Kimia Farma Berikan Fasilitas Khusus Bagi Lansia

Kimia Farma Berikan Fasilitas Khusus Bagi Lansia

Jakarta, Pelita
PT Kimia Farma Apotek (KFA) menyerahkan kartu keanggotaan Apotek KF untuk masyarakat lanjut usia kepada Lembaga Lanjut Usia (LLI), bertepatan dengan puncak perayaan Hari Lanjut Usia Nasional yang dirayakan di Gedung Sate Kantor Gubernur, Bandung, Jawa Barat, Kamis (5/6).
Direktur Utama PT Kimia Farma Apotek, Saleh Rustandi, kerjasama tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat lanjut usia (Lansia).
Selain itu, sebagai tindak lanjut dari penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua lembaga tersebut yang dilakukan pada 17 Mei lalu.
Menurut dia, dengan kartu keanggotaan Apotek KF, nantinya PT KFA akan memberikan potongan harga sebesar 25 persen untuk para Lansia yang akan berobat kepada dokter umum, dokter gigi dan juga dokter spesialis yang praktek swasta di apotek KF.
Tidak hanya itu, KFA juga akan memberikan potongan lima persen untuk harga obat dan 10 persen untuk pembelian alat-alat kesehatan rehabilitasi dan pemeriksaan laboratorium KF, kata Saleh Rustandi.
Lebih lanjut, Saleh mengatakan selain mendapat potongan harga, Lansia juga akan menerima layanan khusus home care service.
Dalam hal ini, pasien Lansia akan menerima layanan berupa penjemputan, baik itu resep, obat yang diantar, pengambilan sample yang dilakukan di rumah pasien dan juga service kunjungan dokter, jelasnya.
Kedepannya, tambah Saleh, PT KFA berkomitmen untuk memperluas layanannya dimana tidak hanya mencakup para Lansia yang hidup Jawa Barat, namun juga melayani seluruh Lansia di Indonesia.
Senada dengan Saleh, Menajer Bisnis KFA Bandung Kasman Marsuan, mengatakan tujuan utama perusahaan menjalin kerjasama dengan LLI lebih kepada rasa peduli ketimbang bisnis semata. Kendati demikian, secara bisnis kerjasama tersebut juga menjanjikan. Mereka kan punya anak dan cucu, kita harapkan mereka juga menjadi pelanggan, katanya.
Sementara, Ketua Umum Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Provinsi Jawa Barat, HR Nuriana, mengucapkan terima kasih kepada PT KFA yang telah memberikan fasilitas dan sekaligus perhatian khusus untuk para Lansia.
Nuriana yang juga Mantan Gubernur Jawa Barat itu pun berharap melalui jalinan kerjasama tersebut tercipta Lansia yang sehat dan sejahtera.
Yang diperlukan oleh Lansia adalah berolah raga secara teratur seperti senam kebugaran. Kendati demikian, sangat mungkin suatu saat anggota LLI sakit sehingga kerjasama dengan PT KFA menjadi sangat penting artinya. Karena penghasilan para Lansia jelas sudah jauh berkurang dibandingkan saat mereka masih aktif dan kuat bekerja, paparnya.(ay)

 
Catatan : Saleh Rustandi PMB 72, Ketua senat PMB tahun 1981

Telaah – 43 Tahun Nuklir Indonesia

25/10/07 12:14

Oleh Adjar Irawan S Hidayat

Jakarta (ANTARA News) – Bulan ini, 43 tahun lalu, bangsa ini mulai berbicara tentang reaktor nuklir, terhitung sejak “criticality- experiment” terhadap reaktor nuklir pertama Triga Mark II di Bandung berhasil dilakukan dengan baik.

Pemimpin percobaan Djali Ahimsa menulis dalam “log-book” tertanggal 16 Oktober 1964 : 18.37,5?, predict 57,5 critical.

Catatan itu menunjukkan bahwa pada jam tersebut sebanyak 57,5 batang elemen bakar nuklir (berisi 2,3 kg U-235) telah dipancingkan ke dalam teras reaktor dan pada kondisi itu reaksi inti yang berkesinambungan tepat sudah bisa terjadi.

Besaran 2,3 kg U-235 disebut bobot-kritis. Kritis di sini tidak ada kaitannya dengan bahaya.

Jauh hari kemudian, kepala proyek pembangunan reaktor Triga, Djali Ahimsa, menjadi Dirjen Batan.

Ketika itu, para pakar yang terlibat bersorak gembira dan lega.

Keesokan harinya, 17 Oktober 1964, koran daerah Harian Karya memberitakan soal kedatangan abad nuklir.

Sedangkan Radio Australia menyiarkan berita keesokan harinya “Indonesia mampu membuat reaktor atom”. Berita ini disusul dengan ulasan dua menit oleh “stringer” AK Jacoby yang menulis : Indonesia masuk abad nuklir.

Bersama 11 unit yang lain, reaktor jenis riset-reaktor ini (tipe Mark I dan Mark II) buatan General Atomic Mark II merupakan hibah dari pemerintah AS, awal 1960-an, kepada ke Vietnam, Korsel, Italia, Austria, Jepang, dan Indonesia seharga 350.000 dolar AS per unit. Kegunaannya untuk pelatihan, riset, produksi radio isotop.

Sekitar 25 tahun kemudian semua reaktor hibah tersebut telah dihentikan operasinya (decommissioning) karena sudah mencapai batas usia operasi, kecuali reaktor milik Indonesia, karena komponen-komponen utamanya telah diganti dengan membongkar reaktor kemudian memasang kembali dengan komponen baru sebanyak dua kali.

Pembongkaran pertama pada 1972 dipimpin Sutaryo Supadi dan pada 1997 dipimpin Haryoto Djoyosudibyo dan A. Hanafiah.

Pengawasan dilakukan oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) atas segala sesuatunya, terutama neraca pemakaian dan keluar masuknya U-235.

Reaktor tipe itu, sebagaimana reaktor-riset lain pada umumnya, tidak mungkin meledak karena elemen-bakar U-235 konsentrasinya hanya 20 persen, sedang untuk bom perlu 98 persen. Jadi elemen-bakar kedua instalasi nuklir itu berbeda.

Lagi pula elemen bakar U-235 disenyawakan dengan “zirconium-hidrida” yang berubah menjadi bukan bahan bakar secara seketika, begitu temperatur terlalu tinggi sebelum meledak (negative prompt reactivity coeffisien).

Reaktor yang bekerja selalu menghasilkan panas dan netron. Panas bisa diubah menjadi energi listrik (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir), sedangkan partikel netron untuk membuat “radioisotope” dengan cara menumbukkan kepada suatu zat kimia biasa menjadi zat radioaktif.

Kini Kepala Pusat Instalasi Nuklir di bawah naungan Batan ini dipimpin oleh Djatmoko M.Sc yang menyatakan sejauh ini tidak ada kecelakaan atau insiden nuklir, kecuali beberapa kali anomali yang sama sekali tidak membahayakan personel, termasuk pada waktu bongkar pasang reaktor dengan penggantian komponen-koponen utama (tangki, reflector, bellow, Lazy Susan, batang kendali, dan elemen-bakar) .

Aplikasi radioisotope

Para pakar telah mempelopori aplikasi “radioisotope” yang dihasilkan untuk penelitian hidrologi, seperti terhadap kebocoran tanggul Waduk Darma Kuningan (1967), penelitian gerakan sedimen Pelabuhan Tanjung Priok (1972), kedokteran nuklir (1970), pertanian (1969), dan industri (1968) dan kini telah mencapai jumlah puluhan proyek lainnya.

Pengiriman zat radioaktif juga pernah dilakukan ke Malaysia (1971) dan Singapura (1972) untuk penelitian. Pengiriman ini mempelopori ekspor zat hasil teknologi tinggi ini (Molybdenum) ke Malaysia sejak 15 tahun lalu, ke Vietnam, Thailand, bahkan Jepang sebagai hasil produksi Reaktor GA Siwabessy di Serpong buatan RFJ (reaktor riset ketiga) oleh PT Batantek (dipimpin oleh almarhum Bustomi dan Mulyanto).

Ratusan mahasiswa telah memanfaatkan reaktor Triga sebagai objek atau subjek tugas akhir. Reaktor telah beroperasi lebih dari seratus ribu jam.

Belasan senyawa “radioisotope” yang dibakukan telah dihasilkan. Satu di antaranya “Iodium-Hipuran” telah dipergunakan untuk diagnosa ginjal (renogram) terhadap ratusan pasien di delapan 8 Klinik Kedokteran Nuklir.

Kepercayaan IAEA kepada pakar Triga dibuktikan dengan belasan kontrak riset yang diberikan, dimulai riset tentang “tritium” atas nama Prof. Oei Ban Liang (1973) dan penyelenggaraan beberapa kali pertemuan ilmiah internasional serta penulisan hasil penelitian diberbagai jurnal fisika, kimia, dan biologi internasional.

Pengalaman mengganti komponen utama reaktor tersebut menjadi pelajaran untuk membangun reaktor nuklir sendiri, baik disain maupun konstruksinya seperti reaktor Kartini (1979) di Yogyakarta yang dipimpin Iyos R. Subki dan Suroto Ronodirjo (alm).

Pengalamam itu juga menjadi pelajaran dalam merencanakan membangun sebuah reaktor khusus hanya untuk produksi “radioisotope” yang semua komponennya merupakan hasil industri dalam negeri (kecuali peralatan kontrol elektronik dan elemen bakar uranium).

Pendidikan khusus pakar ke Inggris telah siap tahun 1994, tetapi tidak dapat dilaksanakan karena tidak ada dana. Studi kelayakan penjualan “radioisotope” melalui agen internasional di Inggris dan Kanada telah rampung dan impas dicapai dalam 6-7 tahun.

Sebagai pemerhati nuklir yang pernah berkecimpung dalam perkembangan tenaga nuklir selama 20 tahun (1960-1980) dan mengamati di sana-sini perkembangannya termasuk kontroversi pembangunan PLTN sampai kini.

Dari pengamatan itu bisa disimpulkan bahwa tanpa niat, keberanian dan tekad bulat, bangsa Indonesia yang masih awam dan minim tenaga ahli reaktor pada waktu menginstalasi reaktor pertama Triga Mark II di Bandung awal tahun 1960-an tidak akan berhasil mencapai sasaran.

Demikian juga jikalau pemerintah dan parlemen, misalnya, memutuskan akan membangun PLTN, maka tekad bulat dan keberanian yang diperhitungkan harus dipegang teguh, bersatu-padu.

“Rawe-rawe rantas, malang-malang putung”.

*) Adjar Irawan S Hidayat, pemerhati nuklir, alumni Fisika ITB tahun 1967, operator angkatan pertama reaktor Triga Mark II tahun 1964, dan Ketua Asosiasi PBB Indonesia (United Nations Association in Indonesia) sejak 1973-sekarang. Dia juga peraih Piagam Pembawa Pesan Perdamaian (Peace Messenger) PBB tahun 1994. (*)

Manajemen Energi yang Amburadul

republika, selasa 12 agustus 2008

Oleh Andi Sahrandi
Konsultan Teknik

Listrik yang dipasok PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sering mati-hidup, karena kurang pasokan batu bara. Padahal kita punya batu bara dan bahan bakar minyak yang banyak. Tapi, ternyata bukan milik Republik, melainkan pengusaha, akibat peraturan yang tidak berpihak kepada rakyat. Krisis listrik diperkirakan akan terus berlanjut akibat PLN kesulitan pasokan batu bara ini.

Kita juga punya minyak dan gas, tapi kita selalu kekurangan, karena juga bukan milik Republik, melainkan pengusaha yang membengkakkan cost recovery, sehingga bagian mereka lebih banyak dari rakyat. Kita tak bisa seperti Venezuela yang memiliki pemerintah yang tegas, yang mengatur energi yang berpihak kepada rakyat.

Kita juga tidak serius menangani biofuel. Yang ada, lembaga-lembaga yang berkompeten soal energi tidak mampu memprogramkan dengan baik. Kita hanya bisa dibohongi oleh “blue energy” saja. (Ingat Cut Zahara Fona yang berhasil membohongi pejabat negara di awal tahun 70-an dengan bayi ajaibnya dan Markonah yang membohongi pejabat negara awal 60-an dengan pengakuannya sebagai ratu Kubu. Ingat pula menteri pertanian yang melaporkan adanya guci yang dapat menyuburkan tanah di pertengahan 70-an. Juga, menteri agama yang menggali situs bersejarah mencari harta karun di awal 2000-an).

Pembuatan-pembuatan pembangkit energi juga tidak terprogram. Pembuatan-pembuatan pembangkit energi sekarang dilakukan lebih karena kepepet atau karena ada pihak-pihak tertentu yang lagi berbisnis. Kita juga tidak serius mencari sumber-sumber energi listrik untuk daerah-daerah dengan cara memakai energi air dan angin yang jauh lebih murah.

Dulu ada rencana membuat Dewan Energi Nasional. Tapi, rencana itu tidak pernah terwujud. Padahal hal tersebut sangat penting. Manajemen energi sangat penting untuk diseriuskan, karena ketergantungan kita sangat besar pada energi. Dewan Energi Nasional dibutuhkan untuk merumuskan kebijakan energi nasional dan mengawasi pelaksanaan kebijakan itu.

Kebutuhan kita pada energi untuk 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun ke depan perlu diprediksi dengan benar. Peningkatan dari pertumbuhan penduduk mengakibatkan juga pertumbuhan kebutuhan energi untuk rumah tangga (listrik, gas, dan lain-lain), kendaraan/transport asi, bisnis, industri, dan lain-lain.

Tiadanya manajemen energi nasional membuat peningkatan kebutuhan energi terus tidak terkontrol. Pada 2007, peningkatan kebutuhan pada minyak mencapai 12 persen dan peningkatan kebutuhan gas mencapai 15 persen untuk minyak.

Karena itu, kita perlu mengkaji sumber-sumber energi yang kita punyai itu. Berapa banyak batu bara kita, minyak kita, gas kita, angin kita, air kita, biofuel kita, panas bumi kita, dan lain-lainnya. Berapa banyak yang tersedia dan berapa lama dapat bertahan?

Dengan mengetahui jumlah deposit sumber energi kita, kita juga perlu membuat rencana penggunaan sumber energi menjadi energi sesuai dengan kebutuhan. Rencana itu perlu disusun secara bertahap sesuai tingkat kebutuhan yang terus bertambah. Berdasarkan hal-hal tersebut, kemudian pemerintah harus segera membuat peraturan-peraturan yang betul-betul harus ”menguntungkan rakyat Indonesia”, seperti yang diamanatkan UUD 1945 Pasal 33.

Peraturan yang tepat itu diperlukan untuk mengatur pola kepemilikan sumber, pola produksi, pola tata niaga, dan lainnya. Dalam hal ini, tentu saja harus ditegaskan secara nyata untuk kepentingan rakyat Indonesia sebagai yang dinomorsatukan.

Baru kemudian untuk kepentingan ”dagang”. Pentahapan lewat rencana ini harus dilakukan (ingat Repelita). Harus dipikirkan pula kepentingan anak-cucu bangsa sendiri, baru untuk orang lain.

Adanya Peraturan Presiden No 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, belum memberikan kabar baik. Karena aturan itu dibuat tanpa perhitungan yang matang.

Melihat upaya yang dilakukan pemerintah sampai hari ini, mana mungkin pada 2025 pemanfaatan minyak bumi hanya 20 persen dari total pemanfataan energi di Indonesia? Mana mungkin pemanfaatan batu bara pada 2025 bisa mencapai 33 persen jika sampai hari ini, pemerintah belum memedulikan kepentingan dalam negeri? (Lihat Tabel)

Tabel Sasaran Pencapaian Energi Mix Pada 2025
———— ——— ——— ——— ——— ——— ——— —
1. Minyak bumi menjadi kurang dari 20 persen.
2. Gas bumi menjadi lebih dari 30 persen.
3. Batubara menjadi lebih dari 33 persen.
4. Bahan bakar nabati (biofuel) menjadi lebih dari lima persen.
5. Panas bumi menjadi lebih dari lima persen.
6. Energi baru dan energi terbarukan lainnya, khususnya biomassa, nuklir, tenaga air, tenaga surya, dan tenaga angin menjadi lebih dari lima persen.
7. Batu bara yang dicairkan (liquefied coal) menjadi lebih dari dua persen.
———— ——— ——— ——— ——— ——— ——— —
Sumber: Pasal 2 Peraturan Presiden No 5 Tahun 2006

Menurut data Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI), Indonesia ternyata menjual lebih dari 75 persen produksi batu baranya ke pasar internasional. Pada 2005-2006, batu bara dari Indonesia mengisi 25 persen kebutuhan pasar internasional.

Indonesia lebih mengedepankan kepentingan dagang daripada kepentingan rakyat Indonesia. Padahal, jumlah cadangan batu bara Indonesia itu hanya 1,3 persen (12 miliar ton) dari total cadangan batu bara dunia.

Mari kita tengok Cina. Negara yang memiliki cadangan batu bara mencapai 114 miliar ton itu lebih dari 95 persen produksinya dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri.

Pemerintah harus segera menunjukkan sikap tegasnya dalam mengelola energi nasional. Segala peraturan yang dibuat harus didasarkan pada rule, bukan pada kepentingan kontraktor atau pengusaha.

Kalau peraturan itu dibuat untuk rule, maka pemerintah tak akan peduli pada pihak mana pun. Kepeduliannya hanya untuk rakyat. n

Berita II
Bisnis dan Konsumtif Silakan Pakai Genset

Tanpa adanya pengelolaan energi yang cerdas akan membuat Indonesia tetap mengalami krisis energi. Listrik akan tetap mati-hidup.

Selesainya pembangkit 10 ribu MW pada 2009 nanti, bukan jaminan pasokan listrik akan aman, jika peraturan tentang energi nasional belum memihak kepada rakyat. Pembangkit PLN bisa tetap kekurangan pasokan batu bara jika pemerintah masih belum berpihak pada rakyat.

Pertumbuhan permintaan listrik terus berlanjut. Lihatlah, pusat perbelanjaan mewah (supermal), apartemen mewah (superblock) , hotel-hotel mewah terus bermunculan. Tempat-tempat baru itu tentu membutuhkan pasokan listrik.

Perlu segera dijalankan peraturan pemanfaatan listrik yang tepat guna. Menurut data PLN, beban puncak di Jawa-Bali saat ini mencapai 17.100 MW dan diperkirakan beban puncak pada 2008 rata-rata 17 ribu MW. Pada Sabtu beban puncak mencapai 16 ribu MW sedangkan pada Ahad beban puncaknya 15 ribu MW.

Di Jakarta saja, misalnya, menurut data PLN, beban puncak pemanfaatan listrik pada siang hari saat ini mencapai 4.540 MW dan malam hari mencapai 4.485 MW. Sebanyak 32 persen dimanfaatkan oleh konsumen sektor bisnis, dengan mayoritas pelanggan pusat perbelanjaan (mal), hotel, dan apartemen.

Sektor industri hanya memanfaatkan 23 persen. Di pusat perbelanjaan ini, 60 persen dipakai untuk AC dan lampu.

Masih menurut data PLN, di Jakarta dan sekitarnya ada saja mal yang menyetel suhu ruangan AC pada suhu 20-22 derajat celcius. Bahkan banyak menyetel AC di bawah suhu 20 derajat celcius. Ada mal yang pemanfaatan listriknya mencapai 6,7 MW per hari, dengan biaya langganan mencapai Rp 1,5 miliar per bulan.

Mal dan hotel di Indonesia menurut PLN menyerap listrik mencapai 16 persen (sekitar 2.700 MW dari 17 ribu MW beban puncak pemanfaatan listrik). Biasanya, pada saat beban puncak, persentasi pemanfaatan oleh sektor bisnis ini melebihi angka 16 persen. Pada 2005, misalnya, mencapai 25 persen. n

Berita III
Selamatkan Perumahan dan Industri

Pengelola pusat perbelanjaan mewah, hotel mewah, apartemen mewah perlu diminta untuk tidak memakai listrik dari PLN. Mereka perlu diwajibkan memakai listrik dari genset mereka.

Mereka mampu membeli bahan bakar untuk genset mereka. Lampu di papan-papan reklame yang bertebaran, termasuk juga di papan toko, hendaknya tidak dinyalakan hingga pagi hari.

Semua papan reklame harus mematikan listrik pada pukul 20.00, misalnya. Semua papan toko juga harus dimatikan listriknya begitu toko tutup.

Jika ini dilaksanakan, tentu ada risikonya. Risiko pertama, PLN akan kehilangan pendapatan. Tapi, demi kepetingan rakyat, pemerintah harus tegas kendati PLN harus kehilangan pendapatan akibat kebijakan pemakaian genset ini.

Risiko kedua, sewa ruangan di mal, di hotel bintang lima, dan di apartemen mewah, menjadi mahal. Harga barang yang dijual di sana pun menjadi mahal. Tetapi, hal ini tidak akan memakan banyak korban, karena orang-orang yang belanja di mal, yang menyewa kamar di hotel bintang lima, yang menyewa apartemen mewah, adalah orang-orang kaya yang tidak peduli pada harga.

Tak ada salahnya, hal ini dilakukan. Pelaksanaannya jangan hanya sebatas anjuran. Agar upaya ini berjalan lancar, perlu kiranya pemerintah memberi keringanan pajak kepada mereka, misalnya.

Pengorbanan semua ini, demi rakyat perumahan dan industri agar tetap mendapat pasokan listrik dari PLN, selama menunggu adanya manajemen energi yang baik. Pemindahan jam kerja industri ke Sabtu-Ahad, bukanlah kebijakan yang tepat.

Cara ini belum bisa mengatasi masalah krisis listrik. Surat keputusan bersama (SKB) tentang pengalihan hari kerja ke Sabtu-Ahad ini hanya menunjukkan kekuasaan pemerintah terhadap rakyat kecil.

Pengalihan kerja ke hari Sabtu-Ahad bisa memunculkan dampak lain. Jika industri terganggu karena keberatan biaya, buntut-buntutnya adalah munculnya trickle down effect berupa pemutusan hubungan kerja bagi pekerja industri. Kalau hal ini terjadi, apa pemerintah bersedia membantu?

Memindahkan jam kerja ke Sabtu-Ahad tentu perlu memperhatikan hak-hak pekerja. Karena, bekerja di Sabtu-Ahad ada ketentuan tersendiri terhadap hak-hak yang harus diberikan kepada pekerja. n

priyantono oemar
jl warung buncit 37
jakarta 12510
0811834021

__._,_.___

Berita-berita lawas PMB

ini ada beberapa berita lama tentang pmb.

1. REPUBLIKA – Senin, 08 September 2003 ‘Neng, Ikut Daftar Sunat Ya’ ”Neng, ni anak sering sakit, ikut daftar disunat ya. Biar nggak sakit-sakitan lagi,” ujar Ibu Yayah dalam bahasa Sunda, kepada Susi Andriana, ketua panitia sunatan massal Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). Ibu Yayah hanyalah pengemis. Sehari-hari, ia mengharap uluran tangan orang-orang yang lewat Jl Braga, Bandung. Malam hari, ia pulang ke rumah gubugnya, di tanah kosong belakang gedung Palaguna, Bandung. Ia jarang pulang ke kampung halamannya, Ciwidey, Kabupaten Bandung, sekitar 25 km dari kota Bandung. Anaknya yang ia daftarkan untuk disunat baru berusia 3,5 tahun. Kakaknya, sebelum disunat, dulu juga sering sakit-sakitan. Begitu disunat, kini tak sakit-sakitan lagi. Sampai Ahad (8/9) kemarin, sudah 40 orang tua yang mengembalikan formulir pendaftaran ke panitia sunat massal PMB, di Jl Merdeka 7 Bandung. Kebanyakan mereka adalah keluarga tak mampu. ”Pekerjaan mereka pengemis, buruh serabutan, dan pemulung. Hanya lima-enam orang yang membuka kios dagang di pinggir jalan,” jelas Susi, ketua panitia. Tak hanya mereka yang tinggal di Bandung yang mendaftarkan anaknya untuk ikut sunat massal ini. Ada yang dari Ciparay, Kabupaten Bandung (sekitar 20 km dari kota Bandung), ada yang dari Cimahi pinggiran (sekitar 15 km dari kota Bandung), ada yang dari Ujungberung (15 km dari Bandung, bahkan ada yang dari Kabupaten Garut. Mereka tahu ada acara sunat massal berdasar informasi dari mulut ke mulut. ”Saya diaksih tahu tetangga saya yang polisi di Polwiltabes, ” ujar seorang bapak dari Ciparay. peserta dari Garut, tahu ada sunat massal di PMB, karena orang tuanya berjualan di Bandung. ”Orang tuanya nanya, ‘kalau tinggal di Garut boleh ikut nggak’. Dibilang boleh, ia langsung mendaftarkan anaknya,” jelas Susi. Usia anak yang akan dikhitan ada yang dua tahun, ada juga yang 11 tahun. ”Karena tak punya uang, hingga usia 11 tahun anaknya belum juga disunat. Begitu mendengar PMB mengadakan sunat massal, orang tuanya segera mendaftar. Bahkan ia pendaftar pertama. Ia mengaku percaya pada PMB, karena jika ada apa-apa setelah disunat, PMB masih memberi pelayanan kesehatan, sampai benar-benar sembuh,” ujar Susi. Acara sunat massal ini akan diadakan Sabtu-Ahad (20-21/9). Hari Sabtu, peserta akan diarak keliling kota. Di acara khitan sebelumnya, peserta khitan diarak keliling kota menggunakan becak dan kuda. Acara khitan sendiri akan dilakukan pada Ahad (21/9) mulai pukul 08.00. Acara ini akan melibatkan 15 dokter dari Dinas Kesehatan Kota Bandung. PMB menunjuk koordinator tim dokter yaitu dr Benyamin dan dr Hadi (keduanya alumni PMB angkatan 1970). ”Istri gubernur Jawa Barat, Ibu Danny Setiawan, sudah menyatakan siap datang di acara. Ia juga telah memberi sumbangan dana,” jelas Susi. Panitia menargetkan peserta sunat mencapai 50 orang, dengan biaya Rp 350 ribu per orang. ”Biaya tersebut untuk pembelian pakaian peserta sunat, biaya obat-obatan, dan uang cecep,” jelas Susi. Sampai kini, panitia masih membuka kesempatan bagi donatur untuk ikut dalam acara ini. Beberapa sponsor telah bergabung, di antaranya, PT Telkom, Diparda, BKKBN, PT Pino, Penerbit Angkasa, Penerbit Rosda Karya, Toko Agni Surya. n pry 2. REPUBLIKA – Selasa, 23 September 2003 Ada yang Histeris Melihat Anunya Dipotong Dua belas anak yang dipanggil itu sudah terbaring di atas meja sunat di dua ruang kelas SDN Merdeka, Bandung. Sebanyak 32 anak lainnya menunggu di ruangan lain. Tim medis dari Dinas Kesehatan Kota Bandung, sudah siap di ruangan sunat. Usia mereka antara tiga tahun dan 10 tahun. Semula, mereka tampak takut, tapi akhirnya toh bersedia berbaring di meja. Ada yang menutup mata, ada yang cuek, dan sebagainya. Yang menutup mata, ada juga yang mencoba-coba mengintip dari balik jari-jari tangan. Melihat ada darah dan ujung penisnya berubah, serta-merta ia menjerit-jerit. Yang lainnya, sudah ada yang menjerit ketika disuntik untuk bius lokal. Sumpah-serapah pun ada yang keluar dari mulut mereka, sumpah-serapah khas anak jalanan dengan meneriakkan kata ‘goblok’, ‘anjing’, ataupun ‘siah’, dengan suara histeris di sela isak tangis. Melihat situasi seperti itu, panitia pun membolehkan para orang tua untuk mendampingi anak-anaknya di ruang sunat. Anak-anak lain yang belum disunat, begitu mendengar teriakan dan tangis dari ruang sunat, pun jadi tambah takut, ketika giliran mereka datang. Sebanyak 45 anak dari 51 pendaftar, Ahad (21/9) lalu, mengikuti sunatan massal yang diadakan Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). ”Enam anak tak hadir. Nggak tahu apa alasannya,” ujar Deny Suryawan, seksi acara panitia sunatan massal. Hari sebelumnya, Sabtu (20/9) anak-anak peserta sunatan massal itu, diarak keliling kota Bandung, menggunakan delapan delman, dengan iring-iringan sepeda motor dan hiburan sisingaan. Betapa bahagianya mereka. Sebelum arak-arakan, mereka sudah berebut untuk bisa naik dua sisingaan yang disediakan. Mereka menghabiskan waktu 1,5 jam untuk bermain dengan sisingaan, sebelum arak-arakan dimulai. Saat mereka bermain dengan sisingaan, orang tua mereka mengikuti briefing yang diadakan panitia. ”Boleh tidak, kami tak ikut arak-arakan. Karena bapaknya harus kerja, dan ibu sedang sakit,” tanya seorang ibu. ”Tapi kalau bisa, bajunya diberikan sekarang, sehingga besok bisa langsung dipakai,” lanjut si ibu tadi, masih dalam bahasa Sunda. Si ibu itu mengira, arak-arakan yang diadakan panitia adalah mutlak wajib harus diikuti. ”Kami hanya menyediakan sarana hiburan. Kalau ada yang tak mau ikut ya nggak apa-apa,” kata Deny. Di hari Ahad, setelah acara penyunatan, kepada para peserta pun masih disediakan hiburan dangdutan. Tapi, juga tak semuanya bisa mengikuti acara hiburan ini. ”Mau duluan, Bapak ada perlu lagi,” ujar seorang bapak asal Cicaheum Bandung, berpamitan kepada panitia. Si bapak itu tak bisa membiarkan waktu berlalu. Mereka memang dari keluarga pas-pasan. Pekerjaan mereka, ada yang buruh serabutan, pedagang kaki lima, pengemis jalanan, tukang parkir, pedagang asongan, pembantu rumah tangga, dan pensiunan. Para pedagang kaki lima yang biasa mangkal di Jl Merdeka di sekitar sekretariat PMB dan SDN Merdeka, pun pada iuran untuk disumbangkan kepada peserta sunat. Dari belasan PKL itu, terkumpul Rp 150 ribu. Para pedagang itu berpesan kepada panitia, uang dari mereka khusus untuk keperluan ‘uang cecep’ (uang yang diberikan kepada peserta sunat). ”Ada juga seorang ibu yang tinggal di Australia, tiba-tiba mampir ke sini, menyumbangkan uangnya untuk kegiatan ini,” ujar Susi Andriana, ketua panitia. n pry 3. REPUBLIKA – Senin, 16 Nopember 1998 Halaman : 2 Mahasiswa: Waspadai Munculnya Junta Militer BANDUNG — Kalangan aktivis mahasiswa mendesak semua pihak menahan diri sehingga tak muncul aksi kerusuhan yang jadi alasan bagi ABRI mengambil alih kendali kekuasaan. Bila sudah demikian, kemungkinan terjadinya junta militer sangat besar. Menurut ketua I Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) Sjafiril Erman mengatakan, adanya aksi kerusuhan, merupakan alasan tepat bagi ABRI untuk mengambil alih peran. ”Karena itu, semua pihak harus menahan diri sehingga tak ada kerusuhan yang bisa dijadikan alasan bagi ABRI untuk bertindak,” ujar Sjafiril, di Bandung, Ahad kemarin. Hal senada, juga disampaikan Presiden Keluarga Mahasiswa ITB Vijaya Fitriasa, yang mengatakan adanya instruksi Presiden kepada ABRI untuk bertindak tegas, membuka kemungkinan terjadinya junta militer, jika Habibie tetap tak berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan. ”Kalau memang dicurigai adanya tindakan makar, Habibie harus mengusutnya. Saya yakin, kalau mahasiswa tak mungkin melakukan tindakan makar,” tegas Vijaya. Sementara itu, Muhammad Alfian dari Gerakan Pemuda Islam (GPI) mengatakan, junta militer sangat mungkin dilakukan oleh pihak ABRI. Tujuannya, tak lain untuk merebut kekuasaan dengan dalih kondisi negara darurat. ”ABRI tidak hanya membiarkan benih-benih kerusuhan, tapi sekaligus memanfaatkan aksi-aski massa. Sehingga, dalam waktu yang sudah diperhitungkan, ABRI mengambil peran utama,” paparnya. Agar kemungkinan junta militer tidak sampai terjadi di Indonesia, Alfian mengajak kepada seluruh mahasiswa untuk kembali pada semangat reformasi, bukan berbelok ke semangat revolusi tanpa kendali. ”Bila semnagat revolusi yang dikobarkan, cenderung untuk tidak terarah dan ABRI akan mengambil alasan untuk melakukan tindakan represif sekaligus mengambil alih kendali pemerintahan karena kondisinya darurat,” ujarnya. Mahasiswa pascasarjana IKIP Jakarta ini juga mengingatkan, keterlibatan pada para jenderal purnawirawan yang berlagak mendukung aksi revolusi mahasiswa. ”Bisa jadi para koboi-koboi (purnawirawan jenderal) tua itu berusaha mempengaruhi sikap murni mahasiswa yang ingin reformasi diarahkan untuk melakukan revolusi dan makar,” katanya. Menurut Ahmad Hadi Hardilani, koordinator lapangan (Korlap) Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ), kecenderungan ABRI untuk berkuasa tampak lewat berbagai rekayasa dengan menyusupkan anggotanya dalam setiap aksi mahasiswa. ”Dari berbagai kasus, yang membuat kerusuhan bukan mahasiswa atau rakyat, tapi aparat yang disusupkan. Kalau sudah terjadi kerusuhan, maka ABRI akan mengambil alih kendali. Bentuknya, bisa jadi seperti junta militer karena negara dianggap darurat. Dari informasi yang kami himpun, terjadinya kerusuhan dan aksi kekerasan, memang sengaja direkayasa oleh ABRI,” ujar Ahmad tadi malam. Sementara itu, menurut Vijaya, gerakan mahasisawa semata adalah gerakan moral, tanpa pretensi apa pun. Bahkan, dalam pandangan Syafiril tindakan mahasiswa mengumpulkan tokoh nasional di rumah Gus Dur, merupakan wujud upaya kompromi nasional, meski sebenarnya tuntutan mahasiswa tetap dalam tataran ideal. ”Karena itu para tokoh nasional yang masih dipercaya mahasiswa, hendaknya melakukan lobby politik kepada pemerintah agar pemerintah melaksanakan tuntutan mahasiswa. Sementara, mahasiswa akan terus melakukan tekanan agar Habibie serius dalam melaksanakan reformasi,” ujar Sjafiril. Empat tokoh yang bertemu di Ciganjur, kata Sjafiril merupakan representasi dari kekuatan grass root, karena itu, Habibie, kata Sjafiril jangan menganggap remeh mereka. ”Yang terpenting sekarang, Habibie harus bisa menunjukkan keseriusan melaksanakan pemilu yang demokratis untuk melahirkan pemerintahan yang legitimate dan dipercaya,” tegas Sjafiril. Jika Habibie tak bisa memenuhinya, kata Vijaya, bukan tidak mungkin, mahasiswa akan menggulingkan Habibie, sebagaimana layaknya yang dilakukan terhadap Soeharto. Maka, jika pilihan ini yang terjadi, kata Vijaya, kemungkinan munculnya junta militer semakin terbuka. ”Kita tak ingin itu. Sebenarnya kesepakatan Ciganjur adalah sebuah upaya untuk mengeliminasi munculnya militer di tampuk kekuasaan,” ujar Vijaya. n pry/esa 4. REPUBLIKA – Senin, 26 Oktober 1998 Halaman : 7 Pentas Peduli Rakyat Aceh– Atmosfir Demokrasi masih Terasa Sesak JAKARTA — Alam reformasi sudah berusia lima bulan. Tapi atmosfir demokrasi masih terasa sesak. Kata basa-basi masih bersliweran, tindak manipulasi masih menjadi aksi. Suasana seperti itu, dipertegas lagi melalui pentas Peduli Rakyat Aceh, di Classic Rock Stage, Jakarta, Selasa pekan lalu. Dalam acara yang diselenggarakan Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) bekerjasama dengan Classic Rock Stage itu dilakukan juga pengumpulan dana untuk para yatim-piatu korban DOM Aceh. Aceh, hanyalah sebuah situs tindak kekerasan. Di tempat lain, banyak pula situs-situs tindak kekerasan yang mewakili zamannya. Maka, peristiwa yang dicatat para seniman yang tampil di acara itu, antara lain Rendra, Harry Roesli, Doel Sumbang, Kelompok Orkes Keroncong Rindu Order, Soni Farid Maulana, Dede Harris, tak melulu soal Aceh. Inti kepedihannya adalah ibu pertiwi yang dibiarkan sedang terluka. ”Ibu-ibu, berapa puluh tahun termangu di atas debu. Apakah yang kau harapkan,” teriak Rendra dalam puisinya Ibu di Atas Debu. Rendra secara tegas mempertanyakan hilangnya kekuatan hukum dan daulat rakyat. ”Ibu-ibu, di mana rumahmu, di mana rumah hukum, di mana rumah daulat rakyat, di mana gardu jaga tentara yang melindungi yang akan tergusur.” Teater Laskar Panggung dan Teater Payung Hitam, keduanya dari Bandung, mengapresisasi peristiwa secara pas. Melalui performing art mereka, dalam sesi yang berbeda tergambar sesaknya suasana batin. Sumber-sumber kebenaran terasa betul tersumbat dan susah keluar, meski sudah lima bulan reformasi. Seorang pemain, dengan cakap meluncurkan kalimat-kalimat yang saling berlawanan, terbolak-balik, begitu tangkas, setangkas para politisi-selebriti. Dan Harry Roesli pun, kemudian mengungkapkan rasa sakit hatinya. Dengan menenteng gitar dan hand phone yang sering berdering (sehingga ia berhenti sejenak bernyanyi di panggung), Harry tampil banyak menghujat keluarga Cendana. Syair-sayir lagu Harry sangat sederhana, tapi cenderung sarkastis. Tiwi Shakuhaci, juga menampilkan kepedihan suasana. Demikian juga penyair Soni Farid Maulana. Maka, Doel Sumbang pun kehabisan bahan, dan lebih memilih menyanyikan lagu-lagu cinta. Cinta, sebuah kesadaran, yang diperlukan kapan pun. ”Cinta itu anugerah maka berbahagialah. …. Cobaan pasti datang menghujam. Harapan pasti datang menjelang… ..” Kembali, puisi Rendra terngiang. ”Ketika udara bising oleh basa-basi nyanyian kemerdekaan, bendera-bendera dikibarkan asal rame, dan para birokrat berpidato tanpa didengarkan orang…. Apakah artinya upacara untuk kata-kata kosong? Di manakah ujung dari muslihat-muslihat yang disadari? Aku mendengar deru derap langkah-langkah berjalan. Langkah-langkah siapa? Dari mana datangnya?” teriak Renda membacakan puisinya Ketika Udara Bising, yang pernah ia bacakan saat apel mahasiswa di kampus UI, pada 28 Oktober 1980. n pry 5. REPUBLIKA – Sabtu, 26 September 1998 Halaman : 7 Warga Duduki Hutan di Bandung Selatan BANDUNG — Kesulitan ekonomi kian membelit masyarakat pedesaan di pinggiran Bandung. Untuk membebaskan diri dari ancaman kelaparan, masyarakat desa di wilayah Bandung Selatan belakangan ini mulai masuk hutan. Mereka memanfaatkan lahan hutan milik Perhutani dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII, untuk bercocok tanam. Camat Ciwidey, Kabupaten Bandung H. Yoyo Hudaya mengakui sekitar 2.000 hektare lahan hutan di daerahnya kini diduduki masyarakat setempat. ”Masyarakat kami, memang sudah banyak yang mengalami rawan daya beli, sehingga mereka memanfaatkan hutan untuk kepentingan mereka,” ujar Yoyo, di sela acara pembukaan diklat pionir tani santri, di Pondok Pesantren Al-Ittifaq, Ciwidey, Kabupaten Bandung, kemarin (25/6). Tapi, kata Yoyo, masyarakatnya hanya menggarap lahan hutan yang kosong. ”Mereka tidak melakukan perusakan hutan,” ujar Yoyo. Semula, kata Danramil Ciwidey Lettu Inf Kosasih, penguasaan hutan oleh penduduk setempat itu sempat dihalau aparat. Tapi pelarangan itu, menurut Kosasih justru mendorong masyarakat menjadi beringas. Karenanya, pihak aparat kemudian mengizinkan mereka memanfaatkan hutan tersebut. Hanya saja masyarakat diberi rambu-rambu agar tidak merusak tanaman hutan dan sumber air. Menurut Kosasih, penguasaan hutan oleh masyarakat itu, sudah dilakukan sejak tiga bulan lalu. ”Masyarakat yang terlibat untuk menggarap lahan 2.000 hektar itu mencapai sekitar 4.200 kepala keluarga,” ungkap Kosasih. Mereka menanami lahan dengan sayur-sayuran, seperti kol, kentang, buncis. Bahkan mereka juga melakukan penyemaian tanaman pinus. Lahan hutan yang dimanfaatkan itu, tak hanya milik Perhutani, melainkan juga milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII. Sjafiril Erman, dari Tim Advokasi Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) mengungkapkan, di wilayah Kecamatan Pangalengan, banyak penduduk yang mulai mematok lahan milik PTPN VIII. ”Saat ini, kami tengah membantu masyarakat menyewa lahan PT Perkebunan. PT Perkebunan sudah menyanggupi untuk menyewakan sekitar 52 hektare lahan selama sembilan bulan, dan kini tinggal menunggu penandatanganan MoU,” jelas Sjafiril. Corporate Secretary PTPN VIII Kuswandi menyatakan pihaknya akan dengan suka cita menyewakan lahan kosong milik PTPN untuk dimanfaatkan penduduk setempat. Kepada Pesantren Al-Ittifaq pun PTPN VIII telah menyediakan 20 hektare lahannya untuk dimanfaatkan. ”Pesantren Al-Ittifaq merupakan salah satu pesantren binaan PTPN VIII untuk pengelolaan agribisnis,’ ‘ ujar Kuswandi. Bekerjasama dengan Klinik Konsultasi Agribisnis yang dipimpin Eliyas (anggota Komisi III DPR RI) PTPN VIII sendiri telah mempunyai 29 pesantren binaan di bidang agribisnis di Jabar, yang melibatkan sekitar 6.000 santri. ”Kami telah berhasil memasarkan produksi kami ke pasar swalayan Hero dan Merlin,” ujar KH Fuad Effendi, pimpinan Pesantren Al-Ittifaq. n pry 6. REPUBLIKA – Kamis, 03 September 1998 Halaman : 5 Aceh yang Menyayat pada Puisi Soni Ada amis darah dan hujan turun di Aceh Desing peluru dan mayat tak berdaya Lubang kuburan terbuka, ada 12 tengkorak di sana. ”Adakah itu di antaranya tengkorak anakku,” kata si Ibu Tua. Dengan suara lirih Soni membacakan sajak berjudul Hujan Turun di Aceh itu di depan sekitar 300 mahasiswa, di halaman Sekretariat Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). Mereka memang sedang menggelar pentas keprihatinan untuk para korban pelanggaran HAM di Aceh selama menjadi DOM. Spanduk besar warna hitam membentang, dan di beberapa sudut Jl Merdeka dipasang spanduk hitam kecil, Jangan Ada lagi Pembantian. Para pengamen jalanan, Orkes Keroncong Rindu Order, pemusik Dede Haris, penyanyi Tiwi Shakuhaci, ikut memeriahkan pentas tersebut, Sabtu lalu. Maka, selepas Soni membaca puisi, Amiruddin tampil terbata-bata di panggung, menceritakan pengalamannya. Lelaki kelahiran Aceh Timur ini semasa kecil menyaksikan bagaimana pembunuhan terjadi di lingkungannya. ”Setiap hari, saya melihat ada mayat dibuang di pinggir masjid, dan tak tahu mayat siapa itu. Ada yang tanpa kepala,” tuturnya. Amiruddin, dan juga mahasiswa yang hadir di hajat Pentas Seni Solidaritas untuk Aceh itu, tak bisa menahan air mata. ”Waktu itu, orang tua saya ditangkap, dan esok harinya diberitahu agar keluarga mengambil mayat orang tua saya itu,” kata Amiruddin, masih terbata-bata. Amiruddin, yang saat itu masih kelas lima SD, mengaku masgul. Pertanyaannya tentang alasan penangkapan tak pernah mendapat jawaban. Setiap ia bertanya, selalu dijawab, ”kamu masih kecil. Diam saja, dan jika warga memperbincangkan masalah penangkapan, kemudian, ganti ia yang ditangkap,” tutur pria yang hanya lulus SD itu. Maka, untuk menghibur hati, selepas SD pun, Amiruddin keluar masuk pesantren, dan pada 1997, sepeninggal kakeknya yang menjadi kepala desa, ia merantau ke Bandung. ”Pada waktu orang tua saya dibantai, kakek saya yang menjadi kepala desa pergi dari desa. Karena itulah selamat,” katanya. Maka, kolomnis dan koreografer muda Bandung, Miranda Risang Ayu pun membawakan Doa Malam-nya: ”Tolong aku untuk menyatakan kepada anak-anak ini, bahwa senapan itu bukan untuk melukai orang. Tetapi, senapan itu adalah kesetiaan dan kesucian sayap-sayap merpati. Bersama-Mu Tuhanku, aku ingin terbang ke tanah harapan, tempat parang-parang digantungkan, dan cukuplah kasih-sayang, sebagai alasan kehidupan dan kematian.” Namun, menurut Soni, kekerasan tidak hanya terjadi di Aceh. ”Hujan tidak hanya turun di Aceh, tetapi menderas juga di Haur Koneng, Sampang, Jakarta, dan kota-kota tak terduga, tak tercatat dalam peta. Hujan turun di Aceh, juga amis darah.” Linangan air mata itu tetap tak bisa dibendung. ”Ketika diminta untuk berdoa, saya tak bisa apa-apa. Mendengar cerita Amiruddin, saya benar-benar merasakan, bahwa keberuntungan saya selama hidup bersama orang tua di Bandung ternyata di atas penderitaan rekan-rekan kita yang dirampas kemerdekaannya. Saya menangis karena itu,” tutur Lilis S, mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Berbegai peristiwa yang merenggut hak-hak manusia memang telah lewat begitu saja. Selama orde baru berkuasa, berbagai upaya tak pernah mencuat dengan segera. Dan, sayup-sayup suara penyair Taufiq Ismail yang malam itu membaca puisi di sebuah gedung, sekitar 100 meter dari Sekretariat PMB terus mengiang: ”Mengeritik itu tidak boleh asal tidak membangun/membangun itu tidak asal, mengeritik itu boleh tidak/membangun mengeritik itu boleh asal/ mengeritik membangun itu asal boleh/mengeritik itu membangun/ membangun itu mengeritik/asal boleh mengeritik/boleh itu asal/asal boleh membangun/asal itu boleh/asal boleh itu mengeritik boleh asal/itu boleh asal membangun asal boleh/boleh itu asal/asal itu boleh/boleh boleh/asal asal/itu itu/itu.” n pry 7. REPUBLIKA – Senin, 03 Agustus 1998 Halaman : 7 Franky Sahilatua, Harry Roesli,Doel Sumbang Ngamen untuk Sembako Franky Sahilatua tiba-tiba terlihat mengamen di jalanan, di Bandung, Sabtu malam (1/8). Ia tak sendirian. Bersamanya, ada Harry Roesli, Doel Soembang, kelompok mahasiswa UNPAD yang tergabung dalam Orkes Keroncong Rindu Order. Mereka membaur bersama pengamen jalanan, yang pernah belajar musik di Rumah Musik Harry Roesli. Ada pula anak-anak Teater Bel, dan anak-anak Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB). Lagu Bus Kota, Perahu Retak kerap muncul dari mulut Franky di setiap kafe yang menjadi sasaran mereka. Lagu-lagu Sunda pun melantun. Para pengunjung kafe yang kebanyakan remaja itu pun ikut bertepuk, goyang kepala atau sekadar diam, menikmati suara-suara emas para penyanyi kondang itu. ”Saya nggak menyangka, tiba-tiba ada penyanyi-penyanyi top ngamen di depan saya,” ujar Rita (18), yang mengaku masih di SMU dan tinggal di bilangan Cipaganti. Mereka tak hanya bernyanyi di hadapan pengunjung kafe-kafe yang kebanyakan dikelola para mahasiswa itu. Ketika bertemu shelter bus kota, mereka pun menggelar aksi di sana. Bertemu dengan halaman kantor yang kosong, mereka pun berdendang di sana. Beberapa personil yang membawa kotak, aktif menyodorkan kotak kepada setiap pengemudi yang lewat sepanjang Jl Juanda itu, atau kepada pengunjung kafe jalanan. Fenomena sosial telah muncul. Ketika krisis ekonomi melanda, banyak yang menanggung beban. Para mahasiswa di Bandung pun mencoba usaha sampingan, membuka kafe di pinggir jalan, ketika kiriman uang dari ortu kian menipis. Pedagang kaki lima dadakan ini pun bebas mangkal di sepanjang pinggiran jalan protokol, tanpa ada larangan dari Pemda, sebagaimana halnya yang menimpa rakyat kecil yang mengadu nasib sebagai pedagang kaki lima, sebelum terjadi krisis dulu. Memang, banyak cara menyikapi krisis ekonomi. Jika para artis di Jakarta harus membuka kafe di pinggir-pinggir jalan, maka artis Bandung tak perlu malu mengamen di kafe-kafe jalanan. Jika para artis di Jakarta mengeluarkan modal puluhan juta, maka artis di Bandung cukup bermodalkan suara. Jika artis di Bandung mengamen untuk mengumpulkan dana sembako bagi rakyat yang sudah kelaparan, maka alangkah baiknya jika artis di Jakarta juga berbuat hal yang sama. Munculnya kafe-kafe dadakan di pinggir jalan itu, memang satu indikasi beratnya himpitan hidup yang harus diatasi melalui upaya survival. Tapi yang namanya, krisis ekonomi, tampaknya tak terasa, jika melihat padatnya arus kendaraan setiap malam minggu di sepanjang Jl Juanda. Agaknya masih banyak yang menikmati mimpi indah di kondisi saat ini. Menurut Harry Roesli, itu terjadi karena informasi tentang krisis ekonomi tidak merata. ”Jika menyaksikan itu, kita nggak percaya kalau ada krisis di tanah air. Tapi kalau mendengarkan penuturan dari rakyat kecil, kita mengetahui betapa besarnya pengaruh krisis ekonomi yang mereka derita,” ujar Harry. Maka, Harry, Franky, dan Doel Sumbang tak perlu malu mengamen untuk pengadaan sembako. Hasilnya, mereka mengumpulkan Rp 818 ribu, yang akan disumbangkan kepada mereka yang kelaparan. Untuk mencari korban-korban krisis ekonomi, tak perlu jauh-jauh pergi ke pelosok desa. Di seputar Bandung pun, banyak korban berjatuhan. Surat-surat yang masuk ke Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) melalui sebuah lomba menulis surat kepada BJ Habibie, menggambarkan pedihnya derita rakyat. Dalam agenda survival mereka, banyak hal yang harus dikorban. Pertama mungkin hanya kain atau pakaian yang harus dijual dengan harga murah, kemudian perabotan rumah tangga (kalau ada). ”…Sehingga dengan sangat terpaksa, seorang anak berhenti dari sekolah, untuk memperingan beban hidup saya,” tulis Mamat, tukang becak asal Majalaya, yang mangkal di depan Toko Yogya, Bandung. Tak heran jika Franky pun mengaku tak rugi menghabiskan waktunya di Bandung untuk mengamen. ”Seumur hidup, baru kali ini saya mengamen. Ini hanya sebuah gerakan moral yang harus dilakukan untuk menggugah mereka yang berkecukupan, untuk membantu mereka yang menderita akibat krisis ekonomi ini,” ujar Franky. n pry 8. REPUBLIKA – Minggu, 05 Juli 1998 Halaman : 4 Bila Tukang Beca Mengeluhkan Nasibnya kepada Presiden Ahad (14/6), wajah Tatang Herisman lumayan berseri. Di tangannya ada sebuah kupon untuk mengambil 2,5 liter beras dan selembar surat tanpa amplop untuk Presiden Habibie. Ia pun menggenjot becanya ke plaza Monumen Perjuangan Rakyat Jabar, Bandung untuk mengambil beras dan mengantarkan surat. Siapa tahu dapat juara? Tatang adalah salah satu dari 193 peserta yang ‘mengadu’ nasib ikut lomba membuat surat buat Presiden Habibie yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). Tulisan pria lulusan SD ini lumayan rapi, meski bahasanya campur aduk, Sunda dan Indonesia. Setiba di tempat yang dituju, Tatang menyerahkan surat tersebut ke panitia dan memperoleh beras. Setelah itu Tatang larut dalam kegembiraan bersama 110 tukang beca lain di arena adu ketangkasan mengemudi beca yang diadakan PMB, meski Tatang tak dapat juara. ”Saya rela tak cari penumpang,” ujar Tatang. Sepekan kemudian, Ahad, (21/6) Tatang dan dua orang lain, justru jadi ‘bintang’. Nama Tatang tercantum sebagai salah satu dari tiga penulis surat yang mendapat penghargaan dari panitia. Ia berhak memperoleh hadiah panci dan kompor. ”Panci dan kompornya saya gunakan untuk kenduri pernikahan anak saya,” tutur ayah empat anak ini kepada Republika, di rumah bambunya yang sederhana, di Namicalung, Desa Bojong, Kec. Majalaya, Kab. Bandung. Dalam suratnya, mantan sopir pribadi ini menuturkan dengan lancar perjalanan hidupnya sebagai tukang beca yang dijalaninya sejak tahun 80-an. Katanya, ”Susah memperoleh pendapatan sekarang. Apalagi saya harus menanggung empat anak. Waktu mau kenaikan kelas, anak saya yang duduk di bangku kelas III, dua hari sebelum naik kelas minggat dari rumah sampai repot mencari ke sana ke mari. Rupanya dia kabur gara-gara dimarahi guru, lantaran belum melunasi BP3. Anak bilang, bapa guru marah, takkan dinaikkan kelas. Bahkan, buku lapornya pun (maksudnya rapor – red) akan ditahan. Ahirnya anak saya takut lagih masuk sekolah dikarnakan belum lunas BP3…” Kesulitan hidup seperti itu membuat Tatang ‘menyesal’ memilih hidup jadi tukang beca. ”Dulu saya senang jadi tukang beca karena hasilnya lumayan. Bisa dapat Rp 25 ribu sehari. Bisa istirahat dan jam kerjanya bebas,” tutur Abang Beca yang mangkal di Alun-Alun Bandung ini. ”Tapi sekarang sulii…t sekali cari penumpang. Orang banyak yang gengsi naik becak.” Keadaaan itulah yang membuat Tatang, tak malu-malu menuturkan pertengkaran dengan istrinya dalam surat untuk Presiden. Ia juga bercerita tentang bagaimana ia harus sering menghibur anak-anaknya yang merajuk karena tak diberi uang jajan. ”Yang tadinya diberi jajan Rp 500 untuk yang di SMP, dan Rp 200 yang masih di SD, kini tak ada uang jajan lagi,” ujar Tatang. Di rumahnya, Tatang kini tengah sibuk dan bingung. Sibuk karena ia hendak menikahkan anaknya. ”Bingung karena saya harus cari pinjaman ke sana ke mari untuk kenduri kecil. Biaya nikahnya sih cuma Rp 170 ribu,” paparnya. Dibukukan Ada 163 surat yang masuk ke meja panitia Perhimpunan Mahasiswa Bandung dari 650 kertas polio yang disebarkan. Penulisnya berbeda-beda latar belakang; pemulung, pedagang kecil, tukang beca, dan tukang sapu. ”Banyak juga yang tak bisa dibaca,” kata Sjafiril Erman, Ketua I PMB. Lomba yang sengaja disediakan untuk kalangan terbatas ini, kata Sjafiril, diumumkan langsung ke orang-orang ‘terpilih’ yang berhak menerima pembagian beras sebesar 2,5 kg. Panitia membagi kupon sekaligus selembar kertas. ”Kami minta mereka menuliskan keluhannya tentang krisis ini kepada Presiden. Isinya tentang apa saja. Kami minta mereka membawa suratnya saat pembagian beras,” kata Sjafiril. Menurut Sjafiril, lomba tersebut sengaja diadakan untuk mengetahui kehidupan dan perasaan mereka menghadapi krisis. ”Selama ini mereka adalah masyarakat yang terpinggirkan. Lewat lomba ini diharapkan mereka berani mengungkapkan pikiran mereka. Targetnya memberi pendidikan agar mereka berani mengemukakan pendapat. Soal logika berpikir tak kita nilai,” papar Sjafiril yang berencana akan membukukan surat-surat tersebut. Dari surat-surat yang masuk, menurut Sjafiril, panitia memperoleh kesimpulan bahwa mereka adalah orang sederhana dalam arti sesungguhnya. Sederhana dalam menghadapi hidup, berpikir, dan menyikapi hidup. ”Perjuangan mahasiswa untuk apa mereka juga tak tahu. Mereka tahunya susah. Muara persoalan itu bagi mereka bukan masalah politik, tapi susah cari duit. Mengapa sulit cari duit, mereka tidak tahu…” n pry Keluarga Tukang Beca Keracunan Singkong Pasangan Eti Nurhayati dan Omo nyaris saja kehilangan empat anaknya gara-gara keracunan singkong rebus. ”Kejadian itu membuat saya takut menyebut nama singkong,” tutur Eti, tentang peristiwa 15 Juni, yang juga membuatnya tak berani lagi makan singkong. Singkong adalah makan alternatif termudah dan termurah, di saat krisis, bagi keluarga penarik beca tersebut. Di rumahnya, di Kampung Riuangkuntul, Kel Tuguraja, Kec Cihideung, Kotif Tasikmalaya, Eti mengolah singkong yang dibeli suaminya itu tanpa rasa curiga. Ia bahkan bersyukur masih bisa membeli singkong. Namun betapa kagetnya ia, ketika keempat anaknya, Ai Siti Karmilah (7), Dede Sri Nuryani (5), Jejen Zanudin (3) dan Sendi Suhendi (2) muntah-muntah seusai makan singkong rebus. ”Saya bersyukur bisa terhindar dari musibah yang lebih buruk lagi. Keempat anak saya akhirnya bisa tertolong,” tutur Eti. Krisis moneter menghantam telak penghasilan keluarga yang biasanya berpenghasilan Rp 7.000 per hari tersebut. Tapi ketika krisis melambungkan harga sembako, uang Rp 7.000 itu tak ada apa-apanya. Untuk membeli beras 2,5 kilogram saja, Eti harus mengeluarkan uang Rp 6.000. ”Sementara penghasilan saya tak bertambah, malah kurang. Orang memilih jalan kaki daripada naik becak,” kata Omo. Keadaan tersebut membuat Eti dan Omo mengatur menu makanan seirit mungkin. ”Biar saya yang lapar tapi anak-anak tetap kenyang,” tutur Omo. ”Uang yang kami miliki memang tak cukup lagi untuk membeli nasi lengkap, makanya kami selingi dengan singkong.” Cara tersebut sangat membantu mengurangi biaya hidup keluarga tersebut. Dan siang hari itu, setelah memperoleh penghasilan dari menarik beca, Omo membeli 1,5 kg beras dan 2 kg singkong dari seorang pedagang keliling. Singkong yang ternyata beracun itu menjadi menu makan siang anak-anaknya. ”Saya tak sempat makan singkong karena kembali nar! ik beca,” tutur Omo. Sementara Eti mengaku singkong itu memang terasa pahit. ”Tapi karena hanya itu makanan yang ada, ya dimakan juga. Satu jam setelah makan singkong perut saya melilit. Hal yang sama juga dirasakan oleh keempat anak saya,” papar Eti. Keempat anak Eti kondisinya lebih parah. Bahkan, anak tertuanya muntah darah. Keempatnya kemudiam tak sadarkan diri. Melihat kejadian itu, Eti mencari pertolongan. Ia mendatangi Jejen Mahfud, Ketua RT 04 yang dikenal dermawan oleh warganya. Mendapat laporan itu, Jejen mendatangi rumah Eti. ”Saya mendapatkan keempatnya sudah tak bergerak. Saya memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit,” kata Jejen mantan pedagang tempe, yang kini tak lagi berjualan karena harga kedelai yang melambung tinggi. Keempat bocah itu, kemudian mendapat perawatan tim medis RSU Tasikmalaya. Sehari semalam, mereka dirawat intensif di rumah sakit. Setelah dinyatakan sembuh, keempatnya kemudian dibawa pulang ke rumah. Namun Omo kesulitan membayar uang perawatan Rp 380.000. Bagi Omo jangankan sebesar itu, untuk membeli 2,5 kilogram beras saja ia tak memilikinya. Untungnya Omo memiliki ketua RT yang dermawan dan tetangga yang peduli. Dari hasil swadaya masyarakat terkumpul uang Rp 140.000, tapi belum! cukup untuk membayar ongkos perawatan. Musibah yang menyebar itu akhirnya sampai di telinga Walikotatif Tasikmalaya Drs H Eddy Hardhiana. Dialah yang kemudian membantu biaya perawatan rumah sakit keluarga Omo. ”Kami bersyukur ternyata masih banyak orang yang peduli pada nasib kami,” tutur Eti. Ia lebih bersyukur lagi karena kedua anak lelakinya juga disunat gratis. n pry priyantono oemar jl warung buncit 37 jakarta 12510 0811834021

Uangnya Dilarikan Kemana?

Uangnya Dilarikan Kemana?
 
Dengan melonjaknya harga minyak mentah di pasaran dunia sampai di atas US$ 100 per barrel, DPR dan Pemerintah menyepakati mengubah pos subsidi BBM dengan jumlah Rp. 153 trilyun. Artinya Pemerintah sudah mendapat persetujuan DPR mengeluarkan uang tunai sebesar Rp. 153 trilyun tersebut untuk dipakai sebagai subsidi dari kerugian Pertamina qq. Pemerintah. Jadi akan ada uang yang dikeluarkan?
 
Saya sudah sangat bosan mengemukakan pendapat saya bahwa kata “subsidi BBM” itu tidak sama dengan adanya uang tunai yang dikeluarkan. Maka kalau DPR memperbolehkan Pemerintah mengeluarkan uang sampai jumlah yang begitu besarnya, uangnya dilarikan ke mana?
 
Dengan asumsi-asumsi untuk mendapat pengertian yang jelas, atas dasar asumsi-asumsi, pengertian subsidi adalah sebagai berikut.
 
Harga minyak mentah US$ 100 per barrel.
Karena 1 barrel = 159 liter, maka harga minyak mentah per liter US$ 100 : 159 = US$ 0,63.
Kalau kita ambil US$ 1 = Rp. 10.000, harga minyak mentah menjadi Rp. 6.300 per liter.
 
Untuk memproses minyak mentah sampai menjadi bensin premium kita anggap dibutuhkan biaya sebesar US$ 10 per barrel atau Rp. 630 per liter.
Kalau ini ditambahkan, harga pokok bensin premium per liternya sama dengan Rp. 6.300 + Rp. 630 = Rp. 6.930. Dijualnya dengan harga Rp. 4.500. Maka rugi Rp. 2.430 per liternya. Jadi perlu subsidi.
 
Alur pikir ini benar. Yang tidak benar ialah bahwa minyak mentah yang ada di bawah perut bumi Indonesia yang miliknya bangsa Indonesia dianggap harus dibeli dengan harga di pasaran dunia yang US$ 100 per barrel. Padahal tidak. Buat minyak mentah yang ada di dalam perut bumi Indonesia, Pemerintah dan Pertamina kan tidak perlu membelinya?
 
Memang ada yang menjadi milik perusahaan minyak asing dalam rangka kontrak bagi hasil. Tetapi buat yang menjadi hak bangsa Indonesia, minyak mentah itu tidak perlu dibayar. Tidak perlu ada uang tunai yang harus dikeluarkan. Sebaliknya, Pemerintah kelebihan uang tunai.
 
Memang konsumsi lebih besar dari produksi sehingga kekurangannya harus diimpor dengan harga di pasar internasional yang mahal, yang dalam tulisan ini dianggap saja US$ 100 per barrel.
 
Data yang selengkapnya dan sebenarnya sangat sulit atau bahkan tidak mungkin diperoleh. Maka sekedar untuk mempertanyakan apakah memang ada uang yang harus dikeluarkan untuk subsidi atau tidak, saya membuat perhitungan seperti Tabel terlampir.
 
Nah kalau perhitungan ini benar, ke mana kelebihan yang Rp. 35 trilyun ini, dan ke mana uang yang masih akan dikeluarkan untuk apa yang dinamakan subsidi sebesar Rp. 153 trilyun itu?
 
Seperti terlihat dalam Tabel perhitungan, uangnya yang keluar tidak ada. Sebaliknya, yang ada kelebihan uang sebesar Rp. 35,31 trilyun.
 
 
*PERHITUNGAN ARUS KELUAR MASUKNYA UANG TUNAI
TENTANG BBM (Harga minyak mentah 100 doll. AS)
*
DATA DAN ASUMSI
 
Produksi : 1 juta barrel per hari
 
70 % dari produksi menjadi BBM hak bangsa Indonesia
Konsumsi 60 juta kiloliter per tahun
Biaya lifting, pengilangan dan pengangkutan US $ 10 per barrel
1 US $ = Rp. 10.000
Harga Minyak Mentah di pasar internasional Rp. US $ 100 per barrel
1 barrel = 159 liter
Dasar perhitungan: Bensin Premium dengan harga jual Rp. 4.500 per liter
 
PERHITUNGAN
 
– Produksi dalam liter per tahun : 70 % x (1,000.000 x 159 ) x 365 = 40,624,500,000
– Konsumsi dalam liter per tahun 60,000,000,000
Kekurangan yang harus diimpor dalam liter per tahun 19,375,500,000
– Rupiah yang harus dikeluarkan untuk impor ini
(19,375,500, 000 : 159) x 100 x 10.000 = 121,900,000, 000,000
– Kelebihan uang dalam rupiah dari produksi dalam negeri
40,624,500,000 x Rp. 3.870 = 157,216,815, 000,000
– Walaupun harus impor dengan harga US$ 100 per barrel
Pemerintah masih kelebihan uang tunai sebesar 35,316,815,000, 000
 
Perhitungan kelebihan penerimaan uang untuk setia liter bensin premium yang dijual,
 
Harga Bensin Premium per liter (dalam rupiah) 4,500
Biaya lifting, pengilangan dan transportasi
US $ 10 per barrel atau per liter:
(10 x 10.000) : 159 = Rp. 630 (dibulatkan) 630
Kelebihan uang per liter Rp. 3,870
 
Oleh Kwik Kian Gie
 
Untuk melengkapinya, dibawah ini kutipan tulisan dari Nizami:
 
Berikut adalah file presentasi “Tidak Ada Subsidi BBM!” yang berisi berbagai informasi keliru tentang BBM.
 
Sebagai contoh orang mengira Pemerintah menanggung rugi hingga Rp 123 trilyun per tahun jika harga BBM tidak naik. Padahal kenyataannya pemerintah dengan harga minyak Internasional mencapai US$ 125/barrel tetap untung Rp 165 trilyun per tahun jika manajemennya benar karena impor sebenarnya kurang dari 20% kebutuhan minyak kita. Sisanya bisa ditutupi dengan produksi dalam negeri.
 
Kemudian Pemerintah selalu menganggap rakyat Indonesia boros BBM. Berbagai iklan di televisi selalu menyuruh rakyat hemat. Kenyatannya pemakaian BBM di Indonesia menempati urutan 116 di bawah negara Afrika seperti Namibia dan Botswana.
 
Pemerintah sering mengatakan bahwa bensin kita paling murah. Kenyataannya di Venezuela bensin hanya Rp 460/liter dan harga Pertamax kita yang Rp 8.700/liter lebih mahal daripada harga bensin di AS (importir minyak terbesar) yang hanya Rp 8.464/liter. Padahal penghasilan rakyat AS sekitar US$ 37 ribu per tahun sementara Indonesia cuma US$ 810/tahun.
 
Bagi yang ingin download filenya silahkan klik:
 
http://www.mediafir e.com/?bdwgc1mxj cy
 
Untuk Tabel Simulasi Harga Minyak, anda bisa download di:
 
http://www.mediafir e.com/?hdsdk4da0 nw
 
Di situ anda akan paham bahwa seandainya harga minyak Internasional naik sampai US$ 200/barrel pun Indonesia tetap untung karena impor kurang dari 20% konsumsi BBM kita sementara untuk BBM produksi dalam negeri Indonesia untung lebih dari US$ 62/barrel.
 
Semoga file tersebut bermanfaat bagi bangsa Indonesia

Laissez-Faire Pak SBY, Laissez-Faire

 

LAISSEZ FAIRE SBY, LAISSEZ FRAIRE
 
 
Saya heran melihat perdebatan antara pro-anti subsidi. Kwik Kian Gie menyodorkan fakta, data, dan hitung-hitungan meyakinkan tentang tak perlunya penaikan BBM, tapi pemerintah ngotot menyatakan BBM wajib dinaikkan demi kemaslahatan bangsa. Kata pemerintah, subsidi BBM malah dinikmati orang mampu, untuk itu dicabut. Tapi Kwik bilang, sejak lama pemerintah tak lagi mensubsidi, jadi sekarang ini bukannya mencabut subsidi, tapi benar-benar menaikkan harga [tulisan Kwik soal ini, silahkan browsing, sudah diupload di mana-mana].

Yang saya bingung, jadi ada apa ini sebenarnya? Kenapa pemerintah ngotot menaikkan BBM? Siapa yang untung dengan kenaikan BBM? Kalau benar AS ada di balik semua ini, kok katanya rakyat AS juga dirugikan dengan naiknya harga minyak dunia? Akhirnya, tulisan Bang Amran Nasution menjawab kebingungan saya ini… Enjoy (and cry)!   


Oleh: Amran Nasution *
Hidayatullah. com–Harga bahan bakar minyak (BBM) naik akhir Mei 2008. Itu sudah keputusan Pemerintah SBY–JK. Mahasiswa bisa saja menolak dan melakukan demonstrasi merata hampir di seluruh Indonesia, dari Padang sampai Kendari, dari Jakarta sampai Ternate. Tapi harga bensin tetap harus naik.

Para ekonom atau pengamat bisa saja protes. Kwik Kian Gie siap dengan hitung-hitungan bahwa tak betul rakyat disubsidi lewat harga BBM. Pemerintah ternyata sudah memperoleh keuntungan berlipat-lipat selama ini, dengan menjual bensin Rp 4500/liter. ‘’Mau debat dengan siapa saja, di mana saja, dari dulu saya siap. Tapi mereka diam saja,’’ kata mantan Kepala Bappenas itu.

Ekonom dan anggota DPR Drajat Wibowo bisa saja bersikukuh tak ada maslahat dengan APBN sekali pun harga BBM tak naik. Ia ajari cara menyusun APBN, antara lain, dengan menunda pembayaran cicilan utang.

Dengan itu Drajat ingin menunjukkan adalah bohong pernyataan yang menyebutkan APBN akan jebol kalau harga minyak tak dinaikkan. Ia prihatin, begitu harga BBM naik harga semua kebutuhan pokok turut naik pula. Maka rakyat yang selama ini daya belinya sudah merosot, menjadi korban. Pengalaman kenaikan harga BBM tahun 2005, menunjukkan begitu.

Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diberikan pemerintah tak ada artinya, rakyat tetap saja bertambah miskin. BLT tampaknya memang sekadar proyek politik pencitraan – bahwa Presiden kita pemurah – guna menghadapi pemilihan umum.

Padahal rakyat sudah amat menderita. Percuma saja Biro Pusat Statistik (BPS) memilih-milih dan memilah-milah data untuk mendukung citra pemerintah. Semua orang tahu di mana-mana sekarang rakyat makan nasi aking. Berita radio, koran dan TV menunjukkan berapa banyak anak-anak kurang gizi dan kelaparan. Di Makasar, seorang ibu hamil meninggal dunia karena berhari-hari tak tersentuh makanan. Mereka tak mungkin diselamatkan hanya dengan data BPS.

Lagi pula, apa pun data BPS, faktanya Indonesia masuk indeks 60 negara gagal 2007 (failed state index 2007) yang disusun Majalah Foreign Policy bekerja sama dengan lembaga think-tank, The Fund for Peace. Majalah itu amat berwibawa, milik The Carnegie Endowment, think-tank dengan jaringan internasional paling luas di Amerika Serikat. Salah satu pendiri majalah itu adalah Profesor Samuel Huntington, ahli ilmu politik senior dari Harvard University.

Yang hendak dikatakan, Foreign Policy bukan majalah yang diterbitkan dari pinggir got. Indonesia memang betul-betul negara gagal, satu kelompok dengan Sudan, Somalia, Iraq, Afghanistan, Zimbabwe, Ethiopia, atau Haiti. Salah satu ukurannya: pemerintah pusat sangat lemah dan tak efektif, pelayanan umum jelek, korupsi dan kriminalitas menyebar, dan ekonomi merosot. Nah, kalau mau jujur, memang begitulah persis potret negeri kita sekarang.

Data indeks pembangunan manusia (human development index) dari badan PBB, UNDP, memberikan indikator serupa. Indonesia menduduki peringkat 107 dari 177 negara, jauh di bawah Singapore, Arab Saudi, Malaysia, atau Thailand. Malah kita di bawah Filipina, Vietnam, Palestina, atau Srilangka. Padahal Srilangka itu negeri rusuh karena pemberontakan Macan Tamil dan Palestina lebih rusuh lagi akibat penjajahan Israel.

Begitu pun kenyataannya tetap saja harga minyak harus naik. Apakah rakyat tambah menderita seperti dikhawatirkan Kwik Kian Gie atau Drajat Wibowo dan kawan-kawan, tak ada maslahat bagi pemerintah. Soalnya, ini sudah tak bisa ditawar. Ini sebetulnya untuk kepentingan ideologi.

Ideologi? Barang siapa membaca buku terlaris dari Naomi Klein, The Shock Doctrine, The Rise of Disaster Capitalism (The Penguin Group, September 2007), akan terang-benderanglah motif sebenarnya di balik langkah pemerintah menaikkan harga BBM atau mengobral 37 perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) kepada asing. Itu semata-mata untuk menegakkan ideologi kapitalisme- laissez-faire, atau di sini dikenal sebagai sistem ekonomi liberal, yang dianut pemerintah kita.

Inilah sistem ekonomi pasar yang menyerahkan urusan ekonomi kepada perusahaan swasta dengan campur tangan pemerintah sebisa mungkin dihilangkan. Sistem ini menginginkan pemerintah tidur saja. Pemerintah tetap tak boleh mencampuri urusan ekonomi, sekali pun hanya untuk meningkatkan taraf hidup orang miskin.

Dalam pandangan ideologi ini, jika pemerintah mengurusi perekonomian orang miskin, itu sama artinya melakukan redistribusi kekayaan, menyebabkan orang menjadi malas dan kehilangan kreativitas. Kalau orang jadi miskin, biarkan saja miskin. Karenanya dia disebut sistem laissez-faire, dari bahasa Perancis: biarkan terjadi.

Ciri khasnya: deregulasi, pajak rendah (terutama untuk pengusaha kaya, agar mereka lebih cepat melakukan akumulasi modal untuk meningkatkan kemampuan bersaing), swastaisasi/ privatisasi, anti-subsidi, anti-pengaturan upah buruh minimal, dan semacamnya.

Tentang upah buruh, misalnya, serahkan saja kepada mekanisme pasar, jangan diatur-atur pemerintah atau serikat buruh. Mekanisme pasar akan bekerja menentukan upah yang pantas untuk buruh. Artinya, semua terserah pengusaha. Karena itu belum bisa terlaksana, dunia perburuhan kita memakai sistem buruh terputus (off-sourcing) , sehingga posisi tawar pengusaha kuat ketika berhadapan dengan serikat buruh.

Ideologi ini pertama kali dirumuskan ekonom Skotlandia, Adam Smith, di akhir abad ke-18. Tapi setelah ekonomi dunia dilanda krisiss dahsyat (great depression) di akhir 1920-an, mulai banyak negara meninggalkannya. Ideologi ini dituduh sebagai biang keladi kehancuran ekonomi, meski para pendukungnya selalu membela diri.

Ia kembali berkibar di awal 1980-an, ketika Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan dan Perdana Menteri Inggris Margaret Teatcher mengkampanyekannya, terutama untuk menghadapi sistem ekonomi komunisme Uni Soviet, dalam perang dingin. Maka ambruknya Uni Soviet, dengan simbol rubuhnya Tembok Berlin, 1989, diklaim sebagai kehebatan sistem ini.

Dalam prakteknya sistem ini menyebabkan orang kaya bertambah kaya, orang miskin bertambah miskin. Dunia pun terus-menerus dilanda krisis ekonomi, mulai great depression sampai krisis yang melanda Asia 1997, atau Amerika Serikat sekarang.

Banyak para ahli berpendapat, multi-krisis yang melanda Amerika saat ini karena laissez-faire. George Soros, investor sukses pasar modal, termasuk berpendapat begitu. Padahal Soros justru dianggap simbol sukses kapitalisme global di tahun 1990-an.

Naomi Klein, 38 tahun, aktivis, penulis dan wartawati terkemuka Kanada, lulusan London School of Economics, berhasil mengungkap sebuah metode dari sistem kapitalisme laissez-faire. Itu dikembangkan pemenang nobel ekonomi 1976, Profesor Milton Friedman, dan pengikutnya di Chicago School of Economics, University of Chicago.

Klein menyebutnya Doktrin Kejut (The Shock Doctrine) dan itu yang ia jadikan judul buku setebal 558 halaman, dan banyak mendapat pujian. Sebuah artikel di Dow Jones Business News, Oktober 2007, menyebut The Shock Doctrine, The Rise of Disaster Capitalism (Doktrin Kejut, Bangkitnya Kapitalisme Bencana) sebagai buku terpenting tentang ekonomi di abad 21.

The Chicago Boys

Begini. Pada 2005, badai Katrina diikuti gelombang pasang meluluh-lantakkan New Orleans, kota berpenduduk 500.000 jiwa di tepi Sungai Mississippi, di tenggara Negara Bagian Louisiana. Hampir 2000 penduduk meninggal, rumah, jembatan, dan berbagai infrastruktur hancur. Inilah bencana alam dengan korban material terbesar di Amerika.

Paman Miltie – begitu Milton Friedman dipanggil hormat pengikutnya – ternyata punya pendapat tersendiri atas bencana itu. Melalui kolom di koran The Wall Street Journal, 3 bulan setelah bencana, Paman Miltie menulis, ‘’Banyak sekolah di New Orleans rusak. Begitu juga rumah tempat anak-anak berteduh. Anak-anak terpencar di seluruh negeri. Ini adalah sebuah tragedi. Ini juga sebuah peluang.’’

Bagaimana bencana begitu dahsyat disebut Profesor Friedman sebagai peluang? Ternyata itu beralasan. Hanya dalam tempo 19 bulan, ketika banyak penduduk masih tinggal di pengungsian, sebuah kompleks sekolah telah berdiri di bekas sekolah negeri (public school) yang dihanyutkan badai. Sekolah itu dilengkapi berbagai fasilitas dan guru. Tapi ia bukan lagi sekolah negeri melainkan sekolah swasta yang didirikan pemodal. Reformasi pendidikan telah terjadi dengan gampang. Tanpa badai Katrina tak mudah memprivatisasi sekolah publik itu.

Para bekas guru menyebut apa yang terjadi pada sekolah mereka sebagai perampasan lahan pendidikan. Naomi Klein menyebutnya aksi kapitalisme bencana (disaster capitalism). Ternyata sudah lebih tiga dekade Profesor Friedman dan pendukungnya yang biasa dijuluki The Chicago Boys, mentrapkan strategi itu: Menunggu datang krisis atau bencana lalu dengan cepat bergerak mereformasi status-quo.

Semua yang berbau pemerintah dijadikan swasta (swastaisasi/ privatisasi) , ketika orang-orang masih dirundung kaget. Krisis bisa saja terjadi karena perang, bencana alam, teror, ambruknya pasar modal, atau krisis ekonomi lainnya.

Dalam sebuah esei menarik, Friedman menulis bahwa hanya krisis – aktual atau hanya persepsi – yang bisa menghasilkan reformasi sesungguhnya untuk mengubah status-quo. Maka di New Orleans, orang bersiap-siap dengan stok makanan dan air minum, sementara para pendukung Friedman datang dengan ide-ide pasar bebas (free-market) . Friedman meninggal dunia setahun kemudian, November 2006, dalam usia 94 tahun.

Dari riset Naomi Klein, diketahui bahwa pengalaman pertama Friedman mengeksploitasi krisis atau kejut (shock) terjadi pertengahan 1970-an, ketika Chili mengalami kudeta oleh Jenderal Augusto Pinochet. Negeri di Amerika Latin itu juga terkena trauma inflasi yang amat tinggi (hyperinflation) . Friedman datang menasehati Diktator Pinochet untuk melakukan reformasi ekonomi dengan cepat: deregulasi, pemotongan pajak, perdagangan bebas, privatisasi BUMN, pemotongan anggaran sosial, antara lain, pemangkasan subsidi untuk rakyat miskin.

Semua dijalankan Diktator Pinochet dengan tangan besi. Maka Chili mengalami reformasi sistem ekonomi menjadi kapitalisme laissez-faire paling ekstrim yang pernah terjadi, dan dijuluki sebagai revolusi The Chicago School. Kebetulan sejumlah penasehat ekonomi diktator itu adalah bekas mahasiswa Friedman di Chicago University.

Naomi Klein mulai melakukan riset tentang ketergantungan kapitalisme pasar pada situasi krisis atau shock ketika Amerika Serikat menduduki Iraq, 2003. Penyerbuan itu betul-betul menimbulkan shock yang luar biasa bagi rakyat Iraq mau pun dunia. Lalu apa yang kemudian terjadi di negeri sosialis itu?

Luar biasa: Privatisasi massif berbagai perusahaan pemerintah, penurunan pajak sampai tinggal 15%, deregulasi dan perampingan fungsi pemerintah secara dramatis, terutama menyangkut urusan ekonomi dan praktek perdagangan bebas, sebebas-bebasnya. Friedman dan The Chicago Boys berperan dari belakang. Ia diketahui berteman akrab dengan Donald Rumsfeld, Menteri Pertahanan Amerika waktu itu, dan sejumlah pemikir neo-konservatif yang mengelilingi Presiden George Bush.

Coba bayangkan, militer saja diprivatisasi di Iraq. Pemerintah mengontrak perusahaan Amerika, Blackwater Worldwide – yang sebelumnya sudah terancam bangkrut – untuk proyek jasa pengamanan para kontraktor minyak dan proyek bisnis lainnya. Termasuk untuk mengamankan Kedutaan Besar Amerika Serikat dan personalnya di kawasan zona hijau (Green-zone) , Baghdad. Sekitar 30.000 pasukan Blackwater betul-betul mirip tentara dengan persenjataan lengkap berkeliaran di Baghdad dan sekitarnya.

Pasukan bayaran itu berhak menembak dan membunuh orang tanpa bisa diadili. Dia tak tunduk pada hukum Iraq, tidak pula pada hukum Amerika Serikat. Oktober lalu, DPR Amerika membuat undang-undang, bahwa kontraktor yang bekerja pada Pemerintah Amerika di daerah konflik di luar negeri, bertanggung- jawab pada hukum Amerika. Tapi Gedung Putih menolaknya, dan sampai kini undang-undang itu terkatung-katung di Senat.

Padahal September lalu, sejumlah pasukan Blackwater, pengawal konvoi pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang berkunjung ke Baghdad, entah mengapa tiba-tiba menembaki kendaaran yang ada di jalan umum sekitarnya. Akibatnya, 17 orang meninggal, sejumlah lainnya luka-luka. Para pelaku penembakan sampai sekarang bebas tanpa diadili, dengan dalih belum ada undang-undangnya.

Serangan dahsyat tsunami akhir 2004 di Sri Langka, tak luput dari inceran kaum kapitalis. Penanam modal asing bekerjasama dengan bank internasional memanfaatkan situasi panik akibat bencana, untuk menguasai garis-garis pantai yang indah. Di sepanjang pantai dengan cepat berdiri resor wisata yang megah, hotel, villa, motel, dan sebagainya, menyebabkan ratusan ribu nelayan yang semula mendiami kawasan itu, kini tergusur.

Jelaslah sekarang bagaimana sistem kapitalisme global bekerja untuk mencapai tujuan: memanfaatkan momentum trauma kolektif dari suatu krisis, musibah atau bencana, untuk melaksanakan rekayasa sosial dan ekonomi di berbagai belahan bumi.

Raksasa Carrefour dan Kios Eceran

Krisis ekonomi yang menimpa Asia pada 1997, jelas momentum yang ditunggu-tunggu oleh operator utama sistem kapitalisme global – IMF, Bank Dunia, dan WTO – dan itu dengan lengkap dilaporkan Klein di dalam The Shock Doktrine. Operasi IMF di Indonesia, misalnya, ditulis detil. Bagaimana IMF yang katanya datang untuk mengobati krisis, ternyata bekerja lebih untuk kepentingan ideologi kapitalisme.

Bagaimana deregulasi, privatisasi, dan berbagai perangkat ideologi laissez-faire dipaksakan. Dan untuk itu, menurut The Shock Doktrine, IMF bisa sukses karena bekerja sama dengan kelompok Mafia-Berkeley di Indonesia yang dipimpin Profesor Widjojo Nitisastro (halaman 271). Biarlah sejarah kelak membuktikan, apakah tindakan kelompok Mafia-Berkeley itu penghianatan kepada bangsa Indonesia, atau tidak.

Sejak itu, bukan rahasia lagi kalau banyak undang-undang kita yang amat liberal disahkan DPR atas pesanan IMF. Dikabarkan sejumlah draf undang-undang disiapkan NDI (National Democratic Institute for International Affairs), organisasi yang dibentuk dan dibiayai pemerintah Amerika Serikat – dekat dengan Partai Demokrat – dengan dalih untuk menyebarkan demokrasi di negeri berkembang. Dulu NDI sempat punya ruang khusus di Gedung DPR-RI. Jadi DPR kita tinggal mengetuk palu.

Operasi IMF dalam krisis ekonomi Asia amat menakjubkan. Dalam tempo 20 bulan, terjadi 186 merger dan aquisisi (pengambil-alihan) atas perusahaan-perusaha an negeri yang dilanda krisis — Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Korea Selatan — oleh perusahaan multi-nasional, terutama dari Amerika Serikat. Itu tercatat sebagai aquisisi terbesar yang pernah terjadi di dunia. Merrill Lynch dan Morgan Stanley, perusahaan Amerika yang banyak berperan sebagai agen merger dan aquisisi itu, panen keuntungan komisi yang cukup besar.

Carlyle Group yang suka merekrut ‘’pensiunan’’ pejabat tinggi Amerika – mulai bekas Menlu James Baker sampai bekas Presiden George H.W.Bush – sebagai konsultan, memborong perusahaan telkom Daewoo dan perusahaan informasi Ssangyong. Yang disebut terakhir merupakan salah satu perusahaan teknologi tinggi terbesar di Korea Selatan. Dengan menguasai perusahaan itu, Carlyle menjadi pemegang saham mayoritas di salah satu bank terbesar di negeri ginseng itu.

Semua transaksi itu tak normal, atau dengan kata lain dijual obral. Sekadar contoh, perusahaan mobil Korea Daewoo yang sebelum krisis bernilai 6 milyar dollar, waktu itu diambil-alih perusahaan mobil Amerika, General Motor, hanya dengan 400 juta dollar.

Di Indonesia, sistem penyediaan air minum dikavling oleh Thames Water dari Inggris dan Lyonnaise des Eaux dari Perancis. Westcoast Eergy dari Kanada menguasai proyek pembangkit listrik yang besar.

Sejak IMF menguasai Indonesia, perusahaan raksasa pengecer Carrefour dari Perancis masuk ke sini, menyapu perusahaan lokal yang sudah lama ada, seperti Golden Truly atau Hero, atau perusahaan kecil-kecil di pasar tradisional Tanah Abang dan Cipulir, yang jumlahnya begitu banyak. Nasib mereka tambah parah karena kemudian super-market raksasa dari Malaysia, Giant, hadir kemari. Dia telan Hero yang memang sudah ngos-ngosan. Itulah hasil konkret reformasi 1998.

Ternyata itu belum cukup. Belum lama, perusahaan Perancis itu membeli Alfa-Mart, super-market yang aktif masuk ke pedesaan. Dengan demikian, kini Carrefour dengan bebasnya akan menghancurkan kios eceran di desa-desa. Itulah laissez-faire yang sesungguhnya.

Karena laissez-faire, Presiden SBY lebih memilih menyerahkan proyek minyak dan gas di Cepu yang amat menguntungkan kepada Exxon-Mobil, perusahaan minyak terbesar dan tertua Amerika Serikat, daripada kepada Pertamina, perusahaan BUMN milik sendiri.

Ternyata setelah resep-resep IMF ditrapkan, artinya prinsip kapitalisme laissez-faire dilaksanakan, menurut The Shock Doktrine, justru penduduk miskin bertambah 20 juta orang di Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Indonesia. Pengangguran meledak.

Organisasi buruh internasional ILO, mencatat terjadi 24 juta penganggur baru. Itu justru terjadi pada masa puncak pelaksanaan reformasi IMF. Di Indonesia, angka pengangguran meloncat dari 4% menjadi 12%, dan dua tahun kemudian melambung tiga kali lipat. Setiap bulan ada 60.000 buruh di Thailand dan 300.000 buruh di Korea Selatan yang harus diberhentikan.

Di balik angka-angka statistik itu banyak kisah mengharukan, terutama menimpa anak-anak dan perempuan. Di pedesaan Korea Selatan dan Filipina banyak orang tua harus menjual anak gadisnya kepada pedagang manusia, untuk kemudian dijadikan pelacur di Australia, Eropa, dan Amerika Utara. Di Thailand, pejabat kesehatan melaporkan hanya dalam setahun terjadi peningkatan pelacuran anak-anak sebesar 20%. Data yang mirip terjadi di Filipina.

Tapi sudahlah, ini semua cerita masa lalu. Sekarang, krisis baru terjadi lagi karena harga minyak meningkat di atas 120 dollar/barel. Dunia kian terguncang setelah harga pangan ikut menggila. Artinya, berdasarkan tesis The Shock Doktrine, kapitalisme global dan para operatornya sekarang sedang bekerja.

Tapi di sini apalagi yang mau direformasi? Sejak 1998, Indonesia sudah menjadi salah satu negara kapitalisme laissez-faire paling liberal di dunia. Lihatlah berbagai undang-undang yang dilahirkan DPR, semua liberal. Mulai UU Migas, UU privatisasi air, Pendidikan, Pertanahan, dan terakhir Undang-Undang Pelabuhan.

Karena liberalisme, siapa yang ingin masuk perguruan tinggi negeri harus menyediakan uang Rp 100 juta. Habis bagaimana lagi, kampus sedapat mungkin harus membiayai diri sendiri. Dengan demikian, anak petani, nelayan, buruh, pedagang kecil, jangan harap bisa mendaftar ke sana. Padahal kalau tak universitas negeri kemana lagi mereka belajar untuk meningkatkan taraf hidupnya?

Artinya, dengan sistem ini orang miskin sampai kapan pun akan terus miskin. Hampir tertutup kemungkinan bagi mereka melakukan mobilitas vertikal lewat pendidikan. Inilah kemiskinan yang diciptakan oleh sebuah struktur.

Era Universitas Gajah Mada (UGM) dijuluki Ndeso karena banyak anak desa kuliah di sana, sudah berakhir. Institut Pertanian Bogor (IPB) serupa. Zaman ketika anak-anak desa dari seluruh Indonesia berlomba-lomba belajar ke sana, kini agaknya sudah menjadi nostalgia.

Perusahaan minyak Pertamina yang dulu perkasa kini sudah dirontokkan. Bulog yang dulu efektif sebagai penjamin stabilitas pangan sudah tamat riwayatnya. Bahwa akibatnya rakyat bertambah melarat dan segelintir konglomerat berlipat-ganda kekayaannya, itu soal lain.

Majalah bisnis Forbes, 13 Desember 2007, menulis sepanjang tahun lalu kekayaan para konglomerat Indonesia meloncat dua kali lipat. Sungguh fantastis. Jadi kalau BPS menyodorkan angka pertumbuhan ekonomi kita tahun ini sekian persen, percayalah, itu berasal dari pertumbuhan kekayaan konglomerat kita. Bukan pertumbuhan kekayaan rakyat banyak.

Yang paling menakjubkan adalah Menko Kesra Aburizal Bakrie. Pemilik perusahaan kelompok Bakrie itu, kekayaan bersihnya tahun lalu meroket empat kali lipat. Itu menjadikannya sebagai orang terkaya Indonesia, dengan kekayaan 5,4 milyar dollar.

Apakah Aburizal punya lampu Aladin? Sebuah artikel di Asia Times Online, 22 Juli 2006, sebenarnya sudah pernah membongkar rahasia lampu Aladin itu. Antara lain, karena politik dan bisnis di Indonesia di zaman Presiden SBY, tak terpisah melainkan menyatu.

Memang begitulah yang selalu terjadi di negeri dengan sistem laissez-faire. Begitulah Rusia di zaman Boris Yeltsin dulu. Para konglomerat dalam tempo singkat mendadak jadi kaya-raya, sampai Vladimir Putin datang menertibkannya. Para konglomerat itu kini lari ke luar negeri atau masuk penjara di Siberia. Tapi nantilah dalam kesempatan lain soal ini dibahas.

Di mata kaum kapitalisme laissez-faire, masih ada status-quo yang tersisa di Indonesia. BBM belum sepenuhnya mengikuti harga pasar dan perusahaan BUMN masih eksis. Mumpung suasana shock akibat kenaikan harga minyak dan krisis pangan masih berlangsung, sektor hilir pertambangan harus direformasi. Artinya, pemerintah harus menaikkan harga BBM, dan BUMN harus diobral. Semuanya harus dilakukan sekarang, mumpung krisis masih terjadi.

Masih kurang jelas? Silahkan berkeliling Jakarta dan sekitarnya. Lihatlah bagaimana perusahaan minyak internasional Shell, dan Petronas dari Malaysia, telah dan sedang membangun sejumlah pompa bensin raksasa. Kabarnya izin yang dikeluarkan pemerintah sudah lebih 100.

Semua pompa bensin Shell atau Petronas itu buka sampai malam dengan lampu yang terang-benderang, tapi betul-betul sepi pembeli. Seharian puluhan petugasnya yang berseragam hanya duduk-berdiri sampai capek sendiri, tak pernah melayani konsumen. Coba dicek, penghasilannya setiap bulan, mungkin tak cukup walau untuk sekadar membayar rekening listrik.

Ini terjadi karena mereka hanya menjual BBM non-subsidi yang konsumennya hanya segelintir mobil mewah milik orang kaya. Bahwa mereka terus membangun pompa bensin baru, pasti karena ada jaminan subsidi minyak akan dicabut.

Dengan demikian mereka bisa bersaing bebas dengan pompa bensin Pertamina milik pengusaha lokal yang selama ini menguasai pasar karena menjual BBM bersubsidi. Bila itu terjadi, pompa bensin multi-nasional yang raksasa itu pasti dengan mudah menelan pompa bensin lokal yang kecil-kecil. Kasus Carrefour merontokkan Hero atau pedagang Tanah Abang, akan berulang. Itu sebabnya Shell dan Petronas dengan sabar menunggu laissez-faire. Cukup jelas?

Penulis adalah Direktur Institute for Policy Studies. Tulisan diambil dari situs http://www.hidayatullah. co.id

 

 

To Ogle Orde Baru

Oleh : Lestari Putryanto

PMB 07

 

Dua pekan terakhir ini,Masyarakat, Pers disibukan oleh berita berita seputar Cendana,terutama setelah tokoh utamanya terbaring sakit.padahal masalah seputar naiknya beras,dan kelangkaan minyak tanah harusnya jadi topik terhangat pekan ini, tapi ternyata tidak.rakyat lebih antusias dan interest seputar perkembangan kesehatan mantan orang No.1 di masa Orde baru

Ini.Pra dan pasca kematian Raja Jawa ini,terbilang Fenomenal.

Luar biasa Ternyata Rakyat Indonesia tipe PEMAAF..walaupun secara tidak langsung mereka telah Terdzolimi selama 32 tahun.

Walahuallam Bi Soaaf

 

Orde baru merupakan suatu tatanan baru yang bertekad untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 45. secara murni. Penataan yang baru tersebut bukan hanya masalah politik, sosial, ekonomi, dan budaya saja. Tetapi juga ditujukan pada nilai-nilai sosial kultural agar nilai-nilai yang baik tidak diselewengkan.Orde baru juga diniatkan sebagai Orde yang mengoreksi terhadap penyelewengan dimasa lampau ( Orde Lama ) dan menyusun kembali kembali kekuatan bangsa untuk menumbuhkan stabilitas nasional guna mempercepat proses pembangunan bangsa.

Dalam perjalanan sejarah Orde baru yang panjang, Indonesia dapat melaksanakan PEMBANGUNAN….

Namum sangat disayangkan bahwa keberhasilan pembangunan tersebut tidak merata.kemajuan Indonesia ternyata hanya semu bahkan Palsu.ada kesenjangan sosial,gejala Korupsi,Kolusi dan NepotismePun merebak.

Tahun 1997, rakyat dilanda krisis ekonomi.yang ditandai dengan naiknya harga Sembako dan kebutuhan” lainnya.sehingga daya beli masyarakat menurun. Krisis ekonomi inilah yang terus melahirkan krisis politik yang di tandai dengan ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintahan Soeharto.gerakan melawan pemerintahpun muncul secara periodik.terutama yang dipelopori oleh kaum elite Mahasiswa dan para musuh politik soeharto.

Di tahun 1998 tepatnya bulan Mei tanggal 20, terjadi Demo besar-besaran.sebuah Motto berlaku ”Sejarah pasti terulang ” tidak jauh beda orde lama pun berakhir dengan cara itu.rezim Orde baru pun berahkir demikian dan diakhiri dengan penyerahan kekuasaan kepada B.J Habibi satu haru setelah itu..

 

Selamat jalan Bapak soeharto, jutaan Rakyat yang sedang menderita mendoakan Mu..semoga Allah Swt, memberikan tempat yang sebaik-baiknya.dan semoga INDONESIA lebih Baik lagi.Amiin

 

Melon_ Lestari@yahoo.com