beca Mengeluhkan Nasibnya kepada Presiden Ahad (14/6), wajah Tatang Herisman lumayan berseri. Di tangannya ada sebuah kupon untuk mengambil 2,5 liter beras dan selembar surat tanpa amplop untuk Presiden Habibie. Ia pun menggenjot becanya ke plaza Monumen Perjuangan Rakyat Jabar, Bandung untuk mengambil beras dan mengantarkan surat. Siapa tahu dapat juara? Tatang adalah salah satu dari 193 peserta yang ‘mengadu’ nasib ikut lomba membuat surat buat Presiden Habibie yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). Tulisan pria lulusan SD ini lumayan rapi, meski bahasanya campur aduk, Sunda dan Indonesia. Setiba di tempat yang dituju, Tatang menyerahkan surat tersebut ke panitia dan memperoleh beras. Setelah itu Tatang larut dalam kegembiraan bersama 110 tukang beca lain di arena adu ketangkasan mengemudi beca yang diadakan PMB, meski Tatang tak dapat juara. ”Saya rela tak cari penumpang,” ujar Tatang. Sepekan kemudian, Ahad, (21/6) Tatang dan dua orang lain, justru jadi ‘bintang’. Nama Tatang tercantum sebagai salah satu dari tiga penulis surat yang mendapat penghargaan dari panitia. Ia berhak memperoleh hadiah panci dan kompor. ”Panci dan kompornya saya gunakan untuk kenduri pernikahan anak saya,” tutur ayah empat anak ini kepada Republika, di rumah bambunya yang sederhana, di Namicalung, Desa Bojong, Kec. Majalaya, Kab. Bandung. Dalam suratnya, mantan sopir pribadi ini menuturkan dengan lancar perjalanan hidupnya sebagai tukang beca yang dijalaninya sejak tahun 80-an. Katanya, ”Susah memperoleh pendapatan sekarang. Apalagi saya harus menanggung empat anak. Waktu mau kenaikan kelas, anak saya yang duduk di bangku kelas III, dua hari sebelum naik kelas minggat dari rumah sampai repot mencari ke sana ke mari. Rupanya dia kabur gara-gara dimarahi guru, lantaran belum melunasi BP3. Anak bilang, bapa guru marah, takkan dinaikkan kelas. Bahkan, buku lapornya pun (maksudnya rapor – red) akan ditahan. Ahirnya anak saya takut lagih masuk sekolah dikarnakan belum lunas BP3…” Kesulitan hidup seperti itu membuat Tatang ‘menyesal’ memilih hidup jadi tukang beca. ”Dulu saya senang jadi tukang beca karena hasilnya lumayan. Bisa dapat Rp 25 ribu sehari. Bisa istirahat dan jam kerjanya bebas,” tutur Abang Beca yang mangkal di Alun-Alun Bandung ini. ”Tapi sekarang sulii…t sekali cari penumpang. Orang banyak yang gengsi naik becak.” Keadaaan itulah yang membuat Tatang, tak malu-malu menuturkan pertengkaran dengan istrinya dalam surat untuk Presiden. Ia juga bercerita tentang bagaimana ia harus sering menghibur anak-anaknya yang merajuk karena tak diberi uang jajan. ”Yang tadinya diberi jajan Rp 500 untuk yang di SMP, dan Rp 200 yang masih di SD, kini tak ada uang jajan lagi,” ujar Tatang. Di rumahnya, Tatang kini tengah sibuk dan bingung. Sibuk karena ia hendak menikahkan anaknya. ”Bingung karena saya harus cari pinjaman ke sana ke mari untuk kenduri kecil. Biaya nikahnya sih cuma Rp 170 ribu,” paparnya. Dibukukan Ada 163 surat yang masuk ke meja panitia Perhimpunan Mahasiswa Bandung dari 650 kertas polio yang disebarkan. Penulisnya berbeda-beda latar belakang; pemulung, pedagang kecil, tukang beca, dan tukang sapu. ”Banyak juga yang tak bisa dibaca,” kata Sjafiril Erman, Ketua I PMB. Lomba yang sengaja disediakan untuk kalangan terbatas ini, kata Sjafiril, diumumkan langsung ke orang-orang ‘terpilih’ yang berhak menerima pembagian beras sebesar 2,5 kg. Panitia membagi kupon sekaligus selembar kertas. ”Kami minta mereka menuliskan keluhannya tentang krisis ini kepada Presiden. Isinya tentang apa saja. Kami minta mereka membawa suratnya saat pembagian beras,” kata Sjafiril. Menurut Sjafiril, lomba tersebut sengaja diadakan untuk mengetahui kehidupan dan perasaan mereka menghadapi krisis. ”Selama ini mereka adalah masyarakat yang terpinggirkan. Lewat lomba ini diharapkan mereka berani mengungkapkan pikiran mereka. Targetnya memberi pendidikan agar mereka berani mengemukakan pendapat. Soal logika berpikir tak kita nilai,” papar Sjafiril yang berencana akan membukukan surat-surat tersebut. Dari surat-surat yang masuk, menurut Sjafiril, panitia memperoleh kesimpulan bahwa mereka adalah orang sederhana dalam arti sesungguhnya. Sederhana dalam menghadapi hidup, berpikir, dan menyikapi hidup. ”Perjuangan mahasiswa untuk apa mereka juga tak tahu. Mereka tahunya susah. Muara persoalan itu bagi mereka bukan masalah politik, tapi susah cari duit. Mengapa sulit cari duit, mereka tidak tahu…” n pry Keluarga Tukang Beca Keracunan Singkong Pasangan Eti Nurhayati dan Omo nyaris saja kehilangan empat anaknya gara-gara keracunan singkong rebus. ”Kejadian itu membuat saya takut menyebut nama singkong,” tutur Eti, tentang peristiwa 15 Juni, yang juga membuatnya tak berani lagi makan singkong. Singkong adalah makan alternatif termudah dan termurah, di saat krisis, bagi keluarga penarik beca tersebut. Di rumahnya, di Kampung Riuangkuntul, Kel Tuguraja, Kec Cihideung, Kotif Tasikmalaya, Eti mengolah singkong yang dibeli suaminya itu tanpa rasa curiga. Ia bahkan bersyukur masih bisa membeli singkong. Namun betapa kagetnya ia, ketika keempat anaknya, Ai Siti Karmilah (7), Dede Sri Nuryani (5), Jejen Zanudin (3) dan Sendi Suhendi (2) muntah-muntah seusai makan singkong rebus. ”Saya bersyukur bisa terhindar dari musibah yang lebih buruk lagi. Keempat anak saya akhirnya bisa tertolong,” tutur Eti. Krisis moneter menghantam telak penghasilan keluarga yang biasanya berpenghasilan Rp 7.000 per hari tersebut. Tapi ketika krisis melambungkan harga sembako, uang Rp 7.000 itu tak ada apa-apanya. Untuk membeli beras 2,5 kilogram saja, Eti harus mengeluarkan uang Rp 6.000. ”Sementara penghasilan saya tak bertambah, malah kurang. Orang memilih jalan kaki daripada naik becak,” kata Omo. Keadaan tersebut membuat Eti dan Omo mengatur menu makanan seirit mungkin. ”Biar saya yang lapar tapi anak-anak tetap kenyang,” tutur Omo. ”Uang yang kami miliki memang tak cukup lagi untuk membeli nasi lengkap, makanya kami selingi dengan singkong.” Cara tersebut sangat membantu mengurangi biaya hidup keluarga tersebut. Dan siang hari itu, setelah memperoleh penghasilan dari menarik beca, Omo membeli 1,5 kg beras dan 2 kg singkong dari seorang pedagang keliling. Singkong yang ternyata beracun itu menjadi menu makan siang anak-anaknya. ”Saya tak sempat makan singkong karena kembali nar! ik beca,” tutur Omo. Sementara Eti mengaku singkong itu memang terasa pahit. ”Tapi karena hanya itu makanan yang ada, ya dimakan juga. Satu jam setelah makan singkong perut saya melilit. Hal yang sama juga dirasakan oleh keempat anak saya,” papar Eti. Keempat anak Eti kondisinya lebih parah. Bahkan, anak tertuanya muntah darah. Keempatnya kemudiam tak sadarkan diri. Melihat kejadian itu, Eti mencari pertolongan. Ia mendatangi Jejen Mahfud, Ketua RT 04 yang dikenal dermawan oleh warganya. Mendapat laporan itu, Jejen mendatangi rumah Eti. ”Saya mendapatkan keempatnya sudah tak bergerak. Saya memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit,” kata Jejen mantan pedagang tempe, yang kini tak lagi berjualan karena harga kedelai yang melambung tinggi. Keempat bocah itu, kemudian mendapat perawatan tim medis RSU Tasikmalaya. Sehari semalam, mereka dirawat intensif di rumah sakit. Setelah dinyatakan sembuh, keempatnya kemudian dibawa pulang ke rumah. Namun Omo kesulitan membayar uang perawatan Rp 380.000. Bagi Omo jangankan sebesar itu, untuk membeli 2,5 kilogram beras saja ia tak memilikinya. Untungnya Omo memiliki ketua RT yang dermawan dan tetangga yang peduli. Dari hasil swadaya masyarakat terkumpul uang Rp 140.000, tapi belum! cukup untuk membayar ongkos perawatan. Musibah yang menyebar itu akhirnya sampai di telinga Walikotatif Tasikmalaya Drs H Eddy Hardhiana. Dialah yang kemudian membantu biaya perawatan rumah sakit keluarga Omo. ”Kami bersyukur ternyata masih banyak orang yang peduli pada nasib kami,” tutur Eti. Ia lebih bersyukur lagi karena kedua anak lelakinya juga disunat gratis. n pry priyantono oemar jl warung buncit 37 jakarta 12510 0811834021