Monthly Archives: Agustus 2008

Brings Back Old Memories at BLOEMEN – Bandung

 

Bloemen yang didirikan tahun 2004 ini mulanya berupa Resto & Café yang berdiri mengisi salah satu kavling di Cihampelas Walk. Sejak akhir tahun 2007 BLOEMEN pindah ke Jl. Boscha 45 Cipaganti, di belakang pompa bensin Cipaganti, menempati sebuah rumah, dengan suasana yang lebih homey sehingga konsep Bloemen sebagai restoran keluarga lebih terasa.

Sebagai sebuah resto, Bloemen cukup kreatif dengan mengangkat tema “ Old Bandung Lovers”. Makanya jangan heran, begitu menginjakkan kaki di sana kita akan “ disambut” sebuah rumah tua dengan galeri koleksi foto Bandung Tempo Doeloe.

Soal makanan..wuuiihh,,jangan ditanya deh! Bloemen menyajikan menu yang bervariasi mulai dari appetizer, burger, chef’s suggestion, Unique Bloemen, makanan asia, dll.

Misalnya saja nih Bloemen Spesial Burger yang di dalamnya berisi beef, telor, dan keju yang menggoda plus ukurannya yang bikin kenyang abisyyy!!!! Atau mau nyoba Carpaccio Gratin yang berupa daging tenderloin dengan saus pesto dan tutupan mozarella dihidangkan dengan sayuran rebus dan garlic bread. Ada lagi nih yang namanya Potato Creamy Veal yaitu potongan baked potato dan irisan ayam disiram dengan keju morazella. Hhmmm..yummy..!!Gak salah deh kalau Bloemen mendapat predikat “ Mak Nyuss” dari pakar kuliner Bondan Winarno.

Owner : Sn Suntana PMB 64

 

Iklan

KROEG BESAR 60 TAHUN PMB 16 AGUSTUS 2008

Vivat PMB!

menurut rencana Alumni PMB’64  acara KROEG BESAR 60 TAHUN PMB akan diadakan di

FINANCIAL HALL, lt. 2
Gedung GRAHA NIAGA (dulu: Niaga Tower Bldg)
Jl. Jenderal Sudirman kav 58, Jakarta 12190
(seberang Pintu Satu Gelora Bung Karno/Lap.
Softball/Baseball) .

pada hari Sabtu, 16/8/2008 jam 10.00 s/d selesai.

Diharapkan dihadiri oleh semua anggota PMB seluruh Angkatan dari seluruh Indonesia (terutama yang ada di Jakarta dan Bandung). Panitia Kroeg Besar diketuai oleh Senior MASLI MULIA (’64) dan anggota inti Alumni PMB’64.

Untuk kelancaran dan kemeriahan acara diharapkan semua angkatan berkoordinasi masing-masing angkatannya, dengan cara ini diharapkan hadir lk. 200-250 alumni. Karena minimnya publikasi yang kita dengar tentang acara ini, sebaiknya segera disebarluaskan melalui sarana dan media apapun.

Foto Plonco PMB – Malam Pengadilan

.. Foto plonco di Harian umum Pikiran rakyat
Yang pasang dan ditulis oleh Sn Wawan Abas PMB 77 (wartawan HU PR)

Kimia Farma Berikan Fasilitas Khusus Bagi Lansia

Kimia Farma Berikan Fasilitas Khusus Bagi Lansia

Jakarta, Pelita
PT Kimia Farma Apotek (KFA) menyerahkan kartu keanggotaan Apotek KF untuk masyarakat lanjut usia kepada Lembaga Lanjut Usia (LLI), bertepatan dengan puncak perayaan Hari Lanjut Usia Nasional yang dirayakan di Gedung Sate Kantor Gubernur, Bandung, Jawa Barat, Kamis (5/6).
Direktur Utama PT Kimia Farma Apotek, Saleh Rustandi, kerjasama tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat lanjut usia (Lansia).
Selain itu, sebagai tindak lanjut dari penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua lembaga tersebut yang dilakukan pada 17 Mei lalu.
Menurut dia, dengan kartu keanggotaan Apotek KF, nantinya PT KFA akan memberikan potongan harga sebesar 25 persen untuk para Lansia yang akan berobat kepada dokter umum, dokter gigi dan juga dokter spesialis yang praktek swasta di apotek KF.
Tidak hanya itu, KFA juga akan memberikan potongan lima persen untuk harga obat dan 10 persen untuk pembelian alat-alat kesehatan rehabilitasi dan pemeriksaan laboratorium KF, kata Saleh Rustandi.
Lebih lanjut, Saleh mengatakan selain mendapat potongan harga, Lansia juga akan menerima layanan khusus home care service.
Dalam hal ini, pasien Lansia akan menerima layanan berupa penjemputan, baik itu resep, obat yang diantar, pengambilan sample yang dilakukan di rumah pasien dan juga service kunjungan dokter, jelasnya.
Kedepannya, tambah Saleh, PT KFA berkomitmen untuk memperluas layanannya dimana tidak hanya mencakup para Lansia yang hidup Jawa Barat, namun juga melayani seluruh Lansia di Indonesia.
Senada dengan Saleh, Menajer Bisnis KFA Bandung Kasman Marsuan, mengatakan tujuan utama perusahaan menjalin kerjasama dengan LLI lebih kepada rasa peduli ketimbang bisnis semata. Kendati demikian, secara bisnis kerjasama tersebut juga menjanjikan. Mereka kan punya anak dan cucu, kita harapkan mereka juga menjadi pelanggan, katanya.
Sementara, Ketua Umum Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Provinsi Jawa Barat, HR Nuriana, mengucapkan terima kasih kepada PT KFA yang telah memberikan fasilitas dan sekaligus perhatian khusus untuk para Lansia.
Nuriana yang juga Mantan Gubernur Jawa Barat itu pun berharap melalui jalinan kerjasama tersebut tercipta Lansia yang sehat dan sejahtera.
Yang diperlukan oleh Lansia adalah berolah raga secara teratur seperti senam kebugaran. Kendati demikian, sangat mungkin suatu saat anggota LLI sakit sehingga kerjasama dengan PT KFA menjadi sangat penting artinya. Karena penghasilan para Lansia jelas sudah jauh berkurang dibandingkan saat mereka masih aktif dan kuat bekerja, paparnya.(ay)

 
Catatan : Saleh Rustandi PMB 72, Ketua senat PMB tahun 1981

Telaah – 43 Tahun Nuklir Indonesia

25/10/07 12:14

Oleh Adjar Irawan S Hidayat

Jakarta (ANTARA News) – Bulan ini, 43 tahun lalu, bangsa ini mulai berbicara tentang reaktor nuklir, terhitung sejak “criticality- experiment” terhadap reaktor nuklir pertama Triga Mark II di Bandung berhasil dilakukan dengan baik.

Pemimpin percobaan Djali Ahimsa menulis dalam “log-book” tertanggal 16 Oktober 1964 : 18.37,5?, predict 57,5 critical.

Catatan itu menunjukkan bahwa pada jam tersebut sebanyak 57,5 batang elemen bakar nuklir (berisi 2,3 kg U-235) telah dipancingkan ke dalam teras reaktor dan pada kondisi itu reaksi inti yang berkesinambungan tepat sudah bisa terjadi.

Besaran 2,3 kg U-235 disebut bobot-kritis. Kritis di sini tidak ada kaitannya dengan bahaya.

Jauh hari kemudian, kepala proyek pembangunan reaktor Triga, Djali Ahimsa, menjadi Dirjen Batan.

Ketika itu, para pakar yang terlibat bersorak gembira dan lega.

Keesokan harinya, 17 Oktober 1964, koran daerah Harian Karya memberitakan soal kedatangan abad nuklir.

Sedangkan Radio Australia menyiarkan berita keesokan harinya “Indonesia mampu membuat reaktor atom”. Berita ini disusul dengan ulasan dua menit oleh “stringer” AK Jacoby yang menulis : Indonesia masuk abad nuklir.

Bersama 11 unit yang lain, reaktor jenis riset-reaktor ini (tipe Mark I dan Mark II) buatan General Atomic Mark II merupakan hibah dari pemerintah AS, awal 1960-an, kepada ke Vietnam, Korsel, Italia, Austria, Jepang, dan Indonesia seharga 350.000 dolar AS per unit. Kegunaannya untuk pelatihan, riset, produksi radio isotop.

Sekitar 25 tahun kemudian semua reaktor hibah tersebut telah dihentikan operasinya (decommissioning) karena sudah mencapai batas usia operasi, kecuali reaktor milik Indonesia, karena komponen-komponen utamanya telah diganti dengan membongkar reaktor kemudian memasang kembali dengan komponen baru sebanyak dua kali.

Pembongkaran pertama pada 1972 dipimpin Sutaryo Supadi dan pada 1997 dipimpin Haryoto Djoyosudibyo dan A. Hanafiah.

Pengawasan dilakukan oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) atas segala sesuatunya, terutama neraca pemakaian dan keluar masuknya U-235.

Reaktor tipe itu, sebagaimana reaktor-riset lain pada umumnya, tidak mungkin meledak karena elemen-bakar U-235 konsentrasinya hanya 20 persen, sedang untuk bom perlu 98 persen. Jadi elemen-bakar kedua instalasi nuklir itu berbeda.

Lagi pula elemen bakar U-235 disenyawakan dengan “zirconium-hidrida” yang berubah menjadi bukan bahan bakar secara seketika, begitu temperatur terlalu tinggi sebelum meledak (negative prompt reactivity coeffisien).

Reaktor yang bekerja selalu menghasilkan panas dan netron. Panas bisa diubah menjadi energi listrik (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir), sedangkan partikel netron untuk membuat “radioisotope” dengan cara menumbukkan kepada suatu zat kimia biasa menjadi zat radioaktif.

Kini Kepala Pusat Instalasi Nuklir di bawah naungan Batan ini dipimpin oleh Djatmoko M.Sc yang menyatakan sejauh ini tidak ada kecelakaan atau insiden nuklir, kecuali beberapa kali anomali yang sama sekali tidak membahayakan personel, termasuk pada waktu bongkar pasang reaktor dengan penggantian komponen-koponen utama (tangki, reflector, bellow, Lazy Susan, batang kendali, dan elemen-bakar) .

Aplikasi radioisotope

Para pakar telah mempelopori aplikasi “radioisotope” yang dihasilkan untuk penelitian hidrologi, seperti terhadap kebocoran tanggul Waduk Darma Kuningan (1967), penelitian gerakan sedimen Pelabuhan Tanjung Priok (1972), kedokteran nuklir (1970), pertanian (1969), dan industri (1968) dan kini telah mencapai jumlah puluhan proyek lainnya.

Pengiriman zat radioaktif juga pernah dilakukan ke Malaysia (1971) dan Singapura (1972) untuk penelitian. Pengiriman ini mempelopori ekspor zat hasil teknologi tinggi ini (Molybdenum) ke Malaysia sejak 15 tahun lalu, ke Vietnam, Thailand, bahkan Jepang sebagai hasil produksi Reaktor GA Siwabessy di Serpong buatan RFJ (reaktor riset ketiga) oleh PT Batantek (dipimpin oleh almarhum Bustomi dan Mulyanto).

Ratusan mahasiswa telah memanfaatkan reaktor Triga sebagai objek atau subjek tugas akhir. Reaktor telah beroperasi lebih dari seratus ribu jam.

Belasan senyawa “radioisotope” yang dibakukan telah dihasilkan. Satu di antaranya “Iodium-Hipuran” telah dipergunakan untuk diagnosa ginjal (renogram) terhadap ratusan pasien di delapan 8 Klinik Kedokteran Nuklir.

Kepercayaan IAEA kepada pakar Triga dibuktikan dengan belasan kontrak riset yang diberikan, dimulai riset tentang “tritium” atas nama Prof. Oei Ban Liang (1973) dan penyelenggaraan beberapa kali pertemuan ilmiah internasional serta penulisan hasil penelitian diberbagai jurnal fisika, kimia, dan biologi internasional.

Pengalaman mengganti komponen utama reaktor tersebut menjadi pelajaran untuk membangun reaktor nuklir sendiri, baik disain maupun konstruksinya seperti reaktor Kartini (1979) di Yogyakarta yang dipimpin Iyos R. Subki dan Suroto Ronodirjo (alm).

Pengalamam itu juga menjadi pelajaran dalam merencanakan membangun sebuah reaktor khusus hanya untuk produksi “radioisotope” yang semua komponennya merupakan hasil industri dalam negeri (kecuali peralatan kontrol elektronik dan elemen bakar uranium).

Pendidikan khusus pakar ke Inggris telah siap tahun 1994, tetapi tidak dapat dilaksanakan karena tidak ada dana. Studi kelayakan penjualan “radioisotope” melalui agen internasional di Inggris dan Kanada telah rampung dan impas dicapai dalam 6-7 tahun.

Sebagai pemerhati nuklir yang pernah berkecimpung dalam perkembangan tenaga nuklir selama 20 tahun (1960-1980) dan mengamati di sana-sini perkembangannya termasuk kontroversi pembangunan PLTN sampai kini.

Dari pengamatan itu bisa disimpulkan bahwa tanpa niat, keberanian dan tekad bulat, bangsa Indonesia yang masih awam dan minim tenaga ahli reaktor pada waktu menginstalasi reaktor pertama Triga Mark II di Bandung awal tahun 1960-an tidak akan berhasil mencapai sasaran.

Demikian juga jikalau pemerintah dan parlemen, misalnya, memutuskan akan membangun PLTN, maka tekad bulat dan keberanian yang diperhitungkan harus dipegang teguh, bersatu-padu.

“Rawe-rawe rantas, malang-malang putung”.

*) Adjar Irawan S Hidayat, pemerhati nuklir, alumni Fisika ITB tahun 1967, operator angkatan pertama reaktor Triga Mark II tahun 1964, dan Ketua Asosiasi PBB Indonesia (United Nations Association in Indonesia) sejak 1973-sekarang. Dia juga peraih Piagam Pembawa Pesan Perdamaian (Peace Messenger) PBB tahun 1994. (*)

Manajemen Energi yang Amburadul

republika, selasa 12 agustus 2008

Oleh Andi Sahrandi
Konsultan Teknik

Listrik yang dipasok PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sering mati-hidup, karena kurang pasokan batu bara. Padahal kita punya batu bara dan bahan bakar minyak yang banyak. Tapi, ternyata bukan milik Republik, melainkan pengusaha, akibat peraturan yang tidak berpihak kepada rakyat. Krisis listrik diperkirakan akan terus berlanjut akibat PLN kesulitan pasokan batu bara ini.

Kita juga punya minyak dan gas, tapi kita selalu kekurangan, karena juga bukan milik Republik, melainkan pengusaha yang membengkakkan cost recovery, sehingga bagian mereka lebih banyak dari rakyat. Kita tak bisa seperti Venezuela yang memiliki pemerintah yang tegas, yang mengatur energi yang berpihak kepada rakyat.

Kita juga tidak serius menangani biofuel. Yang ada, lembaga-lembaga yang berkompeten soal energi tidak mampu memprogramkan dengan baik. Kita hanya bisa dibohongi oleh “blue energy” saja. (Ingat Cut Zahara Fona yang berhasil membohongi pejabat negara di awal tahun 70-an dengan bayi ajaibnya dan Markonah yang membohongi pejabat negara awal 60-an dengan pengakuannya sebagai ratu Kubu. Ingat pula menteri pertanian yang melaporkan adanya guci yang dapat menyuburkan tanah di pertengahan 70-an. Juga, menteri agama yang menggali situs bersejarah mencari harta karun di awal 2000-an).

Pembuatan-pembuatan pembangkit energi juga tidak terprogram. Pembuatan-pembuatan pembangkit energi sekarang dilakukan lebih karena kepepet atau karena ada pihak-pihak tertentu yang lagi berbisnis. Kita juga tidak serius mencari sumber-sumber energi listrik untuk daerah-daerah dengan cara memakai energi air dan angin yang jauh lebih murah.

Dulu ada rencana membuat Dewan Energi Nasional. Tapi, rencana itu tidak pernah terwujud. Padahal hal tersebut sangat penting. Manajemen energi sangat penting untuk diseriuskan, karena ketergantungan kita sangat besar pada energi. Dewan Energi Nasional dibutuhkan untuk merumuskan kebijakan energi nasional dan mengawasi pelaksanaan kebijakan itu.

Kebutuhan kita pada energi untuk 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun ke depan perlu diprediksi dengan benar. Peningkatan dari pertumbuhan penduduk mengakibatkan juga pertumbuhan kebutuhan energi untuk rumah tangga (listrik, gas, dan lain-lain), kendaraan/transport asi, bisnis, industri, dan lain-lain.

Tiadanya manajemen energi nasional membuat peningkatan kebutuhan energi terus tidak terkontrol. Pada 2007, peningkatan kebutuhan pada minyak mencapai 12 persen dan peningkatan kebutuhan gas mencapai 15 persen untuk minyak.

Karena itu, kita perlu mengkaji sumber-sumber energi yang kita punyai itu. Berapa banyak batu bara kita, minyak kita, gas kita, angin kita, air kita, biofuel kita, panas bumi kita, dan lain-lainnya. Berapa banyak yang tersedia dan berapa lama dapat bertahan?

Dengan mengetahui jumlah deposit sumber energi kita, kita juga perlu membuat rencana penggunaan sumber energi menjadi energi sesuai dengan kebutuhan. Rencana itu perlu disusun secara bertahap sesuai tingkat kebutuhan yang terus bertambah. Berdasarkan hal-hal tersebut, kemudian pemerintah harus segera membuat peraturan-peraturan yang betul-betul harus ”menguntungkan rakyat Indonesia”, seperti yang diamanatkan UUD 1945 Pasal 33.

Peraturan yang tepat itu diperlukan untuk mengatur pola kepemilikan sumber, pola produksi, pola tata niaga, dan lainnya. Dalam hal ini, tentu saja harus ditegaskan secara nyata untuk kepentingan rakyat Indonesia sebagai yang dinomorsatukan.

Baru kemudian untuk kepentingan ”dagang”. Pentahapan lewat rencana ini harus dilakukan (ingat Repelita). Harus dipikirkan pula kepentingan anak-cucu bangsa sendiri, baru untuk orang lain.

Adanya Peraturan Presiden No 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, belum memberikan kabar baik. Karena aturan itu dibuat tanpa perhitungan yang matang.

Melihat upaya yang dilakukan pemerintah sampai hari ini, mana mungkin pada 2025 pemanfaatan minyak bumi hanya 20 persen dari total pemanfataan energi di Indonesia? Mana mungkin pemanfaatan batu bara pada 2025 bisa mencapai 33 persen jika sampai hari ini, pemerintah belum memedulikan kepentingan dalam negeri? (Lihat Tabel)

Tabel Sasaran Pencapaian Energi Mix Pada 2025
———— ——— ——— ——— ——— ——— ——— —
1. Minyak bumi menjadi kurang dari 20 persen.
2. Gas bumi menjadi lebih dari 30 persen.
3. Batubara menjadi lebih dari 33 persen.
4. Bahan bakar nabati (biofuel) menjadi lebih dari lima persen.
5. Panas bumi menjadi lebih dari lima persen.
6. Energi baru dan energi terbarukan lainnya, khususnya biomassa, nuklir, tenaga air, tenaga surya, dan tenaga angin menjadi lebih dari lima persen.
7. Batu bara yang dicairkan (liquefied coal) menjadi lebih dari dua persen.
———— ——— ——— ——— ——— ——— ——— —
Sumber: Pasal 2 Peraturan Presiden No 5 Tahun 2006

Menurut data Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI), Indonesia ternyata menjual lebih dari 75 persen produksi batu baranya ke pasar internasional. Pada 2005-2006, batu bara dari Indonesia mengisi 25 persen kebutuhan pasar internasional.

Indonesia lebih mengedepankan kepentingan dagang daripada kepentingan rakyat Indonesia. Padahal, jumlah cadangan batu bara Indonesia itu hanya 1,3 persen (12 miliar ton) dari total cadangan batu bara dunia.

Mari kita tengok Cina. Negara yang memiliki cadangan batu bara mencapai 114 miliar ton itu lebih dari 95 persen produksinya dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri.

Pemerintah harus segera menunjukkan sikap tegasnya dalam mengelola energi nasional. Segala peraturan yang dibuat harus didasarkan pada rule, bukan pada kepentingan kontraktor atau pengusaha.

Kalau peraturan itu dibuat untuk rule, maka pemerintah tak akan peduli pada pihak mana pun. Kepeduliannya hanya untuk rakyat. n

Berita II
Bisnis dan Konsumtif Silakan Pakai Genset

Tanpa adanya pengelolaan energi yang cerdas akan membuat Indonesia tetap mengalami krisis energi. Listrik akan tetap mati-hidup.

Selesainya pembangkit 10 ribu MW pada 2009 nanti, bukan jaminan pasokan listrik akan aman, jika peraturan tentang energi nasional belum memihak kepada rakyat. Pembangkit PLN bisa tetap kekurangan pasokan batu bara jika pemerintah masih belum berpihak pada rakyat.

Pertumbuhan permintaan listrik terus berlanjut. Lihatlah, pusat perbelanjaan mewah (supermal), apartemen mewah (superblock) , hotel-hotel mewah terus bermunculan. Tempat-tempat baru itu tentu membutuhkan pasokan listrik.

Perlu segera dijalankan peraturan pemanfaatan listrik yang tepat guna. Menurut data PLN, beban puncak di Jawa-Bali saat ini mencapai 17.100 MW dan diperkirakan beban puncak pada 2008 rata-rata 17 ribu MW. Pada Sabtu beban puncak mencapai 16 ribu MW sedangkan pada Ahad beban puncaknya 15 ribu MW.

Di Jakarta saja, misalnya, menurut data PLN, beban puncak pemanfaatan listrik pada siang hari saat ini mencapai 4.540 MW dan malam hari mencapai 4.485 MW. Sebanyak 32 persen dimanfaatkan oleh konsumen sektor bisnis, dengan mayoritas pelanggan pusat perbelanjaan (mal), hotel, dan apartemen.

Sektor industri hanya memanfaatkan 23 persen. Di pusat perbelanjaan ini, 60 persen dipakai untuk AC dan lampu.

Masih menurut data PLN, di Jakarta dan sekitarnya ada saja mal yang menyetel suhu ruangan AC pada suhu 20-22 derajat celcius. Bahkan banyak menyetel AC di bawah suhu 20 derajat celcius. Ada mal yang pemanfaatan listriknya mencapai 6,7 MW per hari, dengan biaya langganan mencapai Rp 1,5 miliar per bulan.

Mal dan hotel di Indonesia menurut PLN menyerap listrik mencapai 16 persen (sekitar 2.700 MW dari 17 ribu MW beban puncak pemanfaatan listrik). Biasanya, pada saat beban puncak, persentasi pemanfaatan oleh sektor bisnis ini melebihi angka 16 persen. Pada 2005, misalnya, mencapai 25 persen. n

Berita III
Selamatkan Perumahan dan Industri

Pengelola pusat perbelanjaan mewah, hotel mewah, apartemen mewah perlu diminta untuk tidak memakai listrik dari PLN. Mereka perlu diwajibkan memakai listrik dari genset mereka.

Mereka mampu membeli bahan bakar untuk genset mereka. Lampu di papan-papan reklame yang bertebaran, termasuk juga di papan toko, hendaknya tidak dinyalakan hingga pagi hari.

Semua papan reklame harus mematikan listrik pada pukul 20.00, misalnya. Semua papan toko juga harus dimatikan listriknya begitu toko tutup.

Jika ini dilaksanakan, tentu ada risikonya. Risiko pertama, PLN akan kehilangan pendapatan. Tapi, demi kepetingan rakyat, pemerintah harus tegas kendati PLN harus kehilangan pendapatan akibat kebijakan pemakaian genset ini.

Risiko kedua, sewa ruangan di mal, di hotel bintang lima, dan di apartemen mewah, menjadi mahal. Harga barang yang dijual di sana pun menjadi mahal. Tetapi, hal ini tidak akan memakan banyak korban, karena orang-orang yang belanja di mal, yang menyewa kamar di hotel bintang lima, yang menyewa apartemen mewah, adalah orang-orang kaya yang tidak peduli pada harga.

Tak ada salahnya, hal ini dilakukan. Pelaksanaannya jangan hanya sebatas anjuran. Agar upaya ini berjalan lancar, perlu kiranya pemerintah memberi keringanan pajak kepada mereka, misalnya.

Pengorbanan semua ini, demi rakyat perumahan dan industri agar tetap mendapat pasokan listrik dari PLN, selama menunggu adanya manajemen energi yang baik. Pemindahan jam kerja industri ke Sabtu-Ahad, bukanlah kebijakan yang tepat.

Cara ini belum bisa mengatasi masalah krisis listrik. Surat keputusan bersama (SKB) tentang pengalihan hari kerja ke Sabtu-Ahad ini hanya menunjukkan kekuasaan pemerintah terhadap rakyat kecil.

Pengalihan kerja ke hari Sabtu-Ahad bisa memunculkan dampak lain. Jika industri terganggu karena keberatan biaya, buntut-buntutnya adalah munculnya trickle down effect berupa pemutusan hubungan kerja bagi pekerja industri. Kalau hal ini terjadi, apa pemerintah bersedia membantu?

Memindahkan jam kerja ke Sabtu-Ahad tentu perlu memperhatikan hak-hak pekerja. Karena, bekerja di Sabtu-Ahad ada ketentuan tersendiri terhadap hak-hak yang harus diberikan kepada pekerja. n

priyantono oemar
jl warung buncit 37
jakarta 12510
0811834021

__._,_.___